Eksperimen Sederhana.*)[*]
Judul eksperimen: “Sepuluh Orang
Anak asrama Binaan”.
Tujuan eksperimen: Membentuk
sebuah karakter “idola” melalui sosialisasi implisit agar menjadi manusia yang
berdisiplin tanpa ekses resistansi dari pihak anak.
Teknik:
1.Melakukan perengkingan terhadap
seluruh anak asrama.
2.Beberapa aspek (sekitar 14 aspek
yang harus dicatat? Atau dipilih beberapa dari keseluruhan aspek yang dianggab
sangat dominan untuk dijadikan sebagai tolok ukur). Hasil pencatatan ini akan
mengunggulkan 10 orang yang dianggab oleh Pembina layak untuk dapat dijadikan
sebagai anak binaan. Kesepuluh orang ini akan mendapat pembinaan intensif dari
seluruh Pembina. Ranah pembinaan menyangkut aspek kognitif, afektif maupun
psikomotorik.
3.Diharapkan kesepuluh orang ini
akan menjadi “virus baik” yang menular secara alami terhadap semua
teman-temannya.
4.Bila
langkah 1 s/d 3 dapat terlaksana dengan baik, maka resistansi (penolakan) dapat
terhindarkan dengan sendirinya. Mengapa? Karena secara perlahan-lahan tetapi
pasti “virus baik” yang bekerja secara alami, akan mampu mengeliminir segala
bentuk-bentuk penolakan atau ‘kamus kita’ menyebut “pabilak-bilakkon”, “sikap
sok”, “pandang enteng”, “sok jago” dan seterusnya.
5.Pada gilirannya orang-orang ini
diharapkan dapat mengubah (karena sudah menjadi agen perubahan) citra asrama
St.Albertus Magnus menjadi lebih baik dan lebih positip untuk masa yang akan
datang.
6.Secara simultan, kelompok
unggulan anak asrama berkat pembinaan intensif diharapkan akan dapat menjadi juara
di kelasnya masing-masing (SMP – SMA).
7.Eksperimen ini diharapkan akan
dapat menumbuhkan suatu budaya “berkompetisi secara sehat”. Mengaspa? Karena pada dasarnya manusia menginginkan
sesuatu yang terbaik dari dirinya untuk dimunculkan ke permukaan. Maka suatu
“idola” sangat diperlukan untuk menjadi motivator pendorong karena ingin
menjadi seperti “idola” idaman tersebut.
Desember 2010.
P.Simanjuntak, S.Ag.
Pembina asrama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar