Rabu, 29 Februari 2012


Eksperimen Sederhana.*)[*]

Judul eksperimen: “Sepuluh Orang Anak asrama Binaan”.
Tujuan eksperimen: Membentuk sebuah karakter “idola” melalui sosialisasi implisit agar menjadi manusia yang berdisiplin tanpa ekses resistansi dari pihak anak.

Teknik:

1.Melakukan perengkingan terhadap seluruh anak asrama.

2.Beberapa aspek (sekitar 14 aspek yang harus dicatat? Atau dipilih beberapa dari keseluruhan aspek yang dianggab sangat dominan untuk dijadikan sebagai tolok ukur). Hasil pencatatan ini akan mengunggulkan 10 orang yang dianggab oleh Pembina layak untuk dapat dijadikan sebagai anak binaan. Kesepuluh orang ini akan mendapat pembinaan intensif dari seluruh Pembina. Ranah pembinaan menyangkut aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.

3.Diharapkan kesepuluh orang ini akan menjadi “virus baik” yang menular secara alami terhadap semua teman-temannya.

4.Bila langkah 1 s/d 3 dapat terlaksana dengan baik, maka resistansi (penolakan) dapat terhindarkan dengan sendirinya. Mengapa? Karena secara perlahan-lahan tetapi pasti “virus baik” yang bekerja secara alami, akan mampu mengeliminir segala bentuk-bentuk penolakan atau ‘kamus kita’ menyebut “pabilak-bilakkon”, “sikap sok”, “pandang enteng”, “sok jago” dan seterusnya.

5.Pada gilirannya orang-orang ini diharapkan dapat mengubah (karena sudah menjadi agen perubahan) citra asrama St.Albertus Magnus menjadi lebih baik dan lebih positip untuk masa yang akan datang.

6.Secara simultan, kelompok unggulan anak asrama berkat pembinaan intensif diharapkan akan dapat menjadi juara di kelasnya masing-masing (SMP – SMA).

7.Eksperimen ini diharapkan akan dapat menumbuhkan suatu budaya “berkompetisi secara sehat”. Mengaspa?  Karena pada dasarnya manusia menginginkan sesuatu yang terbaik dari dirinya untuk dimunculkan ke permukaan. Maka suatu “idola” sangat diperlukan untuk menjadi motivator pendorong karena ingin menjadi seperti “idola” idaman tersebut.

Desember 2010.

P.Simanjuntak, S.Ag.
Pembina asrama.


[*] ).Belum pernah diujicobakan.