Rabu, 04 April 2012


Manusia dan jiwanya
Suatu perspektif dalam perkembangan filsafat


Kata pengantar
       
        Karya tulis ini disusun untuk memenuhi sebahagian tuntutan akademis studi filsafat semester IV pada Fakultas Fisafat Universitas Katolik St.Tomas, Sumatera Utara di Pematangsiantar.
       
        Saya banyak mengucapkan terima kasih kepada P.Laurentius Sinaga, Ofm.Cap. yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk mengoreksi dan sekaligus memberi saran demi terwujudnya karya tulis ini. Sekalipun sudah dibimbing, namun saya sebagai mahasiswa tidak luput dari kesalahan baik dalam penyajian materi maupun dari segi teknik penulisan. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan mutu tulisan ini.

Sinaksak, 1 April 1987

Penyusun
Pandenaker Simanjuntak.


Pendahuluan
     
           Adalah merupakan perdebatan yang sangat sengit dikalangan para filsuf sepanjang masa yakni, “masalah jiwa dan kaitannya dengan manausia itu sendiri”. Sejarah telah membuktikan bahwa dari sekian banyak filsuf sebegitu banyak pula tafsiran filosofis yang mereka kemukakan seputar pertautan antara “jiwa” dengan “tubuh”. Jarang seorang filsuf begitu saja mengikuti pandangan filosofis dari seorang filsuf lain. Pendeknya berbagai macam tafsiran filsofis telah dinyatakan sepanjang manusia berfilsafat.

           Memang secara garis besar, pandangan para filsuf terhadap “tubuh” dan “jiwa” dapat digolongkan atas tiga golongan yakni, pertama mereka yang lebih cenderung melihat keunggulan “jiwa” diatas tubuh. Golongan kedua, lebih cenderung melihat keunggulan” tubuh” diatas “jiwa”. Golongan yang ketiga, memandang “jiwa” dan “tubuh” sebagai sesuatu kesejajaran satu dengan yang lain.

         Jika kita perhatikan ketiga golongan ini maka tampaklah bahwa pandangan-pandangan tersebut bertitik tolak dari perbedaan antara jiwa dan tubuh manusia. Jika para filsuf berfilsafat dengan titik tolak sedemikian maka dapatlah dibedakan tiga macam pertautan antara jiwa dengan tubuh yang tampak dalam hidup sehari-hari. Pertautan itu yakni, pertama ialah bahwa jiwa mempengaruhi tubuh. Misalnya saja, kita mau mengeluarkan tangan dan tubuh melaksanakan kemauan itu; Kita merasa cemas dan jantung berdebar-debar. Bahkan melalui sugesti dapat ditampilkan rasa sakit dalam tubuh, dan sebagainya. Kedua, tubuh mempengaruhi jiwa. Misalnya, pengaruh kelenjar-kelenjar buntu atas struktur kepribadian; Kerusakan bagian-bagian otak yang menyebabkan cacat jiwa; Obat-obatan yang menyebabkan perubahan keadaan jiwa dan sebagainya. Pertautan yang ketiga ialah paralelisme antara jiwa dan tubuh. Jika demikian adanya berarti tidak ada pengaruh satu sama lain. Tetapi aktifitas jiwa berjalan sejajar dengan tubuh. Sebagai contoh dapat disebut prersaman keadaan jiwa dengan ekspresi wajah (kegembiraan, penderitaan, rasa malu, kemarahan); Hubungan antara perawakan dan watak (Kretsmer); relasi antara kepandaian dan struktur otak; watak yang dapat dikenal melalui tulisan tangan.

              Dalam filsafat, pertautan yang pertama terutama ditikberatkan oleh pemikir-pemikir spiritualistis (yang hakiki adalah jiwa). Pertautan yang kedua didukung oleh pemikir-pemikir materialistis (yang hakiki adalah tubuh) dan pertautan yang ketiga ditonjolkan oleh pemikir-pemikir dualistis yang bertitik tolak dari paralelisme (dua buah jam tangan sama-sama menunjukkan waktu dengan cara persis sama. Atau secara monistis: Dua lempeng jam dari jam yang sama[1]).

               Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka sengaja dipilih “Manusia dan jiwanya, suatu perspektif dalam perkembangan filsafat” sebagai tema sekaligus judul untuk karya tulis ini. Pembahasan yang menitikberatkan pada keunggulan jiwa diatas tubuh adalah pembahasan yang berat sebelah. Mengutamakan jiwa berarti merendahkan tubuh dan sebaliknya. Padahal filsafat harus menyelamatkan sekaligus jiwa maupun tubuh. Pendeknya membahas jiwa dan tubuh dalam suatu kesatuan yang memiliki kaitan sangat erat. Inilah yang saya maksudkan “suatu perspektif atau cara pandang dalam rangka filsafat”. Sekadar untuk meminjam istilah “balance on the edge of contradiction” yang dikutip oleh DR.Adelbertus Sinijders dari Van Melsen bahwa filsafat harus maju diantara kontradiksi-kontradiksi dan sifat paradoksal dengan tidak menghapus hal yang satu demi menyelamatkan yang lain[2]).

               Dalam pandangan prafilosofis (primitif) masalah jiwa dan tubuh belum muncul. Pertanyaan yang bersifat rasional belum ada sehingga apa itu jiwa dan apa itu tubuh bukan merupakan suatu persoalan. Jiwa dan tubuh dihayati dalam suatu kesatuan oleh orang primitif. Pandangan primitif ini sengaja ditampilkan sebagai suatu latar belakang.

          Selanjutnya akan diuraikan bagaimana jiwa dan tubuh itu dibahas dalam kerangka filsafat. Tentu dalam hal ini –karena filsafat terlalu luas-  maka akan ditampilkan beberapa filsuf yang kiranya cukup representatif antara lain Plato, Descartes dan Feurbach.

          “Bagaimana sesungguhnya jiwa itu terjadi?” atau “kapan munculnya jiwa?”. “Apakah jiwa itu bersifat kekal?”. Dan kalau memang “bersifat kekal” apa yang bakal  terjadi sesudah kematian “badan’ (tubuh)?”.
           Pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang bersifat hakiki dan merupakan dasar berpijak bagi filsafat. Prof.DR.Louis Leahi telah mencoba mengulas masalah ini. Oleh sebab itu pandangan beliau akan ditampilkan juga.


Bab. I
Jiwa dan Tubuh dalam Pandangan Prafilosofis.

             Sebagai latarbelakang historis ada juga baiknya bila kita menyimak bagaimana jiwa itu dimengerti dan dipahami oleh orang entah itu suku primitif, Arkhais dan dalam Alkitab. Memang yang tergolong dalam pandangan prafilosofis bukanlah terbatas hanya pada pembagian semacam ini. Tetapi karena terlalu luas, maka kita ambil saja yang dominan yang kiranya bisa mewakili pandangan prafilosofis yang lain.

1. Pandangan primitif.
           Suku primitif berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang disebut “jiwa” atau “jiwa-jiwa”. Tetapi jiwa yang dimaksud disini sungguh berbeda bahkan boleh dikatakan hampir tidak punya kaitan terhadap pengertian jiwa yang sudah sangat lumrah dimengerti oleh orang dewasa ini. Pandangan suku primitif secara ringkas adalah kurang lebih sebagai berikut: Ada kekuatan yang maha besar, kekuatan itu datang dari luar dan sekaligus menguasai alam serta merasuk dalam tubuh manusia. Berdasar pada konsep inilah maka kita tidak heran kalau suku primitif memandang segala sesuatu berjiwa.

            Jiwa tidak dianggab semata-mata khas manusiawi, tetapi lebih mengarah kepada suatu daya yang lebih tinggi yang melampaui manusia. Dengan demikian seluruh dunia primitif terserap oleh suatu realitas yang lain. Jiwa tidak pernah semata-mata rohani, karena dunia tidak pernah semata-mata jasmani. Dalam lapisan terdalam dari berbagai kebudayaan terdapat simbol-simbol pokok (seperti: Air, terang, pohon kehidupan dan sebagainya) yang mengatakan bahwa bagi orang primitif dunia ini lebih dari pada sesuatu kejadian alam saja. Di sini yang jasmani dan yang rohani bersatu padu[3]).

Karena yang jasmani dan yang rohani bersatu padu, maka distingsi antara jiwa dan tubuh menjadi tidak jelas. Garis pemisah antara alam pribadi dan alam asing, antara dunia batin dan dunia luar, antara kehidupan dan kematian, antara jiwa dan mayat tidak jelas. Dunia primitif tidak mempertentangkan jiwa dengan tubuh. Bahkan bagi orang Mesir tubuh merupakan salah satu jiwa dalam rentetan jiwa-jiwa yang lain[4]).

           Pola berpikir demikian tentu saja menjadi dasar bagi suku primitif untuk sampai pada tingkat penghayatan. Bagaimana jiwa dan tubuh itu dihayati tentu sejalan dengan konsep-konsep yang dimilikinya. Misalnya tampak dalam pemakaian kata “aku”. “Aku” bagi suku rimitive berarti “aku bersama dengan”. “Aku” adalah anggota suku. “Aku” baru mendapat arti bila dikaitkan dengan suku. Jadi “aku” sebagai pribadi rimit tidak dapat kita temukan pada suku rimitive.

2. Pandangan Arkhais.
           Pandangan suku primitif terhadap jiwa dan tubuh hampir mirip dengan pandangan Arkhais yang terdapat di Yunani sekitar abab ke-6 SM. Dalam pemikiran “Arkhais” ini jiwa dan tubuh masih begitu terjalin satu sama lain, sehingga bukan saja jiwa belum dibedakan dengan tubuh, melainkan paham “tubuh” maupun “jiwa” belum dikenal sama sekali.

           Homeros dalam sajak-sajaknya kerap kali menggunakan kata “psykhe” (bandingkan dengan bahasa Indonesia: psikis) tetapi tidak pernah dipandang sebagai jiwa seperti pengertian modern bersama filsafatnya. “Psyke” menurut Homeros adalah “apa yang lenyap” kalau pingsan dan mati, namun lain sifatnya dari pada “suatu jiwa” yang sesudah kematian hidup terus. Yang berpindah ke alam baka setelah kematian ialah gambaran samar-samar dari manusia sebagaimana ia hidup[5]).

           Hal ini menunjukkan pada kita bahwa pengertian jiwa dan tubuh belum ada. Dalam pemikiran Arkhais perbedaan antara dunia  dengan dunia luar belum dipermasalahkan. Khazanah bahasa Yunani dapat memperlihatkannya. Acap kali hanya ada satu kata dan itu berarti juga satu penghayatan yang menunjukkan baik perasaan (tahap psikis) maupun suatu tingkah laku (tahap badani). Kata “phabos” dapat menunjukkan ketakutan atau kecemasan (seakan-akan) dilihat dari dalam, tetapi juga melarikan diri (dilihat dari luar). Ada juga satu kata “medomi” yang berarti “mempunyai suatu rencana” dan serentak juga “melaksanakan suatu rencana”. Ada satu kata “menos” yang dalam diri manusia menunjukkan keberanian, nafsu, tetapi kata yang sama dipakai juga untuk menunjukkan sebatang lembing yang tengah mendambakan darah sedang terpancang dalam tanah[6]).

3. Sekilas pandang mengenai Jiwa dan Tubuh dalam Alkitab.
          Sebagai pandangan yang masih bersifat prafilosofis maka ada juga baiknya kalau kita perhatikan bagaimana jiwa dan tubuh itu dimengerti dalam Alkitab. Kata “nefesy” yang berkaitan dengan nafas dalam Perjanjian Lama, sering disamakan sebagai suatu daya kehidupan. Jiwa baru ada setelah Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam manusia. Umumnya orang beranggaban bahwa jiwa semacam ini bertempat tinggal dalam darah –lebih tepat lagi sama dengan darah, sehingga dianggab haram bagi orang Israel makan darah (Kej. 9:4, Ul 12:23).

          Sebagaimana halnya dengan pikiran Arkhais, juga dalam Perjanjian Lama belum ada pemisahan yang ketat antara hidup batin dengan hidup badaniah. Misalnya saja, mengenal jiwa seseorang bagi orang Ibrani itu berarti mengetahui siapa ayahnya, dan dari keturunan mana asalnya. Jadi jiwa dalam hal ini dimengerti  sebagai suatu yang punya arti jika tidak terlepas dari kebertautannya terhadap hal-hal yang lain.

          Manusia adalah jiwa, tetapi harus juga dikatakan bahwa manusia adalah daging. Dalam hal ini manusia bukanlah  mahluk majemuk atau dualistis yang terdiri dari bagian psikis dan badani. Dalam Perjanjian Lama daging juga termasuk jiwa; Maka dari itu seperti dikatakan bahwa jiwa rindu akan Tuhan, demikian juga dagingku rindu akan Tuhan (Mz. 63:2; 84:3)[7]. Seperti dalam masyarakat peramu yang percaya bahwa segala sesuatu berjiwa. Demikan juga orang Ibrani dalam Perjanjian Lama menganggab bahwa tubuh itu juga adalah jiwa.

          Perjanjian Baru yang membicarakan “tubuh” yang mengandung arti manusia seluruhnya, misalkan saja manusia dinasehatkan untuk mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup (Rom. 12:1) dan tidak dapat disangsikan lagi bahwa dengan itu dimaksudkan manusia seluruhnya[8]). Kata “jiwa” (psyke) dipakai juga, tetapi tidak merupakan pelengkap atau lawan tubuh, melainkan sama dengan kata Ibrani “nefesy” menunjukkan manusia seluruhnya (missal 2 Kor 12:15; Rom. 2:9, diterjemahakan: Setiap orang yang hidup, harafiah: segala jiwa manusia)[9].

           Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru membahas manusia dengan tujuan manusia itu bisa hidup dengan rasa bahagia. Karena itu Alkitab bukanlah suatu bahasan filosofis. Tetapi walaupun tidak bersifat filosofis toh Alkitab memberi perspektif yang lain sifatnya.


Bab 2.
Jiwa dan Tubuh dalam Filsafat.

           Berhubung karena filsafat yang membahas jiwa dan tubuh terlalu luas, -sebab hampir setiap filsuf membahasnya- maka kita akan memfokuskan diri pada beberapa filsuf tersohor anatara lain , Feurbach dengan materialismenya yang berat sebelah, Plato yang memprioritaskan jiwa dan dualismenya Descartes. Ketiga filsuf ini sengaja ditampilkan  sebab disamping pengaruhnya terhadap filsuf-filsuf sesudahnya, juga demi suatu tuntutan “metodologis”[10]) pembahasan.

1. Materialisme yang berat sebelah: Feurbach (1804-1872).
         Diantara para materialis Jerman pada abab ke-19 Feurbach adalah filsuf yang paling terkenal dan tersohor. Ia boleh disebut sebagai filsuf yang punya pengaruh besar terhadap filsuf-filsuf materialis sesudahnya seperti Karl Marx (1818-1883), Frederich Engels (1820-1895) dan W.E.Lenin.

         Sebelum sampai pada Feurbach maka terlebih dahulu kita harus mengetahui apa yang menjadi cirikhas materialisme ini yakni: pertama, harus disebut bahwa bagi materialisme “alam kebendaan” selalu merupakan ukuran nilai-nilai dan norma kenyataan. Boleh jadi dalam hal ini alam rohani diasalkan seluruhnya daripada alam kebendaan. Atau alam rohani itu dilihat sebagai suatu hal sampingan dari materi. Bahkan yang paling hebat lagi melihat hal rohani sebagai hasil daripada materi belaka. Ciri
kedua, ialah materialisme yang bertitik pangkal dari sebuah “objektivasi” yang disebut oleh “subjek” dan dalam penalaran selanjutnya  “subjek” itu lalu dilupakan[11]).

         Melihat cirri khas materialisme ini maka Feurbach berada dalam posisi yang menganggab bahwa hal rohani (jiwa) merupakan suatu sampingan dari materi. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti telaahan Feurbach berikut ini.

          Bagi Feurbach “jiwa” tidak lain daripada “suatu kesan objektif” yang timbul karena kita secara pribadi menghayati eksistensi kita. Jiwa sebagai substansi yang tak berkeluasan tidak diterima oleh Feurbach. Ini dapat kita lihat dari argument kontra yang dilontarkannya. Katanya “apa gunanya keluasan menurut panjang dan luasnya tubuh bagi sesuatu yang tak berkeluasan”[12]). Argumen ini sebenarnya sama saja dengan mengatakan, “Kalau benar jiwa itu ada pada dirinya, mau tidak mau jiwa itu harus bersifat keluasan”. Tetapi ternyata orang yakin bahwa jiwa itu adalah non materi dan tak berkeluasan. Pendapat semacam ini sengaja dibuat oleh manusia yang berpikir. Inilah yang disebut oleh Feurbach sebagai “hasil abstraksi si subjek”.
          Secara gambling dapat kita lihat bagaimana pengertian Feurbach tentang jiwa dan tubuh dalam kutipan berikut ini: “Dipandang dari sudut psikologis (berarti bagi saya sebagai mahluk yang sadar akan dirinya), pemikiran tidak merupakan suatu aktifitas otak, sebab saya dapat berpikir, sekalipun saya sama sekali tidak tahu bahwa saya mempunyai otak. Jadi dalam psikologi, kata Feurbach, kita tidak menghiraukan terjadinya pemikiran. Tetapi kalau dipandang secara objektif dari sudut penyelidikan ilmiah, maka pemikiran itu  hanyalah suatu aktifitas otak yang sangat rumit sekali. Dilihat dari segi saya (fur nich), pemikiran berbeda dari otak, tetapi pada dirinya (an sich) tidak. Apa yang dapat dikatakan orang tentang jiwa –seperti misalnya sifat tak badani, tak jasmani dan tunggalnya- dari segi subjektif bersifat tak jasmani dan rohani, maka hal yang sama pada dirinya –dari segi objektif-  bersifat material dan inderawi”[13]).
         Maka jelaslah bagi Feurbach jiwa hanyalah sebagai sesuatu penghayatan subjektif. Sedangkan pada dirinya jiwa tidak lain adalah kompleksitas yang sangat rumit dari pada otak. Tepatlah kalau Feurbach disebut sebagai seorang materialis yang berat sebelah dengan penekanan utama pada tubuh jasmaniah.

2. Prioritas jiwa terhadap tubuh (Plato)[14]).
         Untuk mengerti ajaran Plato mengenai jiwa dan tubuh terlebih dahulu kita harus memahami ajarannya tentang  pre-eksistensi jiwa di dalam dunia idea. Perlu diketahui bahwa idea menurut Plato sungguh-sungguh ada secara objektif. Tidak seperti pengertian modern yang menganggab bahwa idea itu hanya bersifat subjektif saja. Jadi idea bagi Plato ada sebagai sesuatu yang objektif terlepas dari segala ikatan-ikatan yang sifatnya inderawi.
          Untuk membuktikan bahwa dunia idea itu sungguh ada secara objektif, Plato kerap menggunakan contoh  betapa sebuah segitiga dengan segala ketidaksempurnaannya yang digambar oleh pak guru di papan tulis. Pak guru tersebut bisa menggambar sebuah segi tiga karena sebelumnya sudah ada dalil-dalil segi tiga. Sedangkan dalil itu ada di dalam dunia idea segi tiga. Kata Plato, kalau begitu segi tiga yang sempurna adalah segi tiga yang ada di dalam dunia idea. Kalau ilmu pasti berbicara tentang hal-hal yang secara eksak pasti, maka dunia ideapun pasti (ada secara objektif).
          Sejajar dengan contoh ini, maka menurut Plato  jiwa sudah ada dalam dunia idea sebelum manusia itu lahir ke dunia. Inilah yang dimaksud dengan preeksistensi jiwa. Segala sesuatu yang terkandung di dalam dunia idea adalah bersifat baka, sempurna dan tidak berobah.
         Mungkin kita akan bertanya pada Plato: Bagaimana jiwa itu bisa masuk ke dalam tubuh manusia? Pertanyaan ini dijawab oleh Plato dalam sebuah mite tentang seorang sais yang menunggangi dua ekor kuda. Dalam mitos ini Plato melukiskan  bagaimana jiwa sebelum masuk ke dalam tubuh, ikut dalam rombongan para dewa dengan harapan supaya ia dapat sebentar keluar dari kolong langit untuk bisa memandang realitas tertinggi yaitu dunia idea. Tetapi satu diantara kuda itu binal dan mengakibatkan jatuhnya kuda lain bersama saisnya. Itu berarti jiwa masuk lingkungan duniawi dan mengadakan hubungan dengan tubuh, sehingga manusia duniawipun lahir dan sekaligus merupakan penjara bagi jiwa.
Bersama mitos ini Plato membedakan fungsi-fungsi jiwa atas tiga bagian yakni, pertama fungsi yang tertinggi (sais) adalah fungsi rasional. Fungsi kedua, adalah kehendak dan keberanian (kuda yang berkemauan baik), dan yang ketiga adalah fungsi keinginan (kuda yang tidak tahu disiplin) yang berarti fungsi-fungsi seksual dan vegetatif.
          Untuk memperjelas bagaimana pandangan Plato tentang dunia termasuk  hal-hal yang bersifat materi marilah kita lihat mite gua. Manusia dilukiskan oleh Plato sebagai orang-orang tawanan yang berderet-deret dibelenggu di tengah-tengah sebuah gua, dengan muka mereka diarahkan ke dinding gua, membelakangi lobang gua. Di belakang para tawanan itu ada api unggun. Di anatara api unggun dan para tawanan ada banyak ada banyak budak yang kian kemari berjalan-jalan sambil memikul beban yang berat. Bayangan mereka tampak pada dinding gua yang dilihat para tawanan tadi oleh karena para tawanan itu selama hidupnya hanya melihat bayangan yang ada pada dinding gua itu saja. Maka mereka mengira bahwa itulah kenyataan hidup. Ketika seorang tawanan dilepaskan dari belenggunya dan diperkenankan melihat ke belakang, bahkan di luar gua, ia tahu bahwa yang selama ini ia lihat hanyalah bayangan belaka, bukan kenyataan hidup. Dan bahwa kenyataan hidup jauh lebih indah dari pada bayangan itu. Ia kembali menceritakan hal itu kepada teman-temannya para tawanan, akan tetapi mereka tidak mau mendengarkannya, bahkan orang itu dibunuhnya.
         Dalam mite ini sudah tersirat bahwa bagi Plato dunia ini adalah sebagai bayangan (yang menurut anggapan orang itulah sebagai realitas sebenarnya). Mite ini melukiskan kegoblokan manusia. Supaya manusia bisa terlepas dari belenggu ini maka manusia harus belajar untuk bisa memperoleh pengetahuan yang benar.
         Demikian juga jiwa yang terpenjara di dalam tubuh harus dibebaskan. Caranya ialah berusaha mendapatkan pengetahuan yang benar. Fungsi rasional dari jiwa kalah bersaing dengan kedua fungsi lainnya. Sedangkan kedua fungsi tersebut berkaitan dengan keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu. Supaya fungsi rasional selalu terarah pada idea yang sebenarnya maka manusia harus mengatur segala keinginan dan nafsu-nafsunya. Dengan ini keterarahan jiwa terhadap idea tetap terjaga. Dari keseluruhan uraian ini tampaklah bahwa Plato memberi prioritas jiwa diatas tubuh.

3. Dualisme anatara jiwa dan tubuh: Descartes (1596-1650).
         Dalam sejarah filsafat, dualisme antara jiwa dan tubuh terutama disebarkan oleh Descartes. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan bila Descartes ini biasanya disebut sebagai salah seorang filsuf yang paling penting di bidang dualisme ini.
         Descartes membangun filsafatnya dengan metode meragu-ragukan. Misalnya saya sekarang duduk di kursi, menghadap meja dengan pakaian lengkap. Ini dapat diragukan kebenarannya. Sebab beberapa waktu yang lalu saya bermimpi duduk di kursi, menghadap meja dengan pakaian lengkap seperti itu. Pada hal kenyataannya waktu itu saya sedang tidur di tempat tidur. Maka kata Descartes, “saya mengerti dengan sangat jelas bahwa tidak ada alasan yang dengannya kita bisa membedakan antara waktu tidur dan waktu terjaga”[15]).
         “Dilain pihak ilmu pasti seperti matematika lebih memberi kepastian kepada kita disbanding dengan ilmu-ilmu lain, sebab ketika dalam situasi bermimpipun 2+3 jawabannya selalu = 5”[16]). Kepastian semacam inipun belum diterima oleh Descartes. Sebab siapa tahu ada suatu dewa yang jahat menipu saya.
          Dari contoh-contoh ini Descartes mengambil keputusan bahwa hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan kebenarannya yakni: Bahwa saya sedang beragu-ragu. Saya sedang berpikir bahwa saya sedang beragu-ragu. Aku berpikir maka kalau begitu aku ada (cogito ergo sum). Inilah isi renungan kedua dari Descartes yang sekaligus merupakan titik tolak dari seluruh filsafatnya.
          Jelaslah bagi Descartes jauh lebih mudah membuktikan adanya jiwa daripada tubuh[17]). Berpikir untuk beragu-ragu itu adalah aktifitas jiwa. Untuk menjamin kebenaran dari “aku yang berpikir”  ini, yang kita sebut sebagai jiwa, Descartes sampailah kepada pembuktian adanya Tuhan. Ternyata ia berhasil membuktikannya dengan berbagai argumen.

          Walaupun agak sulit untuk membuktikan adanya hal-hal materi termasuk tubuh, namun Descartes pada meditasi yang kelima sudah menerima bahwa realitas bukan hanya bersifat rohani, tetapi ada juga ide lain mengenai hal-hal yang mengisi ruang. Sehingga pada meditasi yang berikutnya (yang ke-6) hal-hal material berhasil dibuktikannya. Yang penting untuk kita ketahui sekarang ialah konsepsi Descartes tentang  jiwa dan tubuh serta pertautannya.

          Sehubungan dengan ini maka pada meditasi yang terakhir (yang ke-7) Descartes merinci adanya dua jenis substansi. Substansi-substansi itu ialah substansi berpikir yang disebut jiwa dengan sifat-sifat rohaninya dan tidak dapat dibagi-bagi. Kemudian substansi yang berkeluasan yang  sifatnya dapat dibagi-bagi atau dipisah-pisahkan[18]). Tubuh adalah substansi yang berkeluasan.

          Menurut Descartes kedua substansi ini sangat  berdampingan satu sama lain dan juga saling mempengaruhi. Jiwa bisa mempengaruhi tubuh dan sebaliknya. Kedua substansi ini, jiwa dan tubuh, ada tersendiri dan terpisah meskipun saling mempengaruhi. Pemisahan antara jiwa dan tubuh sangat ditekankan oleh Descartes.

          Yang menjadi persoalan ialah bagaimana jiwa bias mempengaruhi tubuh dan sebaliknya. Atau lebih tepat bagaimana proses situ terjadi. Persoalan ini dipecahkan oleh Descartes dengan meunjuk pada suatu kelenjar (pineal gland), terdapat pada daerah otak manusia yang berfungsi sebagai perantara. Misalnya, “kita ingin minum, tentu tenggorokan kita rasanya kering. Melalui urat saraf yang terdapat pada tenggorokan perasaan tersebut diinformasikan ke kelenjar yang terdapat dekat otak. Dengan perantaraan kelenjar inilah jiwa kita sadar akan perasaan haus tersebut”[19]). Proses yang sama berlaku juga untuk hal yang sebaliknya.


Bab. III
Pertautan Jiwa dan Tubuh.

            Bagaimana jiwa dan tubuh bertautan satu sama lain, sesuai dengan pendapat para filsuf ternama yang telah diringkaskan oleh Leahi[20]), akan diutarakan kembali dalam bab ini. Bersama Leahy, kita menanggapi pendapat-pendapat tersebut berikut  ini.

           Jiwa dan tubuh dipandang sebagai dua substansi yang berbeda tetapi saling mempengaruhi. Doktrin ini biasanya disebut dualisme. Dualisme semacam ini terutama dianut oleh Descartes dan Plato. Misalnya, jika aku takut, jantungku berdebar-debar lebih cepat (jiwa mempengaruhi badan). Atau jika anda merasa lelah fisik, semangatmu terasa lesu (tubuh mempengaruhi jiwa). Kita kurang setuju. Sebab teori ini tidak memperhitungkan kesatuan pribadi manusia. Manusia dilihat sebagai sepasang. Menurut teori ini manusia seharusnya bilang “kami”, dan bukan lagi “aku”. Pada hal manusia adalah  suatu kesatuan yang terdiri atas tubuh dan jiwa (dualitas dalam kesatuan[21]).

            Jiwa dan tubuh dianggab sebagai dua substansi tetapi tidak saling mempengaruhi. Teori ini dianut oleh Malebranche dan Leibniz. Mereka berpendapat bahwa antara jiwa dan tubuh terdapat suatu paralelisme empurna. Sehingga setiap kali sesuatu terjadi dalam jiwa, maka sesuatu yang sejajar terjadi juga dalam tubuh.

           Pendapat lain “pan psikisme, atau paralelisme monistis”. Doktrin ini mengajarkan  bahwa materi dan kesadaran atau tubuh dan jiwa hanya merupakan dua aspek dari suatu kenyataan unik yang fundamental. Bukan dua kenyataan yang berbeda, melainkan kenyataan yang sama yang dipandang dari  dua sudut berlainan. Agak seperti bola yang sama yang dapat dikatakan berbentuk bulat atau melengkung sesuai dengan sudut pandang yang diambil. Teori ini menarik kesimpulan bahwa setiap kenyataan memiliki aspek fisik dan psikis. Kita dapat bertanya: Apakah realitas tertinggi yakni Tuhan termasuk ke dalam teori ini? Ternyata Spinoza jatuh ke dalam teori ini sehingga ia beranggaban bahwa ruang adalah atribut Ilahi.

            Ada juga pendapat bahwa tubuhlah yang merupakan suatu substansi. Sedangkan jiwa hanyalah suatu himpunan fenomena-fenomena psikis. Bagi penganut faham ini jiwa hanyalah suatu bayangan belaka. Sedangkan yang sebenarnya terjadi tidak lain adalah aktifitas psikis yang sangat kompleks yang kepadanya diberi nama “jiwa”. Demikianlah beberapa pendapat para filsuf tentang pertautan jiwa dan tubuh.

1. Munculnya jiwa.
          Ada dua teori pokok tentang asal usul jiwa yakni: Teori Tradusianisme dan teori Kreasionisme.
Paham tradusianisme yang rupanya didasarkan atas St.Agustinus, mendalilkan bahwa jiwa manusia itu berasal dari jiwa orangtuanya, baik secara langsug dari jiwa orangtuanya (tradusianisme spiritualis), maupun melalui badan. Orangtua menciptakan badan, yang pada gilirannya mengembangkan sebuah jiwa manusia (tradusianisme material).

          Sedangkan paham kreasionisme sebaliknya mengakui bahwa jiwa anak itu langsusng diciptakan, diambil dari kehampaan oleh pencipta. Argumen pokok teori ini ialah yang non material seperti halnya jiwa tak dapat dihasilkan oleh yang material yakni badan orangtua.

          Terhadap teori yang kedua ini ada keberatan. Sebab paham kreasionisme ini  secara nyata melibatkan kuasa tertinggi untuk ikut campur tangan terhadap kelangsungan hal-hal intra duniawi. Kausalitas Tuhan hanya dapat bersifat kreatif sebagai sumber pertama segala eksistensi. Sedangkan mahluk-mahluk yang ada melakukan tindakan eksistensinya seperti perbuatan-perbuatannya dengan sarana-sarana mereka sendiri, kecuali dalam hal mukjizat.

           Tetapi apakah hal kelahiran bayi merupakan mukjizat? Tentu tidak. Sebab peristiwa kelahiran bayi adalah hal yang lumrah. Maka dari itu kita lebih baik memilih teori “kreasi yang dilanjutkan”.  Jadi harus diartikan bahwa jika dicipta oleh Tuhan dalam arti Tuhan membuat orangtua itu mampu untuk mengatasi kekuatan mereka sendiri. Dan dengan demikian jiwa anak mereka, suatu hasil yang takkan mampu mereka buat dengan kekuatan yang ada pada mereka, tanpa bantuan Tuhan. Jadi yang kita tolak adalah “intervensionisme” Tuhan terhadap kuasa yang kedua dan seterusnya.

          Yang menjadi pertanayaan ialah: Kapan jiwa yang memang dalam bentuk manusiawi mulai bereksistensi? Ada teori menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan “penjiwaan segera” (immediate animation) yakni semenjak telur disuburkan. Teori ini dapat diragukan, sebab gamet-gametpun mengandung keseluruhan kromosom dan gen-gen tetapi tidak dinamakan sebagai manusia. Lagi pula sebuah telur yang sudah dibuahi toh masih bisa dibagi untuk melahirkan anak kembar yang akhirnya menjadi dua pribadi atau lebih.

          Maka dari itu lebih baik memilih “penjiwaan tidak segera”, dimana jiwa manusia baru dapat bereksistensi dengan dimensi spiritualnya apabila alat-alat badan yang pokok telah dipersiapkan. Pendapat ini bukan berarti membela abortus. Sebab embrio sendiri sudah mempunyai pola permulaan yang khas bagi manusia. Dan dia bukan hanya merupakan suatu kelanjutan dari tubuh orangtua, tetapi juga pernyataan cinta kasih mereka.

2. Kekekalan Jiwa[22]).
         Argumen-argumen pokok yang mempertahankan adanya kekekalan jiwa: Argumen persepakatan universal. Manusia secara umum percaya akan kekekalan, sebagaimana terlihat jelas pada kepercayaan spontan akan kehidupan terus sesudah kematian. Kepercayaan ini terdapat pada semua bangsa, bahkan yang paling kuno. Apakah keyakinan umum ini tidak mempunyai unsur kebenaran barang sedikitpun? Sulitlah untuk mengatakan keyainan demikian secara mutlak tidak benar.

          Suatu argument lain disimpulkan dari etika: Seharusnya ada sanksi terhadap segala kejahatan yang terdapat di dunia ini. Tetapi ternyata harapan ini tidak pernah tercapai secara sempurna, sebab di mana-mana selalu ada kejahatan. Harapan akan keadilan ini menuntut adanya suatu kehidupan lain sesudah kematian, suatu kehidupan dimana pahala dan hukum diberikan kepada semua orang sesuai dengan perilakunya. Argumen semacam ini berlaku bagi orang yang mengakui bahwa hidup ini mempunyai suatu arti.

         Argumen dari Teilhard de Chardin: Argumen ini berpangkal pada evolusi. Pada manusia evolusi itu telah menjadi sadar akan dirinya sendiri. Evolusi hanya bisa berlangsung dalam dan melalui aktifitas bebas manusia. Tugas ini amat berat bagi manusia, dan hanya suatu motivasi yang kuat dapat membuatnya mampu untuk menyelesaikannya. Akan tetapi ia akan kehilangan segala motivasi untuk melaksanakan usaha raksasa itu, jika ia yakin bahwa setelah jangka waktu tertentu, tiada bekas apa pun yang tersisa dari usahanya itu. Maka berhasilnya evolusi menuntut kekekalan jiwa manusia.

          Argumen teknis: Argumen ini terdiri dari tinjauan tentang bagaimana mahluk berhenti hidup. Suatu mahluk berhenti hidup ialah karena suatu alasan intrinsik atau karena alasan ekstrinsik. Alasan intrinsik berhubungan dengan esensi, sedangkan alasan ekstrinsik adalah mengenai eksistensi.

           Esensi suatu mahluk hidup dapat dimusnahkan secara langsung Karena pembusukan, atau secara tak langsung karena kehilangan sandaran pokok baginya.

           Jiwa manusia tak dapat mengalami satupun dari macam-macam pemusnahan itu. Ada beberapa argumern: Antara lain, jiwa tidak dapat musnah karena pembusukan. Sesungguhnya pembusukan itu berarti kehancuran suatu mahluk yang tersusun ke dalam struktur konstitutifnya. Misal air hancur karena pembusukan bila air itu diredusir pada unsur-unsurnya yakni hydrogen dan oksigen.

          Jiwa juga tidak bisa dimusnahkan karena kehilangan suatu sandaran yang esensial. Misalnya jiwa seekor hewan tergantung secara intrinsik dari materi (sama sekali terserap oleh fungsi-fungsi material dan perasaannya) yakni tubuhnya. Maka biarpun jiwa hewan tak dapat membusuk, namun ia dapat musnah bila tubuh hewan itu diredusir sampai hancur.



3. Jiwa Sesudah Kematian[23]).
         Walaupun jiwa itu bersifat spiritual, namun ia tak dapat berbuat apa-apa tanpa tubuh. Kalau demikan halnya lalu apakah yang terjadi sesudah kematian? Ada dua teori untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, teori yang berpendapat setelah kematian maka jiwa akan mengenal dirinya sendiri tanpa perantara, yang dikenal  dan yang mengenal adalah sama. Ada keberatan tentang teori ini yakni memandang materi (tubuh) sebagai hal negatif dan bahkan jahat. Teori semacam ini kembali pada Platonisme. Kedua, pemecahan Karl Rahner yang dikemukakan dalam bukunya tentang teologi kematian. Menurut Rahner “keakuan” yang asli adalah suatu realitas yang dimasukkan ke dalam kosmos material karena perkembangan tubuhnya. Tubuh ini mempunyai keuntungan untuk menghubungkan kita secara lansung dengan objek-objek kosmos tertentu, tetapi ia juga mempunyai kerugian, yaitu membatasi hubungan langsung kita pada sejumlah kecil di antara objek-objek itu saja. Menurut Rahner, peristiwa saat kematian mematahkan ikatan tersebut, maka jiwa akan mampu berhubungan secara langsung dengan keseluruhan materi.

        Tetapi pemecahan ini bukan berarti sesudah kematian, seantero dunia menjadi “badan” dari kusus ini. Juga jangan diartikan sebagai kehadiran jiwa di mana-mana dalam alam semesta. Tetapi harus digambarkan demikian, bahkan selama kehidupan di dunia ini saja, badan yang dihayati oleh jiwa spiritual itu merupakan suatu system yang terbuka pada dunia. Juga harus diingat bahwa filsafat alam-pun hampir tak mungkin membatasi ide “tubuh” itu pada apa yang ditutupi kulit saja.



Penutup

          Manusia dan jiwanaya merupakan pokok bahasan filsafat yang selalu aktual sepanjang manusia berfilsafat. Setiap filsuf membahasnya dan memberi tanggaban berupa hasil analisa filosofis yang bercorak ragam. Berbagai aliranpun timbul. Tidak jarang aliran-aliran  itu jatuh pada kutub-kutub ekstrim. Entah sebagai ekstrim yang memuncak pada materialisme yang mengasalkan jiwa pada materi. Entah eksrim idealisme yang menganggab bahwa hal material termasuk tubuh adalah sebagai penghalang  bagi jiwa yang berakhir pada konsekwensi bahwa tubuh dipandang rendah. Atau boleh jatuh pada kesimpulan dualisme ekstrim Seperti Descartes. Pendeknya bermacam-macam aliran filosofis telah  terjadi dalam khazanah filsafat.

          Dari satu segi dapat dikatakan bahwa “manusia” dan “jiwanya” sebagai objek filsafat sungguh pesat perkembangannya. Ini terbukti dengan timbulnya bermacam-macam aliran serta sintesa filosofis yang bercorak ragam pula. Tetapi dari segi lain dapat dikatakan bahwa kemajuan tersebut bukanlah suatu kemajuan jika jatuh pada kutup-kutup ekstrim.

         Manusia yang hidup dalam kurun waktu prafilosofis  rupanya tidak merasa resah terhadap apa itu jiwa dan apa itu tubuh. Ini wajar sebab mereka belum sampai pada taraf rasional. Mereka merasakan dan menghayati pribadi sebagai keseluruhan. Hidup mereka masih dalam taraf menghayati tanpa berpikir apa itu jiwa dan apa itu tubuh.

          Berbeda dengan jaman filosofis yang sering jatuh pada suatu kecenderungan memandang jiwa dan  tubuh  sebagai dua hal yang terpisah. Kata “dan” sangat ditonjolkan dalam era filosofis ini. “Jiwa dan tubuh” boleh saja, asal dimengerti bahwa kedua hal itu bukanlah sebagai “A plus B” atau “jiwa + tubuh”. Dalam filsafat Descartes kelihatan dengan sangat jelas bahwa “jiwa” dan “tubuh” bukanlah suatu keseluruhan yang utuh melainkan dipandang “jiwa” plus “tubuh”. Maka sangat tepatlah bila Descartes dijuluki sebagai seorang filsuf dualisme.

         Kita setuju dengan Van Melsen yang berpendapat bahwa filsafat harus maju dengan tidak berat sebelah. Filsafat harus menyelamatkan jiwa sekaligus dengan tubuh. Jiwa dan tubuh tidak dipisahkan kendati keduanya memang berbeda. “Aku” adalah keseluruhan jasmani dan juga “Aku” adalah keseluruhan rohani. Jiwa dan tubuh memang sungguh-sungguh berbeda tetapi harus dipandang sebagai dualitas dalam kesatuan[24]).


                          Buku-buku sumber

Van Peursen C.A. Tubuh-Jiwa-Roh: Sebuah Pengantar dalam Filsafat Manusia. Jakarta: BPK.Gunung Mulia, 1983.
Leahy Louis. Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Mahluk Paradoksal. Jakarta: PT.Gramedia, 1984.

Van Peursen C.A. Orientasi di alam Filsafat: Sebuah Pengantar dalam permasalahan Filsafat. Jakarta: PT.Gramedia, 1983.

Bertens K. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius, 1981.

Hadiwijono Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat I,II. Yogyakarta: Kanisius, 1981

Descartes. Discouse on Method: and other writings. London and Tonbridge: White friars press, Ltd., 1962.
Boelaars Y. Kepribadian Indonesia Modern: Suatu Penelitian Antropologi Budaya. Jakarta: PT.Gramedia.

Snijders Adelbertus. Filsafat Manusia: (diktat perkuliahan), 1987.

Drijarkara N. Percikan Filsafat. Jakarta: PT.Pembangunan, 1962.




1)        C.A.Van Peursen, Tubh-Jiwa-Roh (terjemahan): Sebuah pengantar dalam Filsafat Manusia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), hlm.13.
2)        Adelbertus Snijders, Filsafat Manusia (diktat perkuliahan: Fakultas Filsafat- Universitas Katolik Sat.Tomas Sumatera Utara), hlm.66.










[3] ) Ibid, hlm. 83.
4) Y.Boelaars, Kepribadian Indonesia Modern: Suatu Penelitian Antropologi Budaya (Jakarta: PT.Gramedia), hlm.18-21

5) C.A.Van Peursen,Tubuh-Jiwa-Roh, hlm. 87.                                                                            
6) Ibid, hlm.89.

7) Ibid. hlm. 97.
8).Ibid. hlm. 99.
10) “metodologis” dalam hal ini ialah “urutan”: demikian sehingga Feurbach sehubungan dengan penekanannya pada materi (tubuh); Plato dengan memprioritaskan jiwa, Descartes yang melihat jiwa dan tubuh sebagai dualism.




 11) C.A.Van Peursen, orientasi di alam Filsafat (terjemahan): Sebuah Pengantar dalam Permasalahan Filsafat (Jakarta: PT.Gramedia, 1983), hlm. 158.
12) Ibid, hlm.58.
13) Ibid, hlm. 59-60.
14) Bandingkan dengan: C.A.Van Peursen, Tubuh-Jiwa-Roh, hlm. 39-52.; Harun Hadiwijono, Sejarah Filsafat Barat (Jogyakarta: Kanisius, cet. Ke-2, Jilid I, 1983.) hlm.38-45.; K.Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Kanisius, 1981), hlm. 94-124.





15) Descartes, Discourse of method: And Other Writings, (translated by: Arthur Wallaston), London and Tonbridge, White friars, Ltd., 1962, p. 103.
16) Ibid, p.104.
17) Ibid, p.107.


18) Ibid, p. 165.
19) Ibid, p. 167.

[20]) Louis Leahy, Manusia sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang mahluk paradoksal (Jakarta: PT.Gramedia, 1984), hlm.165-172.
21) Adelbertus Snijders, Filsafat Manusia (diktat perkuliahan), hlm.61-64.
[22]  Lihat, Ibid, hlm.159-162
[23] Lihat, Ibid, hlm.172-175
[24]) Adelbertus Snijders, Filsafat Manusia, (diktat), hlm. 61-62.

Tidak ada komentar: