Kamis, 23 Mei 2013



Kini aku tinggal di rumah abang Kornelius Simanjuntak. Bayanganku ia akan membantuku mencarikan pekerjaan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan tak terasa, sebab aku disibukkan oleh pekerjaan rumah tangga di rumah abang.
Betapa tidak, boleh aku tuturkan jenis pekerjaan rumah tangga yang aku lakukan selama berada di rumah abang Kornelius antara lain, mencuci piring, menggosok kain, mencuci popok bayi, menyapu rumah, mengurus taman dan menyapu halaman.
Di tengah kesibukan harian inilah sesekali aku mermbaca Koran untuk mencari lowongan kerja dan menulisi surat lamaran-lamaran kerja. Beberapa kali aku dipanggil untuk wawancara oleh perusahaan yang kulamar. Pernah sekali waktu aku dipanggil untuk mengikuti psiko test oleh instansi pemberi kerja. Namun apa daya, nasib keberuntungan tidak pernah hinggap pada diriku, membuatku tetap pada posisi pengangguran besar-besaran. 
Melihat kondisiku yang semakin tak stabil akibat dilanda pengangguran besar-besaran, maka suatu saat abang Kornelius menggunakan koneksinya di dunia asuransi yakni menyurati temannya agar memanggilku untuk ditreining di perusahaan asuransi. Masih kuingat, letak kantor perusahaan tempat aku ditreining itu di Jl.Rs.Fatmawati Jakarta Selatan. Satu bulan penuh masa treining itu kuikuti dengan tekun. Aku masih ingat bagaimana dilatihkan trik-trik untuk menarik hati calon nasabah agar rela dan mau menandatangani polis asuransi.      
Lagi-lagi aku gagal sebab aku harus jalan kaki “door to door” mengunjungi rumah orang-orang kaya untuk diprospek jadi calon nasabah. Dari penampilanku saja orang tidak yakin bila aku adalah seorang petugas asuransi. Berkali-kali aku disambut oleh gonggongan anjing-anjing galak milik tuan rumah si kaya  di sekitar kompleks perumahan elit hanya gara-gara mencari calon nasabah.
Akhirnya suatu saat, usai makan malam,  kulaporkan kepada abang Kornelius bahwa aku tidak sanggup melakukan pekerjaan prospek nasabah asuransi.
         “Sudahlah, kalau begitu sabar saja dulu, sambil menunggu ada kesempatan dan lowongan lain lagi” kata abang Kornelius ketika itu    
          Untuk mengatasi rasa bosan sambil sekedar cari uang rokok, akhirnya aku ikut angkot milik abang Kornelius . Seingatku kurang lebih dua bulan lamanya aku ikut angkot, jadi kernet sang sopir, demi sekedar uang rokok dan makanku stiap harinya.
          Limit waktu atau batas pencarian kerja di Jakarta yang sejak semula kutetapkan dalam benak hampir tiba. Nasib tidak berubah yakni tetap dilanda pengangguran besar-besaran. Impianku akan memperoleh sebuah pekerjaan di Jakarta kini sirna. Satu tahun aku melanglang buana di Jakarta hanyalah sekedar menghabiskan waktu tanapa hasil. Kepada beberapa teman keberi tahu bahwa  aku sudah tidak betah lagi tinggal di Jakarta. Aku harus kembali ke Sumatera. Beberapa teman menaruh simpati sekaligus prihatin mendengar situasi hidupku dan mereka menyantuni aku dengan memberi beberapa rupiah buat ongkos pulang ke Sumatera.
          Terakhir, aku pamitan kepada abang Kornelius sambil menunjukkan selembar tiket bus “Makmur” yang sudah kubelikan sebelumnya di terminal bus Pulogadung. Selamat tinggal ibukota Jakarta.
2.Tahun  1992-1993:  Di kampung Siantardolok.
Untuk kesekian kalinya aku terpaksa kembali ke kampung tempat kelahiranku, tempat aku dibesarkan oleh kedua orangtuaku. Kembali ke kampung dan kembali bersahabat dengan alam pondok ladang.
Suatu panggilan hidup? maka kembali ke kampung? Tidak. Ini hanya sebuah pilihan terbaik dari seluruh pilihan terburuk. Tidak pernah sedikitpun terbersit di benakku bahwa setelah memiliki gelar S-1 yang disebut “sarjana” itu  aku akan kembali ke kampung halaman. Jiwa “kebatakanku” yang dikenal sebagai perantau – sebab orang Batak dikenal oleh masyarakat sebagai perantau - kini menemui kegagalan untuk kesekian kalinya. Yang pasti aku telah mengalami sebuah kegagalan setelah satu tahun melanglang buana  di Jakarta untuk mencari pekerjaan, pupus sudah. Sebuah pekerjaan sesuai latar belakang pendidikanku kini tak kutemukan. Apa daya setelah gagal di ibukota Jakarta maka aku harus tempuh pilihan akhir yakni pulang kampung untuk sambung nyawa meneruskan garis edar kehidupan
Amat sedih kurasakan pada detik-detik terakhir meninggalkan terminal bus pulogadung, teristimewa ketika sedang menaiki tangga bus “Makmur” jurusan pulang kampung ke pulau Sumatera. Di dalam bus, sambil duduk termangu, tiba-tiba pikiranku berubah, dari yang semula menuju kampung kelahiranku, kini ingin menyinggahi kota Pekanbaru terlebih dahulu.     Pikirku, “Siapa tau kota Pekanbaru bersahabat denganku, apa salahnya bila aku mencoba sekali lagi”. Akhirnya kuambil kesimpulan dan kuputuskan bahwa aku harus singgah di kota Pekanbaru.
Bus melaju kencang, tak terasa kini posisiku sudah di penyeberangan Merak – Bakauheni  mengarah dan menuju kota Pekanbaru. Tiada sahabat, tiada kenalan, pun keluarga. Sama sekali tiada yang bisa kujadikan sebagai tempat persinggahan awal di kota Pekanbaru.
Syukurlah sebab tiba-tiba saja aku bertemu dengan seorang  anak muda yang memiliki ibu  semarga denganku yakni Simanjuntak di terminal bus Pekanbaru. Anak muda itu tahu  bahwa aku seorang pendatang baru di kota itu, mungkin ia merasa iba dan langsung mengajakku ke rumahnya. Ia memanggil “tulang” padaku sesuai dengan adat istiadat orang Batak.
Kurang lebih empat hari aku tinggal di rumahnya sambil tanya-tanya mana kala ada lowongan kerja bagiku demi memperpanjang garis edar hidup ini.   Kusempatkan berkunjung ke pastoran Katolik Pekanbaru dan bertanya siapa tau mereka mau memberi pekerjaan bagiku. Tetapi apalah daya, pegawai Pastoran Katolik Pekanbaru itu mengira bahwa aku adalah seorang gelandangan dan menaruh curiga terhadapku hingga akhirnya aku ditolak mentah-mentah.
Hitung-hitung kesekian kalinyalah aku mengalami penolakan.
Aku kembali ke rumah boru Simanjuntak tempat aku mondok buat beberapa hari. Sempat ditawarkan ibu boru Simanjuntak itu  sebuah pekerjaan padaku asal aku mau yakni “mangimas” = membersihkan atau membabat hutan untuk dijadikan lahan persawitan. Tawaran itu spontan kutolak.
Sementara itu aku rogoh kantongku bahwa di dalam dompet uangku tersisa tinggal Rp.25.000,- lagi. Spontan aku berpikir, wah ini masih cukup untuk ongkos bus dari Pekanbaru menuju kota Sibolga. Kupastikan aku harus kembali ke Sibolga.

*di kampung Siantardolok
Tahun 1992 adalah tahun permulaan aku tinggal di kampung dengan sebuah paradigma baru. Kusebut sebagai suatu “paradima baru” sebab setelah satu tahun penuh aku tinggal di Jakarta dan dengan segala usaha sedaya mampu mencari pekerjaan, ternyata hasilnya hanyalah sebuah kesia-siaan. Maka kini aku harus memulai kembali dari dasar nol. Artinya aku harus memulai dari awal, aku harus menata hidup ini kembali dari dasar nol.
Kampung kelahiranku Siantardolok menjadi tempat kaki berpijak sekaligus tempat di mana langit dijunjung. Alam pondok ladang serta hutan rimba raya di sekitar harus kujadikan sebagai sumber atau lahan untuk mencari rupiah dan sesuap nasi bagiku. Persis seperti awal mula kisah penciptaan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama bahwa manusia pertama itu harus mengucurkan keringat untuk mengolah alam ciptaan agar dapat mempertahankan kehidupannya, demikian halnya aku.
Satu kepastian yakni aku harus mengolah hutan rimba dan menjadikannya sebagai alam pondok ladang agar aku dapat meneruskan garis edar hidup.
Sebagai anak sulung di tengah keluarga, ada semacam beban moral terletak di pundakku sekaitan dengan rumah berkolong berdindingkan tepas bambu serta beratapkan daun rumbia, kini kondisinya sudah reot dan atapnya bocor. Maka beban pertama yang harus yang harus kutuntaskan sebagai anak sulung di tengah keluarga ialah merenovasi rumah agar lebih layak untuk dihuni.      
Pertanyaannya ialah, “dari mana modal untuk membangun rumah?” Sebuah jawaban pasti untuk pertanyaan ini ialah mengolah alam rimba raya agar dapat menghasilkan uang. Hanya ini satu-satunya sebuah kemungkinan yang tersedia bagiku untuk mendapatkan sejumlah uang.
Bersama Bapakku kami menyusun rencana dan strategi untuk mewujudkan impian itu. Kami berdua sepakat untuk membuka sebidang perladangan dengan cara menebang hutan rimba raya untuk dijadikan kebun “nilam”. Mengapa harus menanam nilam? Bukan yang lain? Jawabnya sederhana yakni tanaman nilamlah di antara sekian banyak kommoditi ekspor tingkat internasional yang cepat menghasilkan uang. Itu alasannya.
Maka kami berdua (aku & Bapakku) berangkat ke daerah “Attar Bunga” daerh lereng gunung dan memiliki lapisan humus yang cukup tebal serta subur untuk dijadikan perladangan nilam. Jarak tempuh lahan perladangan ini sekitar satu jam perjalanan dari kampung. Dengan semangat berapi-api dan tekad membaja di dada mendorong kami hingga tak kenal lelah bekerja banting tulang setiap hari
Usaha keras kami tentu saja menghasilkan sebuah prestasi gemilang – sekurang-kurangnya menurut ukuran pribadiku – yakni sebidang kebun nilam terbentuk dan tumbuh subur.
Amat mahir aku soal tanaman nilam ini. Mulai dari mencari stek bibit nilam, cara menanamnya, cara memanen dan yang paling penting diantara seluruh rangkaian kerja ialah cara menyuling nilam sebab yang dijual di pasar internasional ialah minyaknya.
Berkat hasil penjualan minyak nilam pada musim tanam awal saja aku sudah mampu mendatangkan seorang operator chainsaw untuk mengolah bahan-bahan bersegi (broti) dari jenis kayu meranti untuk dijadikan rangka rumah. Puas rasanya batinku ketika itu sebab bahan untuk kerangka rumah telah tersedia.   Sekarang yang kupikirkan ialah bagaimana soal pengadaan atap seng.
Semangat kami untuk tetap berusaha tak pernah surut malah semakin ganas. Aku bersama Bapak membuka lahan baru di pinggiran lahan pertama untuk periode musim tanam kedua. Setelah musim panen tahap kedua kami menuai hasil gemilang. Akhirnya kami mampu membeli atap seng sebanyak enam kodi, cukup untuk atap rumah sesuai perencanaan awal. Kini seluruh bahan yang dibutuhkan untuk membangun rumah tersedia sudah.
Apakah rumah langsung dibangun? Tunggu dulu. Ada sederet alasan tergolong postif sifatnya yang mengganjal sehingga untuk beberapa bulan  bahkan dua tahun berikutnya barulah terwujud pembangunan rumah yang direncanakan sejak awal.
Bukan hanya soal renovasi rumah yang menjadi beban moral, masih ada lagi yakni soal sembako sebagai kebutuhan amat vital dan dasariah sekali.
Untuk menjawab persoalan ini kami berdua (aku & Bapakku) tetap melaksanakan tugas rutin menyadap karet. Hasil dari penjualan karet kami alokasikan untuk membeli sembako sebagai kebutuhan yang tak dapat ditunda pemenuhannya.Sekali dalam seminggu tepatnya setiap hari Senin kami menjual karet dan hasilnyadialokasikan untuk kebutuhan sembako.
Dua tahun lamanya pekerjaan ini kutekuni tak kenal lelah dan tetap semangat demi sebuah “paradigma baru” yang kusebut di bagian awal tulisan ini.
Di tengah perjalanan waktu sambil garis edar hidup berlangsung aku ditawari oleh Kepala Sekolah SD Negeri di Siantardolok untuk mengajarkan materi pelajaran agama Katolik sebab kebutulan seluruh murid di SD tersebut seratus persen beragama Katolik. Kepala Sekolah menghubungi pastor paroki agar memberikan SK honorer kepadaku dan ternyata SK tersebut dikucurkan. Hanya sekali dalam seminggu aku masuk dan gaji honorku dicairkan sekali dalam enam bulan di kantor paroki. Seingatku hanya sekali saja aku menandatangani amprah gaji honor yang tidak seberapa jumlahnya. Itupun kusyukuri sambil menjalani garis edar hidup di kampung.
3. Januari 1994 aku di kota Kisaran
Sebenarnya sedikitpun tidak pernah terbersit di benakku bahwa suatu ketika aku berada di kota Kisaran. Sedikitpun tidak. Jadi kalau begitu mengapa aku berada di kota Kisaran? Alkisahnya sederhana saja sebagai berikut:
Suatu ketika seorang suster dari konggregasi KSFL datang ke kampung dalam rangka berkarya pastoral, aku lupa nama suster itu – kejadiannya masih kuingat di bulan Desember 1993 – tahu bahwa di SMA Panti Budaya Kisran lowong guru agama Katolik dan sedang mencari guru agama. Suster yang mengetahui latar belakang pendidikanku dan penderitaan batin yang melanda diriku menyampaikan imformasi lowongan kerja tersebut,  itupun bila aku bersedia dan mau. Dlam pembicaraan dengan suster itu, pada awalnya aku menolak. Tetapi karena bujuk rayu dan rupanya suster itu merasa sayang bila ilmu yang kuperoleh  selama duduk di bangku pekuliahan sia-sia begitu saja, akhirnya permintaan suster itu kuamini.
“Kalau kau mau untuk mengisi lowongan itu biar nanti kucek segala persyaratan yang diperlukan. Tunggulah surat dari saya” tutur suster itu padaku.
Suatu harapan baru akan masa depan yang lebih cerah terbit dalam garis edar hidupku. Beberapa minggu kemudian surat yang dijanjikan oleh suster sampai ke tanganku. Dengan perasaan harap-harap cemas surat itupun kubuka. Ternyata isi dari sepucuk surat itu ialah sebagai berikut: Tgl. 4 Januari 1994 aku sudah harus berada di depan kelas untuk membawakan mata pelajaran agama Katolik.
Kegembiraanku terasa semakin meluap-luap. Berarti aku akan menerima gaji setiap bulannya. Begitu spontan aku berpikir.
Ketika surat panggilan kerja dari suster itu kuterima, kondisi rumah orangtuaku yang hendak direnovasi itu sudah semakin reot. Sempat timbul dilema dalam benakku sekaitan dengan rencana renovasi rumah. Bagaimana caranya membangun rumah bila aku sudah mengajar di Kisaran? Mungkinkah aku membangun rumah tanpa pengawasan? Sementara aku telah berjuang mati-matian untuk pengadaan seluruh bahan bangunan.
Akhirnya kuputuskan harus berangkat ke Kisaran untuk memenuhi panggilan kerja dari suster. Toh nanti bila aku sudah memiliki gaji dan mempunyai tabungan pasti aku bisa membangun rumah di kampung meskipun aku berada di Kota Kisaran.
Setahun kemudian setelah aku berada di Kisaran:
Akan dilaksanakan perenovasian rumah itu? Tentu tidak. Mengapa? Rupanya hukum alam berikut “bila jauh dari mata jauh juga dari hati” berlaku. Nasib malang menimpa bahan bangunan yang kutumpuk dan kutinggal di kampung kondisinya hampir busuk diterpa oleh air hujan.
Hari berganti hari dan minggu berganti bulan berlalu tak terasa menghiasi ruang gerak garis edar hidupku di kota Kisaran. Sementara itu aku membutuhkan banyak waktu untuk penyesuaian hidup di kota Kisaran. Maklum di kota ini tiada kenalan,  sahabat, pun keluarga bagiku.
Pelan-pelan sambil menikmati jalannya garis edar hidup, aku memiliki beberapa teman anak muda dan juga beberapa anak gadis termasuk seorang gadis istimewa yang akhirnya kupersunting menjadi istriku. Terhadap gadis istimewa ini aku berpacaran selama 10 bulan dan kami menikah tepatnya di bulan Oktober 1994. Tahun 1995 kami dikaruniai oleh Tuhan seorang anak perempuan.
Apakah rencana renovasi rumah di kampung sudah terealisasi? Belum! Tunggu dulu, masih ada yang lebih penting yakni soal biaya kontrakan  rumah tinggal.
Rumah pertama yang kami kontrak terletak di Jln.Hj.Juanda Gg Rambutan. Entah berapa tahun kami tinggal di rumah kontrakan ini, aku tidak persis mengingatnya lagi.
Yang kuingat – ketika itu kami masih menempati rumah kontrakan pertama – Bapak pernah datang bersama Lae mengunjungi kami ke Kisaran. Saat itulah Bapak bercerita bahwa kayu berbentuk broti dan papan sebagai bahan untuk keperluan renovasi rumah – yang dulu kusimpan sebelum aku berangkat ke Kisaran – kini kondisinya semakin lapuk dan hampir busuk. Maka mau tidak mau harus sesegera mungkin direalisasi  perenovasian rumah itu.
Akhirnya sejumlah uang kami sediakan untuk dibawa pulang ke kampung oleh Bapak agar pelaksanaan renovasi rumah dapat dimulai.
Hingga tulisan ini kutorehkan di atas kertas, rumah yang direnovasi itu  masih utuh dan dalam kondisi layak huni.

*menjadi seorang guru agama
Januari 1994 adalah permulaan bagiku berdiri di depan kelas untuk membawakan mata pelajaran Agama Katolik di SMA. Panti  Budaya satu-satunya SMA Katolik di Kabupaten Asahan. Masih kuingat pada hari pertama aku mengajar di SMA Panti Budaya langsung diangkat oleh Kepala Sekolah sebagai wali kelas III IPS.
Meski merasa agak canggung – sebab para siswa yang kuajari hampir sama besar badan dan tingginya dengan badanku – namun seluruh tugas-tugas sebagai guru bidang studi dan tanggungjawab sebagai wali kelas kulaksanakan sebaik mungkin dan sedaya mampu.
Rasa canggung tampil sebagai guru di depan kelas dibanding penampilan rekan-rekan guru lainnya dapat kumaklumi sebab di antara seluruh staf pengajar di SMA Panti Budaya hanya aku yang tidak berasal dari jurusan keguruan. Aku ketinggalan dalam hal metode didaktik dibanding dengan mereka. Aku terpaksa belajar dari pengalaman di lapangan untuk menghadapi persoalan-persoalan seputar kesiswaan.
Meski begitu akhirnya sesuai perjalan garis edar hidup pelan-pelan aku bisa menyamai rekan-rekan guru lainnya.
Setelah tiga tahun lamanya kujalani sebagai guru percobaan, akhirnya Kepala Sekolahku Drs.Michael Manik mempromosikan diriku ke Yayasan Dharma Sejati – waktu itu SMA.  Panti Budaya berada di bawah naungan yayasan Perguruan Katolik Dharma Sejati – agar diangkat menjadi guru tetap yayasan. Kepangkatan dan golonganku dimulai dari golongan  II b kendati aku melamar dengan menggunakan ijasah Strata Satu. Entah mengapa cara penggolongannya demikian  aku sendiri benar-benar kurang faham. Seingatku pernah sekali waktu kuterima SK kenaikan gaji berkala menuju jenjang kepangkatan/golongan IIc. Pekerjaanku sebagai guru agama terus kulaksanakan dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya aku diangkat menjadi golongan IIc
Pada tahun 2000 aku berhenti menjadi seorang guru agama di SMA. Panti Budaya Kisaran. Mengapa aku berhenti mengajar Agama di SMA. Panti Budaya, biarlah nanti saja kuceritakan pada bagian berikut dari tulisan ini.
4.Tahun 2000 mengikuti testing penerimaan CPNS guru agama Katolik untuk formasi Kabupaten Asdahan.
Ketika Abdurrahman Wahid menjadi presiden Republik Indonesia, dalam masa pemerintahannya, nilai-nilai solidaritas terhadap pemeluk agama dan aliran kepercayaan dijunjung tinggi. Terbukti dalam masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang dikenal di area publik dengan julukan “Gusdur” itulah kran air yang macet selama masa pemerintahan Orde Baru dibuka kembali. Maksudnya, hubungan terhadap pemeluk agama lain yang selama ini macet, kini dicairkan kembali. Intinya ketika presiden Gusdur berkuasa di negeri ini, barulah terbuka kesempatan seluas-luasnya untuk penerimaan CPNS guru agama termasuk guru agama Katolik.
Quota untuk agama Katolik cukup besar jumlahnya di seluruh Indonesia. Maka pada masa itu ramai-ramai orang  melamar CPNS guru agama Katolik, termasuk aku ikut-ikutan di dalamnya.
“Sorry” sebenarnya aku tidak dalam barisan ikut-ikutan melamar CPNS guru agama. Amat panjang cerita suka maupun duka dalam perjalanan garis edar hidupku sekaitan dengan pelamaran CPNS guru agama ini.
Aku mulai dari bagian cerita sukanya: Persis kuingat – ketika itu sekitar pukul 09.00 pagi  aku sedang mengajar di dalam ruangan kelas – pejabat Bimas Katolik Kabupaten Asahan Pak Ginting nama panggilannya – datang ke kompleks SMA .Panti Budaya untuk menjemputku agar segera mendaftar serta mengisi formulir di kantor Depag Asahan untuk mengikuti test.
Sempat aku berdialog dengan Pak Ginting itu di halaman sekolah SMA. Panti Budaya perihal syarat-syarat yang dibutuhkan. Tetapi Bapak itu menyarankan ikut testing saja dulu. Soal persyaratan biarlah diurus belakangan saja. Lalu aku dibonceng oleh Pak Ginting dengan sepeda motornya menuju kantor Depag dengan tujuan agar cepat-cepat mendaftar.
Sebenarnya di awal pembicaraan kami di halaman SMA. Panti Budaya, sudah kukatakan kepadanya bahwa aku tidak memiliki  akta untuk mengajar tetapi ia jawab semuanya itu bisa diurus belakangan hari. Pada hal aku tahu bahwa akta mengajar adalah salah satu syarat mutlak yang dibutuhkan.
Sebernarnya bila dirunut lagi jauh ke belakang, sedikitpun tak pernah terbersit di benakku bahwa aku suatu ketika akan menjadi seorang guru PNS. Aku benar-benr sadar bahwa aku bukan dari jurusan keguruan. Aku hanyalah seorang alumni dari Fakultas Filsafat Universitas Katolik St. Thomas berijazah S-1 non akta. Maka dari awal aku tak pernah bercita-cita menjadi seorang guru PNS. Diterima saja aku mengajar di SMA. Panti Budaya Kisaran sudah merupakan sebuah nikmat syukur besar bagiku.
Namun dalam perjalanan waktu sambil menyelesaikan garis edar hidup telah terjadi fakta, bahwa aku telah menjadi seorang pelamar CPNS guru agama Katolik untuk Kabupaten Asahan hanya dengan bermodalkan sebuah keyakinan bahwa Bimas Katolik dalam hal ini Pak Ginting akan berusaha keras untuk menggolkan hingga menjadi PNS. Hanaya berpegang pada keyakinan itu maka aku berani untuk melamar CPNS guru agama.
Pendek cerita beberapa hari kemudian diberitahukan oleh Pak Ginting kepadaku agar bersiap-siap mengikuti testing. Kuamini pemberitahuan itu.
Hari H untuk testing CPNS guru agama itu tiba. Aku bergegas dari rumah sambil membawa peralatan yang dibutuhkan untuk mengikuti testing. Semua peserta termasuk aku  memasuki ruangan testing. Semua peserta duduk teratur sambil menunggu naskah soal dibagikan oleh penyelenggara. Aku juga duduk tenang sambil menunggu soal dibagikan untukku.
Satu tanda entah tanda apa namanya, dan menyiratkan apa, aku tidak tahu. Bila jeli membaca tanda atau gejala, ini sudah merupakan gejala atau tanda kedua setelah tanda pertama yakni tidak memiliki akta mengajar namun diterima  dalam pendaftaran dan diberikan nomor ujian, kini muncul.
Tanda atau gejala apa itu? Situasinya begini: Semua peserta ujian dalam ruangan itu sudah memiliki naskah soal untuk dijawab. Hanya aku seorang diri yang tidak memiliki naskah soal utuk dikerjakan. Lalu kepada penyelenggara aku mengajukan keberatan dan dijawab oleh penyelenggara bahwa naskah soal untuk peserta ujian S-1 Agama Katolik tidak ada. Sementara teman-temanku pelamar CPNS guru agama Katolik lainnya, mereka semuanya memperoleh naskah soal.     Sempat aku bingung dan merasa canggung menyaksikan teman-teman lagi asik-asiknya mengisi lembar jawaban.
Aku bertanya dalam hati, “Kok begini jadinya?”                                                                                      
Sementara itu Pak Ginting dari Bimas Katolik Kabupaten Asahan menenangkan perasaanku dengan berkata,  “Akan kita upayakan mencari soal dari Bimas Katolik Provinsi Sumatera Utara untukmu. Jangan pulang dulu! Bertahan saja dalam ruangan ini hingga waktu untuk testing berakhir.” Begitu ucapan yang meluncur dari Pak Ginting waktu itu.
Dua atau tiga hari kemudian – aku tidak persis mengingatnya – Pak Ginting muncul kembali di halaman SMA. Panti Budaya untuk menjemputku  agar hari itu juga aku melaksanakan ujian tulis di kantor Depag Kabupaten Asahan. Kuturuti permintaan itu dan segera melaksanakan ujian tulis pada salah satu ruangan di kantor Depag.
Sekali lagi aku bertanya dalam hati kecilku, “Kok aku belakangan melaksanakan ujian tulis , sendiri pula di kantor Depag ini!” Begitu aku bertanya sambil menggerutu di dalam hati.
Beberapa minggu kemudian – aku tidak persis mengingatnya – pengumuman hasil ujian test di tempel di papan pengumuman di kantor Depag. Aku bergegas dengan mendayung sepeda butut dari rumah menuju kantor Depag. Kucari nomor ujianku di papan pengumuman tersebut dan ternyata nomorku dicantumkan diantara deretan nomor peserta lainnya. Itu berarti aku lulus testing tulisan.
Sejenak detak jantungku berdegup kencang pertanda aku sedang merasa bahagia karena lulus testing. Akankah kebahagiaan ini berlangsung lama? Sabar! Nanti akan kuceritakan panjang lebar pada baris-baris berikut dari tulisan ini.
Keesokan harinya teman-teman CPNS guru agama Katolik berdatangan ke rumah untuk menyusun berkas dan menulis dengan tangan format surat lamaran  untuk dibawa ke Medan guna mengikuti “kliring test”. Akupun tak ketinggalan. Kulakukan seperti apa yang mereka buat sembari merencanakan keberangkatan ke Medan.
Aku masih persis mengingatnya bahwa aku bersama beberapa teman berangkat ke Medan pukul 01.00 dini hari dengan menumpang kereta api jurusan Kisaran – Medan.
Empat jam perjalanan lamanya jarak Kisaran – Medan. Pukul 05.00 dini hari rombongan kami  tiba di stasiun kereta api Medan. Dari stasiun kereta api, dengan angkot kami langsung meluncur menuju rumah teman untuk beristirahat sejenak sambil menunggu sarapan pagi disiapkan. Direncanakan kliring test mulai pukul 08.00 pagi.
Aku masih ingat bagaikan semut berjubel manusia-manusia CPNS siap-siap dengan barisan antri untuk mendapatkan blangko isian guna keperluan kliring test. Blangko itu tidak didapatkan secara gratis begitu saja, melainkan harus dibeli dengan sejumlah kocek. Aku masih ingat, untuk memperoleh blangko isian itu saja aku harus mengeluarkan uang dari dompetku sebesar Rp. 150.000.- Setelah memperoleh blangko isian itu  barulah kemudian kliring test dapat dimulai. Aku lakukan itu semuanya lalu kukumpulkan kepada badan penyelenggara. Sekitar pukul 16.00 sore barulah aku kembali ke Kisaran dengan naik bis.
Proses berikutnya – aku lupa entah beberapa minggu kemudian – dilakukan pemberkasan tahap akhir di Depag Sumatera Utara untuk seterusnya dilanjutkan ke Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) di Jakarta. Setelah seluruh berkasku diperiksa oleh Bimas Katolik Propinsi Sumatera Utara, dinyatakan bahwa berkas milikku tidak bermasalah dan sudah bisa dikirim ke Jakarta. BAKN akan mengirimkan Nomor Induk Kepegawaian (NIP) beserta pangkat dan golongan ke Depag Sumatera Utara untuk seterusnya menerbitkan SK penugasan aktif mengajar.
Satu tanda tanya besar bagiku terjadi ketika teman-teman mendapat surat panggilan agar datang ke kantor Depag Sumatera Utara untuk menjemput nota tugas (SK) mengajar, sementara aku tidak mendapat panggilan.
Arti dari tanda-tanda atau gejala, lebih tepat kusebut saja “kendala” yang kualami ketika test tertulis berlangsung yakni hanya aku yang tidak kebagian soal, kini semakin tersibak.
Meski begitu realitanya, akal sehatku masih berjalan normal. Aku coba melacak informasi kepada Pak Ginting (Bimas Katolik Kabupaten Asahan) untuk mencari tahu mengapa aku tidak mendapat panggilan untuk menjemput SK tugas. Jawaban beliau, “sabar dulu, mungkin ada kendala atau coba telepon saja ke Jakarta untuk mencari jawaban yang pasti.
Mengapa aku selalu bertanya kepada Pak Ginting (Bimas Katolik Kabupaten Asahan)? Logikanya sederhana saja: Aku yakin dari semula bahwa beliau mampu dan rela membantu untuk seluruh kelancaran proses menuju gol PNS guru agama Katolik. Lagi pula dengan sengaja aku pernah mengajaknya ke sebuah restoran untuk mencari tempat lebih santai agar aku bisa menandaskan kepada beliau bahwa seluk beluk proses menuju PNS sama sekali aku buta. Itu dasarnya maka selalu saja aku bertanya kepada Pak Ginting pejabat Bimas Katolik itu.
Pendek cerita aku tidak sabar lagi menunggu informasi dari Pak Ginting perihal keterlambatan panggilan untukku. Lalu aku langsung terobos ke tingkat lebih tinggi yakni berangkat ke Medan dan bertanya kepada pejabat Bimas Katolik Sumatera Utara. Di sana aku menjumpai Ibu Sinurat dan bertanya,
“Mengapa aku belum juga terpanggil Bu?” Jawaban yang kuterima langsung dari Ibu Sinurat sebagai berikut:
“Apakah Pak Ginting tidak menyampaikan kepada Bapak mengenai berkas Bapak yang bermasalah? Ini ada surat dari BAKN yang menyatakan mengenai kesalahan berkas milik Bapak yaitu, legalisir ijazah salah. Yang meleges ijazah Bapak bukan Depag melainkan Kopertis Wilayah I. Kemudian mengenai akta IV untuk kwalifikasi kelayakan mengajar. Mengenai hal ini bisa menyusul kemudian. Tenggat waktu perbaikan berkas paling lambat 2 minggu dan harus sampai di BAKN” Begitulah penjelasan langsung yang kuterima di kantor Bimas Katolik Sumatera Utara di Medan.
Dengan perasaan amat kesal, buru-buru kutinggalkan kantor itu sebab harapan menjadi PNS guru agama jelas kini sirna sudah. Mengapa? Karena aku telah kedaluwarsa mengetahui informasi.
*impian menjadi PNS guru agama Katolik sirna di telan masa – untuk tidak menyebut hantu
Jelas dan bahkan amat jelas bahwa perjalanan waktu dalam rangkaian garis edar hidup telah perkasa memberi bukti bahwa aku gagal meraih PNS guru agama Katolik di Kabupaten Asahan. Pukulan batin akibat stress tingkat tinggi bahkan hampir mencapai ambang batas – untuk tidak menyebut hampir gila – terjadi pada diriku.
Pukulan batin itu kian terasa amat berat sebab di Yayasan Dharma Sejati ada butir peraturan yang mengatakan bila seorang pegawai melamar PNS dan dinyatakan menang dalam pelamaran itu maka pegawai tersebut wajib mengundurkan diri dari Yayasan. Hal itu berarti aku telah mengundurkan diri terlebih dahulu sebelum aku mengetahui kegagalan proses dalam pelamaran PNS guru agama Katolik di Kabupaten Asahan.
Yang pasti aku tidak bisa diterima kembali mengajar di SMA. Panti Budaya karena telah mengundurkan diri dari Yayasan.
*nongkrong setiap hari di kedai kopi
Kedai kopi milik Pak Siburian yang dibangun di samping kantor pos Kisaran adalah saksi bisu yang tak dapat ditanya mengapa begitu setia aku mengunjunginya bahkan sampai tiga kali dalam sehari. Adalah saksi bisu setara sahabat yang dapat memahami isi lubuk hati seseorang ialah kedai kopi Pak Siburian. Kutemukan kedamaian di tempat ini. Udaranya bertiup sepoi-sepoi basa dapat menghilangkan stress. Betapa tidak, di kedai kopi ini aku bisa tertawa bahkan terbahak-bahak bersama teman sambil bermain catur sepuas-puasnya.
Kehadiran kedai kopi Pak Siburian ini rasanya dapat menolongku  agar kedua tungkai kakiku kuat menempuh perjalanan panjang untuk menyelesaikan garis edar hidup ini.
Tak dapat kupungkiri bahwa istriku amat mengerti dan memahami secara mendalam persoalan yang sedang menimpa diriku. Dalam diskusi-diskusi kami di rumah ia tidak merendahkanku sebagai seorang suami yang bernasib malang. Ia selalu memotivasiku agar jangan sampai gelap mata memandang dunia ini sempit dan tak punya arti apa-apa. Ia selalu membimbingku agar mampu melihat bahwa dibalik setiap peristiwa selalu memiliki makna tersembunyi.
“Jangan kau berpikiran sempit dan mengira bahwa PNS lah satu-satunya sumber hidup bagimu. PNS hanyalah salah satu diantara sekian banyak pekerjaan yang dapat dijadikan sebagai sumber hidup. Jangan berpikiran sempit dan bertindak bodoh. Lihat kedua anakmu yang masih kecil-kecil ini, mereka belum tahu apa-apa mengenai peristiwa ini. Yang pasti mereka sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang  dari seorang Bapak. Jangan ikutkan mereka berdua menanggung penderitaan ini.”
Begitulah hampir setiap hari istriku memberi peneguhan agar aku tabah dan kuat untuk menanggung derita yang sedang menimpa diriku. Semua kalimat-kalimat motivasi dari istriku ini kuamini, hingga pada gilirannya meski secara amat perlahan akhirnya aku dapat menerima kenyataan pahit itu.
Tak kusangka bahwa istriku mampu bertindak arif sebijak demikian.Terimakasih ya Tuhan Engkau memberiku seorang pendamping hidup yang amat bersahaja.
Peristiwa yang amat memilukan ini terjadi pada tahun 2000 dan berlangsung hingga pertengahan tahun 2002. Dalam kurun waktu ini aku saban hari berada di kedai kopi Pak Siburian Kantor pos.
Pagi hari selekas aku bangun dari tempat tidur pekerjaanku ialah duduk berangan-angan sambil merokok. Tak sudi dan tak suka aku berbicara di rumah kecuali bila istriku yang lebih dulu mengajak. Sarapan pagikupun yang sudah terhidang di atas meja makan kerap kali kutinggal begitu saja tak kusentuh dan langsung berangkat ke kedai kopi Pak Siburian Kantor pos.
Bila waktu untuk makan siang tiba, akupun kembali ke rumah  untuk makan siang. Selesai makan siang aku kembali lagi ke kantor pos dan baru akan kembali ke rumah bila jam untuk makan malam tiba.
Dua tahun lamanya garis edar kehidupanku dimozaik oleh adikuasa alam jagat raya, bercita rasa duka nestapa dan berwarna kelabu mendekati hitam.
5. Berlagak bagai seorang penjual pisang kepok  profesional
Dua tahun lamanya nongkrong tiap hari bahkan tiga kali dalam sehari untuk menghabiskan waktu sambil buang stress, akhirnya terasa membosankan juga. Pada awalnya memang cara itu (nongkrong di kedai kopi) terasa dapat membantu untuk meringankan beban jiwa. Namun bila dikaji lebih mendalam rasanya cara itu bukan  mengurangi masalah melainkan malah menambah kwantitas masalah. Betapa tidak, dengan duduk atau nongkrong di kedai kopi selama dua tahun, itu berarti sama saja dengan memperpanjang masa PBB (Pengangguran Besar-Besaran) dua tahun pula. Pendeknya duduk berlama-lama di kedai kopi itu kini terasa membosankan sudah bagi diriku. Duduk di kedai kopi sama saja dengan menghabiskan sejumlah uang di tengah pengangguran besar-besaran.
Aku mulai berpikir-pikir untuk mencari kerja entah kerja apa asal halal dan dapat menghasilkan sedikit-sedikit rupiah untuk meringankan beban ekonomi rumah tangga. Gamang aku entah mau kerja apa. Kudiskusikan perasaan batinku kepada istriku dan ia menyambutnya dengan baik.
Kini persoalannya bergeser ke jenis kerja halal apa yang dapat menghasilkan uang. “Keja apalah ya?” Begitu rumus pertanyaannya.
Bertemulah dengan namboru “Boru Juntak” – begitu aku memanggil ibu itu – yang rumahnya terhitung tidak seberapa jauh jaraknya dari rumah kami. Ibu ini – disamping satu marga denganku, kebetulan memiliki kios sewaan di pajak Bakti – berkunjung ke rumah dan memberi saran agar aku berjualan pisang Kepok di Pajak Bakti.
Panjang lebar namboru ini menjelaskan teori dan kiat berjualan pisang kepok, mulai dari mencari sendiri pisang kepok, cara mengkarbetnya, cara meletakkannya di atas meja jualan, menentukan harga jualnya, hingga memprediksi laba perhariannya. Semua dijelaskan dengan cukup rinci hingga aku merasa tertarik untuk melakoninya.
Dengan sepeda bututku warna hitam, aku melaju menuju arah Air Joman sebab di sana banyak masyarakat menanam pohon pisang Kepok. Tiada rasa enggan dan gengsi lagi bagiku memasuki halaman belakang rumah orang sekedar bertanya apakah pisang Kepoknya dijual.
Hari pertama aku bernasib mujur memperoleh dua tandan pisang Kepok siap untuk dikarbet. Kedua tandanan pisang Kepok tersebut kusisiri dan kukarbet di dalam goni plastik. Sehari kemudian siap untuk dijual.
Masih kuingat, pukul  02.00 dini hari di hari pertama itu aku bangun dari tempat tidur dan segera menyusun sisiran pisang Kepok hasil karbetan itu ke atas boncengan sepeda siap untuk berangkat ke pajak Bakti. Di hari pertama hanya 5 sisir yang laku terjual dengan harga jual dibawah modal. Maklum semua pembeli membodoh-bodohi aku sebab mereka tahu bahwa aku adalah seorang pemula.    Pukul 05.00 di hari pertama itu tiada lagi pembeli yang menyenggol barang jualanku. Akhirnya aku tidak sabar dan menyusun kembali pisang yang tidak laku itu ke boncengan sepedaku kemudian pulang ke rumah dengan wajah cemberut.     
Sebenarnya di hari yang kedua aku tak mau lagi berangkat ke pajak Bakti, namun mengingat banyak lagi pisang kepokku yang siap jual, akhirnya kupaksakan juga diriku menuju pajak Bakti. Di hari kedua ini, memang pisangku habis terjual, tetapi setelah menghitung penjualan ternyata aku tekor yakni lebih besar modal dibandingkan dengan penjualan. Terakhir aku putuskan stop berjualan pisang.

6. Jualan bumbu di kaki lima (2003)
Setelah tumpur jualan pisang Kepok di pajak Bakti Kisaran aku kembali ke posisi pengangguran besar-besaran. Kali ini aku tidak lagi nongkrong di kedai kopi Pak Siburian, tetapi lebih banyak berdiam diri di rumah. Kegiatanku hanya mengerjakan pekerjaan di rumah saja mulai dari menyapu rumah,cuci piring, menggosok dan lain-lain. Pokoknya aku menyibukkan diri dengan pekerjaan rumahan saja.
Lama kelamaan pekerjaan inipun terasa membosankan juga. Perasaan gelisah apalagi dikaitkan dengan status seorang bapak keluarga berpangkat kepala rumah tangga mengusik jiwa.
“Akankah seterusnya garis edar hidupku akan tetap begini-begini saja?”     
“Apa yang akan kulakukan seiring berputarnya jarum jam pemusnah sang waktu?” Begitu aku berpikir-pikir di dalam hati yang membuat nyali kebapaanku apalagi berpangkat kepala keluarga kian terusik.
Sebuah terobosan baru untuk meretas kebuntuan hidup ini tidak juga kunjung tiba. Sebuah pekerjaan yang dapat mengangkat taraf hidup dan sedikit mengangkat status tetap tidak ada. Kembali pada status pengangguran besar-besaran.
Setelah berdiskusi dengan istriku – setahu bagaimana – aku dianjurkan agar kembali melakukan kegiatan berjualan di pajak. Dengan bermodalkan pengalaman menyedihkan ketika berjualan pisang Kepok di pajak Bakti akhirnya aku nekad dan berani memulai kegiatan berjualan kembali.
Kini aku berjualan di Jln.Hj.Misbah Kisaran. Jenis daganganku bukan lagi pisang Kepok melainkan jenis bumbu-bumbu dapur antara lain bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, asam jeruk, asam potong, kapulaga, merica, ketumbar, jintan, kayu manis, hingga ajinomoto.
Syukurlah berkat mental baja dan semangat berapi-api akhirnya membuahkan hasil. Berkat hasil jualanku, aku bisa menutupi biaya untuk membeli ikan dan sayur setiap harinya dan kubawa pulang ke rumah.
Kenangan terakhir dari hasil penjualan bumbu-bumbu dapur di pajak pagi Jln.Hj.Misbah Kisaran, hingga kini masih ada di rumah dan masih layak pakai. Yang aku maksud ialah seperangkat CD Player yang ada di rumah adalah sebagai tanda kenangan hasil dari penjualan bumbu-bumbu dapur.

6. Back to my village 2003: Membuka perladangan Cokelat dan Karet.
Kini pilihanku harus kembali ke kampung meski sungguh berbeda nuansanya dibandingkan ketika masih anak muda harus kembali ke kampung karena tidak memperoleh pekerjaan selama satu tahun masa pencarian di ibukota Jakarta.
Pilihan harus kembali ke kampung berlatar belakang sebagai berikut: Tiada lagi bagiku kemungkinan untuk mengajar di sekolah Katolik di Kisaran. Artinya tertutup kemungkinan untuk kembali mengajar di SMA. Panti Budaya sebab guru agama waktu itu  telah diisi oleh seorang suster. Peristiwa ini berlangsung sekitar bulan Oktober 2003.
Maka setelah berdiskusi panjang lebar bersama istriku di rumah, kami putuskan bahwa kemungkinan untuk mengajar kembali di Panti Budaya sama saja artinya dengan berlama-lama menunggu sesuatu yang tidak pasti, lalu sepakat kembali ke kampung untuk membuka lahan tanaman cokelat dan karet.    
Keputusan ini diperkuat dengan alasan bahwa pada masa itu di perguruan Katolik Panti Budaya lagi “demam-demamnya” membuka lahan persawitan. Hal itulah yang kian mendorongku untuk berani maju dengan tekad bulat membuka lahan di kampung.
Mengapa pula harus di kampung dan bukan di tempat lain? Alasannya sederhana yakni di kampung tidak perlu lagi membeli lahan sebab lahan milik orangtua kebetulan masih banyak yang kosong.
Aku masih ingat persis bahwa keputusan kuat untuk membuka lahan di kampung karena mendapat dukungan dari ito (saudariku=adek kandungku) Mamak Suri. Di pertengahan tahun 2003 mamak Suri berpesta “membayar adat na gok” kepada orangtuanya yakni kepada Bapakku, maka mau tak mau aku harus menghadiri pesta tersebut. Hanya aku bersama Vantri dari keluarga di Kisaran yang menghadiri pesta itu.
Satu minggu lamanya aku bersama Vantri tinggal di kampung setelah usai menghadiri pesta itu. Tentu ada banyak kesempatan untuk berdiskusi dengan kedua orangtuaku perihal keinginanku untuk membuka ladang di kampung. Keinginan itu dismabut baik oleh kedua orangtuaku.

*6 bulan pertama aku di kampung
Merinding bulu kudukku mengenang kembali kilas balik keberangkatanku ke kampung halaman untuk mewujudkan niat membuka lahan Cokelat di kampung. Kusediakan bibit cokelat jenis unggul dari Kisaran. Satu karung penuh tungkul-tungkul cokelat yang belum dikupas kulitnya aku siapkan untuk dibawa ke kampung.
Kedua anakku (Tiarma lagi duduk di bangku SMP dan Vantri ketika itu masih SD) bersama istri mengantar aku ke loket bus “Sanggarudang” jurusan Kisaran-Sibolga. Tak kuasa aku menahan air mata ketika aku memeluk sambil mencium satu persatu wajah kedua anakku pada detik-detik menjelang keberangkatanku menuju kota Sibolga.
Saat bus bergerak kulirik ke belakang dari jendela bus, mereka bertiga melambaikan tangannya sambil berkata “selamat jalan pak!”. Beberapa detik kemudian wajah mereka menghilang dari pandanganku. Pada saat itulah aku duduk termangu diam seribu bahasa, dan tanpa sadar kedua pelupuk mataku dibanjiri air mata. Amat sedih perasaanku pada saat itu. Bahkan ketika tulisan ini kutorehkan di atas kerta – sambil mengenang secara kelas balik perpisahanku di loket bus Sanggarudang itu, mungkin karena aku amat larut menyatu dengan kilas balik peristiwa itu – terulang peristiwa yang lalu bahwa kdua kelopak mataku kembali dibanjiri air mata pertanda bahwa peristiwa yang dulu itu berbekas pada jiwaku.
Aku berangkat ke kampung tanpa alat komunikasi semisal Hand Phone. Waktu itu masyarakat kampung memang telah mengenal warnet tetapi warnetpun amat jauh dari kampung Siantardolok. Membutuhkan waktu sehari perjalanan dari kampung ke Sorkam – sebuah kota kecamatan – untuk menjangkau warnet.
Tidak tangung-tanggung, selama 6 bulan pertama, aku benar-benar berpisah dengan kedua anakku beserta istriku tercinta. Dalam kurun waktu 6 bulan pertama itulah aku menyiapkan lahan sambil membenahi pembibitan Cokelat (Cacao). Tak terasa hari berganti hari minggu berganti minggu serta bulan berganti bulan berlalu penuh makna sebab seluruh waktu yang merupakan anugerah dari Tuhan kuisi sefektif mungkin dengan bekerja banting tulang seharian.
Sebagai pengobat rinduku kepada kedua anakku bersama istri maka aku tiap malam sebelum mataku tertidur tak bosan-bosannya memanjatkan doa kepada Bunda Maria sebagai Bunda Pelindung agar melindungi diriku dari mara bahaya dan melindungi kedua anakku yang jauh kutinggal di kota Kisaran.
Tak puas juga rasanya bila aku tidak mengetahui berita dan mendengar suara mereka secara langsung.
Bila kerinduanku kepada mereka bertiga (Tiarma, Vantri dan Mamaknya) sudah memuncak hingga titik kulminasi – dan biasa perasaan itu muncul sekali atau dua kali dalam sebulan di kurun waktu 6 bulan pertama itu – aku terpaksa berangkat ke Sorkam untuk bertelepon kepada mereka melalui warnet.
Tak jarang aku meneteskan air mata di warnet itu ketika sedang kontak telepon dengan kedua anakku di Kisaran. Ah, tak kuasa lagi aku melukiskan kilas balik peristiwa sedih itu.
Lahan tahap pertama kini terbentuk dan sudah terisi dengan tanaman cokelat. Syukur pada Tuhan bahwa di 6 bulan pertama itu tak pernah sekalipun aku menderita sakit, pun demam atau pilek.
Kini waktu 6 bulan berlalu tak terasa, dengan amat berseri-seri aku melangkahkan kaki di pagi hari Senin itu menuju Sigarap untuk seterusnya ke Kisaran. Tak kepalang rasa gembiraku ketika aku tiba di Kisaran dan langsung berangkat ke Jln. Hamka tempat anakku bersekolah. Aku masih ingat peristiwa itu terjadi pada hari Selasa pukul 09.00 pagi. Aku  mengetuk pintu ruangan kelasnya dan langsung memeluk kedua anakku. Kepeluk erat-erat mereka berdua  untuk melepas rinduku yang kupendam 6 bulan lamanya.
Ah, kembali lagi kedua pelupuk mataku terasa basah dibanjiri air mata mengenang kilas balik pertemuan yang amat mengharukan itu  dengan kedua anakku.
*tujuh tahun merawat kebun Cokelat di kampung (2003-2010)
Tujuh tahun tinggal di sebuah desa terpencil Siantardolok dimana setiap harinya harus bergaul dengan alam pondok ladang serta dikitari pemandangan alam rimba raya, bukanlah sesuatu yang mengenakkan dan menyenangkan.
Bila realita yang berbicara siapapun tak kuasa menepis sebab tak bisa terelakkan. Itulah yang kerap disebut dengan julukan “sudah nasib” maka harus diterima dengan lapang dada. Begitu pula halnya dengan diriku wajib menerima kenyataan pahit bagai warna kelam dari sebuah mozaik kehidupan.
Meski kenyataan itu pahit, yakni tinggal di kampung sendirian, berpisah dari kedua anakku dan istriku, harus aku terima. Pilihan untuk tinggal di kampung, membuka perladangan Cokelat buakanlah tanpa pertimbangan, bukan pula tanpa alasan.
Pertanyaannya amat mendasar sebagai berikut:
“Bagaimana cara atau apa kiat untuk mempertanggungjawabkan kelanjutan pendidikan dan masa depan kedua anakku?”
“Sanggupkah bila hanya istriku yang bekerja sebagai guru swasta di perguruan Katolik dengan gaji pas-pasan untuk membiayai seluruh ongkos kehidupan termasuk biaya untuk masa depan dari kedua anakku?”
Jawaban untuk kedua pertanyaan ini tidak lain ialah diriku dengan predikat kepangkatan sebagai Bapak dan Kepala Keluarga. Apapun ceritanya maka aku wajib secara moral bertanggungjawab kepada mereka. Oleh karena itu aku wajib memiliki sebuah pekerjaan yang menhasilkan uang. Inilah alasannya maka aku harus memiliki pilihan hidup yakni membuka lahan Cokelat di kampung.
Maka terbentuklah sebidang kebun Cokelat seluas kurang lebih 3 hektar ditambah pohon karet sebagai tanaman pelindungnya. Kini kebun cokelat itu telah berproduksi dan pohon karetnya sudah dideres.
Meski lahan itu telah berproduksi namun bila dihitung-hitung secara detil masih merugi. Artinya tidak sebanding biaya produksi dengan produksi ditambah pula dengan “cost living” yang tergolong besar, sebab kampung Siantardolok adalah kampung terpencil dimana segalanya serba mahal harganya.
Tujuh tahun lamanya pekerjaan ini kulakoni. Tujuh tahun pula aku harus berpisah dari keluarga. Sebagai pelepas rindu aku pulang ke Kisaran secara periodik sekali dalam tiga bulan. Hingga tulisan ini kutorehkan di atas kertas, kebun cokelat itu masih tetap berproduksi walaupun hanya sedikit-sedikit saja sebab perawatan dan pemupukan tidak berjalan lagi dengan baik.
Akankah tujuan semula pembukaan lahan ini yakni peruntukan biaya kelanjutan pendidikan anak-anak dapat terealisasi? Sebagai jawaban sementara firasatku berkata sepertinya tidak sanggup, tidak terealisasi. Tidak sesuai dengan angan-angan semula. Mengapa? Sekali lagi jawabannya ialah sesuai hukum alam “Jauh di mata jauh pula dihati.” Itu berarti aku sudah tidak lagi di kampung jadi lahanpun pasti tidak terawat dan otomatis tidak berproduksi maksimal. Berarti sekali lagi aku menuai kegagalan.
Mengapa perladangan Cokelat di kampung Siantardolok ditinggal pergi? Nanti akan kuceritakan pada bagian berikutnya dari tulisan ini.

7. Aktif kembali sebagai guru agama Katolik di SMA. St.Yosep dan tinggal di asrama St.Albertus Magnus Aekkanopan (2010- sampai tak terhingga)
Anak pertamaku Tiarma Bernadet Simanjuntak baru menginjak jenjang pendidikan lebih tinggi yakni duduk di bangku kelas satu SMP dan Vantri duduk di kelas dua SD saat aku berangkat ke kampung untuk tujuan membuka lahan tanaman Cokelat di kampung.
Tak terasa seiring berjalannya sang waktu, mereka berdua kian besar sesuai pertumbuhan badan dan juga perkembangan pemikiran. Suatu nikmat besar yang kuterima dari Tuhan yakni meskipun aku jauh dan terpisah dari mereka sebagai suatu konsekwensi logis dari kebijakan membuka lahan di kampung, kedua anakku bertumbuh besar dan dilindungi oleh Tuhan. Pantas aku bersykur kepada Dia yang kuasa yang selalu mendengar jeritan hidup umatNya yakni aku. Terimakasih ya Tuhan.
Terkadang di waktu senggang, ketika aku kembali dari kampung ke Kisaran, sengaja atau tidak kedua anakku sering berujar kurang lebih sebagai berikut:
“Pak! mengajarlah kembali! Masa di kampung terus di hutan-hutan itu!”
“Malu awak dibilang teman bapaknya merantau tapi ke kampung”
“Lagi pula Bapak jarang kali pulang ke rumah, di kampung-kampung aja terus”
Begitu mereka kerap berujar padaku. Biasanya aku jawab, “Ya sudahlah. Nasib Bapak harus jadi seorang petani susah. Apa boleh buat, Bapak harus menerima kenyataan.” Begitu jawaban yang sering kulontarkan kepada mereka.     
Sebenarnya dalam hati kecilku berkata, “Ah kedua anakku ini sudah mulai nalar berpikir. Mereka sudah mengerti bahwa ‘status’ itu perlu dalam pergaulan hidup sehari-hari. Aku bangga akan hal itu, bahwa mereka sudah mampu menalar.
Sering juga aku berujar kepada mereka, “Bila Tuhan memberi kesempatan sekali lagi untuk mengabdi di lembaga pendidikan Katolik pasti Bapak mau dan kembali mengajar.”
Seiring perjalan sang waktu, lebih-lebih karena Tuhan mendengar jeritan batin kedua anakku, suatu ketika dan tak disangka-sangka, seorang teman guru agama Katolik di SMA.St.Yosep sekaligus menjadi Pembina di asrama St.Albertus Magnus Aekkanopan, menang dalam mengikuti pelamaran CPNS guru agama Katolik.
Informasi ini  sebenarnya disampaikan oleh beberapa kenalan yang barangkali prihatin terhadap nasib diriku. Aku tidak terlalu antusias untuk melacak kebenaran berita itu meski sebenarnya ada rasa “rada-rada mau” untuk mengisi lowongan itu.
Adalah seorang teman bernama Alfida Silitonga – menjabat sebagai sekretaris Yayasan Dharma Sejati dan berkantor di Jln.Hamka Kisaran – bersengaja mengajakku bicara empat mata. Isi pembicaraan kami kurang lebih sebagai berikut: “Bila abang mau mengisi lowongan guru agama di SMA. St.Yosep itu, biar kutelepon kolektor Yayasan di Aekkanopan” Begitu ia mengklarifikasi informasi dan mengulurkan bantuan komunikasinya kepadaku.
Akhirnya aku semakin memiliki keyakinan untuk menulis lamaran – sebenarnya surat lamaran itu bukan aku yang menulisnya, tetapi dengan sengaja anakku yang pertama Tiarma Bernadet Simanjuntak yang kusuruh sekaligus untuk membuktikan doa dan nasibnya – dan kuantarkan langsung ke Aekkanopan.
Setaraf tingkat mukjizat terjadi pada diriku yakni dengan dengan penuh semangat kuantar surat lamaran itu ke Aekkanopan. Syukur kepada Tuhan aku langsung bertemu dengan Bapak Drs.Edison Sinaga yang menjabat sebagai kepala Sekolah di SMA. St.Yosep Aekkanopan.
Dalam pembicaraan kami di kantornya, beliau menerima diriku sebagai pengganti teman yang menang CPNS itu. Setelah berakhir pembicaraan kami bahwa aku diterima, persoalan baru muncul yakni, “di mana aku tinggal?” Kalau harus ngontrak rumah aku tidak sanggup bila hanya mengandalkan gaji honor yang tidak seberapa itu.
Lalu tanpa pikir panjang kutemui Pastor Hiasintus Sinaga,ofm.Cap menjabat sebagai pastor koordinator asrama untuk menyampaikan niatku agar diijinkan tinggal di asrama  sekaligus sebagai pembina di sana. Sebentar saja kami berbicara sekedar berkenalan, langsung ia menyambut dengan positif dan menyuruhku menulis lamaran disertai kurikulum vitae.
Sekali lagi aku bersyukur sebab Tuhan mengabulkan doa anakku dan mengabulkan niatku untuk kembali mengajar sebagai guru agama meski hanya sebagai guru honor murni di SMA. St.Yosep.
Kini aku tinggal di asrama Santo Albertus Magnus Aekkanopan dengan dengan gaji honor di asrama yang tidak seberapa namun sekurang-kurangnya dengan gaji itu aku dapat membiayai ‘Cost Living” bulananku. Ya Tuhan berkatmu sungguh melimpah kuterima sambil menjalani garis edar hidup ini.

Akhir kata
Tuhan, Engkau sungguh amat baik
Engkau mendengar jerit tangis umatmu
Engkau mampu meringankan beban deritaku
Doa anak-anakku Engkau kabulkan
Kau hindarkan anak-anakku dari rasa “minder” dalam pergaulan dengan teman

Tuhan Engkau amat baik bagi kedua anakku
Engkau lindungi mereka selama tujuh tahun kutinggal pergi
Engkau lindungi diriku di sepanjang rute perjalanan
Tuhan Engkau sungguh bijaksana menyusun mozaik hidupku

Tuhan!
Perjalanan dalam garis edar hidup ini  masih amat panjang. Ukurannya ialah sepanjang hayat dikandung badan.

Tuhan!
Terimakasihku kepadaMu tiada tara
Tak sanggup aku menulis barisnya
Nafas kehidupan melimpah Kau curah
Hingga tulisan ini kutorehkan di atas kertas Engkau masih membiarkanku menghirup udara segar untuk memperpanjang garis edar hidupku

Tuhan!
Aku tetap mengajukan permohonanku:
Anugerahi aku kesehatan dan nafas panjang.
Impianku hanya ini, ijinkan aku melihat perkembangan masa depan kedua anakku
Beri aku roh kebijakan agar aku bijak dalam hidup.
Ijinkan aku membaktikan diri menjelang masa tuaku di SMA. St.Yosep.
Mudahkan seluruh prosesnya
Mampukan aku untuk tahan dan kuat berbakti
Besarkan aku dengan membesarkan asrama Santo albertus Magnus
Urailah seluruh benang kusut kehidupanku

Pintaku kepadaMu Tuhan
21 April 2013
          Pandenaker Simanjuntak, S.Ag

Tidak ada komentar: