Manusia
dan jiwanya
Suatu
perspektif dalam perkembangan filsafat
Kata pengantar
Karya tulis ini disusun
untuk memenuhi sebahagian tuntutan akademis studi filsafat semester IV pada
Fakultas Fisafat Universitas Katolik St.Tomas, Sumatera Utara di
Pematangsiantar.
Saya banyak mengucapkan
terima kasih kepada P.Laurentius Sinaga, Ofm.Cap. yang telah bersedia
meluangkan waktunya untuk mengoreksi dan sekaligus memberi saran demi
terwujudnya karya tulis ini. Sekalipun sudah dibimbing, namun saya sebagai
mahasiswa tidak luput dari kesalahan baik dalam penyajian materi maupun dari
segi teknik penulisan. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun demi perbaikan mutu tulisan ini.
Sinaksak, 1 April 1987
Penyusun
Pandenaker
Simanjuntak.
Pendahuluan
Adalah merupakan
perdebatan yang sangat sengit dikalangan para filsuf sepanjang masa yakni,
“masalah jiwa dan kaitannya dengan manausia itu sendiri”. Sejarah telah membuktikan
bahwa dari sekian banyak filsuf sebegitu banyak pula tafsiran filosofis yang
mereka kemukakan seputar pertautan antara “jiwa” dengan “tubuh”. Jarang seorang
filsuf begitu saja mengikuti pandangan filosofis dari seorang filsuf lain.
Pendeknya berbagai macam tafsiran filsofis telah dinyatakan sepanjang manusia
berfilsafat.
Memang secara garis
besar, pandangan para filsuf terhadap “tubuh” dan “jiwa” dapat digolongkan atas
tiga golongan yakni, pertama mereka
yang lebih cenderung melihat keunggulan “jiwa” diatas tubuh. Golongan kedua, lebih cenderung melihat
keunggulan” tubuh” diatas “jiwa”. Golongan
yang ketiga, memandang “jiwa” dan “tubuh” sebagai sesuatu kesejajaran satu
dengan yang lain.
Jika kita perhatikan
ketiga golongan ini maka tampaklah bahwa pandangan-pandangan tersebut bertitik
tolak dari perbedaan antara jiwa dan tubuh manusia. Jika para filsuf
berfilsafat dengan titik tolak sedemikian maka dapatlah dibedakan tiga macam
pertautan antara jiwa dengan tubuh yang tampak dalam hidup sehari-hari.
Pertautan itu yakni, pertama ialah
bahwa jiwa mempengaruhi tubuh. Misalnya saja, kita mau mengeluarkan tangan dan
tubuh melaksanakan kemauan itu; Kita merasa cemas dan jantung berdebar-debar.
Bahkan melalui sugesti dapat ditampilkan rasa sakit dalam tubuh, dan
sebagainya. Kedua, tubuh
mempengaruhi jiwa. Misalnya, pengaruh kelenjar-kelenjar buntu atas struktur
kepribadian; Kerusakan bagian-bagian otak yang menyebabkan cacat jiwa;
Obat-obatan yang menyebabkan perubahan keadaan jiwa dan sebagainya. Pertautan yang
ketiga ialah paralelisme antara jiwa
dan tubuh. Jika demikian adanya berarti tidak ada pengaruh satu sama lain.
Tetapi aktifitas jiwa berjalan sejajar dengan tubuh. Sebagai contoh dapat
disebut prersaman keadaan jiwa dengan ekspresi wajah (kegembiraan, penderitaan,
rasa malu, kemarahan); Hubungan antara perawakan dan watak (Kretsmer); relasi
antara kepandaian dan struktur otak; watak yang dapat dikenal melalui tulisan
tangan.
Dalam filsafat,
pertautan yang pertama terutama ditikberatkan oleh pemikir-pemikir
spiritualistis (yang hakiki adalah jiwa). Pertautan yang kedua didukung oleh
pemikir-pemikir materialistis (yang hakiki adalah tubuh) dan pertautan yang
ketiga ditonjolkan oleh pemikir-pemikir dualistis yang bertitik tolak dari
paralelisme (dua buah jam tangan sama-sama menunjukkan waktu dengan cara persis
sama. Atau secara monistis: Dua lempeng jam dari jam yang sama[1]).
Berkaitan dengan
hal tersebut di atas, maka sengaja dipilih “Manusia dan jiwanya, suatu
perspektif dalam perkembangan filsafat” sebagai tema sekaligus judul untuk
karya tulis ini. Pembahasan yang menitikberatkan pada keunggulan jiwa diatas
tubuh adalah pembahasan yang berat sebelah. Mengutamakan jiwa berarti merendahkan
tubuh dan sebaliknya. Padahal filsafat harus menyelamatkan sekaligus jiwa
maupun tubuh. Pendeknya membahas jiwa dan tubuh dalam suatu kesatuan yang
memiliki kaitan sangat erat. Inilah yang saya maksudkan “suatu perspektif atau
cara pandang dalam rangka filsafat”. Sekadar untuk meminjam istilah “balance on
the edge of contradiction” yang dikutip oleh DR.Adelbertus Sinijders dari Van
Melsen bahwa filsafat harus maju diantara kontradiksi-kontradiksi dan sifat
paradoksal dengan tidak menghapus hal yang satu demi menyelamatkan yang lain[2]).
Dalam pandangan prafilosofis
(primitif) masalah jiwa dan tubuh belum muncul. Pertanyaan yang bersifat
rasional belum ada sehingga apa itu jiwa dan apa itu tubuh bukan merupakan
suatu persoalan. Jiwa dan tubuh dihayati dalam suatu kesatuan oleh orang
primitif. Pandangan primitif ini sengaja ditampilkan sebagai suatu latar
belakang.
Selanjutnya akan
diuraikan bagaimana jiwa dan tubuh itu dibahas dalam kerangka filsafat. Tentu
dalam hal ini –karena filsafat terlalu luas-
maka akan ditampilkan beberapa filsuf yang kiranya cukup representatif
antara lain Plato, Descartes dan Feurbach.
“Bagaimana
sesungguhnya jiwa itu terjadi?” atau “kapan munculnya jiwa?”. “Apakah jiwa itu
bersifat kekal?”. Dan kalau memang “bersifat kekal” apa yang bakal terjadi sesudah kematian “badan’ (tubuh)?”.
Pertanyaan semacam
ini adalah pertanyaan yang bersifat hakiki dan merupakan dasar berpijak bagi
filsafat. Prof.DR.Louis Leahi telah mencoba mengulas masalah ini. Oleh sebab
itu pandangan beliau akan ditampilkan juga.
Bab. I
Jiwa
dan Tubuh dalam Pandangan Prafilosofis.
Sebagai
latarbelakang historis ada juga baiknya bila kita menyimak bagaimana jiwa itu
dimengerti dan dipahami oleh orang entah itu suku primitif, Arkhais dan dalam
Alkitab. Memang yang tergolong dalam pandangan prafilosofis bukanlah terbatas
hanya pada pembagian semacam ini. Tetapi karena terlalu luas, maka kita ambil
saja yang dominan yang kiranya bisa mewakili pandangan prafilosofis yang lain.
1. Pandangan primitif.
Suku primitif
berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang disebut “jiwa” atau “jiwa-jiwa”. Tetapi
jiwa yang dimaksud disini sungguh berbeda bahkan boleh dikatakan hampir tidak
punya kaitan terhadap pengertian jiwa yang sudah sangat lumrah dimengerti oleh
orang dewasa ini. Pandangan suku primitif secara ringkas adalah kurang lebih
sebagai berikut: Ada kekuatan yang maha besar, kekuatan itu datang dari luar
dan sekaligus menguasai alam serta merasuk dalam tubuh manusia. Berdasar pada
konsep inilah maka kita tidak heran kalau suku primitif memandang segala
sesuatu berjiwa.
Jiwa tidak dianggab
semata-mata khas manusiawi, tetapi lebih mengarah kepada suatu daya yang lebih
tinggi yang melampaui manusia. Dengan demikian seluruh dunia primitif terserap
oleh suatu realitas yang lain. Jiwa tidak pernah semata-mata rohani, karena
dunia tidak pernah semata-mata jasmani. Dalam lapisan terdalam dari berbagai
kebudayaan terdapat simbol-simbol pokok (seperti: Air, terang, pohon kehidupan
dan sebagainya) yang mengatakan bahwa bagi orang primitif dunia ini lebih dari
pada sesuatu kejadian alam saja. Di sini yang jasmani dan yang rohani bersatu
padu[3]).
Karena yang jasmani dan yang rohani bersatu padu, maka distingsi
antara jiwa dan tubuh menjadi tidak jelas. Garis pemisah antara alam pribadi
dan alam asing, antara dunia batin dan dunia luar, antara kehidupan dan
kematian, antara jiwa dan mayat tidak jelas. Dunia primitif tidak
mempertentangkan jiwa dengan tubuh. Bahkan bagi orang Mesir tubuh merupakan
salah satu jiwa dalam rentetan jiwa-jiwa yang lain[4]).
Pola berpikir
demikian tentu saja menjadi dasar bagi suku primitif untuk sampai pada tingkat
penghayatan. Bagaimana jiwa dan tubuh itu dihayati tentu sejalan dengan
konsep-konsep yang dimilikinya. Misalnya tampak dalam pemakaian kata “aku”.
“Aku” bagi suku rimitive berarti “aku bersama dengan”. “Aku” adalah anggota
suku. “Aku” baru mendapat arti bila dikaitkan dengan suku. Jadi “aku” sebagai
pribadi rimit tidak dapat kita temukan pada suku rimitive.
2. Pandangan Arkhais.
Pandangan suku
primitif terhadap jiwa dan tubuh hampir mirip dengan pandangan Arkhais yang
terdapat di Yunani sekitar abab ke-6 SM. Dalam pemikiran “Arkhais” ini jiwa dan
tubuh masih begitu terjalin satu sama lain, sehingga bukan saja jiwa belum
dibedakan dengan tubuh, melainkan paham “tubuh” maupun “jiwa” belum dikenal
sama sekali.
Homeros dalam
sajak-sajaknya kerap kali menggunakan kata “psykhe” (bandingkan dengan bahasa
Indonesia: psikis) tetapi tidak pernah dipandang sebagai jiwa seperti
pengertian modern bersama filsafatnya. “Psyke” menurut Homeros adalah “apa yang
lenyap” kalau pingsan dan mati, namun lain sifatnya dari pada “suatu jiwa” yang
sesudah kematian hidup terus. Yang berpindah ke alam baka setelah kematian
ialah gambaran samar-samar dari manusia sebagaimana ia hidup[5]).
Hal ini menunjukkan
pada kita bahwa pengertian jiwa dan tubuh belum ada. Dalam pemikiran Arkhais
perbedaan antara dunia dengan dunia luar
belum dipermasalahkan. Khazanah bahasa Yunani dapat memperlihatkannya. Acap
kali hanya ada satu kata dan itu berarti juga satu penghayatan yang menunjukkan
baik perasaan (tahap psikis) maupun suatu tingkah laku (tahap badani). Kata
“phabos” dapat menunjukkan ketakutan atau kecemasan (seakan-akan) dilihat dari
dalam, tetapi juga melarikan diri (dilihat dari luar). Ada juga satu kata
“medomi” yang berarti “mempunyai suatu rencana” dan serentak juga “melaksanakan
suatu rencana”. Ada satu kata “menos” yang dalam diri manusia menunjukkan
keberanian, nafsu, tetapi kata yang sama dipakai juga untuk menunjukkan
sebatang lembing yang tengah mendambakan darah sedang terpancang dalam tanah[6]).
3. Sekilas pandang mengenai
Jiwa dan Tubuh dalam Alkitab.
Sebagai pandangan yang
masih bersifat prafilosofis maka ada juga baiknya kalau kita perhatikan
bagaimana jiwa dan tubuh itu dimengerti dalam Alkitab. Kata “nefesy” yang
berkaitan dengan nafas dalam Perjanjian Lama, sering disamakan sebagai suatu
daya kehidupan. Jiwa baru ada setelah Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam
manusia. Umumnya orang beranggaban bahwa jiwa semacam ini bertempat tinggal
dalam darah –lebih tepat lagi sama dengan darah, sehingga dianggab haram bagi
orang Israel makan darah (Kej. 9:4, Ul 12:23).
Sebagaimana halnya dengan pikiran Arkhais,
juga dalam Perjanjian Lama belum ada pemisahan yang ketat antara hidup batin
dengan hidup badaniah. Misalnya saja, mengenal jiwa seseorang bagi orang Ibrani
itu berarti mengetahui siapa ayahnya, dan dari keturunan mana asalnya. Jadi
jiwa dalam hal ini dimengerti sebagai
suatu yang punya arti jika tidak terlepas dari kebertautannya terhadap hal-hal
yang lain.
Manusia adalah jiwa,
tetapi harus juga dikatakan bahwa manusia adalah daging. Dalam hal ini manusia
bukanlah mahluk majemuk atau dualistis
yang terdiri dari bagian psikis dan badani. Dalam Perjanjian Lama daging juga
termasuk jiwa; Maka dari itu seperti dikatakan bahwa jiwa rindu akan Tuhan,
demikian juga dagingku rindu akan Tuhan (Mz. 63:2; 84:3)[7].
Seperti dalam masyarakat peramu yang percaya bahwa segala sesuatu berjiwa.
Demikan juga orang Ibrani dalam Perjanjian Lama menganggab bahwa tubuh itu juga
adalah jiwa.
Perjanjian Baru yang
membicarakan “tubuh” yang mengandung arti manusia seluruhnya, misalkan saja
manusia dinasehatkan untuk mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang
hidup (Rom. 12:1) dan tidak dapat disangsikan lagi bahwa dengan itu dimaksudkan
manusia seluruhnya[8]).
Kata “jiwa” (psyke) dipakai juga, tetapi tidak merupakan pelengkap atau lawan
tubuh, melainkan sama dengan kata Ibrani “nefesy” menunjukkan manusia
seluruhnya (missal 2 Kor 12:15; Rom. 2:9, diterjemahakan: Setiap orang yang
hidup, harafiah: segala jiwa manusia)[9].
Baik Perjanjian Lama
maupun Perjanjian Baru membahas manusia dengan tujuan manusia itu bisa hidup
dengan rasa bahagia. Karena itu Alkitab bukanlah suatu bahasan filosofis.
Tetapi walaupun tidak bersifat filosofis toh Alkitab memberi perspektif yang
lain sifatnya.
Bab 2.
Jiwa
dan Tubuh dalam Filsafat.
Berhubung karena
filsafat yang membahas jiwa dan tubuh terlalu luas, -sebab hampir setiap filsuf
membahasnya- maka kita akan memfokuskan diri pada beberapa filsuf tersohor
anatara lain , Feurbach dengan materialismenya yang berat sebelah, Plato yang
memprioritaskan jiwa dan dualismenya Descartes. Ketiga filsuf ini sengaja
ditampilkan sebab disamping pengaruhnya
terhadap filsuf-filsuf sesudahnya, juga demi suatu tuntutan “metodologis”[10])
pembahasan.
1. Materialisme yang berat
sebelah: Feurbach (1804-1872).
Diantara para
materialis Jerman pada abab ke-19 Feurbach adalah filsuf yang paling terkenal
dan tersohor. Ia boleh disebut sebagai filsuf yang punya pengaruh besar
terhadap filsuf-filsuf materialis sesudahnya seperti Karl Marx (1818-1883),
Frederich Engels (1820-1895) dan W.E.Lenin.
Sebelum sampai pada
Feurbach maka terlebih dahulu kita harus mengetahui apa yang menjadi cirikhas
materialisme ini yakni: pertama,
harus disebut bahwa bagi materialisme “alam kebendaan” selalu merupakan ukuran
nilai-nilai dan norma kenyataan. Boleh jadi dalam hal ini alam rohani diasalkan
seluruhnya daripada alam kebendaan. Atau alam rohani itu dilihat sebagai suatu
hal sampingan dari materi. Bahkan yang paling hebat lagi melihat hal rohani
sebagai hasil daripada materi belaka. Ciri
kedua, ialah materialisme
yang bertitik pangkal dari sebuah “objektivasi” yang disebut oleh “subjek” dan
dalam penalaran selanjutnya “subjek” itu
lalu dilupakan[11]).
Melihat cirri khas
materialisme ini maka Feurbach berada dalam posisi yang menganggab bahwa hal
rohani (jiwa) merupakan suatu sampingan dari materi. Untuk lebih jelasnya mari
kita ikuti telaahan Feurbach berikut ini.
Bagi Feurbach “jiwa” tidak lain
daripada “suatu kesan objektif” yang timbul karena kita secara pribadi
menghayati eksistensi kita. Jiwa sebagai substansi yang tak berkeluasan tidak
diterima oleh Feurbach. Ini dapat kita lihat dari argument kontra yang
dilontarkannya. Katanya “apa gunanya keluasan menurut panjang dan luasnya tubuh
bagi sesuatu yang tak berkeluasan”[12]).
Argumen ini sebenarnya sama saja dengan mengatakan, “Kalau benar jiwa itu ada
pada dirinya, mau tidak mau jiwa itu harus bersifat keluasan”. Tetapi ternyata
orang yakin bahwa jiwa itu adalah non materi dan tak berkeluasan. Pendapat
semacam ini sengaja dibuat oleh manusia yang berpikir. Inilah yang disebut oleh
Feurbach sebagai “hasil abstraksi si subjek”.
Secara gambling dapat kita lihat
bagaimana pengertian Feurbach tentang jiwa dan tubuh dalam kutipan berikut ini:
“Dipandang dari sudut psikologis (berarti bagi saya sebagai mahluk yang sadar
akan dirinya), pemikiran tidak merupakan suatu aktifitas otak, sebab saya dapat
berpikir, sekalipun saya sama sekali tidak tahu bahwa saya mempunyai otak. Jadi
dalam psikologi, kata Feurbach, kita tidak menghiraukan terjadinya pemikiran.
Tetapi kalau dipandang secara objektif dari sudut penyelidikan ilmiah, maka
pemikiran itu hanyalah suatu aktifitas
otak yang sangat rumit sekali. Dilihat dari segi saya (fur nich), pemikiran
berbeda dari otak, tetapi pada dirinya (an sich) tidak. Apa yang dapat
dikatakan orang tentang jiwa –seperti misalnya sifat tak badani, tak jasmani
dan tunggalnya- dari segi subjektif bersifat tak jasmani dan rohani, maka hal
yang sama pada dirinya –dari segi objektif- bersifat material dan inderawi”[13]).
Maka
jelaslah bagi Feurbach jiwa hanyalah sebagai sesuatu penghayatan subjektif.
Sedangkan pada dirinya jiwa tidak lain adalah kompleksitas yang sangat rumit
dari pada otak. Tepatlah kalau Feurbach disebut sebagai seorang materialis yang
berat sebelah dengan penekanan utama pada tubuh jasmaniah.
2. Prioritas jiwa terhadap tubuh (Plato)[14]).
Untuk mengerti ajaran Plato mengenai
jiwa dan tubuh terlebih dahulu kita harus memahami ajarannya tentang pre-eksistensi
jiwa di dalam dunia idea. Perlu diketahui bahwa idea menurut Plato
sungguh-sungguh ada secara objektif. Tidak seperti pengertian modern yang
menganggab bahwa idea itu hanya bersifat subjektif saja. Jadi idea bagi Plato
ada sebagai sesuatu yang objektif terlepas dari segala ikatan-ikatan yang
sifatnya inderawi.
Untuk membuktikan bahwa dunia idea
itu sungguh ada secara objektif, Plato kerap menggunakan contoh betapa sebuah segitiga dengan segala
ketidaksempurnaannya yang digambar oleh pak guru di papan tulis. Pak guru
tersebut bisa menggambar sebuah segi tiga karena sebelumnya sudah ada
dalil-dalil segi tiga. Sedangkan dalil itu ada di dalam dunia idea segi tiga.
Kata Plato, kalau begitu segi tiga yang sempurna adalah segi tiga yang ada di
dalam dunia idea. Kalau ilmu pasti berbicara tentang hal-hal yang secara eksak
pasti, maka dunia ideapun pasti (ada secara objektif).
Sejajar dengan contoh ini, maka
menurut Plato jiwa sudah ada dalam dunia
idea sebelum manusia itu lahir ke dunia. Inilah yang dimaksud dengan
preeksistensi jiwa. Segala sesuatu yang terkandung di dalam dunia idea adalah
bersifat baka, sempurna dan tidak berobah.
Mungkin kita akan bertanya pada Plato:
Bagaimana jiwa itu bisa masuk ke dalam tubuh manusia? Pertanyaan ini dijawab
oleh Plato dalam sebuah mite tentang seorang sais yang menunggangi dua ekor
kuda. Dalam mitos ini Plato melukiskan
bagaimana jiwa sebelum masuk ke dalam tubuh, ikut dalam rombongan para
dewa dengan harapan supaya ia dapat sebentar keluar dari kolong langit untuk
bisa memandang realitas tertinggi yaitu dunia idea. Tetapi satu diantara kuda
itu binal dan mengakibatkan jatuhnya kuda lain bersama saisnya. Itu berarti
jiwa masuk lingkungan duniawi dan mengadakan hubungan dengan tubuh, sehingga
manusia duniawipun lahir dan sekaligus merupakan penjara bagi jiwa.
Bersama mitos ini
Plato membedakan fungsi-fungsi jiwa atas tiga bagian yakni, pertama fungsi yang tertinggi (sais)
adalah fungsi rasional. Fungsi kedua,
adalah kehendak dan keberanian (kuda yang berkemauan baik), dan yang ketiga adalah fungsi keinginan (kuda
yang tidak tahu disiplin) yang berarti fungsi-fungsi seksual dan vegetatif.
Untuk memperjelas bagaimana pandangan
Plato tentang dunia termasuk hal-hal
yang bersifat materi marilah kita lihat mite gua. Manusia dilukiskan oleh Plato
sebagai orang-orang tawanan yang berderet-deret dibelenggu di tengah-tengah
sebuah gua, dengan muka mereka diarahkan ke dinding gua, membelakangi lobang
gua. Di belakang para tawanan itu ada api unggun. Di anatara api unggun dan
para tawanan ada banyak ada banyak budak yang kian kemari berjalan-jalan sambil
memikul beban yang berat. Bayangan mereka tampak pada dinding gua yang dilihat
para tawanan tadi oleh karena para tawanan itu selama hidupnya hanya melihat
bayangan yang ada pada dinding gua itu saja. Maka mereka mengira bahwa itulah
kenyataan hidup. Ketika seorang tawanan dilepaskan dari belenggunya dan
diperkenankan melihat ke belakang, bahkan di luar gua, ia tahu bahwa yang
selama ini ia lihat hanyalah bayangan belaka, bukan kenyataan hidup. Dan bahwa
kenyataan hidup jauh lebih indah dari pada bayangan itu. Ia kembali
menceritakan hal itu kepada teman-temannya para tawanan, akan tetapi mereka
tidak mau mendengarkannya, bahkan orang itu dibunuhnya.
Dalam
mite ini sudah tersirat bahwa bagi Plato dunia ini adalah sebagai bayangan
(yang menurut anggapan orang itulah sebagai realitas sebenarnya). Mite ini
melukiskan kegoblokan manusia. Supaya manusia bisa terlepas dari belenggu ini
maka manusia harus belajar untuk bisa memperoleh pengetahuan yang benar.
Demikian juga jiwa yang terpenjara di
dalam tubuh harus dibebaskan. Caranya ialah berusaha mendapatkan pengetahuan
yang benar. Fungsi rasional dari jiwa kalah bersaing dengan kedua fungsi
lainnya. Sedangkan kedua fungsi tersebut berkaitan dengan keinginan-keinginan
dan nafsu-nafsu. Supaya fungsi rasional selalu terarah pada idea yang
sebenarnya maka manusia harus mengatur segala keinginan dan nafsu-nafsunya.
Dengan ini keterarahan jiwa terhadap idea tetap terjaga. Dari keseluruhan
uraian ini tampaklah bahwa Plato memberi prioritas jiwa diatas tubuh.
3. Dualisme anatara jiwa dan tubuh:
Descartes (1596-1650).
Dalam sejarah filsafat, dualisme
antara jiwa dan tubuh terutama disebarkan oleh Descartes. Oleh sebab itu
tidaklah mengherankan bila Descartes ini biasanya disebut sebagai salah seorang
filsuf yang paling penting di bidang dualisme ini.
Descartes membangun filsafatnya dengan
metode meragu-ragukan. Misalnya saya sekarang duduk di kursi, menghadap meja
dengan pakaian lengkap. Ini dapat diragukan kebenarannya. Sebab beberapa waktu
yang lalu saya bermimpi duduk di kursi, menghadap meja dengan pakaian lengkap
seperti itu. Pada hal kenyataannya waktu itu saya sedang tidur di tempat tidur.
Maka kata Descartes, “saya mengerti dengan sangat jelas bahwa tidak ada alasan
yang dengannya kita bisa membedakan antara waktu tidur dan waktu terjaga”[15]).
“Dilain pihak ilmu pasti seperti
matematika lebih memberi kepastian kepada kita disbanding dengan ilmu-ilmu
lain, sebab ketika dalam situasi bermimpipun 2+3 jawabannya selalu = 5”[16]).
Kepastian semacam inipun belum diterima oleh Descartes. Sebab siapa tahu ada
suatu dewa yang jahat menipu saya.
Dari contoh-contoh ini Descartes mengambil
keputusan bahwa hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan kebenarannya
yakni: Bahwa saya sedang beragu-ragu. Saya sedang berpikir bahwa saya sedang
beragu-ragu. Aku berpikir maka kalau begitu aku ada (cogito ergo sum). Inilah
isi renungan kedua dari Descartes yang sekaligus merupakan titik tolak dari
seluruh filsafatnya.
Jelaslah bagi Descartes jauh lebih
mudah membuktikan adanya jiwa daripada tubuh[17]).
Berpikir untuk beragu-ragu itu adalah aktifitas jiwa. Untuk menjamin kebenaran
dari “aku yang berpikir” ini, yang kita
sebut sebagai jiwa, Descartes sampailah kepada pembuktian adanya Tuhan. Ternyata
ia berhasil membuktikannya dengan berbagai argumen.
Walaupun agak sulit
untuk membuktikan adanya hal-hal materi termasuk tubuh, namun Descartes pada
meditasi yang kelima sudah menerima bahwa realitas bukan hanya bersifat rohani,
tetapi ada juga ide lain mengenai hal-hal yang mengisi ruang. Sehingga pada
meditasi yang berikutnya (yang ke-6) hal-hal material berhasil dibuktikannya. Yang
penting untuk kita ketahui sekarang ialah konsepsi Descartes tentang jiwa dan tubuh serta pertautannya.
Sehubungan dengan ini
maka pada meditasi yang terakhir (yang ke-7) Descartes merinci adanya dua jenis
substansi. Substansi-substansi itu ialah substansi berpikir yang disebut jiwa
dengan sifat-sifat rohaninya dan tidak dapat dibagi-bagi. Kemudian substansi
yang berkeluasan yang sifatnya dapat
dibagi-bagi atau dipisah-pisahkan[18]).
Tubuh adalah substansi yang berkeluasan.
Menurut Descartes
kedua substansi ini sangat berdampingan
satu sama lain dan juga saling mempengaruhi. Jiwa bisa mempengaruhi tubuh dan
sebaliknya. Kedua substansi ini, jiwa dan tubuh, ada tersendiri dan terpisah
meskipun saling mempengaruhi. Pemisahan antara jiwa dan tubuh sangat ditekankan
oleh Descartes.
Yang menjadi persoalan
ialah bagaimana jiwa bias mempengaruhi tubuh dan sebaliknya. Atau lebih tepat
bagaimana proses situ terjadi. Persoalan ini dipecahkan oleh Descartes dengan
meunjuk pada suatu kelenjar (pineal gland), terdapat pada daerah otak manusia
yang berfungsi sebagai perantara. Misalnya, “kita ingin minum, tentu
tenggorokan kita rasanya kering. Melalui urat saraf yang terdapat pada
tenggorokan perasaan tersebut diinformasikan ke kelenjar yang terdapat dekat
otak. Dengan perantaraan kelenjar inilah jiwa kita sadar akan perasaan haus
tersebut”[19]).
Proses yang sama berlaku juga untuk hal yang sebaliknya.
Bab. III
Pertautan Jiwa dan Tubuh.
Bagaimana jiwa dan
tubuh bertautan satu sama lain, sesuai dengan pendapat para filsuf ternama yang
telah diringkaskan oleh Leahi[20]),
akan diutarakan kembali dalam bab ini. Bersama Leahy, kita menanggapi pendapat-pendapat
tersebut berikut ini.
Jiwa dan tubuh
dipandang sebagai dua substansi yang berbeda tetapi saling mempengaruhi.
Doktrin ini biasanya disebut dualisme. Dualisme semacam ini terutama dianut
oleh Descartes dan Plato. Misalnya, jika aku takut, jantungku berdebar-debar
lebih cepat (jiwa mempengaruhi badan). Atau jika anda merasa lelah fisik,
semangatmu terasa lesu (tubuh mempengaruhi jiwa). Kita kurang setuju. Sebab
teori ini tidak memperhitungkan kesatuan pribadi manusia. Manusia dilihat
sebagai sepasang. Menurut teori ini manusia seharusnya bilang “kami”, dan bukan
lagi “aku”. Pada hal manusia adalah
suatu kesatuan yang terdiri atas tubuh dan jiwa (dualitas dalam kesatuan[21]).
Jiwa dan tubuh
dianggab sebagai dua substansi tetapi tidak saling mempengaruhi. Teori ini
dianut oleh Malebranche dan Leibniz. Mereka berpendapat bahwa antara jiwa dan
tubuh terdapat suatu paralelisme empurna. Sehingga setiap kali sesuatu terjadi
dalam jiwa, maka sesuatu yang sejajar terjadi juga dalam tubuh.
Pendapat lain “pan
psikisme, atau paralelisme monistis”. Doktrin ini mengajarkan bahwa materi dan kesadaran atau tubuh dan
jiwa hanya merupakan dua aspek dari suatu kenyataan unik yang fundamental.
Bukan dua kenyataan yang berbeda, melainkan kenyataan yang sama yang dipandang
dari dua sudut berlainan. Agak seperti
bola yang sama yang dapat dikatakan berbentuk bulat atau melengkung sesuai
dengan sudut pandang yang diambil. Teori ini menarik kesimpulan bahwa setiap
kenyataan memiliki aspek fisik dan psikis. Kita dapat bertanya: Apakah realitas
tertinggi yakni Tuhan termasuk ke dalam teori ini? Ternyata Spinoza jatuh ke
dalam teori ini sehingga ia beranggaban bahwa ruang adalah atribut Ilahi.
Ada juga pendapat
bahwa tubuhlah yang merupakan suatu substansi. Sedangkan jiwa hanyalah suatu
himpunan fenomena-fenomena psikis. Bagi penganut faham ini jiwa hanyalah suatu
bayangan belaka. Sedangkan yang sebenarnya terjadi tidak lain adalah aktifitas
psikis yang sangat kompleks yang kepadanya diberi nama “jiwa”. Demikianlah
beberapa pendapat para filsuf tentang pertautan jiwa dan tubuh.
1. Munculnya jiwa.
Ada dua teori pokok
tentang asal usul jiwa yakni: Teori Tradusianisme dan teori Kreasionisme.
Paham tradusianisme yang rupanya didasarkan atas St.Agustinus,
mendalilkan bahwa jiwa manusia itu berasal dari jiwa orangtuanya, baik secara
langsug dari jiwa orangtuanya (tradusianisme spiritualis), maupun melalui
badan. Orangtua menciptakan badan, yang pada gilirannya mengembangkan sebuah
jiwa manusia (tradusianisme material).
Sedangkan paham
kreasionisme sebaliknya mengakui bahwa jiwa anak itu langsusng diciptakan,
diambil dari kehampaan oleh pencipta. Argumen pokok teori ini ialah yang non
material seperti halnya jiwa tak dapat dihasilkan oleh yang material yakni
badan orangtua.
Terhadap teori yang
kedua ini ada keberatan. Sebab paham kreasionisme ini secara nyata melibatkan kuasa tertinggi untuk
ikut campur tangan terhadap kelangsungan hal-hal intra duniawi. Kausalitas
Tuhan hanya dapat bersifat kreatif sebagai sumber pertama segala eksistensi.
Sedangkan mahluk-mahluk yang ada melakukan tindakan eksistensinya seperti
perbuatan-perbuatannya dengan sarana-sarana mereka sendiri, kecuali dalam hal
mukjizat.
Tetapi apakah hal
kelahiran bayi merupakan mukjizat? Tentu tidak. Sebab peristiwa kelahiran bayi
adalah hal yang lumrah. Maka dari itu kita lebih baik memilih teori “kreasi
yang dilanjutkan”. Jadi harus diartikan
bahwa jika dicipta oleh Tuhan dalam arti Tuhan membuat orangtua itu mampu untuk
mengatasi kekuatan mereka sendiri. Dan dengan demikian jiwa anak mereka, suatu
hasil yang takkan mampu mereka buat dengan kekuatan yang ada pada mereka, tanpa
bantuan Tuhan. Jadi yang kita tolak adalah “intervensionisme” Tuhan terhadap
kuasa yang kedua dan seterusnya.
Yang menjadi pertanayaan
ialah: Kapan jiwa yang memang dalam bentuk manusiawi mulai bereksistensi? Ada
teori menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan “penjiwaan segera” (immediate
animation) yakni semenjak telur disuburkan. Teori ini dapat diragukan, sebab
gamet-gametpun mengandung keseluruhan kromosom dan gen-gen tetapi tidak
dinamakan sebagai manusia. Lagi pula sebuah telur yang sudah dibuahi toh masih
bisa dibagi untuk melahirkan anak kembar yang akhirnya menjadi dua pribadi atau
lebih.
Maka dari itu lebih
baik memilih “penjiwaan tidak segera”, dimana jiwa manusia baru dapat
bereksistensi dengan dimensi spiritualnya apabila alat-alat badan yang pokok
telah dipersiapkan. Pendapat ini bukan berarti membela abortus. Sebab embrio
sendiri sudah mempunyai pola permulaan yang khas bagi manusia. Dan dia bukan
hanya merupakan suatu kelanjutan dari tubuh orangtua, tetapi juga pernyataan
cinta kasih mereka.
2. Kekekalan Jiwa[22]).
Argumen-argumen pokok
yang mempertahankan adanya kekekalan jiwa:
Argumen persepakatan universal. Manusia
secara umum percaya akan kekekalan, sebagaimana terlihat jelas pada kepercayaan
spontan akan kehidupan terus sesudah kematian. Kepercayaan ini terdapat pada
semua bangsa, bahkan yang paling kuno. Apakah keyakinan umum ini tidak
mempunyai unsur kebenaran barang sedikitpun? Sulitlah untuk mengatakan keyainan
demikian secara mutlak tidak benar.
Suatu argument lain
disimpulkan dari etika: Seharusnya ada sanksi terhadap segala kejahatan yang
terdapat di dunia ini. Tetapi ternyata harapan ini tidak pernah tercapai secara
sempurna, sebab di mana-mana selalu ada kejahatan. Harapan akan keadilan ini
menuntut adanya suatu kehidupan lain sesudah kematian, suatu kehidupan dimana
pahala dan hukum diberikan kepada semua orang sesuai dengan perilakunya.
Argumen semacam ini berlaku bagi orang yang mengakui bahwa hidup ini mempunyai
suatu arti.
Argumen dari Teilhard
de Chardin: Argumen ini berpangkal pada evolusi.
Pada manusia evolusi itu telah menjadi sadar akan dirinya sendiri. Evolusi
hanya bisa berlangsung dalam dan melalui aktifitas bebas manusia.
Tugas ini amat berat bagi manusia, dan hanya suatu motivasi yang kuat dapat
membuatnya mampu untuk menyelesaikannya. Akan tetapi ia akan kehilangan segala
motivasi untuk melaksanakan usaha raksasa itu, jika ia yakin bahwa setelah
jangka waktu tertentu, tiada bekas apa pun yang tersisa dari usahanya itu. Maka
berhasilnya evolusi menuntut kekekalan jiwa manusia.
Argumen teknis:
Argumen ini terdiri dari tinjauan tentang bagaimana mahluk berhenti hidup.
Suatu mahluk berhenti hidup ialah karena suatu alasan intrinsik atau karena
alasan ekstrinsik. Alasan intrinsik berhubungan dengan esensi, sedangkan alasan
ekstrinsik adalah mengenai eksistensi.
Esensi suatu mahluk
hidup dapat dimusnahkan secara langsung Karena pembusukan, atau secara tak
langsung karena kehilangan sandaran pokok baginya.
Jiwa manusia tak
dapat mengalami satupun dari macam-macam pemusnahan itu. Ada beberapa argumern:
Antara lain, jiwa tidak dapat musnah karena pembusukan. Sesungguhnya pembusukan
itu berarti kehancuran suatu mahluk yang tersusun ke dalam struktur
konstitutifnya. Misal air hancur karena pembusukan bila air itu diredusir pada
unsur-unsurnya yakni hydrogen dan oksigen.
Jiwa juga tidak bisa dimusnahkan
karena kehilangan suatu sandaran yang esensial. Misalnya jiwa seekor hewan
tergantung secara intrinsik dari materi (sama sekali terserap oleh
fungsi-fungsi material dan perasaannya) yakni tubuhnya. Maka biarpun jiwa hewan
tak dapat membusuk, namun ia dapat musnah bila tubuh hewan itu diredusir sampai
hancur.
3. Jiwa Sesudah Kematian[23]).
Walaupun jiwa itu
bersifat spiritual, namun ia tak dapat berbuat apa-apa tanpa tubuh. Kalau
demikan halnya lalu apakah yang terjadi sesudah kematian? Ada dua teori untuk
menjawab pertanyaan ini. Pertama,
teori yang berpendapat setelah kematian maka jiwa akan mengenal dirinya sendiri
tanpa perantara, yang dikenal dan yang
mengenal adalah sama. Ada keberatan tentang teori ini yakni memandang materi
(tubuh) sebagai hal negatif dan bahkan jahat. Teori semacam ini kembali pada
Platonisme. Kedua, pemecahan Karl
Rahner yang dikemukakan dalam bukunya tentang teologi kematian. Menurut Rahner
“keakuan” yang asli adalah suatu realitas yang dimasukkan ke dalam kosmos
material karena perkembangan tubuhnya. Tubuh ini mempunyai keuntungan untuk
menghubungkan kita secara lansung dengan objek-objek kosmos tertentu, tetapi ia
juga mempunyai kerugian, yaitu membatasi hubungan langsung kita pada sejumlah
kecil di antara objek-objek itu saja. Menurut Rahner, peristiwa saat kematian
mematahkan ikatan tersebut, maka jiwa akan mampu berhubungan secara langsung
dengan keseluruhan materi.
Tetapi pemecahan ini
bukan berarti sesudah kematian, seantero dunia menjadi “badan” dari kusus ini.
Juga jangan diartikan sebagai kehadiran jiwa di mana-mana dalam alam semesta.
Tetapi harus digambarkan demikian, bahkan selama kehidupan di dunia ini saja,
badan yang dihayati oleh jiwa spiritual itu merupakan suatu system yang terbuka
pada dunia. Juga harus diingat bahwa filsafat alam-pun hampir tak mungkin
membatasi ide “tubuh” itu pada apa yang ditutupi kulit saja.
Penutup
Manusia dan jiwanaya
merupakan pokok bahasan filsafat yang selalu aktual sepanjang manusia
berfilsafat. Setiap filsuf membahasnya dan memberi tanggaban berupa hasil
analisa filosofis yang bercorak ragam. Berbagai aliranpun timbul. Tidak jarang
aliran-aliran itu jatuh pada kutub-kutub
ekstrim. Entah sebagai ekstrim yang memuncak pada materialisme yang mengasalkan
jiwa pada materi. Entah eksrim idealisme yang menganggab bahwa hal material
termasuk tubuh adalah sebagai penghalang bagi jiwa yang berakhir pada konsekwensi bahwa
tubuh dipandang rendah. Atau boleh jatuh pada kesimpulan dualisme ekstrim
Seperti Descartes. Pendeknya bermacam-macam aliran filosofis telah terjadi dalam khazanah filsafat.
Dari satu segi dapat dikatakan
bahwa “manusia” dan “jiwanya” sebagai objek filsafat sungguh pesat
perkembangannya. Ini terbukti dengan timbulnya bermacam-macam aliran serta
sintesa filosofis yang bercorak ragam pula. Tetapi dari segi lain dapat
dikatakan bahwa kemajuan tersebut bukanlah suatu kemajuan jika jatuh pada
kutup-kutup ekstrim.
Manusia yang hidup
dalam kurun waktu prafilosofis rupanya
tidak merasa resah terhadap apa itu jiwa dan apa itu tubuh. Ini wajar sebab
mereka belum sampai pada taraf rasional. Mereka merasakan dan menghayati
pribadi sebagai keseluruhan. Hidup mereka masih dalam taraf menghayati tanpa
berpikir apa itu jiwa dan apa itu tubuh.
Berbeda dengan jaman
filosofis yang sering jatuh pada suatu kecenderungan memandang jiwa dan tubuh
sebagai dua hal yang terpisah. Kata “dan” sangat ditonjolkan dalam era
filosofis ini. “Jiwa dan tubuh” boleh saja, asal dimengerti bahwa kedua hal itu
bukanlah sebagai “A plus B” atau “jiwa + tubuh”. Dalam filsafat Descartes
kelihatan dengan sangat jelas bahwa “jiwa” dan “tubuh” bukanlah suatu
keseluruhan yang utuh melainkan dipandang “jiwa” plus “tubuh”. Maka sangat
tepatlah bila Descartes dijuluki sebagai seorang filsuf dualisme.
Kita setuju dengan Van
Melsen yang berpendapat bahwa filsafat harus maju dengan tidak berat sebelah.
Filsafat harus menyelamatkan jiwa sekaligus dengan tubuh. Jiwa dan tubuh tidak
dipisahkan kendati keduanya memang berbeda. “Aku” adalah keseluruhan jasmani
dan juga “Aku” adalah keseluruhan rohani. Jiwa dan tubuh memang sungguh-sungguh
berbeda tetapi harus dipandang sebagai dualitas dalam kesatuan[24]).
Buku-buku sumber
Van Peursen C.A. Tubuh-Jiwa-Roh: Sebuah Pengantar dalam Filsafat Manusia. Jakarta: BPK.Gunung Mulia,
1983.
Leahy Louis. Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Mahluk Paradoksal.
Jakarta: PT.Gramedia, 1984.
Van Peursen C.A. Orientasi di alam Filsafat: Sebuah Pengantar dalam permasalahan Filsafat.
Jakarta: PT.Gramedia, 1983.
Bertens K. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius,
1981.
Hadiwijono Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat I,II.
Yogyakarta: Kanisius, 1981
Descartes. Discouse on Method: and other writings. London and
Tonbridge: White friars press, Ltd., 1962.
Boelaars Y. Kepribadian Indonesia Modern: Suatu Penelitian Antropologi Budaya.
Jakarta: PT.Gramedia.
Snijders
Adelbertus. Filsafat Manusia: (diktat perkuliahan), 1987.
Drijarkara N. Percikan Filsafat. Jakarta:
PT.Pembangunan, 1962.
1)
C.A.Van
Peursen, Tubh-Jiwa-Roh (terjemahan):
Sebuah pengantar dalam Filsafat Manusia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983),
hlm.13.
2)
Adelbertus
Snijders, Filsafat Manusia (diktat
perkuliahan: Fakultas Filsafat- Universitas Katolik Sat.Tomas Sumatera Utara),
hlm.66.
[3] ) Ibid, hlm. 83.
4) Y.Boelaars, Kepribadian Indonesia Modern: Suatu
Penelitian Antropologi Budaya (Jakarta: PT.Gramedia), hlm.18-21
8).Ibid. hlm. 99.
10) “metodologis” dalam hal ini ialah “urutan”:
demikian sehingga Feurbach sehubungan dengan penekanannya pada materi (tubuh);
Plato dengan memprioritaskan jiwa, Descartes yang melihat jiwa dan tubuh
sebagai dualism.
11) C.A.Van
Peursen, orientasi di alam Filsafat
(terjemahan): Sebuah Pengantar dalam Permasalahan Filsafat (Jakarta:
PT.Gramedia, 1983), hlm. 158.
12) Ibid, hlm.58.
13) Ibid, hlm. 59-60.
14) Bandingkan dengan: C.A.Van Peursen, Tubuh-Jiwa-Roh, hlm. 39-52.; Harun
Hadiwijono, Sejarah Filsafat Barat
(Jogyakarta: Kanisius, cet. Ke-2, Jilid I, 1983.) hlm.38-45.; K.Bertens,
Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Kanisius, 1981), hlm. 94-124.
15) Descartes, Discourse of method: And Other Writings,
(translated by: Arthur Wallaston), London and Tonbridge, White friars, Ltd.,
1962, p. 103.
16) Ibid, p.104.
17) Ibid, p.107.
[20]) Louis Leahy, Manusia sebuah Misteri: Sintesa
Filosofis tentang mahluk paradoksal (Jakarta: PT.Gramedia, 1984), hlm.165-172.
[22] Lihat, Ibid,
hlm.159-162
[23] Lihat, Ibid, hlm.172-175
[24]) Adelbertus Snijders, Filsafat Manusia, (diktat), hlm.
61-62.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar