Kamis, 23 Mei 2013


PANDENAKER SIMANJUTAK
SEBUAH MOZAIK DALAM GARIS EDAR KEHIDUPANKU

Pengalaman hidup dalam berbagai bentuk, entah itu menggembirakan, atau mengecewakan, bahkan terasa amat menyakitkan, adalah suatu anugerah dari Dia sang pemberi hidup. Pasti ada benang merah yang mengikat keseluruhan peristiwa yang terjadi dalam garis edar kehidupan ini. Pasti pula ada makna dibalik semua peristiwa itu. Semua peristiwa itu, bila dirangkai dengan cermat dan teliti, akan menghasilkan sebuah mozaik yang indah pada waktunya. Aku menyebutnya sebuah mozaik kehidupan.
Untukmu sibuah hatiku (Tiarma Bernadet Simanjuntak, Vantri Antonius Simanjuntak dan istriku tercinta Suriati Tamsar)
Aku, Pandenaker Simanjuntak, S.Ag.
4/25/2013




Daftar Isi 
Pra kata:
1. Namaku...................................................................................................... 3
2. Tempat lahirku............................................................................................3                        
3.Mengapa ditulis..........................................................................................4
4.Peruntukan................................................................................................ 5

I.  Masa kanak-kanak(pra usia sekolah)
1. Ketika tiba bulan purnama di kampung......................................................6
2. Malam natal 24 Desember.........................................................................8

II.Masa-masa sekolah
1. SD.Negeri Bonandolok...............................................................................9
2. SD Negeri Hutapinang...............................................................................11
3. SMP, SMA di Sibolga (tinggal di Asrama Putra St.Fransiskus Asisi)..........20
4. di  kota indah pinggiran Danau Toba (Parapat)........................................33
5. di Sinaksak (Pematangsiantar).................................................................37

III.Dewasa & Rumah Tangga
1. Melanglang buana ke Jakarta...................................................................39
2. Periode 1992 – 1993 ................................................................................44
3. Januari  1994 di Kisaran............................................................................47
4. Tahun 2000 melamar PNS.......................................................................49
5. Jualan Pisang Kepok di pajak Bakti, Kisaran.............................................54
6. Jual bumbu di Jln Panglima polem Kisaran (2002)...................................55
7. Back to my village (2003): Membuka perladangan cokelat dan karet......56
8.  Mengajar di SMA St.Yosep Aekkanopan.................................................59


Akhir Kata
sepotong doa...............................................................................................61



Pra kata

Namaku
Van Den Ackker Simanjuntak, itulah sebuah nama yang tertera di atas kertas surat babtisku. Menurut penuturan dari Bapakku, nama tersebut memiliki sebuah sejarah berikut:  Ketika suatu saat saya dibawa oleh Bapak mengunjungi kampung kakekku – di Hariara Nauli, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Tapanuli Utara, tempat kakekku tinggal – aku jatuh sakit. Lalu Bapak membawa aku berobat ke klinik susteran Katolik di Pakkat. Yang menangani saya waktu itu seorang suster biarawati berkebangsaan Belanda. “Apakah sudah diberi nama kepada anak ini?” Tanya suster kepada Bapak. “Belum suster” jawab Bapak spontan. “Oh kalau begitu kita buatlah namanya ‘Van Den Ackker’” kata suster memberi sarannya kepada Bapak. Kebetulan waktu itu yang menjabat sebagai pastor Paroki di Paroki di Pakkat ialah pastor Van Den Ackker, Ofm.Cap. Inilah sekilas mengenai sejarah namaku.

                                      Tempat Lahirku                  
          Erika Bondar, itulah nama seorang ibu yang melahirkan aku di sebuah kampung bernama “Siantardolok”. Dari segi letak geografisnya, kampung ini tergolong sebuah kampung terpencil di pegunungan Bukit Barisan. Kecamatannya Barus dan Kabupatennya Tapanuli Tengah. Kampung ini benar-benar jauh dari pusat keramaian, jauh dari kota. Aku masih mengingat, waktu itu aku masih kecil, belum sekolah, tapi sudah ada ingatan, bahwa di kampung itu hanya ada 5 unit rumah dan satu unit gereja. Semua rumah ini masih dalam bentuk rumah panggung yang berkolong. Mirip bentuk pondok di ladang. Mungkin pada masa itu orang kampung takut terhadap binatang buas maka mereka membangun rumah berkolong dengan jumlah 5 sampai 7 anak tangga dihitung dari tanah.
Hingga tulisan ini kubuat, hari pekan masih tetap hari Senin. Sekali seminggu penduduk kampung – kususnya kaum bapak – berangkat pagi-pagi buta di hari yang indah itu (Senin) menuju pekan untuk membeli  sembako (beras, ikan asin, minyak tanah) untuk kebutuhan selama semingguan. Tampak dari wajah-wajah mereka bahwa istilah “lelah”, “capek”, “gengsi” jauh dari kamus kehidupan mereka. Demi pemenuhan tuntutan kerbutuhan dasar yang paling pokok itulah memaksa mereka harus demikian.
Masih segar dalam ingatanku, meski masih usia prasekolah, asal sudah tiba hari Senin, Bapakku bangun jam 05.00 pagi untuk bersiap-siap berangkat menuju pekan. Pikulan yang terbuat dari sebilah bambu tua, dan biasanya ia simpan di para-para, diambilnya. Karung yang terbuat dari kain “Belacu” ia ambil dari keranjang kain. Ke dalam karung inilah nanti siang di hari Senin itu dimasukkan beras satu kaleng (setara 16 kg) dan 1 kg ikan asin.
Masih segar dalam ingatanku, bahwa hasil deresan karet yang Bapak kerjakan mulai dari hari Selasa sampai dengan hari Sabtu ia susun ke atas pikulan dan dipundak menyusuri  jalan berliku serta menurun menuju pekan. Dapat anda bayangkan, dengan otot-otot kekar bermandi keringat sebesar biji jagung, tak peduli bagi Bapakku. Hanya satu tujuan yang perjuangkannya yakni supaya kami anak-analknya bisa memasak nasi di hari selasa sampai hari Minggu berikutnya. Sesekali dibeli oleh Bapakku goreng pisang dari pekan sebagai oleh-oleh buat kami anak-anaknya. Amat ironis dan menyedihkan kehidupan ekonomis keluarga kami pada masa itu.
Pendek kata hanya untuk memasarkan hasil kerja selama satu minggu (menderes rambong) harus dengan cara memikul. Sepulangnya dari pekan harus memikul beras dan kembali menyusuri jalan berliku serta menanjak menuju kampung Siantardolok.

Mengapa ditulis?
Sejarah kehidupan – orang sudah terbiasa menyebutnya “biografi” – segera akan terlupakan dari ingatan bila tidak dituliskan. Alasan mendasar mengapa harus ditulis yakni agar anak-anakku di kemudian hari mengenal lebih mendalam siapa aku (Bapaknya) sesungguhnya. Bagaimana sejatinya sejarah kehidupanku hendaknyalah diketahui oleh anak-anakku. Tidak hanya cerita lisan  yang ia dengar dari orang-orang lain, melainkan sungguh sebagai suatu sejarah tertulis yang diwariskan kepada mereka. Saya menggunakan  kata “mereka” untuk menyebut  nama kedua anakku (Tiarma Bernadet Simanjuntak dan Vantri Antonius Simanjuntak).

 Ketika Tulisan ini  kubuat, mereka berdua masih dalam pertumbuhan sebagai remaja. Tiarma Bernadet Simanjuntak (kakak) duduk di bangku kelas 3 SMA dan adeknya Vantri Antonius Simanjuntak duduk di bangku kelas 3 SMP. Sekaitan dengan usia mereka yang masih tergolong usia remaja dan masih mencari-cari jati diri serta cita-cita, maka aku Bapaknya berpendapat alangkah baiknya bila aku mewariskan sebuah tulisan tentang sejarah kehidupanku kepada mereka. Aku yakin suatu saat, kelak dikemudian hari, mereka akan dapat membaca tulisan ini dan mamaknainya dengan baik serta proporsional.

Peruntukan
  Tulisan ini kupersembahkan untuk istri trercintaku Suriati Tamsar. Berkat cintamu hai istriku tercinta maka aku sanggup mengarungi begitu dasyatnya gelombang kehidupan ini. Berkat penyertaanmu maka aku kuat mengarungi samudera kehidupan yang tiada bertepi ini. Karena segala nasehatmulah aku tangguh menghadapi segala tantangan hidup ini. Tidak sanggup aku membalas  budi baik dan perjuanganmu untuk membesarkan kedua anak kita. Untukmu tulisan ini kupersembahkan.
Tiarma Bernadet putriku tercinta, kaulah motivator hidupku. Hai putriku!, kelak bila Bapakmu ini sudah tua dan usia sudah senja, kepada siapa aku harus minta tolong? Ya, tentu kepadamu.
Vantri Antonius Simanjuntak!, kaulah sumber inspirasiku. Mungkin darah seniku lebih banyak mengalir kepadamu. Karena itu, tatalah seindah mungkin masa-masa hidupmu. Tekun belajar! Terutama belajar dari pengalaman hidup. Sebab kata orang bijak guru yang paling baik ialah pengalaman. Bapak yakin kamu akan menjadi orang suskes di kemudian hari. Kepada kalian berdua (Tiarma & Vantri), biografiku ini kupersembahkan. Doaku pasti menyertaimu dan memberi kekuatan bagimu untuk menjalani masa-masa kehidupanmu ke depan.

Bagian Pertama

Masa kanak-kanak (pra usia sekolah)
Di usiaku yang ke-51 ini, saat biografi ini kutulis, dari sekian banyak memori, kupilih memori yang paling berkesan untuk ditranskripsikan ke dalam tulisan sebagai berikut:

1. Ketika tiba bulan purnama di kampung.
Meski usiaku sudah 51 tahun, aku masih persis mengingat masa-masa paling indah ketika aku belum bersekolah yakni “ketika bulan purnama tiba”.
Sejenak untuk mengurai kembali: Pada masa itu penduduk kampung terhitung sangat sedikit yang memiliki rumah panggung. Bila kepala keluarga membuka sebidang tanah di tengah hutan rimba, dan terbilang jaraknya relatif jauh dari perkampungan, maka di sanalah dibangun sebuah pondok  yang relatif kokoh dilihat dari segi arsiteknya. Pondok yang dibangun di tengah perladangan ini berfungsi sebagai rumah tinggal berjangka satu hingga tiga tahun lamanya  sebelum keluarga tersebut berpindah membuka areal baru. Sistem perladangan adalah berpindah-pindah.
Aku masih persis mengingat bahwa Bapakku tidak memiliki rumah di kampung. Pendek kata, kami tinggal di sebuah pondok perladangan dengan jarak tempuh satu jam perjalanan jauhnya dari kampung. Aku dibesarkan oleh ibuku di tengah perladangan. Di pinggir ladang itu biasanya Bapakku membuat pancuran air dari sebatang bambu tua. Di pancuran inilah ibuku memcuci kain. Dari pancuran ini pula air untuk kebutuhan minum dan  memasak yang ditampung oleh ibuku dengan alat sederhana terbuat dari seruas bambu sebagai pengganti ember. Ketika sore hari sekitar jam lima, ke pancuran inilah kami  dibawa oleh ibu untuk mandi. Tiada gayung dan ember di sana.  Aku masih ingat biasanya ibu langsung menarik tangan kami dan memberdirikan kami di pancuran itu untuk mandi. Menggigil rasanya. Kedinginan diterpa air pancuran pegunungan. Biasanya badan kami hanya dilap seadanya dengan kain sarung setengah busuk pengganti handuk.
Memori indah yang tidak pernah terlupakan ialah ketika bulan purnama tiba. Biasanya bulan purnama tampak di langit malam hari ialah saat-saat musim kemarau. Ketika musim kemarau tiba, kami (saya bersama adek-adekku) merasa bahagia dan gembira. Ibu akan memasak lebih awal dari biasanya sebab sebentar lagi kami sekeluarga akan pulang ke kampung. Satu malam berpindah tidur, dari biasanya di pondok perladangan,  kini tidur di rumah oppung (nenek) dari ibuku di kampung.  Sore harinya sekitar pukul 5.30 biasanya kami sudah bergegas dari ladang menuju kampung. Ibuku dan Bapakku biasanya  menggendong adek-adekku. Sementara aku berjalan perlahan-lahan di depan mereka. Ketika sedang berjalan menuju kampung, aku ingat bahwa aku sering terjerembab oleh akar-akar kayu  yang melintang di jalan. Terkadang jalanku yang masih terseot-seot akhirnya nyasar ke lumpur becek di pinggir jalan. Sering juga terinjakku semut malam yang sedang melintas memotong jalan.
Masih kuingat  suatu saat ketika kami pulang kampung, terpijakku segerombolan semut malam, lalu kakiku dengan sekejab mata langsung digigiti oleh semut malam tersebut. Aku menangis. Sebentar saja Ibuku langsung mengobatinya dengan mengoleskan air ludahnya ke kakiku, air ludah yang bercampur sirih sebab Ibuku pemakan daun sirih. Mustazab obat itu, dan langsung sembuh.
Kini tiba di Kampung dan langsung menuju rumah oppung. Hari sudah senja siap menanti malam bulan purnama idaman hati. Suara burung-burung malam yang didominasi oleh suara burung hantu sesekali terdengar dari kejauhan hutan pinggir kampung. Wajah bulan purnama mulai tampak di hamparan langit biru. Sinar bulan purnama menerangi halaman dan sekeliling rumah oppung. Malam bahagia bersama anak-anak lain sempurna sudah untuk diisi dan dimanfaatkan seefisien mungkin. Dengan apa lagi diisi malam bulan purnama ini kalau tidak dengan  permainan? Satu yang pasti yakni, kami semua riang gembira, berteriak-teriak sebagai pertanda lepas dari alam perladangan meski itu hanya untuk satu malam saja.
Permainan yang paling kusukai ketika bulan purnama tiba di kampung adalah “alib cendong”. Empat atau lima orang anak ngumpul dalam satu grup alib cendong. Kini permainan “alib cendong” dimulai....................
Setelah puas bermain alib cendong dan bulan purnama mulai meninggi, rasa ngantukpun tiba. Aku kembali ke rumah oppung dan tidur.

2. Malam natal 24 Desember
Setiap tahun, asal tiba bulan Desember, maka hari spesial untuk bergembira pasti segera akan tiba pula. Malam 24 Desember adalah malam yang amat berkesan bagiku. Siang harinya pada tanggal 24 Desember itu biasanya ada makanan istimewa di rumah. “Marbinda”, itulah sebuah ungkapan khas di kampung untuk mengatakan bahwa pada tanggal 24 Desember pasti ada yang memotong babi. Jauh-jauh hari Bapakku telah mengajukan pesanan 4 hingga 5 kg daging babi untuk kami. Dengan tangan cekatan Ibuku biasanya memasak daging babi ini selezat mungkin. Kami disuruh mandi ke pancuran lebih awal di sore hari 24 Desember itu. Beberapa saat kemudian, selesai mandi dan bersih-bersih, kami disuruh duduk membentuk lingkaran di lantai pondok ladang. Itu artinya sebentar lagi kami akan bersantap bersama suatu hidangan istimewa yang sudah dipersiapkan oleh Ibuku. Benar, bahwa sore itu kami sekeluarga makan nasi berlaukkan daging babi. Amat lezat cita rasa muncul di daun lidah. Maklum, amat jarang kami makan daging ketika aku masih kecil. Suasana  ini terpatri mendalam  di benakku hingga kini.
Masih seputar 24 Desember......................
Sore itu usai menyantap makanan lezat, Ibuku mengemasi segala perbekalan  dan pakaian kami  untuk kebutuhan esok hari tanggal 25 Desember. Pakaian baru yang belum pernah dikenakan turut dipersiapkan oleh Ibuku. Ia susun semuanya ke dalam “hajut” terbuat dari bahan anyaman sebagai pengganti keranjang, siap untuk dijinjing oleh Ibuku nantinya sambil menggendong adekku dipunggungnya. Tak lupa ia masukkan sebungkus lilin dan sekotak kembang api gunu kebutuhan kami nanti malam di 24 Desember itu ke dalam “hajut”. Semua peralatan dan kebutuhan makan 24 Desember dan  25 Desember tersedia sudah. Kini saatnya bergegas meninggalkan pondok ladang turun menyusuri jalan setapak yang berliku menuju kampung. Setibanya kami di kampung langsung menuju rumah oppung sebagai tempat sentral kami.
Cerianya malam 24 Desember kini tiba. Kami semua mengenakan pakian baru yang dibeli beberapa minggu silam dari pekan. Bahagia rasanya memakai pakaian baru, meski hanya sekali dalam setahun. Tiada pakai alas kaki pun sandal. Dengan kaki telanjang seadanya kami dibimbing oleh Ibuku menuju gereja untuk merayakan natal.
Di gereja lilin-lilin kecil kami nyalakan. Kami jadikan lillin itu semacam mainan sebagai luapan kegembiraan. Malam itu sungguh lain dan berbeda dari malam-malam yang lain. Sesekali kembang api dinyalakan, meski itu masih di dalam gereja. Tampak bagai bintang bertaburan sambil memutar-mutar kembang api di tangan. Sungguh indah suasananya malam itu. Adalah malam yang tak pernah lupa dari ingatanku, meski hal itu terjadi ketika aku masih kanak-kanak.

Bagian kedua

Masa sekolah - Pendidikan
1. SD. Negeri Bonandolok.
Tidak banyak kenangan pada masa itu. Maklum, hanya satu tahun saja aku bersekolah di SD.Negeri Bonandolok. Meskipun demikian beberapa pengalaman menarik, yang kini masih melekat di benakku  akan kuurai dalam untaian pragraf berikut:
Di usiaku yang ke-51 tahun ini, masih segar dalam ingatanku bagaimana cara kami berangkat ke sekolah pagi hari. Enam hingga sepuluh orang anak kampung Siantardolok berangkat bersama-sama menuju kampung Bonandolok – tempat di mana gedung SD itu dibangun. Kami berjalan beriring bagai sebarisan semut secara teratur berjalan menuju sarangnya. Anak yang paling kecil berada di bagian paling depan. Biasanya pada posisi nomor satu (paling depan) adalah aku. Sementara  di posisi paling belakang adalah anak paling besar yang sekalian berfungsi sebagai ketua barisan jalan. Pendeknya, anak paling besar berfungsi sebagai ketua. Ia juga berfungsi sebagai pelindung, pemimpin dan pemberi perintah. Misalnya saja bila sang ketua memberi perintah jalan cepat, maka kami semua akan turut perintah berjalan dengan langkah cepat. Ia memberi perintah tentu saja bukan tanpa alasan. Biasanya alasan itu akan ia beritahu kepada kami bila kami sudah tiba di kampung. Misalnya, suatu saat pernah ia beritahu alasan mengapa ia surah kami tadi pagi berjalan dengan langkah cepat-cepat, sebap ia mendengar suara binatang buas ada di belakang kami.
Keesokan harinya ia perintahkan kami semua memegang masing-masing di tangan sebatang tongkat kecil biasanya dari ranting-ranting atau anak kayu. Di tengah jalan, sepanjang jalan tikus dan berliku-liku yang kami lalui menuju kampung Bonandolok – yang bila diukur jaraknya, sepanjang satu jam perjalanan dari kampung Siantardolok – ia suruh kami memukul-mukulkan tongkat ke permukaan benda-benda yang bisa mengeluarkan suara keras dan nyaring. Biasanya tongkat itu akan kami pukulkan ke penanpang daun-daun lebar seperti ke permukaan daun Talas hutan. Memang tak pelak lagi, suara nyaring keluar dari daun talas hutan. Suara itu mampu menepis perasaan sunyi di tengah hutan belantara yang harus kami lalui setiap hari menuju kampung Bonandolok. Pada masa itu populasi harimau Sumatera banyak bermukim dan bersarang di sana. Sudah pasti anak-anak sekecil kami merasa amat takut bila sesekali mendengar suara auman harimau di tengah perjalanan menembus hutan belantara. Kami pasti merasa takut.
Maka biasanya sang ketua barisan itu akan menjadi pelindung bagi kami. Suara nyaring akibat pukulan daun talas hutan mampu menghardik harimau-harimau itu, sehingga kami merasa aman menyusuri hutan belantara menuju kampung Bonandolok tempat sekolah kami berada.
Sekali waktu, di tengah perjalanan pulang dari sekolah, kami semua sudah amat lapar. Pagi harinya ketika kami sedang melintas di tengah hutan belantara itu, persis di pinggir jalan, kami melihat sebatang pohon rambutan hutan yang lagi berbuah masak ranum kemerahan warnanya. Sang ketua berpesan, “Nanti siang pulang sekolah kita habisi semuanya. Kalau sekarang kita panjat, pasti kita akan terlambat.”
Benar, kini saatnya kami sedang lapar-laparnya, tiba di dekat pohon rambutan hutan sepulang dari sekolah. “Ayo! Semua yang bisa memanjat silahkan panjat rambutan!” Sang ketua barisan memberi perintah kepada kami. Secepat kilat teman-temanku yang mahir  memanjat pohon berebutan naik ke atas. Layaknya seperti cara panjat pohon  pinang ketika 17 Agustus, seperti itulah cara teman-temanku memanjat pohon rambutan hutan itu. Diantara semua teman-temanku, hanya akulah yang tidak mahir memanjat. Dengan hati gundah, terpaksa  aku hanya penikmat suasana, tinggal sendirian di bawah pohon. Dari atas pohon itu terkadang mereka menirukan suara harimau. Dengan sengaja mereka buat demikian agar aku merasa ketakutan di bawah. Sesekali mereka jatuhkan buah rambutan itu agar aku mendapat bagian di bawah. Meski begitu perlakuan mereka kepadaku, misalnya menirukan auman harimau, sedikitpun tidak menyiutkan nyaliku. Maklum aku sudah terbiasa dengan alam perladangan, akrab dengan suasana hutan rimba.

2. SD.Negeri Hutapinang (1972)
Barangkali karena begitu jauhnya jarak tempuh antara kampung Siantardolok dengan kampung  Bonandolok dan harus melewati beberapa sungai serta hutan belantara, maka Bapakku berkesimpulan untuk memindahkan aku dari SD.Negeri Bonandolok ke SD.Negeri Hutapinang di kampung kakekku. Amat panjang sejarah hidupku selama duduk di bangku SD.Negeri Hutapinang. Pelan-pelan dan langkah demi langkah akan kuurai dalam untaian pragraf-pragraf berikut:

*Lae (ipar),ialah orang pertama yang mengantar aku ke Hariaranauli – kampung kakek dari Bapakku.
 Darionak Gorat, biasa dipanggil “Gorat” pernah tinggal bersama kami di kampung Siantardolok. Ia merantau ke kampung tulangnya (Bapakku) di Siantardolok dengan pekerjaan  sebagai penyadap karet. Ia tinggal bersama kami. Suatu ketika di tahun 1972 ia pulang kampung. Mungkin karena masih ada ikatan family dengannya, lalu Bapakku menitipkan aku kepadanya untuk seterusnya di bawa ke Hariaranauli (kampung kakekku) dengan tujuan agar aku melanjutkan SDku di sana.
Hari itu – entah hari apa, tanggal berapa, bulan apa, saya lupa, yang pasti tahunnya adalah 1972 – adalah hari pertama sekali aku harus berpisah dengan adek-adekku, juga dengan kedua orangtuaku. Aku bersama lae Gorat berangkat menuju Hariaranauli dan kampung kelahiranku Siantardolok kutinggalkan. Amat sedih perasaanku  berpisah dengan adek-adekku, hanya demi sebuah cita-cita yakni melanjutkan SDku.
Aku persis ingat, pagi itu Ibuku mempersiapkan “bontot’ untuk makan siang kami di tengah perjalanan. Tak kuasa aku menahan air mata, amat sedih rasanya berpisah dengan adek-adekku untuk sekian lama yang tak tahu pasti. Sekali lagi aku berpaling melihat ke belakang. Tergambar di wajah Ibuku suatu perasaan “harap-harap cemas” mengenai keselamatanku di tengah perjalanan. Dengan langkah lunglai akhirnya aku memastikan langkahku beranjak meninggalkan  pondok perladangan menembus hutan rimba belantara.
Coba anda bayangkan, di usiaku yang semuda itu, aku harus berjalan kaki sehari penuh lamanya. Mula-mula kami melewati perladangan pinggiran kampung Siantardolok. Terus, jumpa sebuah kampung namanya kampung “Baringin”. Suasana batinku drastis berubah sebab aku belum pernah melihat kampung itu. Kampung Baringinpun berlalu. Jalannya sedikit agak menurun, terus....ketemu dengan sebuah sungai yang relatif besar dan arus  sungainya amat deras. Nama sungai ini “Aek Nabolon”. Di pinggir sungai ini kami berhenti sejenak melepas lelah setelah menempuh dua jam perjalanan. Aku minum air jernih itu untuk pemuas rasa hausku yang teramat dalam. Di Seberang sungai terpampang tebing gunung. Curam, amat curam permukaan gunung itu.
“Lae! Kita akan melewati gunung itu?” tanyaku kepada lae Gorat  sambil menunjuk ke arah gunung.
“Ya”, Jawab lae Gorat spontan.
“Berarti sebentar lagi kami akan melanjutkan perjalanan mendaki gunung” pikirku dalam hati. Terus berjalan, terus mendaki, terus, sesekali berhenti,menarik nafas, menghirup udara segar dari alam rimba raya. Tak terasa, kini kami sudah berada di puncak gunung. Sejenak kami berhenti untuk melepas lelah.      Terus....Jalannya kini menurun, terus...., menurun terus. Kini kami mencapai  lembah gunung. Ketemu dengan sebuah sungai kemerah-merahan warna airnya, persis seperti warna teh manis yang dituang ke dalam gelas. Nama sungai ini “Aek Nabara”. Agak lama kami berhenti di pinggir sungai ini.
Waktunya untuk bersantap siang kini tiba. Bontot nasi putih berlaukkan ikan asin yang tadi pagi dipersiapkan oleh Ibuku kami santap. Hanya nasi putih yang dingin bersama sepotong ikan asin bakar santapan siang kami bersama lae Gorat. Sesekali terdengar  sayup-sayup suara “Siamang Hutan” dari kejauhan tengah hutan belantara. Suara “Siamang Hutan” inilah musik alam rimba raya sebagai penghibur kami sembari bersantap siang.
Makan siang usai sudah. Terus..., kini kami harus melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini medannya lebih sulit. Jalannya semakin menanjak tajam. Terkadang akar-akar pohonlah yang harus dipegang erat-erat agar dapat naik ke atas. Suara-suara “Siamang Hutan” makin ramai terdengar. Burung-burung hutan belantarapun tak ketinggalan, turut memperdengarkan suaranya yang merdu dari ketinggian pohon rimba raya. Semua ini menyatu ke dalam kalbu.
Terus berjalan...., terus mendaki, terus..., terus..., puncak gunung yang dituju kini digapai. Sejenak istirahat. Duduk di atas akar-akar pohon untuk melepas lelah. Tiada jam tangan. Kami hanya berguru kepada matahari sebagai penunjuk pengganti putaran jarum jam. Aku perkirakan  kami tiba di puncak gunung yang  kedua ini sudah lewat tengah hari.
“Ayo kita teruskan perjalanan kita lae!” kata si Gorat padaku. Dengan semangat berapi-api kami melanjutkan  perjalanan rute berikutnya. Terus mengayunkan langkah,  terus maju, terus...., dan terus.... Hutan belantara dengan pohon-pohon besar berdiameter 100 cm pertanda bahwa hutannya memang adalah rimba raya, pelan-pelan kami tembus. Terdengar suara mendengus seperti suara angin kencang, padahal ketika itu tiada angin kencang berhembus.
“Suara apa itu lae?” tanyaku kepada lae Gorat.
“Tak seberapa jauh lagi di depan sana nanti kita akan melewati sebuah sungai besar, namanya ‘Aek Sibuluan’”, jawab lae Gorat spontan kepadaku.
 Benar saja, kini kami sudah sampai di pinggiran sungai “Aek Sibuluan”. Kerongkonganku terasa kering pertanda  aku sudah amat haus. Langsung saja kutundukkan kepalaku ke aliran sungai, mendinginkan kepala sambil minum airnya. Segar kembali. Di seberang sungai “Aek Nabolon” ini  jalannya sedikit agak mendaki, tidak terlalu terjal. Tampak sudah di kejauhan sana atap seng rumah penduduk.
 “Lae! kampung di depan sanakah kampung lae?” tanyaku kepada lae Gorat.
 “Oh, tidak. Kampung tujuan kita msih jauh. Mungkin paling cepat jam 6 sore nanti barulah kita sampai ke kampungku Hariaranauli.” Jawab lae Gorat kepadaku memberi penjelasan.
Berjalan terus..., terus berjalan kaki, kedua tungkai kakiku terasa amat pegal. Satu lagi sungai besar kami lewati. Nama sungai ini “Aek Arbaan”. Airnya keruh. Entah itu di musim kemarau pun di musim penghujan warna air sungai yang satu ini selalu keruh. Cukup banyak populasi “Ihan Batak” bersarang di sungai ini. Kami seberangi sungai yang keempat ini. Ketika itu matahari sudah menurun dan sebentar lagi akan terbenam di ufuk barat.
“Lae! Lama lagi nyampenya ke kampung lae?” tanyaku kepada lae Gorat.        
“Sabarlah, satu jam perjalanan lagi kurang lebih  kita udah nyampe”, jawab lae Gorat kepadaku.
 Berjalan terus..., terus berjalan... Suara-suara jangkrik sudah mulai ramai terdengar di sepanjang jalan yang kami lalui. Pertanda malam segera akan tiba.
Benar saja, kini sudah gelap ketika kami melewati satu lagi sungai kecil yang melintas di tengah hamparan sawah. Hamparan sawah ini adalah milik penduduk kampung Hariaranauli. Tiba sudah di Kampung Hariaranauli, kampung kakekku, kampung kelahiran Bapakku.

*di Hariaranauli
 Malam pertama aku tidur di rumah namboru (rumah orangtua lae Gorat). Lalu, keesokan harinya aku langsung ikut bersama keluarga Bapak Udaku, pak Ihot nama panggilannya. Beberapa hari saja aku tinggal bersama keluarga Bapak Udaku ini. Anak-anaknya masih kecil-kecil. Sebenarnya tujuan Bapak Uda mengajak aku tinggal di rumahnya ialah agar ada yang menjaga anak-anaknya.     Suatu saat aku disuruh menggendong adek (anak Bapak Uda). Kutolak. Aku tidak terbiasa menggendong,  pun ketika aku di rumah pondok perladangan di Siantardolok. Aku diberi julukan “pangalo” (Ind. Melawan). Suka melawan orangtua. Praktis Inangudaku (isteri Pak Uda) tidak simpatik melihatku. Akhirnya aku tidak nyaman tinggal di rumah Bapak Uda ini.
Tidak jauh dari rumah Bapak Uda ini ada rumah namboru ( bibi, satu lagi). Namboru ini tinggal bersama dua orang anaknya. Keduanya laki-laki. Amang boru (suami namboru) itu telah tiada (meninggal dunia). Melihat gelagatku yang tidak senang lagi tinggal di rumah Bapak Uda, namboruku ini mengajak aku untuk tinggal  di rumahnya. Ajakan namboru ini kuturuti dan kumaui. Aku senang tinggal di rumah namboru ini dengan dua alasan. Pertama, aku tidak disuruh lagi menggendong adek sebab kedua anak namboru ini sudah besar-besar, bahkan satu diantaranya tergolong pemuda. Kedua, saya lebih bebas rasanya makan apa saja yang ada di dapur namboru. Namboruku ini tidak pemarah. Ia perlakukan aku seperti anaknya sendiri. Hingga sekarang  masih segar dalam ingatanku jasa namboruku yang satu ini. Ialah orang yang membebaskan aku dari rasa tertekan selama beberapa hari tinggal di rumah Bapak Uda.

*di Aekliang
Kurang lebih dua bulan lamanya aku tinggal di rumah namboru. Aku diajak kerja (turun ke sawah menanam padi, mencangkul dan lain sebagainya). Sesekali aku diajak oleh lae (anak namboru itu) menyadap karet mereka. Pada masa itu sebenarnya aku tidak sadar akan tujuan utamaku mengapa harus pindah dari kampung kelahiranku Siantardolok ke Hariaranauli – kampung kakekku.
Aku masih persis mengingat, kala itu di pagi hari, Bapaktuaku yang nomor satu – ama Radiana nama panggilannya -  datang ke rumah namboru tempat di mana aku tinggal. Beliau katakan kepadaku  bahwa aku harus sekolah Ia juga menandaskan bahwa aku mesti tinggal di rumahnya di Aekliang. Sebenarnya rumah Bapaktua ini terletak di tengah areal persawahan. Jaraknya kurang lebih satu kilometer dari Hariaranauli. Tetangganya hanya ada satu keluarga yang masih memiliki hubungan darah yakni  bersaudara kakek dengan Bapaktua. Kini aku tinggal di rumah Bapaktua di Aekliang.
Benar sekali, Bapaktua ini mengajak aku ke sekolahnya tempat ia mengajar sehari-hari. Ketika itu barulah aku sadar bahwa Bapaktua ini adalah seorang guru PNS di SD.Negeri Hutapinang. Kini aku memiliki banyak teman sebab aku telah resmi menjadi salah seorang murid SD di SD.Negeri Hutapinang. Aku langsung didudukkan oleh Bapaktua di kelas dua. Jarak tempuh antara rumah Bapaktua dengan SD.Negeri Hutapinang adalah setengah jam jalan kaki menyusuri pematang-pematang sawah. Setiap hari rute itulah yang kami lewati bersama dengan dua orang puteri Bapaktua. Puteri Bapaktua ini – namanya Mekdina Simanjuntak – ketika itu duduk di kelas empat SD. Sedangkan adeknya Derisma Simanjuntak baru duduk di kelas satu. Setiap hari kami  menyusuri pematang-pematang sawah menuju SD.Negeri Hutapinang  tempat kami bersekolah. Hanya ada satu orang anak laki-laki ditengah keluarga Bapatua ini. Namanya Kornelius Simanjuntak. Ketika aku tinggal di rumah mereka, abang Kornelius Simanjuntak – begitu aku memanggilnya -  bersekolah di kota Pematangsiantar, di SMP Seminari Menengah Pematangsiantar. Hanya ketika abang Kornelius libur sekolah dan pulang kampung kami bisa bermain bersama. Dan, ketika tulisan ini kubuat, abang Kornelius Simanjuntak tinggal menetap di Jakarta dengan profesi sebagai seorang dosen di Fakultas ekonomi  Universitas Indonesia merangkap sebagai pengusaha di dunia asuransi.
Aku masih persis mengingat, suatu malam di rumahnya di Aekliang, abang Kornelius membanguniku sekitar jam dua dini hari untuk menemaninya kencing keluar rumah. Barangkali ia merasa takut akan gelapnya malam maka ia merasa perlu ditemani. Pernah kami sama-sama memundak kayu api dari “Sisalean” dengan jalan setapak yang amat curam menuju Aekliang. Pernah juga suatu saat kami sama-sama membersihkan pematang-pematang sawah di Aekliang.    Pembelajaran secara tidak langsung yang amat baik menurutku ialah setiap saat ketika ia liburan sekolah selalu tidak lupa membawa buku-buku bacaan ke rumah. Gemar sekali abang Kornelius ini membaca buku. Ini pembelajaran sengaja atau tidak sengaja, yang  dipertunjukkan kepadaku. Inilah rangkaian kenangan-kenangan manis bersama abang Kornelius ketika saya tinggal di rumahnya kurang lebih dua tahun lamanya.



*Perjumpaanku dengan abang Marihot Simanjuntak
Maklum, semasih aku tinggal di Aekliang – di rumah abang Kornelius Simanjuntak, -  usiaku ketika itu masih tergolong usia bermain. Tugas harianku (memberi makan bebek, mengambil air ke sungai, memasak nasi, dan lain-lain) sering terlalaikan bahkan terlupakan akibat keasikan bermain bersama teman-teman. Aku sering “direpeti” (dimarahi) oleh Mamaktua (istri Bapaktua). Sering aku merasa sedih dan meneteskan air mata. Kala aku direpeti pastilah aku teringat kampung Siantardolok dan kian menambah intensitas kesedihanku yang kadang kala diakhiri dengan tetesan air mata. Sedu sedan dan gundah gulana menyelimuti totalitas perasaanku.
Aku masih ingat, suatu ketika di sore hari , aku lari dari Aekliang menjumpai abang Marihot yang lagi menjaga burung pemakan padi di ladangnya. Ladang itu dekat dengan Aekliang. Di sana kami bermain bersama abang Marihot. Matahari semakin menurun hendak bersembunyi di tempat peraduannya. Aku merasa takut pulang ke rumah di Aekliang. Takut kalau-kalau aku akan direpeti kembali.
“Udah gak usah takut, di rumahku aja kita makan nanti malam” kata abang Marihot kepadaku.
“Okelah!”, Jawabku mengiakan tawaran dan ajakan abang Marihot.    Selesai makan malam, abang Marihot mengantar aku pulang ke Aekliang. Ia menjadi juru bicara untuk menjelaskan dari mana kami tadi sore kepada Mamaktua. Kejadian seperti itu sering terulang. Akhirnya Mamaktua (ibunya abang Marihot) memutuskan untuk mengajakku agar tinggal di rumahnya saja. Mamaktua ini berjanji  akan minta ijin dari Bapaktua di Aekliang.
Benar saja, beberapa hari kemudian – waktu itu malam hari – Bapaktua bersama Mamaktua datang dari Aekliang ke Sabagadong. Sabagadong ini adalah kampungnya abang Marihot. Aku dengar, mereka membicarakan sesuatu tentang aku. Aku dengar mereka memutuskan bahwa aku sebaiknya tinggal di rumah abang Marihot saja. Begitu perjalanan hidup, sebagai suatu sejarah yang menghantarkan diriku akhirnya tinggal di rumah abang Marihot di Sabagadong.
Masih di Sabagadong......................
Kurang lebih tiga tahun aku tinggal di rumah abang Marihot. Benar-benar aku dilatih bekerja di sawah hingga tingkat mahir. Tiada hari tanpa turun ke sawah. Maklum, mata pencaharian keluarga ini adalah bertani (tanam padi di sawah). Oleh karena itu mau tidak mau akupun turut seperti mereka. Aku diajari  mulai dari menabur benih, mencabut bibit, menanam, menyiangi, menabur pupuk, menjaga burung, menyabit, merontok bulir padi alias “mardege eme”, memasukkan padi ke dalam karung, memundaknya ke rumah di Sabagadong. Aku sangat mahir melakoni semua jenis pekerjaan ini.
 Pagi hari, aku bersama abang Marihot dan satu orang lagi adeknya Lius Simanjuntak (pernah menjadi  TNI dan telah almarhum ketika tulisan ini aku torehkan) bersama-sama menyusuri pematang-pematang sawah berangkat ke sekolah. Sekembalinya dari sekolah biasanya kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami menyempatkan diri untuk bermain-main di tengah jalan. Kebetulan kami harus menyeberangi sebuah sungai. Mandi di siang bolong adalah kegemaran kami. Tidak bisa rasanya kami melewati sungai itu sebelum menyeburkan diri ke dalamnya. Nikmat dan segar rasanya berlama-lama di dalam air.
Bukan hanya sekedar mandi, melainkan ada satu lagi pekerjaan yang mengasikkan kami lakoni ketika kami sedang menyeburkan diri ke dalam sungai. Apa itu? Tadi ketika melintas, di pinggir jalan yang kami lewati, ada sebidang kebun singkong (ubi kayu). Layaknya orang kelaparan, dan perut yang sedang keroncongan, memaksa kami untuk mencuri singkong orang. Entah siapa pemilik kebun itu kami tidak tahu dan memang tak peduli. Sebesar tungkul jagung rebus, sebegitulah besar umbi-umbi yang kami curi di siang bolong itu. Kami memasukkan umbian itu ke dalam tas sambil menunggu saatnya yang tepat untuk melahapnya.
Kini kami tiba di tempat pemandian. Tanpa tedeng aling-aling langsung buka baju dan telanjang bulat tiada rasa malu.
“Ambil ubi dari tas masing-masing dan segera lempar ke dasar sungai yang agak dalam!” kata abang Marihot kepada kami.
“Satu, dua, tiga,... byurrr...” terdengar suara deburan air akibat lompatan kami dari ketinggian tertentu.
“Ayo! Cari umbinya masing-masing!” seru kami satu sama lain. Biasanya kami berlomba cepat sambil menyelam untuk menemukan umbi yang sebelumnya kami lempar ke dasar sungai.
“Saya dapat umbiku!”,
“Saya jumpa umbiku!”,
“Saya belum menemukan umbiku” seru kami masing-masing  sambil tertawa terbahak-bahak.
Dengan gigi taring yang masih tajam, umbi-umbi mentah itu langsung kami santap. Lucu rasanya, bagai kera makan umbian mentah, begitu cara kami melahap umbi mentah hasil curian itu. Tiada kami sakit perut. Tiada terganggu kesehatan kami mandi tanpa sabun ditengah teriknya sinar matahari siang bolong sambil makan umbi mentah.
Memang Tuhan itu amat baik. Ia mampu melindungi dan menjauhkan sakit perut serta demam dari diri kami  meskipun karena perbuatan dan kelakuan kami yang kurang baik. Kenangan manis ini tak akan pernah terkikis dari nubariku.
Kenangan manis berikut – ketika aku tinggal di rumah abang Marihot di Sabagadong – juga tidak akan pernah terlupakan. Kegiatan yang satu ini adalah kegiatan yang amat mengasikkan. Biasanya ketika tiba kemarau panjang maka sungai yang melintas di tengah hamparan areal persawahan  kampung itu akan surut drastis. Airnya menjadi amat dangkal. Ikan-ikan yang ada di dalam sungai itu akan gampang ditangkap meskipun hanya menggunakan alat sederhana saja.       
“Nanti malam kita akan ‘manorhap’ ya!” kata Bapaktua (ayahnya abang Marihot) kepada kami. “Manorhap” adalah sejenis kegiatan menangkap ikan dengan alat serupa jala berbentuk segi empat mirip tudung saji yang memiliki tangkai sebagai pegangan.
Usai makan malam Bapaktua mempersiapkan semua peralatan antara lain panah ikan, sorhap, jala dan sebuah lampu petromaks. Dengan cekatan Bapaktua menyalakan lampu petromaks. Kami bertiga (Bapaktua, aku dan abang Marihot) kini bersiap-siap untuk segera berangkat ke sungai. Biasanya Bapaktua di depan sebagai pembawa jalan sambil menenteng lampu petromaks.
Kini kami tiba di tempat tujuan. Daerah sarang ikan ada di depan kami.       “Siapkan panah dan sorhap” kata Bapatua kepada kami. “Itu dia ikan pora-pora, ada di balik batu, cepat panah!” seru Bapaktua kepadaku. “Itu ikan gabus besar di depanmu Marihot! Cepat panah!” kata Bapaktua kepada abang Marihot.
“Ayo ke depan...majau terus...., siap-siapkkan panah” begitu Bapaktua memberi sarannya kepada kami malam itu. Malam semakin larut. Kami hampir tiba di ujung sungai.
 “Bagaimana, lumayan tangkapan kita?”
 “Lumayan Paktua” jawabku spontan.
 “Oke, kalau begitu kita sudah bisa kembali ke rumah. Lagi pula malam telah larut.” Begitu Bapaktua memberi anjuran. Dan...kami pulang ke rumah.
Tiga tahun lamanya tinggal di rumah abang Marihot tak terasa. Akhir dari sepenggal perjalanan waktu kini tiba. Ujian akhir di kelas enam jumpa. Pertanda tak lama lagi aku akan meninggalkan Hariaranauli, Aekliang, Sabagadong dan teristimewa SD.Negeri Hutapinang.
Banyak dan teramat banyak kenangan indah meski sesekali diselingi dengan kenangan pahit dari sepenggal perjalanan hidupku – selama aku berada di kampung kakek, yang kadang terpaksa berpindah-pindah tempat tinggal – kini harus kutinggalkan. Aku tidak mau selamanya menjadi anak-anak. Bagai seekor anak burung terbang jauh, jauh sekali, demikianlah perasaanku untuk seterusnya harus terbang guna melanjutkan sekolah entah di mana tidak tahu pasti. Sayonara untukmu SDku SD.Negeri Hutapinang.
Aku kini berangkat mengayunkan langkah pastiku menyongsong masa depanku yang mungkin akan lebih ceria. Selamat tinggal kampung kakekku! Selamat tinggal.

3. SMP-SMA di Sibolga
Akhir tahun 1976  aku menamatkan SDku di SD.Negeri Hutapinang. Masih kuingat kala itu, Bapakku menjemputku dari rumah abang Marihot di Sabagadong. Masih kuingat malam itu aku bersama Bapakku menjumpai wali kelasku untuk minta rapor SDku. Adalah malam terakhir tidur di rumah abang Marihot dan keesokan harinya kami kembali ke kampung Siantardolok. Untuk sekian lamanya – tak tahu pasti batas waktunya – aku bertemu kembali rumah pondok ladang di Siantardolok.
Tentu saja Bapakku tidak tinggal diam dan berpangku tangan saja di rumah pondok ladang, melainkan berpikir keras bagaimana cara mengumpulkan uang yang jumlahnya relatif besar bagi seorang bapak dengan pekerjaan sehari-harinya hanyalah sebagai penyadap karet. Bapakku tetap berpegang pada prinsipnya yakni dengan cara apapun dan bagaimanapun keputusan harus terlaksana yakni aku anak pertamanya harus melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi yakni SMP.
Terbacaku di raut wajah Bapakku suatu gambaran dari sebuah kekalutan yang harus ia tuntaskan dan harus ia hadapi.
Persoalannya ialah seputar kelanjutan sekolahku. Jangankan SMP,  SD saja tidak ada di dekat kampung kelahiranku. Itu artinya aku harus melanjut ke SMP di tempat yang jauh, di ibukota kabupaten.
“Siapa yang harus mendaftarkan anakku?, “
“Di mana ia harus tinggal?”
“Berapa rupiah uang pendaftarannya?”
“Uang pembangunannya berapa ya?”
Semua ini menjadi tanda tanya besar bagi Bapakku. Semua ini menjadi beban pikiran bagi Bapakku.
Sungguh amat baik Tuhan itu. Sungguh, Tuhan  dapat membaca kekalutan pikiran Bapakku. Tuhan menunjukkan jalan terbaik bagi Bapakku. Tak disangka-sangka tulangku (saudara Ibuku) kebetulan berkunjung ke Siantardolok. Tulang inilah yang menawarkan jasa baiknya kepada Bapakku untuk mendaftarkan aku ke SMP Fatima (sebuah SMP ternama waktu itu di wilayah kabupaten Tapanuli Tengah). Saran tulang ini tentu saja diterima Bapakku dengan senang hati.
Aku didaftarkan oleh tulangku di Sibolga. Beban pikiran Bapakku menjadi lebih ringan. Kini ia tinggal memikirkan bagaimana cara mengumpulkan sejumlah uang untuk kebutuhan awal bagiku di Sibolga. Begitulah riwayat singkatnya aku terdaftar di SMP Fatima Sibolga.

*di Wisma Katolik Sibolga
Kabar yang disampaikan oleh tulangku kepada Bapakku di kampung bahwa juga telah beliau daftarkan aku ke asrama di Sibolga. Aku tidak mengerti asrama apa yang tulang maksudkan. Pokoknya kalau aku nanti  sekolah di Sibolga pasti aku sudah memiliki tempat tinggal. Itu saja yang aku tahu.
Salah seorang penghuni asrama ini adalah anak kampung Siantardolok. Di liburan natal yang relatif panjang itu, ia pulang ke kampung. Satu tahun ia persis di atasku. Ia naik ke kelas dua SMP, sementara aku baru mendaftar hendak masuk ke kelas satu.
Masih persis kuingat, kepadanyalah Bapakku menitipkan aku untuk ikut bersamanya menuju Sibolga. Ketika itu pagi hari - lupa aku nama harinya – aku bersama anak asrama ini berangkat menuju Sibolga. Jalan terus...,  terus berjalan menuruni lereng gunung dengan jalan setapak yang berliuk-liuk menuju Sorkam (nama sebuah kampung) yang sudah dilalui kendaraan. Dari Sorkam inilah kami menaiki sebuah angkutan pedesaan menuju kota Sibolga.
Sama sekali aku belum pernah menginjakkan kaki di kota ini. Kota Sibolga adalah sesuatu yang asing bagiku. Sudah agak malam, akhirnya kami tiba di kota Sibolga. Langsung menuju Wisma Katolik. Langsung registrasi, kemudian mandi, kemudian makan malam.
Di sinilah baru aku sadar bahwa yang dimaksudkan asrama itu ialah wisma Katolik milik Paroki Sibolga. Barulah pula aku sadar bahwa penghuni asrama itu semuanya laki-laki. Ada tiga orang guru laki-laki yang tinggal bersama kami di wisma itu.  Rupanya mereka bertiga disamping sebagai guru di sekolah Katolik merangkap sebagai pengawas asrama di wisma itu. Merekalah yang menjadi pengawas kami.
Sesekali, dan biasanya di sore hari, dengan sepeda ontelnya seorang bruder berkebangsaan Jerman – namanya Br.Claudius Banholzer – datang ke wisma untuk melihat-lihat kami belajar. Rupanya beliau adalah pucuk pimpinan di asrama itu.

*di asrama St.Fransiskus Asisi
Ketika kami tinggal di wisma Katolik, biasanya di sore hari, Br.Claudius Banholzer membawa kami anak asrama bekerja mengangkati batu bata yang berserakan di sebidang halaman bangunan gedung megah bertingkat empat. Kami disuruh merapikan halaman itu. Ketika kami sedang asik-asiknya mengangkati batu yang berserakan di halaman gedung itu, tak disangka-sangka Br.Claudius muncul dengan membawa dua botol air dingin. Diberikannya kepada kami untuk kami minum. Amat baik bruder itu. Ia seorang bruder dari ordo Kapusin.
Sebulan kemudian tak terasa berlalu, suatu sore beliau datang ke wisma Katolik dan memberi perintah kepada semua anak asrama agar esok hari sepulang dari sekolah, menyusun pakaian ke koper serta buku-buku pelajaran dan pindah ke gedung baru berlantai empat. Gedung itu diberi nama “Asrama St.Fransiskus Asisi”. Cukup megah tampilan gedung itu. Layaknya sebuah bangunan Katolik, tampak cirinya dari susunan batunya yakni tanpa diplester (dilicinkan dengan semen) dari bagian luarnya.
Gedung asrama ini – ketika tulisan ini saya buat – telah berubah nama dan fungsi menjadi kantor Keuskupan Sibolga. Gedung ini terletak di Jln.Ade Irma Suryani Nasution no.17 Sibolga. Di sebelah Barat persis di seberang jalan terletak sebuah biara Kapusin namanya “Biara Yoaneum”. Di sebelah Utaranya, kurang lebih 70 meter jaraknya dari  asrama terdapat sebuah rumah. Rumah Uskup namanya. Di rumah ini seorang uskup tinggal dan beristirahat setiap harinya. Rumah uskup ini terletak di Jln.Dolok Martimbang.
Amat banyak pengalaman hidupku tercipta dan terjadi selama 6,5 tahun tinggal di asrama St.Fransiskus Asisi. Ada suka, ada gembira, ada tertawa, sesekali berkelahi, juga sesekali menangis. Kesemuanya ini menjadi momen-momen indah sepanjang perjalanan hidupku tinggal di asrama. Ijinkan aku memilih-milih dan memilah dari antara sekian banyak pengalaman hidup untuk kuurai dalam untaian pragraf-pragraf berikut:

*Pembelajaran hidup dari seorang berkebangsaan Eropa.
Br.Claudius Banholzer seorang berkebangsaan Jerman Barat misionaris Kapusin berkarya  di Keuskupan Sibolga. Beliau bertugas sebagai Pembina asrama St.Fransiskus Asisi. Bruder ini berhobby musik. Ia sangat mahir  bermain organ dan mengaransemen lagu. Sebagai seorang pengikut Fransiskus, beliau sangat menyayangi binatang. Ia bangun sebuah kandang jeruji besi tempat ia memelihara  beberapa ekor kera hutan. Di dekat kandang kera itu ia bangun sebuah kolam kecil untuk memelihara beberapa ekor kura-kura hutan. Semua peliharaannya ini diberinya makan setiap hari secara teratur. Di bagian belakang asrama ditanaminya berbagai jenis anggrek. Bahkan di sekeliling asrama ia tanami berbagai jenis bunga. Setiap hari – tak pernah alpa – ia berputar-putar mengelilingi asrama untuk mengecek semua tanaman dan binatang peliharaannya. Kemudian ia kembali ke biara Yoaneum untuk berdoa dan makan malam. Jam setengah delapan malam ia muncul kembali di asrama untuk mengawasi kami belajar. Begitu ia lakoni pekerjaannya setiap hari.
Suatu ketika Bruder ini mengerjakan sebuah kerajinan tangan dengan menggunakan  bahan dari benang. Sangat indah hasil karya tangannya. Anak asrama yang berminat membuat kerajinan tangan boleh belajar kepadanya. Termasuk aku ia ajari  untuk membuat karya kerajinan tangan. Tak pernah sekalipun ia memukul kami meski kami bandel. Hanya ada satu tanda yakni wajahnya tiba-tiba merah padam bila ia marah kepada kami. Ia memperlakukan kami dengan sangat lembut dan penuh pengertian. Amat arif ia memberi pelajaran hidup kepada kami anak-anak binaannya di asrama. Setiap malam minggu ia ajari kami bernyanyi dalam bentuk paduan suara di gereja. Ia melatih kami koor. Menyesal aku tidak meminta bruder ini mengajari aku bermain organ. Ketika itulah tumbuh kesadaranku bahwa bruder Claudius Banhozer adalah sosok seorang guru sejati yang mampu mengajarkan perihal jati diri yang sesungguhnya. Sekurang-kurangnya buatku pribadi bruder ini adalah seorang idola yang harus ditiru.

*sebagai tukang pangkas
Aku masih ingat persis, ketika aku masih anak-anak, ibuku sering menjadi tukang pangkas rambut bagi kami anak-anaknya. Tak pernah rambut kami dibiarkan oleh Ibu sampai panjang. Biasanya ia langsung meminjam gunting rambut milik kakek dan memangkas rambut kami dengan rapi. Barangkali potensi menjadi tukang pangkas rambut yang aku miliki turun dari Ibuku.
Aku sering disuruh teman-teman di asrama untuk memangkas rambutnya. Kian lama kian yakin teman-temanku akan kemampuanku untuk memangkas rambut. Maka, waktu itu, Br.Claudius tidak segan-segan membeli seperangkat alat pangkas rambut yang diperuntukkan bagi kami anak-anak asrama. Suatu ketika Bruder ini meminta kesediaanku untuk memangkas rambutnya. Aku merasa bangga, sebab seorang pemimpin asrama berkebangsaan Jerman meminta aku untuk memangkas rambutnya. Juga ia suruh aku untuk merapikan jenggotnya yang mirip seperti jenggot Tuhan Yesus. Aku merasa bangga, bahkan amat bangga. Selama 6,5 tahun aku tinggal di asrama St.Fransiskus, tak terkira entah berapa kali ia menyuruhku untuk memangkas rambutnya. Syukur kepada Tuhan. Meskipun aku  menggunakan tangan kidal – sebab semenjak usia anak-anak memang aku sudah ditakdirkan  sebagai anak kidal - memanfaatkan  tangan kidalku  untuk memangkas rambut hambanya Br.Claudius Banhozer, Ofm.Cap.
Tak hanya sebatas itu, suatu ketika Uskup Anicetus Bongsu Sinaga, Ofm.Cap – yang sekarang, ketika tulisan ini aku torehkan di atas kertas, menjabat sebagai uskup di Keuskupan Agung Medan, ketika itu beliau yang mulia masih menjabat sebagai uskup di keuskupan Sibolga – datang ke asrama untuk meminta aku  nanti siang usai makan agar menjumpai beliau di kantornya. Aku turuti perintah yang mulia uskup Anicetus Bongsu Sinaga.
Siang itu juga – aku bergegas menuju kantor Beliau di Jln.Dolok Martimbang. Aku mengetuk kantornya. Segera uskup yang mulia membuka pintunya. Seperangkat alat pangkas rambut ia gemgam di tangannya.
“Ayo pangkas dulu aku Vandenaker!” kata yang mulia uskup kepadaku.
“Ya monsiniur, tapi maaf terlebih dahulu, terpaksa aku menyentuh kepala seorang uskup”.
“Tidak apa-apa, nggak persoalan, silahkan saja pangkas rambutku dan buat rapi ya!” begitu yang mulia uskup Anicetus Bongsu Sinaga, Ofm.Cap menjawabnya dengan amat rendah hati.
 Tak terlukiskan betapa bangganya perasaanku waktu itu. Pikiran bulusku berkata, “Sekelas rasul Petrus, menyuruh aku memangkas rambutnya.” Tuhan rupanya tetap membutuhkan tangan kidalku. Terima kasih ya Tuhan.
Di sela-sela waktu senggangku – ketika tulisan ini aku torehkan  ke atas lembaran kertas – bertanya dalam hati, “Salahkah aku bila suatu saat manakala ada kesempatan untuk mengajak yang mulia Uskup Anicetus Bongsu Sinaga bernostalgia, bercerita, berbagi pengalaman hidup, istimewanya mengenai pengalaman dan perasaanku di era 80-an  bahwa telah berkali-kali memangkas rambut beliau di Jln Dolok Martimbang Sibolga? Mugkinkah beliau yang mulia terbuka untuk mendengar jeritan hidupku? Atau memberi pengampunan bila aku di masa yang lampau memiliki banyak kesalahan terhadapnya? Beranikah aku?  Atau lebih baik kusimpan saja semua pertanyaan ini di dalam hatiku? Ya, aku tidak tahu. Atau mungkin Beliau telah memandang kesalahan dan jeritan batinku ini secara tidak langsung  lewat doa seorang uskup kepada Tuhan? Atau, aku yang kurang menyadari bahwa banyak rahmat telah aku terima dari Tuhan lewat doa seorang uskup Anicetus?  Tuhan ampunkan segala dosaku. Pulihkan segala kerapuhan jiwaku. Engkau Tuhan amat baik. Aku yakin uskup yang mulia Anicetus pasti membawa aku dengan segala problema hidupku kepada Tuhan.

*belajar kebudayaan.
Semua penghuni asrama St.Fransiskus Asisi berjenis kelamin laki-laki. Semuanya beragama Katolik. Anda mungkin bertanya, “Mengapa begitu spesifik penghuni asrama ini?” Jawabnya: Asrama ini diperuntukkan  bagi laki-laki Katolik yang memiliki cita-cita menjadi pastor. Di asrama inilah mereka dipersiapkan agar intelek dan kepribadiannya semakin mendekati kepribadian seorang pastor. Asrama ini dijuluki sebagai “asrama pra seminari”.
 Beberapa teman-temanku seasrama dulu, hingga tulisan ini kutorehkan, mereka masih eksis sebagai pastor. Salah seorang di antaranya – sekedar untuk menyebut namanya yakni pastor Rantinus Manalu, Pr., di bawahku satu angkatan ,menjadi seorang pastor praja di Keuskupan Sibolga. Pastor ini dikenal oleh publik sebagai seorang pejuang HAM. Amat sering ia keluar masuk pengadilan hanya gara-gara membela dan menegakkan penghormatan terhadap Hak Azasi Manusia. Membela rakyat kecil yang tidak berdaya atas perlakuan sewenang-wenang penguasa adalah kesukaan pastor ini.
Berdasarkan letak geografis, daerah dari mana anak-anak asrama St.Fransiskus berasal, dapat dibedakan atas dua bagian yakni daerah permukiman etnis Batak (pesisir pantai barat pulau Sumatera) dan daerah kepulauan seberang laut (pulau Nias dan pulau Tello).
Sekaitan dengan daerah asal, maka penghuni asrama St.Fransiskus terdiri atas dua etnis pula yakni etnis Batak dan etnis Nias. Masing-masing etnis tentu saja membawa turut serta kebudayaannya ke asrama St.Fransiskus. Batak dengan budaya Bataknya dan Nias dengan budaya Niasnya. Di asrama St.Fransiskus kedua kebudayaan ini bertemu dan mengalami proses budaya yang disebut dengan istilah “asimilasi budaya”.
Dalam proses interaksi hidup harian yang dilakoni oleh anak-anak asrama, maka kadang kala terjadi persentuhan budaya yang bisa jadi menghasilkan ekses negatif. Dalam bingkai ilmu sosiologi persentuhan kedua jenis budaya ini beserta ekses yang terkadang negatif sifatnya dipandang sebagai suatu kewajaran menju proses assimilasi budaya.
Ketika itulah aku baru sadar, selain orang Batak masih ada rupanya orang di luar Batak. Jiwa belajarku semakin dihadapkan kepada dunia kenyataan yang sedang kuhidupi. Aku sering bertanya kepada teman-teman dari Nias mengenai kosa kata yang mereka miliki. Sering aku menyusun sendiri kalimat dalam bahasa Nias dan langsung kupraktekkan. Teman-teman dari Nias itu amat baik. Bila kalimatku salah pelafalan langsung mereka perbaiki cara pengucapannya. Pendeknya aku senang belajar bahasa Nias.
Bukan hanya bahasa yang kupelajari melainkan turut juga tarian khas Nias yakni tarian “Maena”.
          “Teman-teman dari Nias ini kok pintar-pintar main volley? Mengapa mereka selincah itu ya?” gumamku dalam hati.
Di lain kesempatan, sambil bercerita dengan teman-teman dari Nias, mereka tuturkan bahwa di kampung mereka ada kebiasaan “lompat batu” sebagai bagian dari “tari perang”. Rupanya proses alam inilah yang membentuk fostur tubuh anak lelaki Nias akhirnya menggemari permainan olah raga volley.

*belajar ilmu eksak – non eksak
Enam setengah tahun aku tinggal di asrama St.Fransiskus Sibolga. Enam setengah tahun pula aku harus belajar ilmu eksak dan non eksak di sekolah. Gedung SMP Fatima terletak di tengah kota Sibolga. Sementara asrama St.Fransiskus terletak agak di pinggiran kota. Nama daerah itu di mana asrama St.Fransiskus dibangun disebut daerah “Simare-mare”. Jarak tempuh antara asrama dengan sekolah terhitung dengan langkah cepat 20 menit jalan kaki. Setiap hari rute yang sama yang menghubungkan asrama dengan sekolah aku lalui. Tentu saja hanya dengan mengandalkan kekekaran kedua tungkai kaki. Tiada aku merasa capek. Jalan terus...., terus berjalan kaki  6,5 tahun lamanya. Aku kuat, semakin kuat dan badanku semakin bertambah besar.
          Ijinkan aku urai perjalanan hidupku selama 6,5 tahun duduk di dalam ruangan kelas demi secuil ilmu eksak – non eksak di SMP Fatima dan SMA Katolik Sibolga.
Tahun 1977, - lupa aku nama harinya apa lagi tanggalnya, yang pasti hanya bulannya, di bulan Januari waktu itu – pertama sekali aku duduk di bangku SMP.Fatima. Aku merasa amat gembira mengenakan pakaian seragam yang baru dan sepatu baru.

Tentang  sepatu baruku.......
Ada sebuah pengalam yang lucu sekaitan dengan sepatu baruku ini. Maklum, baru inilah pertama sekali aku mengenakan sepatu seumur-umur hidupku. Masih kuingat, sepatu baruku itu kupakai tanpa kaus kaki. Di SMPku itu setiap siswa wajib mengenakan sepatu mulai dari masuk sekolah di pagi hari  hingga batas pulang sekolah di siang hari.
Apa yang terjadi? Satu jam pertama sejak sepatu baruku kukenakan, telapak kakiku terasa amat panas. Aku berusaha sedaya mampu dan sekuat tenaga  untuk menahankan perasaan panas pada bagian telapak kakiku. Sesaat memang bisa aku tahankan. Tetapi tidak seberapa lama kemudian rasa panas di telapak kakiku semakin menjadi-jadi. Diam-diam aku terpaksa membuka sepatuku. Kuperiksa telapak kakiku: Rupanya pada kulit telapak kakiku terdapat sebuah gelembung mengurung air di dalam. Akhirnya aku menyadari rupanya gelembung itu terjadi  akibat himpitan sepatu karet yang aku kenakan. Semakin kusadari, barangkali beginilah akibatnya bila sejak kecil hingga tamat  SD aku belum pernah sama sekali mengenakan sepatu.
Di siang hari itu juga, seorang suster biarawati namanya Sr.Agnes Tampubolon yang menjabat sebagai kepala sekolah, datang ke kelasku untuk melakukan tugas pemeriksaan. Suster itu lewat dari samping meja belajarku. Melihat aku tidak mengenakan sepatu, suster itu heran dan bertanya,
“Mengapa kau buka sepatumu nak?” sapa suster kepadaku penuh keheranan.
“Bereng ma suster maluak kulit ni pat hu ala ni sipatu on” Ind: “Lihat suster! Telapak kakiku melepuh akibat himpitan sepatu ini”, spontan aku menjawab pertanyaan suster dengan menggunakan bahasa Ibuku yakni bahasa Batak. Maklum, ketika itu aku sama sekali belum tahu menggunakan bahasa Indonesia. Untunglah suster itu penuh pengertian dan dapat memahami problem yang sedang kualami. Kemudian suster kepala sekolah itu berlalu tanpa marah serta membebaskanku tanpa mengenakan sepatu untuk seharian penuh.

*bertemu dengan satu lagi etnis baru – etnis Cina (Tionghoa).
Masih segar dalam ingatanku , di awal tahun 1977 itu  aku berteman dengan cukup banyak orang Cina di SMP.Fatima. Lebih dari  50% siswa SMP.Fatima merupakan golongan etnis non pribumi alias etnis Cina atau kerap disebut orang “Tionghoa”. Bahasa teman-teman ini amat asing di telingaku. Ketika itu, meski ada aturan yang menyebutkan bahwa di lingkungan sekolah wajib menggunakan bahasa Indonesia namun mereka tidak peduli. Mereka tetap saja menggunakan bahasa mereka yakni bahasa Mandarin. “Lu... gua..., lu...gua...”, Begitu mereka bercakap-cakap satu sama lain. “Wo aini....” kerap mereka sebut. Entah apa artinya, apa maksudnya saya tidak tahu.
Aku masih ingat persis  nama- nama mereka yang menjadi teman-temanku  di kelas I-c, antara lain: Di depanku seorang cewek namanya Anna Ong Sui Ing, sebelah kanan Tan Sui Hong, Lai Cui Ing, Liem Sui Hong, dan masih banyak lagi etnis Cina yang tidak kuingat namanya. Mereka semua adalah teman-temanku satu kelas. Rata-rata teman etnis Cina ini tergolong pintar untuk ukuran kami pada saat itu. Sementara aku hanyalah seorang tamatan SD.Negeri Hutapinang yang sedikit bernasib baik dapat melanjut ke SMP.Fatima sebuah sekolah Katolik ternama di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Anda dapat membayangkan, seorang tamatan SD Kampung harus berkompetisi dengan orang kelahiran di kota yakni etnis Cina tentang ilmu eksak – non eksak di ruangan kelas I-C SMP.Fatima. Anda dapat bayangkan meskip aku sudah memiliki ijazah SD namun berbicara dalam bahasa Indonesia saja aku masih terbata-bata. Maka dapat dipastikan untuk berkomunikasi  dengan teman-teman di kelas I-C, aku mengalami kesulitan.
Sekaitan dengan kemampuan kebahasaanku  yang tergolong amat minim pastilah berkaitan dengan kemampuan daya serap terhadap ilmu eksak – non eksak yang dipaparkan oleh bapak ibu guru di muka kelas. Tampak pada nilai-nilai mata pelajaran yang yang tertulis di raporku pada penerimaan rapor semester pertama bahwa semua bidang studi yang diajarkan di kelas I nilainya amat rendah. Rangkingku waktu itu adalah adalah rangking tiga terakhir. Itu artinya hanya ada dua orang lagi yang kemampuan intelektualnya berada di bawahku.
Amat sedih perasaanku waktu itu melihat nilai-nilai yang tertera pada raporku. Suster Kepala Sekolahku memberi nasehat agar aku semakin giat dan rajin belajar di rumah. Bahkan lebih keras suster itu mengatakan: “Kalau kau tidak berusaha keras untuk menaikkan nilaimu di semester depan, kau bisa tinggal kelas”. Sebuah pukulan berat menerpa diriku yakni terancam tinggal kelas. “Aku tidak mau tinggal kelas!, terlalu banyak uang orangtuaku terbuang sia-sia dan percuma bila aku tinggal kelas. Bukan karena IQ-ku yang tergolong jongkok, melainkan kemampuan bahasaku yakni tidak lancar berbahasa Indonesia sebagai faktor penyebab. Andaikan semua guru yang mengajar di kelas menyampaikan materi ajarnya dalam bahasa Ibuku bahasa Batak, pasti aku gampang menangkap dan menyerap materi ajar guru-guruku.
Aku membangun sebuah tekad bahwa di semester depan aku harus mahir berbicara dalam bahasa Indonesia. Kunci keberhasilanku untuk sebuah perjuangan naik kelas berkorelasi dengan  berhasil tidaknya aku belajar berbicara dalam bahasa Indonesia yang benar. Tiada kamus menyerah apalagi putus asa dalam diriku. Aku harus berjuang. Aku harus memiliki tekad yang kuat untuk sukses. Aku harus naik kelas.
Semester ke-2 kujalani meski dengan langkah tertatih-tatih. Namun “spirit” yang kuat berdasarkan sebuah tekad yang kuat pula, tetap membara di dadaku. Hasil dari usaha keras ini mulai tampak pada lembaran kertas ulangan harian yang dikembalikan oleh guruku. Ponten ulanganku semakin membaik. Dan...., pada penerimaan  rapor semester ke-2 peringkat kelasku berada pada posisi menengah. Pada catatan paling akhir di rapor itu aku dinyatakan naik kelas ke kelas dua.
Pada Sekolah Katolik (TK, SD, SMP dan SMA) yang ada di Sibolga terdapat hubungan sinergis yang baik antar unit. Sekurang-kurangnya begitulah yang kualami  selama 6,5 tahun  aku belajar di sekolah Katolik Sibolga. Biasanya anak yang tamat dari TK Katolik akan melanjut ke SD Katolik. Murid yang sudah tamat dari SD Katolik melanjut ke SMP Katolik. Tamatan SMP Katolik (SMP.Fatima) akan meneruskan pendidikannya ke SMA Katolik. Hubungan demikin inilah yang aku sebut sebagai hubungan bersinergis antar unit di sekolah Katolik tempat aku ketika itu menuntut ilmu.
Hingga kini – ketika tulisan ini aku torehkan di atas kertas – aku masih persis mengingat bahwa teman-temanku ketika duduk di bangku SMP, itu-itu juga orangnya yang menjadi teman sekelasku di SMA Katolik. Anna Ong Swi Ing, Tan Swi Hong, Lai Cui Ing, begitulah deretan nama-nama mereka kusebut, langsung menjadi teman sekelasku di kelas satu SMA.
Setiap harinya selama 6,5 tahun  kami berinteraksi di sekolah. Saking begitu seringnya bertemu di lingkungan sekolah, akhirnya lama-kelamaan mereka (etnis Cina) ini menerima diriku sebagai sahabat mereka. Cara dan trik mereka belajar ilmu eksak – non eksak secara perlahan kutiru. Tentu saja hasilnya cukup memuaskan. Aku mampu bersaing dan berkompetisi dengan mereka sekaitan dengan ilmu eksak – non eksak
Pendek cerita, ketika kami duduk di bangku kelas tiga SMA aku berhasil mengungguli mereka. Di jurusan IPS, jurusanku waktu itu, aku berhasil meraih peringkat tiga.
Masih kuingat, waktu itu tahun 1982, aku mendapat hadiah buku tulis tebal sebagai hadiah bagi peraih juara tiga. Aku amat bangga sebagai peraih juara tiga di kelas IPS.
Enam setengah tahun lamanya aku tinggal di asrama St.Fransiskus dan enam setengah tahun pula aku harus berjalan kaki ke sekolah untuk belajar ilmu eksak dan non eksak.

*ikut testing di Jln.Lapangan Bola Atas No.24 Pematangsiantar.
Sejujurnya, sedikitpun aku tidak berminat untuk mengikuti testing yang satu ini yakni testing masuk seminari di Pematangsiantar. Testing ini bagiku hanyalah sebagai suatu alternatif terburuk yakni daripada sama sekali tidak pernah mengikuti testing menuju jenjang pendidikan lebih tinggi. Maksudnya: Aku mengikuti testing ini hanyalah sebagai puncak dari rasa kesal yang amat mendalam.
 Ceritanya sebagai berikut: Ketika duduk di bangku kelas tiga SMA, sepucuk surat dari Universitas Sumatera Utara (USU) diantar oleh tukang pos ke kantor Tata Usaha Sekolah. Isi surat tersebut yakni agar sekolah mengirimkan siswa-siswi yang berbakat dan berprestasi untuk mengikuti jalur bebas testing masuk perguruan tinggi negeri. Program ini dinamai “Jalur Panduan Bakat”. Wali kelas menunjuk aku sebagai salah seorang kontingen dari jurusan IPS  untuk dikirim ke USU. Tawaran itu sempat aku pertimbangkan dan kukabari kepada kedua orangtuaku di kampung.
Waktu itu pertimbanganku kurang lebih sebagai berikut: Jika orangtuaku sanggup mencari uang untuk membiayai hidupku selama tiga bulan saja di kota Medan, maka kupastikan bahwa aku akan mengikuti program tersebut. Dalam hati aku menyusun rencana, jika biaya untuk tiga bulan pertama disanggupi oleh kedua orangtuaku, maka untuk memperoleh biaya selanjutnya aku akan bekerja sambil kuliah. Namun apa jawaban dari kedua orangtuaku di kampung,
“tung tagadispe tano mahing dohot tano mareak tamba muse dohot banda ni Oppung, dang na tolap hita i amang” begitu kedua orangtuaku menanggapi tawaran itu. Bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia artinya kurang lebih sebagai berikut, “meskipun semua harta milik kita dijual tidak akan pernah cukup untuk biaya yang kau maksud nak.”

           Respon negatif dari kedua orangtuaku ini membuat perasaanku hancur dan terasa amat dalam menembus hatiku.Kini perasaanku hancur dan perasaan itu amat dalam mengendap di lubuk hati. Betapa tidak, sebab ketika itu aku sudah mampu berpikir bahwa sukses tidaknya masa depanku tergantung dari apakah aku sanggup melanjutkan pendidikanku di bangku perkuliahan atau tidak.
Agak lama pola pikir saeperti itu bermukim di kepalaku. Sebuah kepastian yang tak dapat pungkiri lagi yakni bahwa kedua orngtuaku tidak sanggup secara ekonomis untuk membiayaiku di bangku perkuliahan. Mungkin inilah yang disebut “nasib” yang selalu bersahabat dengan “takdir” dari  serangkaian perjalan hidup.
Ketika itu bunyi doaku hanya satu, “Tuhan tunjukkan jalan terbaik yang harus kujalani untuk menggapai masa depanku!”
Berselang beberapa waktu kemudian, terdengarlah informasi di Asrama  St.Fransiskus Asisi bahwa tanggal dan tempat testing untuk masuk Seminari akan dilangsungkan di kota Pematangsiantar. Aku ditanyai oleh Br.Claudius apakah akan ikut testing atau tidak. Beberapa hari diberi kesempatan bagiku untuk berpikir-pikir mengenai tawaran itu.
Akhirnya setelah ditimbang-timbang mulailah muncul sebuah pengertian baru mengenai isi dari sebuah doa yang pernah  kuucapkaan yakni “Tuhan! Tunjukkan jalan terbaik yang harus kujalani” dalam diriku.   Firasatku berkata, “Inikah jalan yang harus kujalani itu? Testing masuk Seminari? Barangkali inilah jalan itu. Ya, sudalah. Aku ikut testing. Jikalau hasil testingannya aku dinyatakan lulus, berarti itulah jalan yang ditunjukkan Tuhan itu. Dan, jika hasil dari sebuah testingan itu aku dinyatakan kalah, berarti bukanlah itu jalan bagiku.” 
Kurang lebih satu bulan lamanya aku menungggu hasil test. Akhirnya pihak Seminari mengirim hasil test ke asrama St.Fransiskus di Sibolga. Aku dinyatakan lulus test, dan berhak untuk duduk di kelas Retorika (semacam kelas persiapan satu tahun lamanya) menuju Seminari Tinggi. Demikian riwayat singkatnya hingga aku masuk ke Seminari setelah lulus dari SMA Katolik di Sibolga.

4. Tinggal di kota indah pinggir Danau Toba (Parapat)
Setelah menyelesaikan kelas retorika (kelas persiapan) menuju Seminari tinggi – satu tahun lamanya program itu berlangsung – maka kepada kami semua diberi kebebasan untuk memilih ordo atau tarekat religius tertentu untuk diikuti. Waktu itu pilihanku jatuh pada calon imam praja Keuskupan Sibolga. Pilihanku menjadi calon imam praja dilatarbelakangi oleh aturan hidupnya yang tidak terlalu terikat dengan kaul-kaul tertentu (misalnya kaul kemiskinan). Calon imam projo tidak diharuskan menyebut kaul-kaul  sebagaimana layaknya para biarawan-biarawati mengucapkannya. Kaul-kaul itu dipandang sebagai seruan moral yang mesti dihidupi dalam dunia kenyataan, bukan untuk diucapkan atau disumpahkan. Imam praja mengakui adanya milik pribadi. Imam praja sangat menghargai “privilege pribadi”. Imam praja bukanlah seorang biarawan atau rahib. Bukan pula seorang petapa. Imam praja ialah imam sekular yang diinkardinasikan langsung  kepada seorang uskup tertentu di wilayah tertentu. Seorang imam praja taat total kepada dan dibawah kuasa seorang uskup. Poin-poin inilah yang melatarbelakangi pilihanku menjadi seorang calon imam praja di wilayah Keuskupan Sibolga.
Satu tahun lamanya aku tinggal di kota Parapat untuk menjalani kelas TOR (Tahun Orientasi Rohani) bagi seorang calon imam Diosesan. Kota Parapat menjadi kota pilihan sebab pada masa itu kelas Filsafat dari  ordo Kapusin berada di kota ini. Pembinaan calon imam praja dari 6 keuskupan sesumatera (Lampung, Padang, Palembang, Pangkal Pinang, Sibolga dan Medan) digandengakn dengan ordo Kapusin di Parapat, sambil menunggu proses pembangunan kampus di kota Pematangsiantar. Aku tinggal di kota pariwisata ini satu tahun lamanya untuk menjalani kelas TOR.
Masih segar dalam ingatanku, waktu itu tahun 1984-1985, calon imam praja sesumatera terpaksa menyewa 7 unit rumah pendudukdi kota Parapat  untuk dijadikan sebagai rumah tinggal. Aku waktu itu menjadi penghuni rumah unit 4.
Pembina kami ialah Rm.Wirya Darmadja, Pr. dan Rm.Mardi Swignyo, Pr. Mereka berdua adalah imam praja dari keuskupan Semarang yang ditugasi oleh 6 uskup sesumatera sebagai dosen pembimbing bagi kami.
Dilihat dari segi etnis, kami semua calon imam praja sesumatera, terdiri atas beragam etnis yakni Cina, Batak, Nias, Jawa dan Flores. Hal ini amat menguntungkan sebab dengan beragamnya etnis ini maka komunitas serta interaksi hidup hariannya amat kaya budaya pula.
Dari antara sekian banyak pengalaman, selama satu tahun aku menjalani TOR di Parapat, satu yang tak terlupakan yakni “long march” selama tiga hari mengelilingi pulau Samosir. Tidak tanggung-tanggung berat medannya. Anda dapat bayangkan, selama  3  hari penuh berjalan kaki sesuai kesepakatan tim. Maka waktu itu kami harus berpikir keras, menimbang-nimbang kemampuan fisik serta memikirkan peralatan apa saja dan bekal apa yang harus diusung dengan rangsel demi kelengkapan 3 hari penuh perjalanan.
Satu minggu lamanya tim kami mempersiapkan dengan cukup matang pelaksanaan program ini. Waktu berlalu..., jarum jam terus berputar. Hari H yang ditentukan tim kini tiba. Start harus dimulai.
Mula-mula kami berkumpul di rumah pusat Jln.Josep Sinaga Parapat. Ketua tim mengecek semua perlengkapan dan kelengkapan serta kesiapan Fisik anggotanya. Semuanya berada dalam kondisi oke. Start dimulai. Langsung mencari kapal di pantai Parapat untuk menyeberang ke kota Turis Tomok. Tiba di Tomok, turun dari kapal dan langsung siap siaga dengan kekuatan dengkul dan tungkai kaki untuk memulai perjalanan menempuh rute menanjak dan berbukit menuju Nainggolan.
Berjalan terus..., terus berjalan..., tak terasa jarum jam amat kencang putarannya. Matahari sudah mulai menurun menuju ufuk barat tempat peraduannya. Perjalanan belum terasa memberatkan fisik sebab semua anggota tim masih dalam kondisi fit. Binatang malam sepanjang pinggir jalan yang kami lalui mulai “berdenging” pertanda senja hari tiba. Berjalan terus..., akhirnya rumah-rumah penduduk mulai kelihatan. Kelap-kelip lampu mulai tampak.
“Itu kampung Nainggolan!” seru ketua tim kepada kami. Terus berjalan..., kini tiba di kampung Nainggolan. Rumah yang kami tuju sebagai tempat penginapan di malam pertama belum persis tahu di mana alamatnya. Sebenarnya rumah yang dimaksud dan yang dituju ialah rumah suster di Nainggolan.
Seorang penduduk yang baik hati mengantar tim kami ke rumah suster. Malam pertama aman sebab di malam pertama itu para suster yang baik hati di Nainggolan menjamu kami dengan baik. Terima kasih buat suster di Nainggolan.
Keesokan harinya, selesai sarapan pagi di rumah suster di Nainggolan,  kami langsung bergegas dan menyandang rangselnya masing-masing. Start di hari ke-2 dimulai. Berjalan terus..., terus berjalan...., rasa pegal dan nyilu di sekujur tungkai kaki mulai terasa setelah menempuh satu hari perjalanan kemarin.
Balsem Geliga yang ada di kantong rangselku mulai bekerja. Kuoleskan  ke bagian otot-otot yang terasa pegal. Rasa pegal itu mulai berangsur pulih dan membaik.     Bukan hanya itu, di Hari ke-2 ini  sepatu karet yang saya pakai tidak lagi bersahabat. Timbul gelembung mengandung air pada bagian kulit kakiku akibat himpitan sepatu. Cara mengatasinya terpaksa sepatu itu kubuang dan kuganti dengan sandal jepit ringan dan enak dipakai.
Berjalan terus..., terus berjalan.... Jam 12 siang tiba dan perut mulai terasa keroncongan.
“Ayo, kita makan sekarang!” perintah ketua tim kepada kami. Kami semua menyantap bontot siang yang tadi pagi dipersiapkan oleh susteran Nainggolan. Makan siang usai sudah. Sejenak kami meluruskan kaki sambil mengolesi dengan balsem bagian otot yang kian terasa pegal. Kemudian, berjalan terus..., terus berjalan..., tak terasa sore hari di hari ke-2 itu tiba. Kota yang kami tuju yakni Palipi belum juga ketemu. Suara jangkrik mulai terdengar di sepanjang jalan yang kami lewati. Senja hari di hari ke-2 tiba. Kini kami sampai di kota Palipi ( kota kelahiran uskup Martinus Dogma Situmorang, Ofm.Cap). Tim kami bermalam dan mendapat jamuan istime di pastoran Palipi.
          Esok paginya terasa amat capek. Hampir semua anggota tubuh mengalami pegal linu. Satu orang diantara anggota tim terpaksa tidak dapat melanjutkan perjalanan di etape ke-3 ini. Ia kembali ke Parapat dengan menaiki angkot. Nama anggota tim yang gagal untuk etape ke-3 ini Rusharyono.
Jarak tempuh antara Palipi dengan Tomok harus kami tuntaskan di hari ke-3 ini. Berkisar 70-80 km jarak antara Palipi dengan Tomok. Nyali kami sedikitpun tidak surut. “Spirit” tak boleh kendor, harus semangat dan berjuang sekuat tenaga untuk menghabiskan jarak itu. Namun apa daya anatara semangat juang untuk menempuh jarak  80 km dengan daya tahan fisik tidak sebanding. Kekuatan fisik kami terbatas.
Berjalan terus..., terus berjalan, kini sore hari sekitar jam limaan sudah, sementara Tomok masih jauh. Di hari ke-3 ini kami hanya mampu menghabiskan 50 km perjalanan. Malam ke-3 tiba. Rencana kami semula akan menginap di Tomok. Tetapi apa daya kami hanya bisa mencapai kampung Ambarita. Di Ambarita inilah kami beristirahat pada malam ketiga.
Esok harinya sekitar jam delapan pagi kami meneruskan perjalanan dari Ambarita menuju Tomok untuk seterusnya naik kapal kembali menuju Parapat rumah induk.
Amat mengasikkan perjalanan yang terprogram ini dan tidak akan pernah terlupakan dari memori ingatanku.

5. di Sinaksak – Pematangsiantar (1985-1990)
 Belum selesai kujalani TOR di Parapat, kampus Fakultas Filsafat UNIKA St.Thomas di Sinaksak Pematangsiantar selesai dibangun. Maka calon-calon imam baik dari Ordo Kapusin maupun calon imam praja dari 6 keuskupan sesumatera dipindahkan dari kota Parapat ke Pematangsiantar. Tahun Rohani kuselesaikan di Sinaksak Pematangsiantar.
Program berikutnya ialah meneruskan ke jenjang filsafat selama 8 semester untuk memperoleh gelar S-1. Empat tahun harus duduk di bangku perkuliahan. 4 tahun  lamanya aku  harus belajar berbagai macam filsafat mulai dari filsafat Timur, filsafat barat, filsafat Yunani dan filsafat yang lain. Aku terpaksa harus belajar nahasa Inggris. Kalau tidak, maka aku tak akan bisa membaca buku-buku filsafat yang kebanyakan  ditulis dalam bahasa Inggris.
Sebagai ilmu, yakni ilmu filsafat, kupelajari dengan baik  agar aku bisa naik tingkat. Usaha kerasku  dalam hal belajar berdampak positif terhadap perkuliahanku. Gelar S-1 di Fakultas Filsafat dapat kuraih selama 8 semester. Pendek kata, kehidupan intelektualku berjalan normal dan tergolong kategori baik.
             Persoalan terjadi pada seputar area hidup rohaniku.
Untuk ukuran seorang calon imam harus terjadi keseimbangan antara hidup rohani dan hidup intelektual. Keduanya harus sejalan dan seimbang. Tidak boleh ada ketimpangan diantara kedua kehidupan itu. Sementara bagi pribadiku hanya satu yang menonjol yakni hanya belajarnya yang berjalan dengan baik. Sementara kehidupan rohaniku  macet, mandeg dan terasa kering. Tak jarang aku terpaksa dipanggil oleh romo pembimbing rohaniku untuk diskusi seputar area kerohanianku. Biasanya bila aku dipanggil untuk bimbingan rohani, hasilnya untuk sesaat kehidupan rohaniku bisa membaik; namun kondisi itu tidak berjalan stabil. Amat sering aku tergoda untuk melanggar aturan hidup bagi seorang calon imam. Kerap kali aku malas berdoa dan bermeditasi. Selalu saja ada alasan untuk tidak ikut ekaristi. Padahal perayaan ekaristi setiap hari wajib bagi seorang calon imam.
Puncak dari seluruh persoalan seputar kehidupan rohaniku  terjadi pada awal tingkat  empat yakni semester ke-7. Aku tidak tahan berbohong terus menerus terhadap diriku sendiri.
Logikaku yang dulu ketika mengambil keputusan untuk mengikuti testing, kini terbantahkan. Bunyi doaku yang dulu ketika aku masih duduk di bangku kelas tiga SMA, “Ya Tuhan tunjukkan jalan terbaik bagiku untuk kujalani – akahirnya ikut testing masuk seminari, di kelas retorika, karena menyangka bahwa itulah jalan terbaik untuk kujalani – kini terbantahkan.”
Setelah enam semester perkuliahan di Fakultas Filsafat kulalui, semakin nyata sekali dan amat terang benderang bahwa jalan hidup yang harus kujalani  bukanlah menjadi seorang calon imam praja. Sekali lagi bukan jalan itu. Dalam bahasa teologi moralnya, “aku tidak terpanggil untuk menjadi seorang calon imam praja.” Keputusanku sudah final: Aku harus mengundurkan diri dari seminari; Keluar dari seminari.
Ketika keputusan ini kupilih, yakni harus keluar dari seminari, skripsi yang kususun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar akademik S-1, belum rampung. Bahkan baru dalam tahap pengetikan naskah. Aku konsultasikan perihal skripsiku yang belum rampung itu kepada dekan Fakultas – ketika itu yang menjabat sebagai dekan yakni  Pastor Kosmas Tumanggor, Ofm.Cap –dan beliau menanggapi serius permasalahan yang sedang kuhadapi. Maka beliau memberikan saran sebagai berikut:
“Fakultas belum men DO kau dari kemahasiswaan. Karena itu selesaikanlah skripsimu sebaik mungkin agar saatnya nanti kau diperbolehkan untuk membela skripsimu di persidangan meja hijau” begitu pastor itu menyampaikan sarannya kepadaku. Saran itu kuterima dengan baik.
Di akhir semester  ke-7 aku mencari tempat kost di luar kompleks kampus Fakultas Filsafat. Aku ngekost di salah satu rumah penduduk. Di rumah kos-kosan inilah  aku merampungkan skripsiku.
Pada awalnya aku sudah bertekad untuk tidak lagi menyentuh skripsi itu sebab secara total akan kutinggalkan semua saja yang berbau seminaris.
Mengapa aku merampungkan skripsiku yang sudah sempat terbengkalai itu? Jalan ceritanya sederhana sebagai berikut: Ketika Pastor Kosmas Tumanggor mengetahui bahwa keputusanku sudah final, yakni keluar dari seminari, beliau memanggilku ke kantornya untuk berbicara empat mata seputar problema hidup yang sedang kualami. Di tengah pembicaraan kami, beliau memberi saran yang isinya kurang lebih sebagai berikut, bahwa aku – meski harus kost di luar – wajib menyelesaikan skripsiku. Untuk biaya hidup selama satu semester yakni semester ke-8  beliau memberi jalan keluarnya yakni dipekerjakan di perpustakaan kampus tentu saja dengan gaji pas-pasan sekedar untuk biaya makan sehari-hari.
Jasa beliau (Pastor Kosmas Tumanggor) tidak akan pernah kulupakan sepanjang hayat dikandung badan. Sekali lagi kuucapkan terima kasih kepadamu Pastor Kosmas Tumanggor,Ofm.Cap.

Bagian ketiga

Dewasa dan Rumah Tangga.
Periode ini merupakan periode yang amat menentukan sekali dalam rangkaian perjalanan hidupku. Betapa tidak, sebab pada tahapan ini diriku berhadapan langsung dengan realitas nyata yakni aku harus mampu dan bertanggungjawab terhadap diriku sendiri. Aku harus mampu menghidupi diriku sendiri. Hidupku tidak lagi dibiayai oleh keuskupan. Aku tidak lagi duduk di bangku perkuliahan yang setiap harinya hidup dalam dunia bayangan, dunia metafisik – filosofis , yang kaya imajinasi miskin realitas.
          Tantangan pertama dan utama yang harus kutuntaskan ialah perut yang keroncongan butuh sesuap nasi dan perolehan sejumlah uang untuk ongkos kehidupan. Aku harus memiliki pekerjaan dengannya aku memperoleh uang  untuk ongkos kehidupan demi kelanjutan dari sebuah garis edar kehidupan. Maka pertanyaan utamanya ialah, “Di mana mencari pekerjaan? Apa jenis pekerjaannya? Dan berapa  upahnya?”
Demikianlah fase yang ketiga dari seluruh rangkaian perjalanan hidupku ku awali.

1. Melanglang buana ke Jakarta
Langkah lunglai dan kepala terasa berat sarat sejuta tanya perihal kelanjutan kehidupan memaksa diriku angkat kaki meninggalkan area kampus menuju kota Sibolga. Di benakku ada sebuah rencana yakni setibanya di kota Sibolga pertama-tama yang kulakukan ialah melaporkan keberadaan diriku kepada uskup Anicetus Bongsu Sinaga,Ofm.Cap sebab beliau adalah kuasa tertinggi atas diriku ketika masih di bangku kuliah sekalian menanyakan apakah ada lapangan pekerjaan  yang barangkali dapat beliau tunjukkan  bagiku sebagai “eks seminari”.
 Kini aku tiba di Sibolga, langsung menuju kantor keuskupan di Jln.Dolok Martimbang. Pintu kantor keuskupan kuketuk dan aku dipersilahkan masuk kemudian dipersilahkan duduk di kursi tamu. Pembicaraan empat mata antara aku dengan uskup dimulai. Aku yang memulai pembicaraan yakni melaporkan diriku bahwa telah defenitif dan resmi keluar dar seminari. Laporan resmiku itu beliau terima. Kemudian aku menyampaikan maksud hatiku untuk meminta sebuah lapangan pekerjaan  manakala tersedia lowongan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Kemudian beliau menjawab sekaligus memberi saran sebagai berikut:    
“Lowongan pekerjaan yang anda minta sesuai latar pendidikanmu tiada tersedia di keuskupan kita. Kedua, saya sarankan silahkan mencari pekerjaan di luar lembaga Katolik saja, entah jenis pekerjaan apa dan di mana saja.”Begitu ucapan beliau secara teratur dan mengalir memberi jawaban kepadaku.
Kini jelas sudah bahwa aku tidak diterima sebagai tenaga kerja sesuai latar belakang pendidikanku  oleh lembaga Katolik di keuskupan Sibolga. Pilihan terakhir bagiku hanya satu yakni pulang kampung dengan kondisi kejiwaan stress berat.
 Kurang lebih  dua bulan  aku bersama Bapak menyadap karet di kampung. Aku coba untuk melupakan semuanya. Melupakan masa lampauku dan hendak memulai babak baru dalam garis edar hidupku. Kucoba menghibur diri dengan cara bersahabat terhadap alam pondok ladang yang dulu telah lama kutinggal pergi. Memang tegangan tinggi dari stress berat jiwaku sedikit terasa menurun. Namun kondisi seperti itu tidak bertahan lama. Sesekali timbul perasaan amat kesal, menyesali diri mengapa harus mengalami kegagalan demi kegagalan dalam garis edar hidup.
Aku masih persis mengingat, ketika itu aku minta ijin kepada Ibuku untuk berangkat ke kota Sibolga sekedar melepas lelah dan buang suntuk. Di tengah perjalanan menuju kota Sibolga, sembari duduk santai di dalam angkot, silih berganti kepalaku diisi aneka ragam bayangan yang indah-indah. Barangkali begitulah sistem psikis bekerja agar jiwa mampu menahan beratnya penderitaan. Mekanisme psikis namanya.
Tak terasa roda angkot bergulir kencang dan kini aku tiba di kota Sibolga. Entah apa yang mendorong dan menggerakkan kedua tungkai kakiku langsung menuju rumah pastor Paroki Katederal Sibolga. Kuketuk rumahnya dan pintu dibukakan bagiku. Sebentar saja kami berbicara empat mata. Kuutarakan maksud kedatanganku kepada beliau yakni ingin merantau ke Kalimantan dengan kondisi ongkos ke sana tidak mencukupi. Singkatnya aku minta bantuan perongkosan kepada beliau agar aku bisa sampai  ke tanah rantau Kalimantan.
Alhasil beliau hanya mampu menyantuni sedikit saja uang kepadaku. Kuhitung-hitung tak mencukupi  buat ongkos kapal Sibolga-Kalimantan. Sesaat aku putar otak, teringat aku akan seorang teman mantan seminari bekerja di kantor keuskupan Padang. Segera kuputuskan, lebih baik aku mencari teman itu saja dari pada harus berangkat ke Kalimantan. Satu malam perjalanan aku naik bus dari Sibolga menuju kota Padang Sumatera Barat.
Kini aku sudah berada di kota Padang dan langsung menemui sahabatku  bernama Vincent Manihuruk  di kantor Keuskupan Padang. Rawut wajahku tak bisa menyembunyikan pahit getirnya perjalanan hidup menimpa diriku.
“Ayo, kita makan dulu, barangkali kau tak makan mulai dari kemarin” ajak Vincent Manihuruk –mantan Kapusin itu – kepadaku. Ajakan itu kusambut dengan gembira.
Di sela acara makan siang itu kuutarakan maksud kedatanganku menemuinya di kota Padang yakni untuk mencari pekerjaan mana kala ada lowongan tersedia bagiku di keuskupan Padang. Apa daya, nasib sial selalu menyertaiku, lowongan pekerjaan tidak tersedia bagiku.
“Jadi, seterusnya apa rencanamu?” Tanya beliau kepadaku.
“Kalau begitunya ceritanya, berarti aku harus segera minggat dari kota Padang ini” Jawabku kepadanya.
“Ke mana rencanamu?” sambungnya.
“Ke Jakarta sajalah, ke tempat abang Kornelius” ujarku.
            Sore itu juga sobat Vincent Manihuruk membeli tiket bis jurusan Jakarta. Diserahkannya tiket itu padaku di loket bus menuju Jakarta sambil mengucapkan selamat jalan padaku.
 Kini aku tinggal sendirian di tengah ramainya penumpang bus menuju Jakarta. Perjalanan hidup “Na pinaborhat ni lungun” menuju Jakarta aku tempuh.

*di Jakarta – di rumah abang Kornelius
Persis aku ingat, pukul 01.00 dini hari aku meninginjakkan kaki – pertama kali dan mungkin untuk selamanya tidak akan pernah lagi – di terminal bus Pulo Gadung Jakarta. Turun dari Bus, langsung masuk ke warung kopi dan meminta segelas kopi hangat dari pelayan warung. Tujuanku hanya satu yakni sekedar menghabiskan waktu sembari menanti kesempatan yang tepat untuk mencari angkot menuju rumah abang Kornelius.
Begitu strategi yang kupasang agar orang-orang terminal bus Pulo Gadung  yang terkenal amat bringas itu melihatku tidak tampak sebagai orang kebingungan. Taktik itu ternyata berhasil. Kudengar para sopir angkot yang lagi nongkrong sambil minum kopi di warung itu bersendagurau dan ngomong  menggunakan bahasa daerahku  bahasa Batak Toba. Kemudian akupun bertegur sapa dalam bahasa Batak Toba kepada mereka. Tercipta sebuah  keakraban seperti di kampung kelahiranku. Di akhir pembicaraan, salah seorang dari sopir angkot itu bersedia mengantarku ke alamat dengan tarif ongkos biasa. Begitu cerita ringkasnya hingga aku tiba di rumah abang Kornelius Simanjuntak.

*Suka duka di rumah abang Kornelius
Ketika aku naik bus dari Padang menuju Jakarta, sepanjang perjalanan  sudah terbersit di benakku bagaikan sebuah tekad terpatri dalam-dalam di lubuk hati, yakni jika dalam setahun perjalanan waktu tinggal di Jakarta, aku masih tetap pengangguran maka aku harus tinggalkan kota itu, dan mencari kerja di kota lain entah di mana. Begitu aku bertekad di dalam hati.

Tidak ada komentar: