|
PANDENAKER SIMANJUTAK
|
|
SEBUAH MOZAIK DALAM GARIS EDAR KEHIDUPANKU
|
|
|
|
Pengalaman hidup
dalam berbagai bentuk, entah itu menggembirakan, atau mengecewakan, bahkan
terasa amat menyakitkan, adalah suatu anugerah dari Dia sang pemberi hidup.
Pasti ada benang merah yang mengikat keseluruhan peristiwa yang terjadi
dalam garis edar kehidupan ini. Pasti pula ada makna dibalik semua peristiwa
itu. Semua peristiwa itu, bila dirangkai dengan cermat dan teliti, akan
menghasilkan sebuah mozaik yang indah pada waktunya. Aku menyebutnya sebuah
mozaik kehidupan.
|
|
Untukmu sibuah hatiku
(Tiarma Bernadet Simanjuntak, Vantri Antonius Simanjuntak dan istriku
tercinta Suriati Tamsar)
|
|
Aku, Pandenaker
Simanjuntak, S.Ag.
|
|
4/25/2013
|
|
|
Daftar Isi
Pra kata:
1.
Namaku......................................................................................................
3
2.
Tempat lahirku............................................................................................3
3.Mengapa
ditulis..........................................................................................4
4.Peruntukan................................................................................................
5
I. Masa kanak-kanak(pra usia sekolah)
1.
Ketika tiba bulan purnama di kampung......................................................6
2.
Malam natal 24 Desember.........................................................................8
II.Masa-masa sekolah
1.
SD.Negeri Bonandolok...............................................................................9
2.
SD Negeri Hutapinang...............................................................................11
3.
SMP, SMA di Sibolga (tinggal di Asrama Putra St.Fransiskus Asisi)..........20
4.
di kota indah pinggiran Danau Toba
(Parapat)........................................33
5.
di Sinaksak (Pematangsiantar).................................................................37
III.Dewasa & Rumah
Tangga
1.
Melanglang buana ke Jakarta...................................................................39
2.
Periode 1992 – 1993 ................................................................................44
3.
Januari 1994 di Kisaran............................................................................47
4.
Tahun 2000 melamar PNS.......................................................................49
5.
Jualan Pisang Kepok di pajak Bakti, Kisaran.............................................54
6.
Jual bumbu di Jln Panglima polem Kisaran (2002)...................................55
7.
Back to my village (2003): Membuka perladangan cokelat dan karet......56
8.
Mengajar di SMA St.Yosep Aekkanopan.................................................59
Akhir Kata
sepotong doa...............................................................................................61
Pra kata
Namaku
Van Den Ackker Simanjuntak, itulah sebuah
nama yang tertera di atas kertas surat babtisku. Menurut penuturan dari
Bapakku, nama tersebut memiliki sebuah sejarah berikut: Ketika suatu saat saya dibawa oleh Bapak
mengunjungi kampung kakekku – di Hariara Nauli, Kecamatan Pakkat, Kabupaten
Tapanuli Utara, tempat kakekku tinggal – aku jatuh sakit. Lalu Bapak membawa
aku berobat ke klinik susteran Katolik di Pakkat. Yang menangani saya waktu itu
seorang suster biarawati berkebangsaan Belanda. “Apakah sudah diberi nama
kepada anak ini?” Tanya suster kepada Bapak. “Belum suster” jawab Bapak
spontan. “Oh kalau begitu kita buatlah namanya ‘Van Den Ackker’” kata suster
memberi sarannya kepada Bapak. Kebetulan waktu itu yang menjabat sebagai pastor
Paroki di Paroki di Pakkat ialah pastor Van Den Ackker, Ofm.Cap. Inilah sekilas
mengenai sejarah namaku.
Tempat
Lahirku
Erika Bondar, itulah nama seorang ibu yang melahirkan aku di sebuah
kampung bernama “Siantardolok”. Dari segi letak geografisnya, kampung ini
tergolong sebuah kampung terpencil di pegunungan Bukit Barisan. Kecamatannya
Barus dan Kabupatennya Tapanuli Tengah. Kampung ini benar-benar jauh dari pusat
keramaian, jauh dari kota. Aku masih mengingat, waktu itu aku masih kecil,
belum sekolah, tapi sudah ada ingatan, bahwa di kampung itu hanya ada 5 unit
rumah dan satu unit gereja. Semua rumah ini masih dalam bentuk rumah panggung
yang berkolong. Mirip bentuk pondok di ladang. Mungkin pada masa itu orang
kampung takut terhadap binatang buas maka mereka membangun rumah berkolong
dengan jumlah 5 sampai 7 anak tangga dihitung dari tanah.
Hingga tulisan ini kubuat, hari pekan masih
tetap hari Senin. Sekali seminggu penduduk kampung – kususnya kaum bapak –
berangkat pagi-pagi buta di hari yang indah itu (Senin) menuju pekan untuk
membeli sembako (beras, ikan asin,
minyak tanah) untuk kebutuhan selama semingguan. Tampak dari wajah-wajah mereka
bahwa istilah “lelah”, “capek”, “gengsi” jauh dari kamus kehidupan mereka. Demi
pemenuhan tuntutan kerbutuhan dasar yang paling pokok itulah memaksa mereka
harus demikian.
Masih segar dalam ingatanku, meski masih
usia prasekolah, asal sudah tiba hari Senin, Bapakku bangun jam 05.00 pagi
untuk bersiap-siap berangkat menuju pekan. Pikulan yang terbuat dari sebilah
bambu tua, dan biasanya ia simpan di para-para, diambilnya. Karung yang terbuat
dari kain “Belacu” ia ambil dari keranjang kain. Ke dalam karung inilah nanti
siang di hari Senin itu dimasukkan beras satu kaleng (setara 16 kg) dan 1 kg
ikan asin.
Masih segar dalam ingatanku, bahwa hasil
deresan karet yang Bapak kerjakan mulai dari hari Selasa sampai dengan hari
Sabtu ia susun ke atas pikulan dan dipundak menyusuri jalan berliku serta menurun menuju pekan.
Dapat anda bayangkan, dengan otot-otot kekar bermandi keringat sebesar biji
jagung, tak peduli bagi Bapakku. Hanya satu tujuan yang perjuangkannya yakni
supaya kami anak-analknya bisa memasak nasi di hari selasa sampai hari Minggu
berikutnya. Sesekali dibeli oleh Bapakku goreng pisang dari pekan sebagai
oleh-oleh buat kami anak-anaknya. Amat ironis dan menyedihkan kehidupan ekonomis
keluarga kami pada masa itu.
Pendek kata hanya untuk memasarkan hasil
kerja selama satu minggu (menderes rambong) harus dengan cara memikul.
Sepulangnya dari pekan harus memikul beras dan kembali menyusuri jalan berliku
serta menanjak menuju kampung Siantardolok.
Mengapa
ditulis?
Sejarah kehidupan – orang sudah terbiasa
menyebutnya “biografi” – segera akan terlupakan dari ingatan bila tidak
dituliskan. Alasan mendasar mengapa harus ditulis yakni agar anak-anakku di
kemudian hari mengenal lebih mendalam siapa aku (Bapaknya) sesungguhnya.
Bagaimana sejatinya sejarah kehidupanku hendaknyalah diketahui oleh
anak-anakku. Tidak hanya cerita lisan
yang ia dengar dari orang-orang lain, melainkan sungguh sebagai suatu
sejarah tertulis yang diwariskan kepada mereka. Saya menggunakan kata “mereka” untuk menyebut nama kedua anakku (Tiarma Bernadet
Simanjuntak dan Vantri Antonius Simanjuntak).
Ketika
Tulisan ini kubuat, mereka berdua masih
dalam pertumbuhan sebagai remaja. Tiarma Bernadet Simanjuntak (kakak) duduk di
bangku kelas 3 SMA dan adeknya Vantri Antonius Simanjuntak duduk di bangku
kelas 3 SMP. Sekaitan dengan usia mereka yang masih tergolong usia remaja dan
masih mencari-cari jati diri serta cita-cita, maka aku Bapaknya berpendapat
alangkah baiknya bila aku mewariskan sebuah tulisan tentang sejarah kehidupanku
kepada mereka. Aku yakin suatu saat, kelak dikemudian hari, mereka akan dapat
membaca tulisan ini dan mamaknainya dengan baik serta proporsional.
Peruntukan
Tulisan
ini kupersembahkan untuk istri trercintaku Suriati Tamsar. Berkat cintamu hai
istriku tercinta maka aku sanggup mengarungi begitu dasyatnya gelombang
kehidupan ini. Berkat penyertaanmu maka aku kuat mengarungi samudera kehidupan
yang tiada bertepi ini. Karena segala nasehatmulah aku tangguh menghadapi
segala tantangan hidup ini. Tidak sanggup aku membalas budi baik dan perjuanganmu untuk membesarkan
kedua anak kita. Untukmu tulisan ini kupersembahkan.
Tiarma Bernadet putriku tercinta, kaulah
motivator hidupku. Hai putriku!, kelak bila Bapakmu ini sudah tua dan usia
sudah senja, kepada siapa aku harus minta tolong? Ya, tentu kepadamu.
Vantri Antonius Simanjuntak!, kaulah sumber
inspirasiku. Mungkin darah seniku lebih banyak mengalir kepadamu. Karena itu,
tatalah seindah mungkin masa-masa hidupmu. Tekun belajar! Terutama belajar dari
pengalaman hidup. Sebab kata orang bijak guru yang paling baik ialah
pengalaman. Bapak yakin kamu akan menjadi orang suskes di kemudian hari. Kepada
kalian berdua (Tiarma & Vantri), biografiku ini kupersembahkan. Doaku pasti
menyertaimu dan memberi kekuatan bagimu untuk menjalani masa-masa kehidupanmu
ke depan.
Bagian
Pertama
Masa kanak-kanak
(pra usia sekolah)
Di usiaku yang ke-51 ini, saat biografi ini kutulis, dari sekian
banyak memori, kupilih memori yang paling berkesan untuk ditranskripsikan ke
dalam tulisan sebagai berikut:
1. Ketika tiba
bulan purnama di kampung.
Meski usiaku sudah 51 tahun, aku masih persis mengingat masa-masa
paling indah ketika aku belum bersekolah yakni “ketika bulan purnama tiba”.
Sejenak untuk mengurai kembali: Pada masa itu penduduk kampung
terhitung sangat sedikit yang memiliki rumah panggung. Bila kepala keluarga
membuka sebidang tanah di tengah hutan rimba, dan terbilang jaraknya relatif
jauh dari perkampungan, maka di sanalah dibangun sebuah pondok yang relatif kokoh dilihat dari segi
arsiteknya. Pondok yang dibangun di tengah perladangan ini berfungsi sebagai
rumah tinggal berjangka satu hingga tiga tahun lamanya sebelum keluarga tersebut berpindah membuka
areal baru. Sistem perladangan adalah berpindah-pindah.
Aku masih persis mengingat bahwa Bapakku tidak memiliki rumah di
kampung. Pendek kata, kami tinggal di sebuah pondok perladangan dengan jarak
tempuh satu jam perjalanan jauhnya dari kampung. Aku dibesarkan oleh ibuku di
tengah perladangan. Di pinggir ladang itu biasanya Bapakku membuat pancuran air
dari sebatang bambu tua. Di pancuran inilah ibuku memcuci kain. Dari pancuran
ini pula air untuk kebutuhan minum dan
memasak yang ditampung oleh ibuku dengan alat sederhana terbuat dari
seruas bambu sebagai pengganti ember. Ketika sore hari sekitar jam lima, ke
pancuran inilah kami dibawa oleh ibu
untuk mandi. Tiada gayung dan ember di sana. Aku masih ingat biasanya ibu langsung menarik
tangan kami dan memberdirikan kami di pancuran itu untuk mandi. Menggigil rasanya.
Kedinginan diterpa air pancuran pegunungan. Biasanya badan kami hanya dilap
seadanya dengan kain sarung setengah busuk pengganti handuk.
Memori indah yang tidak pernah terlupakan ialah ketika bulan
purnama tiba. Biasanya bulan purnama tampak di langit malam hari ialah
saat-saat musim kemarau. Ketika musim kemarau tiba, kami (saya bersama
adek-adekku) merasa bahagia dan gembira. Ibu akan memasak lebih awal dari
biasanya sebab sebentar lagi kami sekeluarga akan pulang ke kampung. Satu malam
berpindah tidur, dari biasanya di pondok perladangan, kini tidur di rumah oppung (nenek) dari ibuku
di kampung. Sore harinya sekitar pukul
5.30 biasanya kami sudah bergegas dari ladang menuju kampung. Ibuku dan Bapakku
biasanya menggendong adek-adekku.
Sementara aku berjalan perlahan-lahan di depan mereka. Ketika sedang berjalan
menuju kampung, aku ingat bahwa aku sering terjerembab oleh akar-akar kayu yang melintang di jalan. Terkadang jalanku
yang masih terseot-seot akhirnya nyasar ke lumpur becek di pinggir jalan.
Sering juga terinjakku semut malam yang sedang melintas memotong jalan.
Masih kuingat suatu saat ketika
kami pulang kampung, terpijakku segerombolan semut malam, lalu kakiku dengan
sekejab mata langsung digigiti oleh semut malam tersebut. Aku menangis.
Sebentar saja Ibuku langsung mengobatinya dengan mengoleskan air ludahnya ke
kakiku, air ludah yang bercampur sirih sebab Ibuku pemakan daun sirih. Mustazab
obat itu, dan langsung sembuh.
Kini tiba di Kampung dan langsung menuju rumah oppung. Hari sudah
senja siap menanti malam bulan purnama idaman hati. Suara burung-burung malam
yang didominasi oleh suara burung hantu sesekali terdengar dari kejauhan hutan
pinggir kampung. Wajah bulan purnama mulai tampak di hamparan langit biru.
Sinar bulan purnama menerangi halaman dan sekeliling rumah oppung. Malam
bahagia bersama anak-anak lain sempurna sudah untuk diisi dan dimanfaatkan
seefisien mungkin. Dengan apa lagi diisi malam bulan purnama ini kalau tidak
dengan permainan? Satu yang pasti yakni,
kami semua riang gembira, berteriak-teriak sebagai pertanda lepas dari alam
perladangan meski itu hanya untuk satu malam saja.
Permainan yang paling kusukai ketika bulan purnama tiba di kampung
adalah “alib cendong”. Empat atau lima orang anak ngumpul dalam satu grup alib
cendong. Kini permainan “alib cendong” dimulai....................
Setelah puas bermain alib cendong dan bulan purnama mulai meninggi,
rasa ngantukpun tiba. Aku kembali ke rumah oppung dan tidur.
2. Malam natal 24
Desember
Setiap tahun, asal tiba bulan Desember, maka hari spesial untuk
bergembira pasti segera akan tiba pula. Malam 24 Desember adalah malam yang
amat berkesan bagiku. Siang harinya pada tanggal 24 Desember itu biasanya ada
makanan istimewa di rumah. “Marbinda”, itulah sebuah ungkapan khas di kampung
untuk mengatakan bahwa pada tanggal 24 Desember pasti ada yang memotong babi.
Jauh-jauh hari Bapakku telah mengajukan pesanan 4 hingga 5 kg daging babi untuk
kami. Dengan tangan cekatan Ibuku biasanya memasak daging babi ini selezat
mungkin. Kami disuruh mandi ke pancuran lebih awal di sore hari 24 Desember
itu. Beberapa saat kemudian, selesai mandi dan bersih-bersih, kami disuruh
duduk membentuk lingkaran di lantai pondok ladang. Itu artinya sebentar lagi
kami akan bersantap bersama suatu hidangan istimewa yang sudah dipersiapkan
oleh Ibuku. Benar, bahwa sore itu kami sekeluarga makan nasi berlaukkan daging
babi. Amat lezat cita rasa muncul di daun lidah. Maklum, amat jarang kami makan
daging ketika aku masih kecil. Suasana
ini terpatri mendalam di benakku
hingga kini.
Masih seputar 24
Desember......................
Sore itu usai menyantap makanan lezat, Ibuku mengemasi segala
perbekalan dan pakaian kami untuk kebutuhan esok hari tanggal 25
Desember. Pakaian baru yang belum pernah dikenakan turut dipersiapkan oleh
Ibuku. Ia susun semuanya ke dalam “hajut” terbuat dari bahan anyaman sebagai
pengganti keranjang, siap untuk dijinjing oleh Ibuku nantinya sambil
menggendong adekku dipunggungnya. Tak lupa ia masukkan sebungkus lilin dan
sekotak kembang api gunu kebutuhan kami nanti malam di 24 Desember itu ke dalam
“hajut”. Semua peralatan dan kebutuhan makan 24 Desember dan 25 Desember tersedia sudah. Kini saatnya bergegas
meninggalkan pondok ladang turun menyusuri jalan setapak yang berliku menuju kampung.
Setibanya kami di kampung langsung menuju rumah oppung sebagai tempat sentral
kami.
Cerianya malam 24 Desember kini tiba. Kami semua mengenakan pakian
baru yang dibeli beberapa minggu silam dari pekan. Bahagia rasanya memakai
pakaian baru, meski hanya sekali dalam setahun. Tiada pakai alas kaki pun
sandal. Dengan kaki telanjang seadanya kami dibimbing oleh Ibuku menuju gereja
untuk merayakan natal.
Di gereja lilin-lilin kecil kami nyalakan. Kami jadikan lillin itu
semacam mainan sebagai luapan kegembiraan. Malam itu sungguh lain dan berbeda
dari malam-malam yang lain. Sesekali kembang api dinyalakan, meski itu masih di
dalam gereja. Tampak bagai bintang bertaburan sambil memutar-mutar kembang api
di tangan. Sungguh indah suasananya malam itu. Adalah malam yang tak pernah
lupa dari ingatanku, meski hal itu terjadi ketika aku masih kanak-kanak.
Bagian kedua
Masa sekolah -
Pendidikan
1. SD. Negeri
Bonandolok.
Tidak banyak kenangan pada masa itu. Maklum, hanya satu tahun saja
aku bersekolah di SD.Negeri Bonandolok. Meskipun demikian beberapa pengalaman
menarik, yang kini masih melekat di benakku
akan kuurai dalam untaian pragraf berikut:
Di usiaku yang ke-51 tahun ini, masih segar dalam ingatanku
bagaimana cara kami berangkat ke sekolah pagi hari. Enam hingga sepuluh orang
anak kampung Siantardolok berangkat bersama-sama menuju kampung Bonandolok –
tempat di mana gedung SD itu dibangun. Kami berjalan beriring bagai sebarisan
semut secara teratur berjalan menuju sarangnya. Anak yang paling kecil berada
di bagian paling depan. Biasanya pada posisi nomor satu (paling depan) adalah
aku. Sementara di posisi paling belakang
adalah anak paling besar yang sekalian berfungsi sebagai ketua barisan jalan.
Pendeknya, anak paling besar berfungsi sebagai ketua. Ia juga berfungsi sebagai
pelindung, pemimpin dan pemberi perintah. Misalnya saja bila sang ketua memberi
perintah jalan cepat, maka kami semua akan turut perintah berjalan dengan
langkah cepat. Ia memberi perintah tentu saja bukan tanpa alasan. Biasanya alasan
itu akan ia beritahu kepada kami bila kami sudah tiba di kampung. Misalnya,
suatu saat pernah ia beritahu alasan mengapa ia surah kami tadi pagi berjalan
dengan langkah cepat-cepat, sebap ia mendengar suara binatang buas ada di
belakang kami.
Keesokan harinya ia perintahkan kami semua memegang masing-masing
di tangan sebatang tongkat kecil biasanya dari ranting-ranting atau anak kayu.
Di tengah jalan, sepanjang jalan tikus dan berliku-liku yang kami lalui menuju
kampung Bonandolok – yang bila diukur jaraknya, sepanjang satu jam perjalanan
dari kampung Siantardolok – ia suruh kami memukul-mukulkan tongkat ke permukaan
benda-benda yang bisa mengeluarkan suara keras dan nyaring. Biasanya tongkat
itu akan kami pukulkan ke penanpang daun-daun lebar seperti ke permukaan daun
Talas hutan. Memang tak pelak lagi, suara nyaring keluar dari daun talas hutan.
Suara itu mampu menepis perasaan sunyi di tengah hutan belantara yang harus
kami lalui setiap hari menuju kampung Bonandolok. Pada masa itu populasi
harimau Sumatera banyak bermukim dan bersarang di sana. Sudah pasti anak-anak
sekecil kami merasa amat takut bila sesekali mendengar suara auman harimau di
tengah perjalanan menembus hutan belantara. Kami pasti merasa takut.
Maka biasanya sang ketua barisan itu akan menjadi pelindung bagi
kami. Suara nyaring akibat pukulan daun talas hutan mampu menghardik
harimau-harimau itu, sehingga kami merasa aman menyusuri hutan belantara menuju
kampung Bonandolok tempat sekolah kami berada.
Sekali waktu, di tengah perjalanan pulang dari sekolah, kami semua
sudah amat lapar. Pagi harinya ketika kami sedang melintas di tengah hutan
belantara itu, persis di pinggir jalan, kami melihat sebatang pohon rambutan
hutan yang lagi berbuah masak ranum kemerahan warnanya. Sang ketua berpesan,
“Nanti siang pulang sekolah kita habisi semuanya. Kalau sekarang kita panjat,
pasti kita akan terlambat.”
Benar, kini saatnya kami sedang lapar-laparnya, tiba di dekat
pohon rambutan hutan sepulang dari sekolah. “Ayo! Semua yang bisa memanjat silahkan
panjat rambutan!” Sang ketua barisan memberi perintah kepada kami. Secepat
kilat teman-temanku yang mahir memanjat
pohon berebutan naik ke atas. Layaknya seperti cara panjat pohon pinang ketika 17 Agustus, seperti itulah cara
teman-temanku memanjat pohon rambutan hutan itu. Diantara semua teman-temanku,
hanya akulah yang tidak mahir memanjat. Dengan hati gundah, terpaksa aku hanya penikmat suasana, tinggal sendirian
di bawah pohon. Dari atas pohon itu terkadang mereka menirukan suara harimau.
Dengan sengaja mereka buat demikian agar aku merasa ketakutan di bawah.
Sesekali mereka jatuhkan buah rambutan itu agar aku mendapat bagian di bawah.
Meski begitu perlakuan mereka kepadaku, misalnya menirukan auman harimau,
sedikitpun tidak menyiutkan nyaliku. Maklum aku sudah terbiasa dengan alam
perladangan, akrab dengan suasana hutan rimba.
2. SD.Negeri
Hutapinang (1972)
Barangkali karena begitu jauhnya jarak tempuh antara kampung
Siantardolok dengan kampung Bonandolok
dan harus melewati beberapa sungai serta hutan belantara, maka Bapakku berkesimpulan
untuk memindahkan aku dari SD.Negeri Bonandolok ke SD.Negeri Hutapinang di kampung
kakekku. Amat panjang sejarah hidupku selama duduk di bangku SD.Negeri
Hutapinang. Pelan-pelan dan langkah demi langkah akan kuurai dalam untaian
pragraf-pragraf berikut:
*Lae (ipar),ialah
orang pertama yang mengantar aku ke Hariaranauli – kampung kakek dari Bapakku.
Darionak Gorat, biasa
dipanggil “Gorat” pernah tinggal bersama kami di kampung Siantardolok. Ia
merantau ke kampung tulangnya (Bapakku) di Siantardolok dengan pekerjaan sebagai penyadap karet. Ia tinggal bersama
kami. Suatu ketika di tahun 1972 ia pulang kampung. Mungkin karena masih ada
ikatan family dengannya, lalu Bapakku menitipkan aku kepadanya untuk seterusnya
di bawa ke Hariaranauli (kampung kakekku) dengan tujuan agar aku melanjutkan
SDku di sana.
Hari itu – entah hari apa, tanggal berapa, bulan apa, saya lupa,
yang pasti tahunnya adalah 1972 – adalah hari pertama sekali aku harus berpisah
dengan adek-adekku, juga dengan kedua orangtuaku. Aku bersama lae Gorat
berangkat menuju Hariaranauli dan kampung kelahiranku Siantardolok
kutinggalkan. Amat sedih perasaanku
berpisah dengan adek-adekku, hanya demi sebuah cita-cita yakni
melanjutkan SDku.
Aku persis ingat, pagi itu Ibuku mempersiapkan “bontot’ untuk
makan siang kami di tengah perjalanan. Tak kuasa aku menahan air mata, amat
sedih rasanya berpisah dengan adek-adekku untuk sekian lama yang tak tahu
pasti. Sekali lagi aku berpaling melihat ke belakang. Tergambar di wajah Ibuku
suatu perasaan “harap-harap cemas” mengenai keselamatanku di tengah perjalanan.
Dengan langkah lunglai akhirnya aku memastikan langkahku beranjak
meninggalkan pondok perladangan menembus
hutan rimba belantara.
Coba anda bayangkan, di usiaku yang semuda itu, aku harus berjalan
kaki sehari penuh lamanya. Mula-mula kami melewati perladangan pinggiran
kampung Siantardolok. Terus, jumpa sebuah kampung namanya kampung “Baringin”.
Suasana batinku drastis berubah sebab aku belum pernah melihat kampung itu.
Kampung Baringinpun berlalu. Jalannya sedikit agak menurun, terus....ketemu
dengan sebuah sungai yang relatif besar dan arus sungainya amat deras. Nama sungai ini “Aek
Nabolon”. Di pinggir sungai ini kami berhenti sejenak melepas lelah setelah
menempuh dua jam perjalanan. Aku minum air jernih itu untuk pemuas rasa hausku
yang teramat dalam. Di Seberang sungai terpampang tebing gunung. Curam, amat
curam permukaan gunung itu.
“Lae! Kita akan melewati gunung itu?” tanyaku kepada lae
Gorat sambil menunjuk ke arah gunung.
“Ya”, Jawab lae Gorat spontan.
“Berarti sebentar lagi kami akan melanjutkan perjalanan mendaki
gunung” pikirku dalam hati. Terus berjalan, terus mendaki, terus, sesekali
berhenti,menarik nafas, menghirup udara segar dari alam rimba raya. Tak terasa,
kini kami sudah berada di puncak gunung. Sejenak kami berhenti untuk melepas
lelah. Terus....Jalannya kini
menurun, terus...., menurun terus. Kini kami mencapai lembah gunung. Ketemu dengan sebuah sungai
kemerah-merahan warna airnya, persis seperti warna teh manis yang dituang ke
dalam gelas. Nama sungai ini “Aek Nabara”. Agak lama kami berhenti di pinggir
sungai ini.
Waktunya untuk bersantap siang kini tiba. Bontot nasi putih
berlaukkan ikan asin yang tadi pagi dipersiapkan oleh Ibuku kami santap. Hanya
nasi putih yang dingin bersama sepotong ikan asin bakar santapan siang kami
bersama lae Gorat. Sesekali terdengar
sayup-sayup suara “Siamang Hutan” dari kejauhan tengah hutan belantara.
Suara “Siamang Hutan” inilah musik alam rimba raya sebagai penghibur kami
sembari bersantap siang.
Makan siang usai sudah. Terus..., kini kami harus melanjutkan
perjalanan kembali. Kali ini medannya lebih sulit. Jalannya semakin menanjak
tajam. Terkadang akar-akar pohonlah yang harus dipegang erat-erat agar dapat
naik ke atas. Suara-suara “Siamang Hutan” makin ramai terdengar. Burung-burung
hutan belantarapun tak ketinggalan, turut memperdengarkan suaranya yang merdu
dari ketinggian pohon rimba raya. Semua ini menyatu ke dalam kalbu.
Terus berjalan...., terus mendaki, terus..., terus..., puncak
gunung yang dituju kini digapai. Sejenak istirahat. Duduk di atas akar-akar
pohon untuk melepas lelah. Tiada jam tangan. Kami hanya berguru kepada matahari
sebagai penunjuk pengganti putaran jarum jam. Aku perkirakan kami tiba di puncak gunung yang kedua ini sudah lewat tengah hari.
“Ayo kita teruskan perjalanan kita lae!” kata si Gorat padaku. Dengan
semangat berapi-api kami melanjutkan
perjalanan rute berikutnya. Terus mengayunkan langkah, terus maju, terus...., dan terus.... Hutan
belantara dengan pohon-pohon besar berdiameter 100 cm pertanda bahwa hutannya
memang adalah rimba raya, pelan-pelan kami tembus. Terdengar suara mendengus
seperti suara angin kencang, padahal ketika itu tiada angin kencang berhembus.
“Suara apa itu lae?” tanyaku kepada lae Gorat.
“Tak seberapa jauh lagi di depan sana nanti kita akan melewati
sebuah sungai besar, namanya ‘Aek Sibuluan’”, jawab lae Gorat spontan kepadaku.
Benar saja, kini kami sudah
sampai di pinggiran sungai “Aek Sibuluan”. Kerongkonganku terasa kering
pertanda aku sudah amat haus. Langsung
saja kutundukkan kepalaku ke aliran sungai, mendinginkan kepala sambil minum
airnya. Segar kembali. Di seberang sungai “Aek Nabolon” ini jalannya sedikit agak mendaki, tidak terlalu
terjal. Tampak sudah di kejauhan sana atap seng rumah penduduk.
“Lae! kampung di depan
sanakah kampung lae?” tanyaku kepada lae Gorat.
“Oh, tidak. Kampung tujuan
kita msih jauh. Mungkin paling cepat jam 6 sore nanti barulah kita sampai ke
kampungku Hariaranauli.” Jawab lae Gorat kepadaku memberi penjelasan.
Berjalan terus..., terus berjalan kaki, kedua tungkai kakiku
terasa amat pegal. Satu lagi sungai besar kami lewati. Nama sungai ini “Aek
Arbaan”. Airnya keruh. Entah itu di musim kemarau pun di musim penghujan warna
air sungai yang satu ini selalu keruh. Cukup banyak populasi “Ihan Batak”
bersarang di sungai ini. Kami seberangi sungai yang keempat ini. Ketika itu
matahari sudah menurun dan sebentar lagi akan terbenam di ufuk barat.
“Lae! Lama lagi nyampenya ke kampung lae?” tanyaku kepada lae
Gorat.
“Sabarlah, satu jam perjalanan lagi kurang lebih kita udah nyampe”, jawab lae Gorat kepadaku.
Berjalan terus..., terus berjalan...
Suara-suara jangkrik sudah mulai ramai terdengar di sepanjang jalan yang kami
lalui. Pertanda malam segera akan tiba.
Benar saja, kini sudah gelap ketika kami melewati satu lagi sungai
kecil yang melintas di tengah hamparan sawah. Hamparan sawah ini adalah milik
penduduk kampung Hariaranauli. Tiba sudah di Kampung Hariaranauli, kampung
kakekku, kampung kelahiran Bapakku.
*di Hariaranauli
Malam pertama aku tidur di
rumah namboru (rumah orangtua lae Gorat). Lalu, keesokan harinya aku langsung ikut
bersama keluarga Bapak Udaku, pak Ihot nama panggilannya. Beberapa hari saja
aku tinggal bersama keluarga Bapak Udaku ini. Anak-anaknya masih kecil-kecil.
Sebenarnya tujuan Bapak Uda mengajak aku tinggal di rumahnya ialah agar ada
yang menjaga anak-anaknya. Suatu saat
aku disuruh menggendong adek (anak Bapak Uda). Kutolak. Aku tidak terbiasa
menggendong, pun ketika aku di rumah
pondok perladangan di Siantardolok. Aku diberi julukan “pangalo” (Ind.
Melawan). Suka melawan orangtua. Praktis Inangudaku (isteri Pak Uda) tidak
simpatik melihatku. Akhirnya aku tidak nyaman tinggal di rumah Bapak Uda ini.
Tidak jauh dari rumah Bapak Uda ini ada rumah namboru ( bibi, satu
lagi). Namboru ini tinggal bersama dua orang anaknya. Keduanya laki-laki. Amang
boru (suami namboru) itu telah tiada (meninggal dunia). Melihat gelagatku yang
tidak senang lagi tinggal di rumah Bapak Uda, namboruku ini mengajak aku untuk
tinggal di rumahnya. Ajakan namboru ini
kuturuti dan kumaui. Aku senang tinggal di rumah namboru ini dengan dua alasan.
Pertama, aku tidak disuruh lagi menggendong adek sebab kedua anak namboru ini
sudah besar-besar, bahkan satu diantaranya tergolong pemuda. Kedua, saya lebih
bebas rasanya makan apa saja yang ada di dapur namboru. Namboruku ini tidak
pemarah. Ia perlakukan aku seperti anaknya sendiri. Hingga sekarang masih segar dalam ingatanku jasa namboruku
yang satu ini. Ialah orang yang membebaskan aku dari rasa tertekan selama
beberapa hari tinggal di rumah Bapak Uda.
*di Aekliang
Kurang lebih dua bulan lamanya aku tinggal di rumah namboru. Aku
diajak kerja (turun ke sawah menanam padi, mencangkul dan lain sebagainya).
Sesekali aku diajak oleh lae (anak namboru itu) menyadap karet mereka. Pada
masa itu sebenarnya aku tidak sadar akan tujuan utamaku mengapa harus pindah
dari kampung kelahiranku Siantardolok ke Hariaranauli – kampung kakekku.
Aku masih persis mengingat, kala itu di pagi hari, Bapaktuaku yang
nomor satu – ama Radiana nama panggilannya -
datang ke rumah namboru tempat di mana aku tinggal. Beliau katakan
kepadaku bahwa aku harus sekolah Ia juga
menandaskan bahwa aku mesti tinggal di rumahnya di Aekliang. Sebenarnya rumah
Bapaktua ini terletak di tengah areal persawahan. Jaraknya kurang lebih satu
kilometer dari Hariaranauli. Tetangganya hanya ada satu keluarga yang masih
memiliki hubungan darah yakni bersaudara
kakek dengan Bapaktua. Kini aku tinggal di rumah Bapaktua di Aekliang.
Benar sekali, Bapaktua ini mengajak aku ke sekolahnya tempat ia
mengajar sehari-hari. Ketika itu barulah aku sadar bahwa Bapaktua ini adalah
seorang guru PNS di SD.Negeri Hutapinang. Kini aku memiliki banyak teman sebab
aku telah resmi menjadi salah seorang murid SD di SD.Negeri Hutapinang. Aku langsung
didudukkan oleh Bapaktua di kelas dua. Jarak tempuh antara rumah Bapaktua
dengan SD.Negeri Hutapinang adalah setengah jam jalan kaki menyusuri
pematang-pematang sawah. Setiap hari rute itulah yang kami lewati bersama
dengan dua orang puteri Bapaktua. Puteri Bapaktua ini – namanya Mekdina
Simanjuntak – ketika itu duduk di kelas empat SD. Sedangkan adeknya Derisma
Simanjuntak baru duduk di kelas satu. Setiap hari kami menyusuri pematang-pematang sawah menuju
SD.Negeri Hutapinang tempat kami
bersekolah. Hanya ada satu orang anak laki-laki ditengah keluarga Bapatua ini.
Namanya Kornelius Simanjuntak. Ketika aku tinggal di rumah mereka, abang
Kornelius Simanjuntak – begitu aku memanggilnya - bersekolah di kota Pematangsiantar, di SMP
Seminari Menengah Pematangsiantar. Hanya ketika abang Kornelius libur sekolah dan
pulang kampung kami bisa bermain bersama. Dan, ketika tulisan ini kubuat, abang
Kornelius Simanjuntak tinggal menetap di Jakarta dengan profesi sebagai seorang
dosen di Fakultas ekonomi Universitas
Indonesia merangkap sebagai pengusaha di dunia asuransi.
Aku masih persis mengingat, suatu malam di rumahnya di Aekliang,
abang Kornelius membanguniku sekitar jam dua dini hari untuk menemaninya
kencing keluar rumah. Barangkali ia merasa takut akan gelapnya malam maka ia
merasa perlu ditemani. Pernah kami sama-sama memundak kayu api dari “Sisalean”
dengan jalan setapak yang amat curam menuju Aekliang. Pernah juga suatu saat
kami sama-sama membersihkan pematang-pematang sawah di Aekliang. Pembelajaran secara tidak langsung yang amat
baik menurutku ialah setiap saat ketika ia liburan sekolah selalu tidak lupa
membawa buku-buku bacaan ke rumah. Gemar sekali abang Kornelius ini membaca
buku. Ini pembelajaran sengaja atau tidak sengaja, yang dipertunjukkan kepadaku. Inilah rangkaian
kenangan-kenangan manis bersama abang Kornelius ketika saya tinggal di rumahnya
kurang lebih dua tahun lamanya.
*Perjumpaanku
dengan abang Marihot Simanjuntak
Maklum, semasih aku tinggal di Aekliang – di rumah abang Kornelius
Simanjuntak, - usiaku ketika itu masih
tergolong usia bermain. Tugas harianku (memberi makan bebek, mengambil air ke
sungai, memasak nasi, dan lain-lain) sering terlalaikan bahkan terlupakan
akibat keasikan bermain bersama teman-teman. Aku sering “direpeti” (dimarahi)
oleh Mamaktua (istri Bapaktua). Sering aku merasa sedih dan meneteskan air
mata. Kala aku direpeti pastilah aku teringat kampung Siantardolok dan kian
menambah intensitas kesedihanku yang kadang kala diakhiri dengan tetesan air
mata. Sedu sedan dan gundah gulana menyelimuti totalitas perasaanku.
Aku masih ingat, suatu ketika di sore hari , aku lari dari
Aekliang menjumpai abang Marihot yang lagi menjaga burung pemakan padi di
ladangnya. Ladang itu dekat dengan Aekliang. Di sana kami bermain bersama abang
Marihot. Matahari semakin menurun hendak bersembunyi di tempat peraduannya. Aku
merasa takut pulang ke rumah di Aekliang. Takut kalau-kalau aku akan direpeti
kembali.
“Udah gak usah takut, di rumahku aja kita makan nanti malam” kata
abang Marihot kepadaku.
“Okelah!”, Jawabku mengiakan tawaran dan ajakan abang Marihot. Selesai makan malam, abang Marihot mengantar
aku pulang ke Aekliang. Ia menjadi juru bicara untuk menjelaskan dari mana kami
tadi sore kepada Mamaktua. Kejadian seperti itu sering terulang. Akhirnya
Mamaktua (ibunya abang Marihot) memutuskan untuk mengajakku agar tinggal di
rumahnya saja. Mamaktua ini berjanji
akan minta ijin dari Bapaktua di Aekliang.
Benar saja, beberapa hari kemudian – waktu itu malam hari –
Bapaktua bersama Mamaktua datang dari Aekliang ke Sabagadong. Sabagadong ini
adalah kampungnya abang Marihot. Aku dengar, mereka membicarakan sesuatu
tentang aku. Aku dengar mereka memutuskan bahwa aku sebaiknya tinggal di rumah
abang Marihot saja. Begitu perjalanan hidup, sebagai suatu sejarah yang
menghantarkan diriku akhirnya tinggal di rumah abang Marihot di Sabagadong.
Masih di
Sabagadong......................
Kurang lebih tiga tahun aku tinggal di rumah abang Marihot.
Benar-benar aku dilatih bekerja di sawah hingga tingkat mahir. Tiada hari tanpa
turun ke sawah. Maklum, mata pencaharian keluarga ini adalah bertani (tanam
padi di sawah). Oleh karena itu mau tidak mau akupun turut seperti mereka. Aku
diajari mulai dari menabur benih,
mencabut bibit, menanam, menyiangi, menabur pupuk, menjaga burung, menyabit,
merontok bulir padi alias “mardege eme”, memasukkan padi ke dalam karung,
memundaknya ke rumah di Sabagadong. Aku sangat mahir melakoni semua jenis
pekerjaan ini.
Pagi hari, aku bersama
abang Marihot dan satu orang lagi adeknya Lius Simanjuntak (pernah menjadi TNI dan telah almarhum ketika tulisan ini aku
torehkan) bersama-sama menyusuri pematang-pematang sawah berangkat ke sekolah.
Sekembalinya dari sekolah biasanya kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami
menyempatkan diri untuk bermain-main di tengah jalan. Kebetulan kami harus
menyeberangi sebuah sungai. Mandi di siang bolong adalah kegemaran kami. Tidak
bisa rasanya kami melewati sungai itu sebelum menyeburkan diri ke dalamnya.
Nikmat dan segar rasanya berlama-lama di dalam air.
Bukan hanya sekedar mandi, melainkan ada satu lagi pekerjaan yang
mengasikkan kami lakoni ketika kami sedang menyeburkan diri ke dalam sungai.
Apa itu? Tadi ketika melintas, di pinggir jalan yang kami lewati, ada sebidang
kebun singkong (ubi kayu). Layaknya orang kelaparan, dan perut yang sedang
keroncongan, memaksa kami untuk mencuri singkong orang. Entah siapa pemilik
kebun itu kami tidak tahu dan memang tak peduli. Sebesar tungkul jagung rebus,
sebegitulah besar umbi-umbi yang kami curi di siang bolong itu. Kami memasukkan
umbian itu ke dalam tas sambil menunggu saatnya yang tepat untuk melahapnya.
Kini kami tiba di tempat pemandian. Tanpa tedeng aling-aling langsung
buka baju dan telanjang bulat tiada rasa malu.
“Ambil ubi dari tas masing-masing dan segera lempar ke dasar
sungai yang agak dalam!” kata abang Marihot kepada kami.
“Satu, dua, tiga,... byurrr...” terdengar suara deburan air akibat
lompatan kami dari ketinggian tertentu.
“Ayo! Cari umbinya masing-masing!” seru kami satu sama lain.
Biasanya kami berlomba cepat sambil menyelam untuk menemukan umbi yang
sebelumnya kami lempar ke dasar sungai.
“Saya dapat umbiku!”,
“Saya jumpa umbiku!”,
“Saya belum menemukan umbiku” seru kami masing-masing sambil tertawa terbahak-bahak.
Dengan gigi taring yang masih tajam, umbi-umbi mentah itu langsung
kami santap. Lucu rasanya, bagai kera makan umbian mentah, begitu cara kami
melahap umbi mentah hasil curian itu. Tiada kami sakit perut. Tiada terganggu
kesehatan kami mandi tanpa sabun ditengah teriknya sinar matahari siang bolong
sambil makan umbi mentah.
Memang Tuhan itu amat baik. Ia mampu melindungi dan menjauhkan
sakit perut serta demam dari diri kami
meskipun karena perbuatan dan kelakuan kami yang kurang baik. Kenangan
manis ini tak akan pernah terkikis dari nubariku.
Kenangan manis berikut – ketika aku tinggal di rumah abang Marihot
di Sabagadong – juga tidak akan pernah terlupakan. Kegiatan yang satu ini
adalah kegiatan yang amat mengasikkan. Biasanya ketika tiba kemarau panjang
maka sungai yang melintas di tengah hamparan areal persawahan kampung itu akan surut drastis. Airnya
menjadi amat dangkal. Ikan-ikan yang ada di dalam sungai itu akan gampang
ditangkap meskipun hanya menggunakan alat sederhana saja.
“Nanti malam kita akan ‘manorhap’ ya!” kata Bapaktua (ayahnya
abang Marihot) kepada kami. “Manorhap” adalah sejenis kegiatan menangkap ikan
dengan alat serupa jala berbentuk segi empat mirip tudung saji yang memiliki
tangkai sebagai pegangan.
Usai makan malam Bapaktua mempersiapkan semua peralatan antara lain
panah ikan, sorhap, jala dan sebuah lampu petromaks. Dengan cekatan Bapaktua
menyalakan lampu petromaks. Kami bertiga (Bapaktua, aku dan abang Marihot) kini
bersiap-siap untuk segera berangkat ke sungai. Biasanya Bapaktua di depan
sebagai pembawa jalan sambil menenteng lampu petromaks.
Kini kami tiba di tempat tujuan. Daerah sarang ikan ada di depan
kami. “Siapkan panah dan sorhap” kata Bapatua
kepada kami. “Itu dia ikan pora-pora, ada di balik batu, cepat panah!” seru
Bapaktua kepadaku. “Itu ikan gabus besar di depanmu Marihot! Cepat panah!” kata
Bapaktua kepada abang Marihot.
“Ayo ke depan...majau terus...., siap-siapkkan panah” begitu
Bapaktua memberi sarannya kepada kami malam itu. Malam semakin larut. Kami
hampir tiba di ujung sungai.
“Bagaimana, lumayan
tangkapan kita?”
“Lumayan Paktua” jawabku
spontan.
“Oke, kalau begitu kita
sudah bisa kembali ke rumah. Lagi pula malam telah larut.” Begitu Bapaktua
memberi anjuran. Dan...kami pulang ke rumah.
Tiga tahun lamanya tinggal di rumah abang Marihot tak terasa.
Akhir dari sepenggal perjalanan waktu kini tiba. Ujian akhir di kelas enam
jumpa. Pertanda tak lama lagi aku akan meninggalkan Hariaranauli, Aekliang,
Sabagadong dan teristimewa SD.Negeri Hutapinang.
Banyak dan teramat banyak kenangan indah meski sesekali diselingi
dengan kenangan pahit dari sepenggal perjalanan hidupku – selama aku berada di
kampung kakek, yang kadang terpaksa berpindah-pindah tempat tinggal – kini
harus kutinggalkan. Aku tidak mau selamanya menjadi anak-anak. Bagai seekor
anak burung terbang jauh, jauh sekali, demikianlah perasaanku untuk seterusnya harus
terbang guna melanjutkan sekolah entah di mana tidak tahu pasti. Sayonara
untukmu SDku SD.Negeri Hutapinang.
Aku kini berangkat mengayunkan langkah pastiku menyongsong masa
depanku yang mungkin akan lebih ceria. Selamat tinggal kampung kakekku! Selamat
tinggal.
3. SMP-SMA di
Sibolga
Akhir tahun 1976 aku
menamatkan SDku di SD.Negeri Hutapinang. Masih kuingat kala itu, Bapakku
menjemputku dari rumah abang Marihot di Sabagadong. Masih kuingat malam itu aku
bersama Bapakku menjumpai wali kelasku untuk minta rapor SDku. Adalah malam
terakhir tidur di rumah abang Marihot dan keesokan harinya kami kembali ke
kampung Siantardolok. Untuk sekian lamanya – tak tahu pasti batas waktunya –
aku bertemu kembali rumah pondok ladang di Siantardolok.
Tentu saja Bapakku tidak tinggal diam dan berpangku tangan saja di
rumah pondok ladang, melainkan berpikir keras bagaimana cara mengumpulkan uang
yang jumlahnya relatif besar bagi seorang bapak dengan pekerjaan sehari-harinya
hanyalah sebagai penyadap karet. Bapakku tetap berpegang pada prinsipnya yakni
dengan cara apapun dan bagaimanapun keputusan harus terlaksana yakni aku anak pertamanya
harus melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi yakni SMP.
Terbacaku di raut wajah Bapakku suatu gambaran dari sebuah
kekalutan yang harus ia tuntaskan dan harus ia hadapi.
Persoalannya ialah seputar kelanjutan sekolahku. Jangankan
SMP, SD saja tidak ada di dekat kampung
kelahiranku. Itu artinya aku harus melanjut ke SMP di tempat yang jauh, di
ibukota kabupaten.
“Siapa yang harus mendaftarkan anakku?, “
“Di mana ia harus tinggal?”
“Berapa rupiah uang pendaftarannya?”
“Uang pembangunannya berapa ya?”
Semua ini menjadi tanda tanya besar bagi Bapakku. Semua ini
menjadi beban pikiran bagi Bapakku.
Sungguh amat baik Tuhan itu. Sungguh, Tuhan dapat membaca kekalutan pikiran Bapakku. Tuhan
menunjukkan jalan terbaik bagi Bapakku. Tak disangka-sangka tulangku (saudara
Ibuku) kebetulan berkunjung ke Siantardolok. Tulang inilah yang menawarkan jasa
baiknya kepada Bapakku untuk mendaftarkan aku ke SMP Fatima (sebuah SMP ternama
waktu itu di wilayah kabupaten Tapanuli Tengah). Saran tulang ini tentu saja
diterima Bapakku dengan senang hati.
Aku didaftarkan oleh tulangku di Sibolga. Beban pikiran Bapakku
menjadi lebih ringan. Kini ia tinggal memikirkan bagaimana cara mengumpulkan sejumlah
uang untuk kebutuhan awal bagiku di Sibolga. Begitulah riwayat singkatnya aku
terdaftar di SMP Fatima Sibolga.
*di Wisma Katolik
Sibolga
Kabar yang disampaikan oleh tulangku kepada Bapakku di kampung
bahwa juga telah beliau daftarkan aku ke asrama di Sibolga. Aku tidak mengerti
asrama apa yang tulang maksudkan. Pokoknya kalau aku nanti sekolah di Sibolga pasti aku sudah memiliki
tempat tinggal. Itu saja yang aku tahu.
Salah seorang penghuni asrama ini adalah anak kampung
Siantardolok. Di liburan natal yang relatif panjang itu, ia pulang ke kampung.
Satu tahun ia persis di atasku. Ia naik ke kelas dua SMP, sementara aku baru
mendaftar hendak masuk ke kelas satu.
Masih persis kuingat, kepadanyalah Bapakku menitipkan aku untuk
ikut bersamanya menuju Sibolga. Ketika itu pagi hari - lupa aku nama harinya –
aku bersama anak asrama ini berangkat menuju Sibolga. Jalan terus..., terus berjalan menuruni lereng gunung dengan
jalan setapak yang berliuk-liuk menuju Sorkam (nama sebuah kampung) yang sudah
dilalui kendaraan. Dari Sorkam inilah kami menaiki sebuah angkutan pedesaan menuju
kota Sibolga.
Sama sekali aku belum pernah menginjakkan kaki di kota ini. Kota
Sibolga adalah sesuatu yang asing bagiku. Sudah agak malam, akhirnya kami tiba
di kota Sibolga. Langsung menuju Wisma Katolik. Langsung registrasi, kemudian
mandi, kemudian makan malam.
Di sinilah baru aku sadar bahwa yang dimaksudkan asrama itu ialah
wisma Katolik milik Paroki Sibolga. Barulah pula aku sadar bahwa penghuni
asrama itu semuanya laki-laki. Ada tiga orang guru laki-laki yang tinggal
bersama kami di wisma itu. Rupanya
mereka bertiga disamping sebagai guru di sekolah Katolik merangkap sebagai
pengawas asrama di wisma itu. Merekalah yang menjadi pengawas kami.
Sesekali, dan biasanya di sore hari, dengan sepeda ontelnya
seorang bruder berkebangsaan Jerman – namanya Br.Claudius Banholzer – datang ke
wisma untuk melihat-lihat kami belajar. Rupanya beliau adalah pucuk pimpinan di
asrama itu.
*di asrama
St.Fransiskus Asisi
Ketika kami tinggal di wisma Katolik, biasanya di sore hari,
Br.Claudius Banholzer membawa kami anak asrama bekerja mengangkati batu bata
yang berserakan di sebidang halaman bangunan gedung megah bertingkat empat.
Kami disuruh merapikan halaman itu. Ketika kami sedang asik-asiknya mengangkati
batu yang berserakan di halaman gedung itu, tak disangka-sangka Br.Claudius
muncul dengan membawa dua botol air dingin. Diberikannya kepada kami untuk kami
minum. Amat baik bruder itu. Ia seorang bruder dari ordo Kapusin.
Sebulan kemudian tak terasa berlalu, suatu sore beliau datang ke
wisma Katolik dan memberi perintah kepada semua anak asrama agar esok hari
sepulang dari sekolah, menyusun pakaian ke koper serta buku-buku pelajaran dan
pindah ke gedung baru berlantai empat. Gedung itu diberi nama “Asrama
St.Fransiskus Asisi”. Cukup megah tampilan gedung itu. Layaknya sebuah bangunan
Katolik, tampak cirinya dari susunan batunya yakni tanpa diplester (dilicinkan
dengan semen) dari bagian luarnya.
Gedung asrama ini – ketika tulisan ini saya buat – telah berubah
nama dan fungsi menjadi kantor Keuskupan Sibolga. Gedung ini terletak di
Jln.Ade Irma Suryani Nasution no.17 Sibolga. Di sebelah Barat persis di
seberang jalan terletak sebuah biara Kapusin namanya “Biara Yoaneum”. Di
sebelah Utaranya, kurang lebih 70 meter jaraknya dari asrama terdapat sebuah rumah. Rumah Uskup
namanya. Di rumah ini seorang uskup tinggal dan beristirahat setiap harinya.
Rumah uskup ini terletak di Jln.Dolok Martimbang.
Amat banyak pengalaman hidupku tercipta dan terjadi selama 6,5
tahun tinggal di asrama St.Fransiskus Asisi. Ada suka, ada gembira, ada
tertawa, sesekali berkelahi, juga sesekali menangis. Kesemuanya ini menjadi
momen-momen indah sepanjang perjalanan hidupku tinggal di asrama. Ijinkan aku
memilih-milih dan memilah dari antara sekian banyak pengalaman hidup untuk kuurai
dalam untaian pragraf-pragraf berikut:
*Pembelajaran
hidup dari seorang berkebangsaan Eropa.
Br.Claudius Banholzer seorang berkebangsaan Jerman Barat
misionaris Kapusin berkarya di Keuskupan
Sibolga. Beliau bertugas sebagai Pembina asrama St.Fransiskus Asisi. Bruder ini
berhobby musik. Ia sangat mahir bermain
organ dan mengaransemen lagu. Sebagai seorang pengikut Fransiskus, beliau
sangat menyayangi binatang. Ia bangun sebuah kandang jeruji besi tempat ia
memelihara beberapa ekor kera hutan. Di
dekat kandang kera itu ia bangun sebuah kolam kecil untuk memelihara beberapa
ekor kura-kura hutan. Semua peliharaannya ini diberinya makan setiap hari
secara teratur. Di bagian belakang asrama ditanaminya berbagai jenis anggrek. Bahkan
di sekeliling asrama ia tanami berbagai jenis bunga. Setiap hari – tak pernah
alpa – ia berputar-putar mengelilingi asrama untuk mengecek semua tanaman dan
binatang peliharaannya. Kemudian ia kembali ke biara Yoaneum untuk berdoa dan
makan malam. Jam setengah delapan malam ia muncul kembali di asrama untuk
mengawasi kami belajar. Begitu ia lakoni pekerjaannya setiap hari.
Suatu ketika Bruder ini mengerjakan sebuah kerajinan tangan dengan
menggunakan bahan dari benang. Sangat
indah hasil karya tangannya. Anak asrama yang berminat membuat kerajinan tangan
boleh belajar kepadanya. Termasuk aku ia ajari
untuk membuat karya kerajinan tangan. Tak pernah sekalipun ia memukul
kami meski kami bandel. Hanya ada satu tanda yakni wajahnya tiba-tiba merah
padam bila ia marah kepada kami. Ia memperlakukan kami dengan sangat lembut dan
penuh pengertian. Amat arif ia memberi pelajaran hidup kepada kami anak-anak
binaannya di asrama. Setiap malam minggu ia ajari kami bernyanyi dalam bentuk
paduan suara di gereja. Ia melatih kami koor. Menyesal aku tidak meminta bruder
ini mengajari aku bermain organ. Ketika itulah tumbuh kesadaranku bahwa bruder
Claudius Banhozer adalah sosok seorang guru sejati yang mampu mengajarkan
perihal jati diri yang sesungguhnya. Sekurang-kurangnya buatku pribadi bruder
ini adalah seorang idola yang harus ditiru.
*sebagai tukang
pangkas
Aku masih ingat persis, ketika aku masih anak-anak, ibuku sering
menjadi tukang pangkas rambut bagi kami anak-anaknya. Tak pernah rambut kami
dibiarkan oleh Ibu sampai panjang. Biasanya ia langsung meminjam gunting rambut
milik kakek dan memangkas rambut kami dengan rapi. Barangkali potensi menjadi
tukang pangkas rambut yang aku miliki turun dari Ibuku.
Aku sering disuruh teman-teman di asrama untuk memangkas
rambutnya. Kian lama kian yakin teman-temanku akan kemampuanku untuk memangkas
rambut. Maka, waktu itu, Br.Claudius tidak segan-segan membeli seperangkat alat
pangkas rambut yang diperuntukkan bagi kami anak-anak asrama. Suatu ketika
Bruder ini meminta kesediaanku untuk memangkas rambutnya. Aku merasa bangga,
sebab seorang pemimpin asrama berkebangsaan Jerman meminta aku untuk memangkas
rambutnya. Juga ia suruh aku untuk merapikan jenggotnya yang mirip seperti
jenggot Tuhan Yesus. Aku merasa bangga, bahkan amat bangga. Selama 6,5 tahun
aku tinggal di asrama St.Fransiskus, tak terkira entah berapa kali ia
menyuruhku untuk memangkas rambutnya. Syukur kepada Tuhan. Meskipun aku menggunakan tangan kidal – sebab semenjak
usia anak-anak memang aku sudah ditakdirkan
sebagai anak kidal - memanfaatkan
tangan kidalku untuk memangkas
rambut hambanya Br.Claudius Banhozer, Ofm.Cap.
Tak hanya sebatas itu, suatu ketika Uskup Anicetus Bongsu Sinaga,
Ofm.Cap – yang sekarang, ketika tulisan ini aku torehkan di atas kertas, menjabat
sebagai uskup di Keuskupan Agung Medan, ketika itu beliau yang mulia masih
menjabat sebagai uskup di keuskupan Sibolga – datang ke asrama untuk meminta
aku nanti siang usai makan agar
menjumpai beliau di kantornya. Aku turuti perintah yang mulia uskup Anicetus
Bongsu Sinaga.
Siang itu juga – aku bergegas menuju kantor Beliau di Jln.Dolok
Martimbang. Aku mengetuk kantornya. Segera uskup yang mulia membuka pintunya.
Seperangkat alat pangkas rambut ia gemgam di tangannya.
“Ayo pangkas dulu aku Vandenaker!” kata yang mulia uskup kepadaku.
“Ya monsiniur, tapi maaf terlebih dahulu, terpaksa aku menyentuh
kepala seorang uskup”.
“Tidak apa-apa, nggak persoalan, silahkan saja pangkas rambutku
dan buat rapi ya!” begitu yang mulia uskup Anicetus Bongsu Sinaga, Ofm.Cap
menjawabnya dengan amat rendah hati.
Tak terlukiskan betapa
bangganya perasaanku waktu itu. Pikiran bulusku berkata, “Sekelas rasul Petrus,
menyuruh aku memangkas rambutnya.” Tuhan rupanya tetap membutuhkan tangan
kidalku. Terima kasih ya Tuhan.
Di sela-sela waktu senggangku – ketika tulisan ini aku
torehkan ke atas lembaran kertas –
bertanya dalam hati, “Salahkah aku bila suatu saat manakala ada kesempatan untuk
mengajak yang mulia Uskup Anicetus Bongsu Sinaga bernostalgia, bercerita,
berbagi pengalaman hidup, istimewanya mengenai pengalaman dan perasaanku di era
80-an bahwa telah berkali-kali memangkas
rambut beliau di Jln Dolok Martimbang Sibolga? Mugkinkah beliau yang mulia
terbuka untuk mendengar jeritan hidupku? Atau memberi pengampunan bila aku di
masa yang lampau memiliki banyak kesalahan terhadapnya? Beranikah aku? Atau lebih baik kusimpan saja semua
pertanyaan ini di dalam hatiku? Ya, aku tidak tahu. Atau mungkin Beliau telah
memandang kesalahan dan jeritan batinku ini secara tidak langsung lewat doa seorang uskup kepada Tuhan? Atau,
aku yang kurang menyadari bahwa banyak rahmat telah aku terima dari Tuhan lewat
doa seorang uskup Anicetus? Tuhan
ampunkan segala dosaku. Pulihkan segala kerapuhan jiwaku. Engkau Tuhan amat
baik. Aku yakin uskup yang mulia Anicetus pasti membawa aku dengan segala
problema hidupku kepada Tuhan.
*belajar
kebudayaan.
Semua penghuni asrama St.Fransiskus Asisi berjenis kelamin
laki-laki. Semuanya beragama Katolik. Anda mungkin bertanya, “Mengapa begitu
spesifik penghuni asrama ini?” Jawabnya: Asrama ini diperuntukkan bagi laki-laki Katolik yang memiliki
cita-cita menjadi pastor. Di asrama inilah mereka dipersiapkan agar intelek dan
kepribadiannya semakin mendekati kepribadian seorang pastor. Asrama ini
dijuluki sebagai “asrama pra seminari”.
Beberapa teman-temanku
seasrama dulu, hingga tulisan ini kutorehkan, mereka masih eksis sebagai
pastor. Salah seorang di antaranya – sekedar untuk menyebut namanya yakni
pastor Rantinus Manalu, Pr., di bawahku satu angkatan ,menjadi seorang pastor
praja di Keuskupan Sibolga. Pastor ini dikenal oleh publik sebagai seorang
pejuang HAM. Amat sering ia keluar masuk pengadilan hanya gara-gara membela dan
menegakkan penghormatan terhadap Hak Azasi Manusia. Membela rakyat kecil yang
tidak berdaya atas perlakuan sewenang-wenang penguasa adalah kesukaan pastor
ini.
Berdasarkan letak geografis, daerah dari mana anak-anak asrama
St.Fransiskus berasal, dapat dibedakan atas dua bagian yakni daerah permukiman
etnis Batak (pesisir pantai barat pulau Sumatera) dan daerah kepulauan seberang
laut (pulau Nias dan pulau Tello).
Sekaitan dengan daerah asal, maka penghuni asrama St.Fransiskus
terdiri atas dua etnis pula yakni etnis Batak dan etnis Nias. Masing-masing
etnis tentu saja membawa turut serta kebudayaannya ke asrama St.Fransiskus.
Batak dengan budaya Bataknya dan Nias dengan budaya Niasnya. Di asrama
St.Fransiskus kedua kebudayaan ini bertemu dan mengalami proses budaya yang
disebut dengan istilah “asimilasi budaya”.
Dalam proses interaksi hidup harian yang dilakoni oleh anak-anak
asrama, maka kadang kala terjadi persentuhan budaya yang bisa jadi menghasilkan
ekses negatif. Dalam bingkai ilmu sosiologi persentuhan kedua jenis budaya ini
beserta ekses yang terkadang negatif sifatnya dipandang sebagai suatu kewajaran
menju proses assimilasi budaya.
Ketika itulah aku baru sadar, selain orang Batak masih ada rupanya
orang di luar Batak. Jiwa belajarku semakin dihadapkan kepada dunia kenyataan
yang sedang kuhidupi. Aku sering bertanya kepada teman-teman dari Nias mengenai
kosa kata yang mereka miliki. Sering aku menyusun sendiri kalimat dalam bahasa
Nias dan langsung kupraktekkan. Teman-teman dari Nias itu amat baik. Bila kalimatku
salah pelafalan langsung mereka perbaiki cara pengucapannya. Pendeknya aku
senang belajar bahasa Nias.
Bukan hanya bahasa yang kupelajari melainkan turut juga tarian
khas Nias yakni tarian “Maena”.
“Teman-teman dari Nias ini kok
pintar-pintar main volley? Mengapa mereka selincah itu ya?” gumamku dalam hati.
Di lain kesempatan, sambil bercerita dengan teman-teman dari Nias,
mereka tuturkan bahwa di kampung mereka ada kebiasaan “lompat batu” sebagai
bagian dari “tari perang”. Rupanya proses alam inilah yang membentuk fostur
tubuh anak lelaki Nias akhirnya menggemari permainan olah raga volley.
*belajar ilmu eksak
– non eksak
Enam setengah tahun aku tinggal di asrama St.Fransiskus Sibolga.
Enam setengah tahun pula aku harus belajar ilmu eksak dan non eksak di sekolah.
Gedung SMP Fatima terletak di tengah kota Sibolga. Sementara asrama St.Fransiskus
terletak agak di pinggiran kota. Nama daerah itu di mana asrama St.Fransiskus
dibangun disebut daerah “Simare-mare”. Jarak tempuh antara asrama dengan
sekolah terhitung dengan langkah cepat 20 menit jalan kaki. Setiap hari rute
yang sama yang menghubungkan asrama dengan sekolah aku lalui. Tentu saja hanya
dengan mengandalkan kekekaran kedua tungkai kaki. Tiada aku merasa capek. Jalan
terus...., terus berjalan kaki 6,5 tahun
lamanya. Aku kuat, semakin kuat dan badanku semakin bertambah besar.
Ijinkan aku urai perjalanan hidupku
selama 6,5 tahun duduk di dalam ruangan kelas demi secuil ilmu eksak – non
eksak di SMP Fatima dan SMA Katolik Sibolga.
Tahun 1977, - lupa aku nama harinya apa lagi tanggalnya, yang
pasti hanya bulannya, di bulan Januari waktu itu – pertama sekali aku duduk di
bangku SMP.Fatima. Aku merasa amat gembira mengenakan pakaian seragam yang baru
dan sepatu baru.
Tentang sepatu baruku.......
Ada sebuah pengalam yang lucu sekaitan dengan sepatu baruku ini.
Maklum, baru inilah pertama sekali aku mengenakan sepatu seumur-umur hidupku.
Masih kuingat, sepatu baruku itu kupakai tanpa kaus kaki. Di SMPku itu setiap
siswa wajib mengenakan sepatu mulai dari masuk sekolah di pagi hari hingga batas pulang sekolah di siang hari.
Apa yang terjadi? Satu jam pertama sejak sepatu baruku kukenakan,
telapak kakiku terasa amat panas. Aku berusaha sedaya mampu dan sekuat
tenaga untuk menahankan perasaan panas
pada bagian telapak kakiku. Sesaat memang bisa aku tahankan. Tetapi tidak
seberapa lama kemudian rasa panas di telapak kakiku semakin menjadi-jadi.
Diam-diam aku terpaksa membuka sepatuku. Kuperiksa telapak kakiku: Rupanya pada
kulit telapak kakiku terdapat sebuah gelembung mengurung air di dalam. Akhirnya
aku menyadari rupanya gelembung itu terjadi
akibat himpitan sepatu karet yang aku kenakan. Semakin kusadari,
barangkali beginilah akibatnya bila sejak kecil hingga tamat SD aku belum pernah sama sekali mengenakan
sepatu.
Di siang hari itu juga, seorang suster biarawati namanya Sr.Agnes
Tampubolon yang menjabat sebagai kepala sekolah, datang ke kelasku untuk melakukan
tugas pemeriksaan. Suster itu lewat dari samping meja belajarku. Melihat aku
tidak mengenakan sepatu, suster itu heran dan bertanya,
“Mengapa kau buka sepatumu nak?” sapa suster kepadaku penuh
keheranan.
“Bereng ma suster maluak kulit ni pat hu ala ni sipatu on” Ind:
“Lihat suster! Telapak kakiku melepuh akibat himpitan sepatu ini”, spontan aku
menjawab pertanyaan suster dengan menggunakan bahasa Ibuku yakni bahasa Batak.
Maklum, ketika itu aku sama sekali belum tahu menggunakan bahasa Indonesia.
Untunglah suster itu penuh pengertian dan dapat memahami problem yang sedang kualami.
Kemudian suster kepala sekolah itu berlalu tanpa marah serta membebaskanku
tanpa mengenakan sepatu untuk seharian penuh.
*bertemu dengan
satu lagi etnis baru – etnis Cina (Tionghoa).
Masih segar dalam ingatanku , di awal tahun 1977 itu aku berteman dengan cukup banyak orang Cina
di SMP.Fatima. Lebih dari 50% siswa
SMP.Fatima merupakan golongan etnis non pribumi alias etnis Cina atau kerap
disebut orang “Tionghoa”. Bahasa teman-teman ini amat asing di telingaku.
Ketika itu, meski ada aturan yang menyebutkan bahwa di lingkungan sekolah wajib
menggunakan bahasa Indonesia namun mereka tidak peduli. Mereka tetap saja menggunakan
bahasa mereka yakni bahasa Mandarin. “Lu... gua..., lu...gua...”, Begitu mereka
bercakap-cakap satu sama lain. “Wo aini....” kerap mereka sebut. Entah apa
artinya, apa maksudnya saya tidak tahu.
Aku masih ingat persis
nama- nama mereka yang menjadi teman-temanku di kelas I-c, antara lain: Di depanku seorang
cewek namanya Anna Ong Sui Ing, sebelah kanan Tan Sui Hong, Lai Cui Ing, Liem
Sui Hong, dan masih banyak lagi etnis Cina yang tidak kuingat namanya. Mereka
semua adalah teman-temanku satu kelas. Rata-rata teman etnis Cina ini tergolong
pintar untuk ukuran kami pada saat itu. Sementara aku hanyalah seorang tamatan
SD.Negeri Hutapinang yang sedikit bernasib baik dapat melanjut ke SMP.Fatima
sebuah sekolah Katolik ternama di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Anda dapat membayangkan, seorang tamatan SD Kampung harus
berkompetisi dengan orang kelahiran di kota yakni etnis Cina tentang ilmu eksak
– non eksak di ruangan kelas I-C SMP.Fatima. Anda dapat bayangkan meskip aku
sudah memiliki ijazah SD namun berbicara dalam bahasa Indonesia saja aku masih
terbata-bata. Maka dapat dipastikan untuk berkomunikasi dengan teman-teman di kelas I-C, aku
mengalami kesulitan.
Sekaitan dengan kemampuan kebahasaanku yang tergolong amat minim pastilah berkaitan
dengan kemampuan daya serap terhadap ilmu eksak – non eksak yang dipaparkan
oleh bapak ibu guru di muka kelas. Tampak pada nilai-nilai mata pelajaran yang
yang tertulis di raporku pada penerimaan rapor semester pertama bahwa semua
bidang studi yang diajarkan di kelas I nilainya amat rendah. Rangkingku waktu
itu adalah adalah rangking tiga terakhir. Itu artinya hanya ada dua orang lagi
yang kemampuan intelektualnya berada di bawahku.
Amat sedih perasaanku waktu itu melihat nilai-nilai yang tertera
pada raporku. Suster Kepala Sekolahku memberi nasehat agar aku semakin giat dan
rajin belajar di rumah. Bahkan lebih keras suster itu mengatakan: “Kalau kau
tidak berusaha keras untuk menaikkan nilaimu di semester depan, kau bisa
tinggal kelas”. Sebuah pukulan berat menerpa diriku yakni terancam tinggal
kelas. “Aku tidak mau tinggal kelas!, terlalu banyak uang orangtuaku terbuang
sia-sia dan percuma bila aku tinggal kelas. Bukan karena IQ-ku yang tergolong
jongkok, melainkan kemampuan bahasaku yakni tidak lancar berbahasa Indonesia
sebagai faktor penyebab. Andaikan semua guru yang mengajar di kelas
menyampaikan materi ajarnya dalam bahasa Ibuku bahasa Batak, pasti aku gampang
menangkap dan menyerap materi ajar guru-guruku.
Aku membangun sebuah tekad bahwa di semester depan aku harus mahir
berbicara dalam bahasa Indonesia. Kunci keberhasilanku untuk sebuah perjuangan
naik kelas berkorelasi dengan berhasil
tidaknya aku belajar berbicara dalam bahasa Indonesia yang benar. Tiada kamus
menyerah apalagi putus asa dalam diriku. Aku harus berjuang. Aku harus memiliki
tekad yang kuat untuk sukses. Aku harus naik kelas.
Semester ke-2 kujalani meski dengan langkah tertatih-tatih. Namun
“spirit” yang kuat berdasarkan sebuah tekad yang kuat pula, tetap membara di
dadaku. Hasil dari usaha keras ini mulai tampak pada lembaran kertas ulangan
harian yang dikembalikan oleh guruku. Ponten ulanganku semakin membaik.
Dan...., pada penerimaan rapor semester
ke-2 peringkat kelasku berada pada posisi menengah. Pada catatan paling akhir
di rapor itu aku dinyatakan naik kelas ke kelas dua.
Pada Sekolah Katolik (TK, SD, SMP dan SMA) yang ada di Sibolga
terdapat hubungan sinergis yang baik antar unit. Sekurang-kurangnya begitulah
yang kualami selama 6,5 tahun aku belajar di sekolah Katolik Sibolga.
Biasanya anak yang tamat dari TK Katolik akan melanjut ke SD Katolik. Murid
yang sudah tamat dari SD Katolik melanjut ke SMP Katolik. Tamatan SMP Katolik
(SMP.Fatima) akan meneruskan pendidikannya ke SMA Katolik. Hubungan demikin
inilah yang aku sebut sebagai hubungan bersinergis antar unit di sekolah
Katolik tempat aku ketika itu menuntut ilmu.
Hingga kini – ketika tulisan ini aku torehkan di atas kertas – aku
masih persis mengingat bahwa teman-temanku ketika duduk di bangku SMP, itu-itu
juga orangnya yang menjadi teman sekelasku di SMA Katolik. Anna Ong Swi Ing,
Tan Swi Hong, Lai Cui Ing, begitulah deretan nama-nama mereka kusebut, langsung
menjadi teman sekelasku di kelas satu SMA.
Setiap harinya selama 6,5 tahun
kami berinteraksi di sekolah. Saking begitu seringnya bertemu di
lingkungan sekolah, akhirnya lama-kelamaan mereka (etnis Cina) ini menerima
diriku sebagai sahabat mereka. Cara dan trik mereka belajar ilmu eksak – non
eksak secara perlahan kutiru. Tentu saja hasilnya cukup memuaskan. Aku mampu
bersaing dan berkompetisi dengan mereka sekaitan dengan ilmu eksak – non eksak
Pendek cerita, ketika kami duduk di bangku kelas tiga SMA aku
berhasil mengungguli mereka. Di jurusan IPS, jurusanku waktu itu, aku berhasil
meraih peringkat tiga.
Masih kuingat, waktu itu tahun 1982, aku mendapat hadiah buku
tulis tebal sebagai hadiah bagi peraih juara tiga. Aku amat bangga sebagai
peraih juara tiga di kelas IPS.
Enam setengah tahun lamanya aku tinggal di asrama St.Fransiskus
dan enam setengah tahun pula aku harus berjalan kaki ke sekolah untuk belajar
ilmu eksak dan non eksak.
*ikut testing di
Jln.Lapangan Bola Atas No.24 Pematangsiantar.
Sejujurnya, sedikitpun aku tidak berminat untuk mengikuti testing
yang satu ini yakni testing masuk seminari di Pematangsiantar. Testing ini bagiku
hanyalah sebagai suatu alternatif terburuk yakni daripada sama sekali tidak
pernah mengikuti testing menuju jenjang pendidikan lebih tinggi. Maksudnya: Aku
mengikuti testing ini hanyalah sebagai puncak dari rasa kesal yang amat
mendalam.
Ceritanya sebagai berikut:
Ketika duduk di bangku kelas tiga SMA, sepucuk surat dari Universitas Sumatera
Utara (USU) diantar oleh tukang pos ke kantor Tata Usaha Sekolah. Isi surat
tersebut yakni agar sekolah mengirimkan siswa-siswi yang berbakat dan
berprestasi untuk mengikuti jalur bebas testing masuk perguruan tinggi negeri.
Program ini dinamai “Jalur Panduan Bakat”. Wali kelas menunjuk aku sebagai
salah seorang kontingen dari jurusan IPS
untuk dikirim ke USU. Tawaran itu sempat aku pertimbangkan dan kukabari
kepada kedua orangtuaku di kampung.
Waktu itu pertimbanganku kurang lebih sebagai berikut: Jika
orangtuaku sanggup mencari uang untuk membiayai hidupku selama tiga bulan saja
di kota Medan, maka kupastikan bahwa aku akan mengikuti program tersebut. Dalam
hati aku menyusun rencana, jika biaya untuk tiga bulan pertama disanggupi oleh
kedua orangtuaku, maka untuk memperoleh biaya selanjutnya aku akan bekerja
sambil kuliah. Namun apa jawaban dari kedua orangtuaku di kampung,
“tung tagadispe tano mahing dohot tano mareak tamba muse dohot
banda ni Oppung, dang na tolap hita i amang” begitu kedua orangtuaku menanggapi
tawaran itu. Bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia artinya kurang lebih
sebagai berikut, “meskipun semua harta milik kita dijual tidak akan pernah
cukup untuk biaya yang kau maksud nak.”
Respon negatif dari kedua orangtuaku
ini membuat perasaanku hancur dan terasa amat dalam menembus hatiku.Kini
perasaanku hancur dan perasaan itu amat dalam mengendap di lubuk hati. Betapa
tidak, sebab ketika itu aku sudah mampu berpikir bahwa sukses tidaknya masa
depanku tergantung dari apakah aku sanggup melanjutkan pendidikanku di bangku
perkuliahan atau tidak.
Agak lama pola pikir saeperti itu bermukim di kepalaku. Sebuah
kepastian yang tak dapat pungkiri lagi yakni bahwa kedua orngtuaku tidak
sanggup secara ekonomis untuk membiayaiku di bangku perkuliahan. Mungkin inilah
yang disebut “nasib” yang selalu bersahabat dengan “takdir” dari serangkaian perjalan hidup.
Ketika itu bunyi doaku hanya satu, “Tuhan tunjukkan jalan terbaik
yang harus kujalani untuk menggapai masa depanku!”
Berselang beberapa waktu kemudian, terdengarlah informasi di
Asrama St.Fransiskus Asisi bahwa tanggal
dan tempat testing untuk masuk Seminari akan dilangsungkan di kota
Pematangsiantar. Aku ditanyai oleh Br.Claudius apakah akan ikut testing atau
tidak. Beberapa hari diberi kesempatan bagiku untuk berpikir-pikir mengenai
tawaran itu.
Akhirnya setelah ditimbang-timbang mulailah muncul sebuah
pengertian baru mengenai isi dari sebuah doa yang pernah kuucapkaan yakni “Tuhan! Tunjukkan jalan
terbaik yang harus kujalani” dalam diriku. Firasatku berkata, “Inikah jalan yang harus
kujalani itu? Testing masuk Seminari? Barangkali inilah jalan itu. Ya, sudalah.
Aku ikut testing. Jikalau hasil testingannya aku dinyatakan lulus, berarti
itulah jalan yang ditunjukkan Tuhan itu. Dan, jika hasil dari sebuah testingan
itu aku dinyatakan kalah, berarti bukanlah itu jalan bagiku.”
Kurang lebih satu bulan lamanya aku menungggu hasil test. Akhirnya
pihak Seminari mengirim hasil test ke asrama St.Fransiskus di Sibolga. Aku
dinyatakan lulus test, dan berhak untuk duduk di kelas Retorika (semacam kelas
persiapan satu tahun lamanya) menuju Seminari Tinggi. Demikian riwayat
singkatnya hingga aku masuk ke Seminari setelah lulus dari SMA Katolik di
Sibolga.
4. Tinggal di
kota indah pinggir Danau Toba (Parapat)
Setelah menyelesaikan kelas retorika (kelas persiapan) menuju
Seminari tinggi – satu tahun lamanya program itu berlangsung – maka kepada kami
semua diberi kebebasan untuk memilih ordo atau tarekat religius tertentu untuk
diikuti. Waktu itu pilihanku jatuh pada calon imam praja Keuskupan Sibolga.
Pilihanku menjadi calon imam praja dilatarbelakangi oleh aturan hidupnya yang
tidak terlalu terikat dengan kaul-kaul tertentu (misalnya kaul kemiskinan).
Calon imam projo tidak diharuskan menyebut kaul-kaul sebagaimana layaknya para biarawan-biarawati
mengucapkannya. Kaul-kaul itu dipandang sebagai seruan moral yang mesti
dihidupi dalam dunia kenyataan, bukan untuk diucapkan atau disumpahkan. Imam
praja mengakui adanya milik pribadi. Imam praja sangat menghargai “privilege
pribadi”. Imam praja bukanlah seorang biarawan atau rahib. Bukan pula seorang
petapa. Imam praja ialah imam sekular yang diinkardinasikan langsung kepada seorang uskup tertentu di wilayah
tertentu. Seorang imam praja taat total kepada dan dibawah kuasa seorang uskup.
Poin-poin inilah yang melatarbelakangi pilihanku menjadi seorang calon imam
praja di wilayah Keuskupan Sibolga.
Satu tahun lamanya aku tinggal di kota Parapat untuk menjalani
kelas TOR (Tahun Orientasi Rohani) bagi seorang calon imam Diosesan. Kota
Parapat menjadi kota pilihan sebab pada masa itu kelas Filsafat dari ordo Kapusin berada di kota ini. Pembinaan
calon imam praja dari 6 keuskupan sesumatera (Lampung, Padang, Palembang,
Pangkal Pinang, Sibolga dan Medan) digandengakn dengan ordo Kapusin di Parapat,
sambil menunggu proses pembangunan kampus di kota Pematangsiantar. Aku tinggal
di kota pariwisata ini satu tahun lamanya untuk menjalani kelas TOR.
Masih segar dalam ingatanku, waktu itu tahun 1984-1985, calon imam
praja sesumatera terpaksa menyewa 7 unit rumah pendudukdi kota Parapat untuk dijadikan sebagai rumah tinggal. Aku
waktu itu menjadi penghuni rumah unit 4.
Pembina kami ialah Rm.Wirya Darmadja, Pr. dan Rm.Mardi Swignyo,
Pr. Mereka berdua adalah imam praja dari keuskupan Semarang yang ditugasi oleh
6 uskup sesumatera sebagai dosen pembimbing bagi kami.
Dilihat dari segi etnis, kami semua calon imam praja sesumatera,
terdiri atas beragam etnis yakni Cina, Batak, Nias, Jawa dan Flores. Hal ini
amat menguntungkan sebab dengan beragamnya etnis ini maka komunitas serta
interaksi hidup hariannya amat kaya budaya pula.
Dari antara sekian banyak pengalaman, selama satu tahun aku
menjalani TOR di Parapat, satu yang tak terlupakan yakni “long march” selama
tiga hari mengelilingi pulau Samosir. Tidak tanggung-tanggung berat medannya.
Anda dapat bayangkan, selama 3 hari penuh berjalan kaki sesuai kesepakatan
tim. Maka waktu itu kami harus berpikir keras, menimbang-nimbang kemampuan
fisik serta memikirkan peralatan apa saja dan bekal apa yang harus diusung
dengan rangsel demi kelengkapan 3 hari penuh perjalanan.
Satu minggu lamanya tim kami mempersiapkan dengan cukup matang
pelaksanaan program ini. Waktu berlalu..., jarum jam terus berputar. Hari H
yang ditentukan tim kini tiba. Start harus dimulai.
Mula-mula kami berkumpul di rumah pusat Jln.Josep Sinaga Parapat.
Ketua tim mengecek semua perlengkapan dan kelengkapan serta kesiapan Fisik
anggotanya. Semuanya berada dalam kondisi oke. Start dimulai. Langsung mencari
kapal di pantai Parapat untuk menyeberang ke kota Turis Tomok. Tiba di Tomok,
turun dari kapal dan langsung siap siaga dengan kekuatan dengkul dan tungkai
kaki untuk memulai perjalanan menempuh rute menanjak dan berbukit menuju
Nainggolan.
Berjalan terus..., terus berjalan..., tak terasa jarum jam amat
kencang putarannya. Matahari sudah mulai menurun menuju ufuk barat tempat
peraduannya. Perjalanan belum terasa memberatkan fisik sebab semua anggota tim
masih dalam kondisi fit. Binatang malam sepanjang pinggir jalan yang kami lalui
mulai “berdenging” pertanda senja hari tiba. Berjalan terus..., akhirnya
rumah-rumah penduduk mulai kelihatan. Kelap-kelip lampu mulai tampak.
“Itu kampung Nainggolan!” seru ketua tim kepada kami. Terus
berjalan..., kini tiba di kampung Nainggolan. Rumah yang kami tuju sebagai
tempat penginapan di malam pertama belum persis tahu di mana alamatnya.
Sebenarnya rumah yang dimaksud dan yang dituju ialah rumah suster di
Nainggolan.
Seorang penduduk yang baik hati mengantar tim kami ke rumah
suster. Malam pertama aman sebab di malam pertama itu para suster yang baik
hati di Nainggolan menjamu kami dengan baik. Terima kasih buat suster di
Nainggolan.
Keesokan harinya, selesai sarapan pagi di rumah suster di
Nainggolan, kami langsung bergegas dan
menyandang rangselnya masing-masing. Start di hari ke-2 dimulai. Berjalan
terus..., terus berjalan...., rasa pegal dan nyilu di sekujur tungkai kaki
mulai terasa setelah menempuh satu hari perjalanan kemarin.
Balsem Geliga yang ada di kantong rangselku mulai bekerja.
Kuoleskan ke bagian otot-otot yang
terasa pegal. Rasa pegal itu mulai berangsur pulih dan membaik. Bukan hanya itu, di Hari ke-2 ini sepatu karet yang saya pakai tidak lagi
bersahabat. Timbul gelembung mengandung air pada bagian kulit kakiku akibat
himpitan sepatu. Cara mengatasinya terpaksa sepatu itu kubuang dan kuganti
dengan sandal jepit ringan dan enak dipakai.
Berjalan terus..., terus berjalan.... Jam 12 siang tiba dan perut
mulai terasa keroncongan.
“Ayo, kita makan sekarang!” perintah ketua tim kepada kami. Kami
semua menyantap bontot siang yang tadi pagi dipersiapkan oleh susteran
Nainggolan. Makan siang usai sudah. Sejenak kami meluruskan kaki sambil
mengolesi dengan balsem bagian otot yang kian terasa pegal. Kemudian, berjalan
terus..., terus berjalan..., tak terasa sore hari di hari ke-2 itu tiba. Kota
yang kami tuju yakni Palipi belum juga ketemu. Suara jangkrik mulai terdengar
di sepanjang jalan yang kami lewati. Senja hari di hari ke-2 tiba. Kini kami
sampai di kota Palipi ( kota kelahiran uskup Martinus Dogma Situmorang,
Ofm.Cap). Tim kami bermalam dan mendapat jamuan istime di pastoran Palipi.
Esok paginya terasa amat capek.
Hampir semua anggota tubuh mengalami pegal linu. Satu orang diantara anggota
tim terpaksa tidak dapat melanjutkan perjalanan di etape ke-3 ini. Ia kembali
ke Parapat dengan menaiki angkot. Nama anggota tim yang gagal untuk etape ke-3
ini Rusharyono.
Jarak tempuh antara Palipi dengan Tomok harus kami tuntaskan di
hari ke-3 ini. Berkisar 70-80 km jarak antara Palipi dengan Tomok. Nyali kami
sedikitpun tidak surut. “Spirit” tak boleh kendor, harus semangat dan berjuang
sekuat tenaga untuk menghabiskan jarak itu. Namun apa daya anatara semangat
juang untuk menempuh jarak 80 km dengan
daya tahan fisik tidak sebanding. Kekuatan fisik kami terbatas.
Berjalan terus..., terus berjalan, kini sore hari sekitar jam
limaan sudah, sementara Tomok masih jauh. Di hari ke-3 ini kami hanya mampu
menghabiskan 50 km perjalanan. Malam ke-3 tiba. Rencana kami semula akan
menginap di Tomok. Tetapi apa daya kami hanya bisa mencapai kampung Ambarita.
Di Ambarita inilah kami beristirahat pada malam ketiga.
Esok harinya sekitar jam delapan pagi kami meneruskan perjalanan
dari Ambarita menuju Tomok untuk seterusnya naik kapal kembali menuju Parapat
rumah induk.
Amat mengasikkan perjalanan yang terprogram ini dan tidak akan
pernah terlupakan dari memori ingatanku.
5. di Sinaksak –
Pematangsiantar (1985-1990)
Belum selesai kujalani TOR
di Parapat, kampus Fakultas Filsafat UNIKA St.Thomas di Sinaksak
Pematangsiantar selesai dibangun. Maka calon-calon imam baik dari Ordo Kapusin
maupun calon imam praja dari 6 keuskupan sesumatera dipindahkan dari kota
Parapat ke Pematangsiantar. Tahun Rohani kuselesaikan di Sinaksak
Pematangsiantar.
Program berikutnya ialah meneruskan ke jenjang filsafat selama 8
semester untuk memperoleh gelar S-1. Empat tahun harus duduk di bangku
perkuliahan. 4 tahun lamanya aku harus belajar berbagai macam filsafat mulai
dari filsafat Timur, filsafat barat, filsafat Yunani dan filsafat yang lain.
Aku terpaksa harus belajar nahasa Inggris. Kalau tidak, maka aku tak akan bisa
membaca buku-buku filsafat yang kebanyakan
ditulis dalam bahasa Inggris.
Sebagai ilmu, yakni ilmu filsafat, kupelajari dengan baik agar aku bisa naik tingkat. Usaha kerasku dalam hal belajar berdampak positif terhadap
perkuliahanku. Gelar S-1 di Fakultas Filsafat dapat kuraih selama 8 semester.
Pendek kata, kehidupan intelektualku berjalan normal dan tergolong kategori
baik.
Persoalan terjadi pada seputar area hidup
rohaniku.
Untuk ukuran seorang calon imam harus terjadi keseimbangan antara
hidup rohani dan hidup intelektual. Keduanya harus sejalan dan seimbang. Tidak
boleh ada ketimpangan diantara kedua kehidupan itu. Sementara bagi pribadiku
hanya satu yang menonjol yakni hanya belajarnya yang berjalan dengan baik.
Sementara kehidupan rohaniku macet,
mandeg dan terasa kering. Tak jarang aku terpaksa dipanggil oleh romo
pembimbing rohaniku untuk diskusi seputar area kerohanianku. Biasanya bila aku
dipanggil untuk bimbingan rohani, hasilnya untuk sesaat kehidupan rohaniku bisa
membaik; namun kondisi itu tidak berjalan stabil. Amat sering aku tergoda untuk
melanggar aturan hidup bagi seorang calon imam. Kerap kali aku malas berdoa dan
bermeditasi. Selalu saja ada alasan untuk tidak ikut ekaristi. Padahal perayaan
ekaristi setiap hari wajib bagi seorang calon imam.
Puncak dari seluruh persoalan seputar kehidupan rohaniku terjadi pada awal tingkat empat yakni semester ke-7. Aku tidak tahan
berbohong terus menerus terhadap diriku sendiri.
Logikaku yang dulu ketika mengambil keputusan untuk mengikuti
testing, kini terbantahkan. Bunyi doaku yang dulu ketika aku masih duduk di
bangku kelas tiga SMA, “Ya Tuhan tunjukkan jalan terbaik bagiku untuk kujalani
– akahirnya ikut testing masuk seminari, di kelas retorika, karena menyangka
bahwa itulah jalan terbaik untuk kujalani – kini terbantahkan.”
Setelah enam semester perkuliahan di Fakultas Filsafat kulalui,
semakin nyata sekali dan amat terang benderang bahwa jalan hidup yang harus
kujalani bukanlah menjadi seorang calon
imam praja. Sekali lagi bukan jalan itu. Dalam bahasa teologi moralnya, “aku
tidak terpanggil untuk menjadi seorang calon imam praja.” Keputusanku sudah
final: Aku harus mengundurkan diri dari seminari; Keluar dari seminari.
Ketika keputusan ini kupilih, yakni harus keluar dari seminari,
skripsi yang kususun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar akademik
S-1, belum rampung. Bahkan baru dalam tahap pengetikan naskah. Aku
konsultasikan perihal skripsiku yang belum rampung itu kepada dekan Fakultas –
ketika itu yang menjabat sebagai dekan yakni
Pastor Kosmas Tumanggor, Ofm.Cap –dan beliau menanggapi serius
permasalahan yang sedang kuhadapi. Maka beliau memberikan saran sebagai
berikut:
“Fakultas belum men DO kau dari kemahasiswaan. Karena itu
selesaikanlah skripsimu sebaik mungkin agar saatnya nanti kau diperbolehkan
untuk membela skripsimu di persidangan meja hijau” begitu pastor itu
menyampaikan sarannya kepadaku. Saran itu kuterima dengan baik.
Di akhir semester ke-7 aku
mencari tempat kost di luar kompleks kampus Fakultas Filsafat. Aku ngekost di
salah satu rumah penduduk. Di rumah kos-kosan inilah aku merampungkan skripsiku.
Pada awalnya aku sudah bertekad untuk tidak lagi menyentuh skripsi
itu sebab secara total akan kutinggalkan semua saja yang berbau seminaris.
Mengapa aku merampungkan skripsiku yang sudah sempat terbengkalai
itu? Jalan ceritanya sederhana sebagai berikut: Ketika Pastor Kosmas Tumanggor
mengetahui bahwa keputusanku sudah final, yakni keluar dari seminari, beliau
memanggilku ke kantornya untuk berbicara empat mata seputar problema hidup yang
sedang kualami. Di tengah pembicaraan kami, beliau memberi saran yang isinya
kurang lebih sebagai berikut, bahwa aku – meski harus kost di luar – wajib
menyelesaikan skripsiku. Untuk biaya hidup selama satu semester yakni semester
ke-8 beliau memberi jalan keluarnya
yakni dipekerjakan di perpustakaan kampus tentu saja dengan gaji pas-pasan
sekedar untuk biaya makan sehari-hari.
Jasa beliau (Pastor Kosmas Tumanggor) tidak akan pernah kulupakan
sepanjang hayat dikandung badan. Sekali lagi kuucapkan terima kasih kepadamu
Pastor Kosmas Tumanggor,Ofm.Cap.
Bagian ketiga
Dewasa dan Rumah
Tangga.
Periode ini merupakan periode yang amat menentukan sekali dalam rangkaian
perjalanan hidupku. Betapa tidak, sebab pada tahapan ini diriku berhadapan
langsung dengan realitas nyata yakni aku harus mampu dan bertanggungjawab
terhadap diriku sendiri. Aku harus mampu menghidupi diriku sendiri. Hidupku
tidak lagi dibiayai oleh keuskupan. Aku tidak lagi duduk di bangku perkuliahan
yang setiap harinya hidup dalam dunia bayangan, dunia metafisik – filosofis ,
yang kaya imajinasi miskin realitas.
Tantangan pertama dan utama yang
harus kutuntaskan ialah perut yang keroncongan butuh sesuap nasi dan perolehan
sejumlah uang untuk ongkos kehidupan. Aku harus memiliki pekerjaan dengannya
aku memperoleh uang untuk ongkos
kehidupan demi kelanjutan dari sebuah garis edar kehidupan. Maka pertanyaan
utamanya ialah, “Di mana mencari pekerjaan? Apa jenis pekerjaannya? Dan
berapa upahnya?”
Demikianlah fase yang ketiga dari seluruh rangkaian perjalanan
hidupku ku awali.
1. Melanglang
buana ke Jakarta
Langkah lunglai dan kepala terasa berat sarat sejuta tanya perihal
kelanjutan kehidupan memaksa diriku angkat kaki meninggalkan area kampus menuju
kota Sibolga. Di benakku ada sebuah rencana yakni setibanya di kota Sibolga
pertama-tama yang kulakukan ialah melaporkan keberadaan diriku kepada uskup
Anicetus Bongsu Sinaga,Ofm.Cap sebab beliau adalah kuasa tertinggi atas diriku
ketika masih di bangku kuliah sekalian menanyakan apakah ada lapangan
pekerjaan yang barangkali dapat beliau
tunjukkan bagiku sebagai “eks seminari”.
Kini aku tiba di Sibolga,
langsung menuju kantor keuskupan di Jln.Dolok Martimbang. Pintu kantor
keuskupan kuketuk dan aku dipersilahkan masuk kemudian dipersilahkan duduk di
kursi tamu. Pembicaraan empat mata antara aku dengan uskup dimulai. Aku yang
memulai pembicaraan yakni melaporkan diriku bahwa telah defenitif dan resmi
keluar dar seminari. Laporan resmiku itu beliau terima. Kemudian aku
menyampaikan maksud hatiku untuk meminta sebuah lapangan pekerjaan manakala tersedia lowongan pekerjaan yang
sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Kemudian beliau menjawab sekaligus
memberi saran sebagai berikut:
“Lowongan pekerjaan yang anda minta sesuai latar pendidikanmu
tiada tersedia di keuskupan kita. Kedua, saya sarankan silahkan mencari
pekerjaan di luar lembaga Katolik saja, entah jenis pekerjaan apa dan di mana
saja.”Begitu ucapan beliau secara teratur dan mengalir memberi jawaban
kepadaku.
Kini jelas sudah bahwa aku tidak diterima sebagai tenaga kerja
sesuai latar belakang pendidikanku oleh
lembaga Katolik di keuskupan Sibolga. Pilihan terakhir bagiku hanya satu yakni
pulang kampung dengan kondisi kejiwaan stress berat.
Kurang lebih dua bulan
aku bersama Bapak menyadap karet di kampung. Aku coba untuk melupakan
semuanya. Melupakan masa lampauku dan hendak memulai babak baru dalam garis
edar hidupku. Kucoba menghibur diri dengan cara bersahabat terhadap alam pondok
ladang yang dulu telah lama kutinggal pergi. Memang tegangan tinggi dari stress
berat jiwaku sedikit terasa menurun. Namun kondisi seperti itu tidak bertahan
lama. Sesekali timbul perasaan amat kesal, menyesali diri mengapa harus
mengalami kegagalan demi kegagalan dalam garis edar hidup.
Aku masih persis mengingat, ketika itu aku minta ijin kepada Ibuku
untuk berangkat ke kota Sibolga sekedar melepas lelah dan buang suntuk. Di
tengah perjalanan menuju kota Sibolga, sembari duduk santai di dalam angkot,
silih berganti kepalaku diisi aneka ragam bayangan yang indah-indah. Barangkali
begitulah sistem psikis bekerja agar jiwa mampu menahan beratnya penderitaan.
Mekanisme psikis namanya.
Tak terasa roda angkot bergulir kencang dan kini aku tiba di kota
Sibolga. Entah apa yang mendorong dan menggerakkan kedua tungkai kakiku langsung
menuju rumah pastor Paroki Katederal Sibolga. Kuketuk rumahnya dan pintu
dibukakan bagiku. Sebentar saja kami berbicara empat mata. Kuutarakan maksud
kedatanganku kepada beliau yakni ingin merantau ke Kalimantan dengan kondisi
ongkos ke sana tidak mencukupi. Singkatnya aku minta bantuan perongkosan kepada
beliau agar aku bisa sampai ke tanah
rantau Kalimantan.
Alhasil beliau hanya mampu menyantuni sedikit saja uang kepadaku.
Kuhitung-hitung tak mencukupi buat
ongkos kapal Sibolga-Kalimantan. Sesaat aku putar otak, teringat aku akan
seorang teman mantan seminari bekerja di kantor keuskupan Padang. Segera
kuputuskan, lebih baik aku mencari teman itu saja dari pada harus berangkat ke
Kalimantan. Satu malam perjalanan aku naik bus dari Sibolga menuju kota Padang
Sumatera Barat.
Kini aku sudah berada di kota Padang dan langsung menemui
sahabatku bernama Vincent Manihuruk di kantor Keuskupan Padang. Rawut wajahku tak
bisa menyembunyikan pahit getirnya perjalanan hidup menimpa diriku.
“Ayo, kita makan dulu, barangkali kau tak makan mulai dari
kemarin” ajak Vincent Manihuruk –mantan Kapusin itu – kepadaku. Ajakan itu
kusambut dengan gembira.
Di sela acara makan siang itu kuutarakan maksud kedatanganku
menemuinya di kota Padang yakni untuk mencari pekerjaan mana kala ada lowongan
tersedia bagiku di keuskupan Padang. Apa daya, nasib sial selalu menyertaiku,
lowongan pekerjaan tidak tersedia bagiku.
“Jadi, seterusnya apa rencanamu?” Tanya beliau kepadaku.
“Kalau begitunya ceritanya, berarti aku harus
segera minggat dari kota Padang ini” Jawabku kepadanya.
“Ke mana rencanamu?” sambungnya.
“Ke Jakarta sajalah, ke tempat abang Kornelius” ujarku.
Sore itu juga
sobat Vincent Manihuruk membeli tiket bis jurusan Jakarta. Diserahkannya tiket
itu padaku di loket bus menuju Jakarta sambil mengucapkan selamat jalan padaku.
Kini aku tinggal sendirian
di tengah ramainya penumpang bus menuju Jakarta. Perjalanan hidup “Na
pinaborhat ni lungun” menuju Jakarta aku tempuh.
*di Jakarta – di
rumah abang Kornelius
Persis aku ingat, pukul 01.00 dini hari aku meninginjakkan kaki –
pertama kali dan mungkin untuk selamanya tidak akan pernah lagi – di terminal
bus Pulo Gadung Jakarta. Turun dari Bus, langsung masuk ke warung kopi dan
meminta segelas kopi hangat dari pelayan warung. Tujuanku hanya satu yakni
sekedar menghabiskan waktu sembari menanti kesempatan yang tepat untuk mencari
angkot menuju rumah abang Kornelius.
Begitu strategi yang kupasang agar orang-orang terminal bus Pulo
Gadung yang terkenal amat bringas itu melihatku
tidak tampak sebagai orang kebingungan. Taktik itu ternyata berhasil. Kudengar
para sopir angkot yang lagi nongkrong sambil minum kopi di warung itu
bersendagurau dan ngomong menggunakan
bahasa daerahku bahasa Batak Toba.
Kemudian akupun bertegur sapa dalam bahasa Batak Toba kepada mereka. Tercipta
sebuah keakraban seperti di kampung
kelahiranku. Di akhir pembicaraan, salah seorang dari sopir angkot itu bersedia
mengantarku ke alamat dengan tarif ongkos biasa. Begitu cerita ringkasnya hingga
aku tiba di rumah abang Kornelius Simanjuntak.
*Suka duka di
rumah abang Kornelius
Ketika aku naik bus dari Padang menuju Jakarta, sepanjang
perjalanan sudah terbersit di benakku
bagaikan sebuah tekad terpatri dalam-dalam di lubuk hati, yakni jika dalam
setahun perjalanan waktu tinggal di Jakarta, aku masih tetap pengangguran maka
aku harus tinggalkan kota itu, dan mencari kerja di kota lain entah di mana.
Begitu aku bertekad di dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar