Kini aku tinggal di rumah abang Kornelius Simanjuntak. Bayanganku
ia akan membantuku mencarikan pekerjaan. Hari berganti minggu, minggu berganti
bulan tak terasa, sebab aku disibukkan oleh pekerjaan rumah tangga di rumah
abang.
Betapa tidak, boleh aku tuturkan jenis
pekerjaan rumah tangga yang aku lakukan selama berada di rumah abang Kornelius
antara lain, mencuci piring, menggosok kain, mencuci popok bayi, menyapu rumah,
mengurus taman dan menyapu halaman.
Di tengah kesibukan harian inilah sesekali
aku mermbaca Koran untuk mencari lowongan kerja dan menulisi surat
lamaran-lamaran kerja. Beberapa kali aku dipanggil untuk wawancara oleh
perusahaan yang kulamar. Pernah sekali waktu aku dipanggil untuk mengikuti
psiko test oleh instansi pemberi kerja. Namun apa daya, nasib keberuntungan
tidak pernah hinggap pada diriku, membuatku tetap pada posisi pengangguran
besar-besaran.
Melihat kondisiku yang semakin tak stabil
akibat dilanda pengangguran besar-besaran, maka suatu saat abang Kornelius
menggunakan koneksinya di dunia asuransi yakni menyurati temannya agar
memanggilku untuk ditreining di perusahaan asuransi. Masih kuingat, letak
kantor perusahaan tempat aku ditreining itu di Jl.Rs.Fatmawati Jakarta Selatan.
Satu bulan penuh masa treining itu kuikuti dengan tekun. Aku masih ingat
bagaimana dilatihkan trik-trik untuk menarik hati calon nasabah agar rela dan
mau menandatangani polis asuransi.
Lagi-lagi aku gagal sebab aku harus jalan
kaki “door to door” mengunjungi rumah orang-orang kaya untuk diprospek jadi
calon nasabah. Dari penampilanku saja orang tidak yakin bila aku adalah seorang
petugas asuransi. Berkali-kali aku disambut oleh gonggongan anjing-anjing galak
milik tuan rumah si kaya di sekitar
kompleks perumahan elit hanya gara-gara mencari calon nasabah.
Akhirnya suatu saat, usai makan malam, kulaporkan kepada abang Kornelius bahwa aku
tidak sanggup melakukan pekerjaan prospek nasabah asuransi.
“Sudahlah, kalau begitu sabar saja
dulu, sambil menunggu ada kesempatan dan lowongan lain lagi” kata abang
Kornelius ketika itu
Untuk mengatasi rasa bosan sambil
sekedar cari uang rokok, akhirnya aku ikut angkot milik abang Kornelius .
Seingatku kurang lebih dua bulan lamanya aku ikut angkot, jadi kernet sang
sopir, demi sekedar uang rokok dan makanku stiap harinya.
Limit waktu atau batas pencarian
kerja di Jakarta yang sejak semula kutetapkan dalam benak hampir tiba. Nasib
tidak berubah yakni tetap dilanda pengangguran besar-besaran. Impianku akan
memperoleh sebuah pekerjaan di Jakarta kini sirna. Satu tahun aku melanglang
buana di Jakarta hanyalah sekedar menghabiskan waktu tanapa hasil. Kepada
beberapa teman keberi tahu bahwa aku
sudah tidak betah lagi tinggal di Jakarta. Aku harus kembali ke Sumatera.
Beberapa teman menaruh simpati sekaligus prihatin mendengar situasi hidupku dan
mereka menyantuni aku dengan memberi beberapa rupiah buat ongkos pulang ke
Sumatera.
Terakhir, aku pamitan kepada abang
Kornelius sambil menunjukkan selembar tiket bus “Makmur” yang sudah kubelikan
sebelumnya di terminal bus Pulogadung. Selamat tinggal ibukota Jakarta.
2.Tahun 1992-1993:
Di kampung Siantardolok.
Untuk kesekian kalinya aku terpaksa kembali
ke kampung tempat kelahiranku, tempat aku dibesarkan oleh kedua orangtuaku.
Kembali ke kampung dan kembali bersahabat dengan alam pondok ladang.
Suatu panggilan hidup? maka kembali ke
kampung? Tidak. Ini hanya sebuah pilihan terbaik dari seluruh pilihan terburuk.
Tidak pernah sedikitpun terbersit di benakku bahwa setelah memiliki gelar S-1
yang disebut “sarjana” itu aku akan kembali ke kampung halaman. Jiwa
“kebatakanku” yang dikenal sebagai perantau – sebab orang Batak dikenal oleh
masyarakat sebagai perantau - kini menemui kegagalan untuk kesekian kalinya.
Yang pasti aku telah mengalami sebuah kegagalan setelah satu tahun melanglang
buana di Jakarta untuk mencari
pekerjaan, pupus sudah. Sebuah pekerjaan sesuai latar belakang pendidikanku
kini tak kutemukan. Apa daya setelah gagal di ibukota Jakarta maka aku harus
tempuh pilihan akhir yakni pulang kampung untuk sambung nyawa meneruskan garis
edar kehidupan
Amat sedih kurasakan pada detik-detik
terakhir meninggalkan terminal bus pulogadung, teristimewa ketika sedang
menaiki tangga bus “Makmur” jurusan pulang kampung ke pulau Sumatera. Di dalam
bus, sambil duduk termangu, tiba-tiba pikiranku berubah, dari yang semula
menuju kampung kelahiranku, kini ingin menyinggahi kota Pekanbaru terlebih
dahulu. Pikirku, “Siapa tau kota
Pekanbaru bersahabat denganku, apa salahnya bila aku mencoba sekali lagi”.
Akhirnya kuambil kesimpulan dan kuputuskan bahwa aku harus singgah di kota
Pekanbaru.
Bus melaju kencang, tak terasa kini
posisiku sudah di penyeberangan Merak – Bakauheni mengarah dan menuju kota Pekanbaru. Tiada
sahabat, tiada kenalan, pun keluarga. Sama sekali tiada yang bisa kujadikan
sebagai tempat persinggahan awal di kota Pekanbaru.
Syukurlah sebab tiba-tiba saja aku bertemu dengan
seorang anak muda yang memiliki ibu semarga denganku yakni Simanjuntak di terminal
bus Pekanbaru. Anak muda itu tahu bahwa
aku seorang pendatang baru di kota itu, mungkin ia merasa iba dan langsung
mengajakku ke rumahnya. Ia memanggil “tulang” padaku sesuai dengan adat istiadat
orang Batak.
Kurang lebih empat hari aku tinggal di
rumahnya sambil tanya-tanya mana kala ada lowongan kerja bagiku demi
memperpanjang garis edar hidup ini. Kusempatkan
berkunjung ke pastoran Katolik Pekanbaru dan bertanya siapa tau mereka mau memberi
pekerjaan bagiku. Tetapi apalah daya, pegawai Pastoran Katolik Pekanbaru itu mengira
bahwa aku adalah seorang gelandangan dan menaruh curiga terhadapku hingga
akhirnya aku ditolak mentah-mentah.
Hitung-hitung
kesekian kalinyalah aku mengalami penolakan.
Aku kembali ke rumah boru Simanjuntak
tempat aku mondok buat beberapa hari. Sempat ditawarkan ibu boru Simanjuntak
itu sebuah pekerjaan padaku asal aku mau
yakni “mangimas” = membersihkan atau membabat hutan untuk dijadikan lahan
persawitan. Tawaran itu spontan kutolak.
Sementara itu aku rogoh kantongku bahwa di
dalam dompet uangku tersisa tinggal Rp.25.000,- lagi. Spontan aku berpikir, wah
ini masih cukup untuk ongkos bus dari Pekanbaru menuju kota Sibolga. Kupastikan
aku harus kembali ke Sibolga.
*di
kampung Siantardolok
Tahun 1992 adalah tahun permulaan aku
tinggal di kampung dengan sebuah paradigma baru. Kusebut sebagai suatu
“paradima baru” sebab setelah satu tahun penuh aku tinggal di Jakarta dan
dengan segala usaha sedaya mampu mencari pekerjaan, ternyata hasilnya hanyalah
sebuah kesia-siaan. Maka kini aku harus memulai kembali dari dasar nol. Artinya
aku harus memulai dari awal, aku harus menata hidup ini kembali dari dasar nol.
Kampung kelahiranku Siantardolok menjadi
tempat kaki berpijak sekaligus tempat di mana langit dijunjung. Alam pondok
ladang serta hutan rimba raya di sekitar harus kujadikan sebagai sumber atau
lahan untuk mencari rupiah dan sesuap nasi bagiku. Persis seperti awal mula
kisah penciptaan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama bahwa manusia pertama itu
harus mengucurkan keringat untuk mengolah alam ciptaan agar dapat
mempertahankan kehidupannya, demikian halnya aku.
Satu kepastian yakni aku harus mengolah
hutan rimba dan menjadikannya sebagai alam pondok ladang agar aku dapat
meneruskan garis edar hidup.
Sebagai anak sulung di tengah keluarga, ada
semacam beban moral terletak di pundakku sekaitan dengan rumah berkolong
berdindingkan tepas bambu serta beratapkan daun rumbia, kini kondisinya sudah
reot dan atapnya bocor. Maka beban pertama yang harus yang harus kutuntaskan
sebagai anak sulung di tengah keluarga ialah merenovasi rumah agar lebih layak
untuk dihuni.
Pertanyaannya ialah, “dari mana modal untuk
membangun rumah?” Sebuah jawaban pasti untuk pertanyaan ini ialah mengolah alam
rimba raya agar dapat menghasilkan uang. Hanya ini satu-satunya sebuah
kemungkinan yang tersedia bagiku untuk mendapatkan sejumlah uang.
Bersama Bapakku kami menyusun rencana dan
strategi untuk mewujudkan impian itu. Kami berdua sepakat untuk membuka
sebidang perladangan dengan cara menebang hutan rimba raya untuk dijadikan
kebun “nilam”. Mengapa harus menanam nilam? Bukan yang lain? Jawabnya sederhana
yakni tanaman nilamlah di antara sekian banyak kommoditi ekspor tingkat internasional
yang cepat menghasilkan uang. Itu alasannya.
Maka kami berdua (aku & Bapakku)
berangkat ke daerah “Attar Bunga” daerh lereng gunung dan memiliki lapisan
humus yang cukup tebal serta subur untuk dijadikan perladangan nilam. Jarak
tempuh lahan perladangan ini sekitar satu jam perjalanan dari kampung. Dengan
semangat berapi-api dan tekad membaja di dada mendorong kami hingga tak kenal
lelah bekerja banting tulang setiap hari
Usaha keras kami tentu saja menghasilkan
sebuah prestasi gemilang – sekurang-kurangnya menurut ukuran pribadiku – yakni
sebidang kebun nilam terbentuk dan tumbuh subur.
Amat mahir aku soal tanaman nilam ini.
Mulai dari mencari stek bibit nilam, cara menanamnya, cara memanen dan yang
paling penting diantara seluruh rangkaian kerja ialah cara menyuling nilam
sebab yang dijual di pasar internasional ialah minyaknya.
Berkat hasil penjualan minyak nilam pada
musim tanam awal saja aku sudah mampu mendatangkan seorang operator chainsaw
untuk mengolah bahan-bahan bersegi (broti) dari jenis kayu meranti untuk
dijadikan rangka rumah. Puas rasanya batinku ketika itu sebab bahan untuk
kerangka rumah telah tersedia. Sekarang
yang kupikirkan ialah bagaimana soal pengadaan atap seng.
Semangat kami untuk tetap berusaha tak
pernah surut malah semakin ganas. Aku bersama Bapak membuka lahan baru di
pinggiran lahan pertama untuk periode musim tanam kedua. Setelah musim panen
tahap kedua kami menuai hasil gemilang. Akhirnya kami mampu membeli atap seng
sebanyak enam kodi, cukup untuk atap rumah sesuai perencanaan awal. Kini
seluruh bahan yang dibutuhkan untuk membangun rumah tersedia sudah.
Apakah rumah langsung dibangun? Tunggu
dulu. Ada sederet alasan tergolong postif sifatnya yang mengganjal sehingga
untuk beberapa bulan bahkan dua tahun
berikutnya barulah terwujud pembangunan rumah yang direncanakan sejak awal.
Bukan hanya soal renovasi rumah yang
menjadi beban moral, masih ada lagi yakni soal sembako sebagai kebutuhan amat
vital dan dasariah sekali.
Untuk menjawab persoalan ini kami berdua
(aku & Bapakku) tetap melaksanakan tugas rutin menyadap karet. Hasil dari
penjualan karet kami alokasikan untuk membeli sembako sebagai kebutuhan yang
tak dapat ditunda pemenuhannya.Sekali dalam seminggu tepatnya setiap hari Senin
kami menjual karet dan hasilnyadialokasikan untuk kebutuhan sembako.
Dua tahun lamanya pekerjaan ini kutekuni
tak kenal lelah dan tetap semangat demi sebuah “paradigma baru” yang kusebut di
bagian awal tulisan ini.
Di
tengah perjalanan waktu sambil garis edar hidup berlangsung aku ditawari oleh
Kepala Sekolah SD Negeri di Siantardolok untuk mengajarkan materi pelajaran
agama Katolik sebab kebutulan seluruh murid di SD tersebut seratus persen
beragama Katolik. Kepala Sekolah menghubungi pastor paroki agar memberikan SK
honorer kepadaku dan ternyata SK tersebut dikucurkan. Hanya sekali dalam
seminggu aku masuk dan gaji honorku dicairkan sekali dalam enam bulan di kantor
paroki. Seingatku hanya sekali saja aku menandatangani amprah gaji honor yang
tidak seberapa jumlahnya. Itupun kusyukuri sambil menjalani garis edar hidup di
kampung.
3. Januari 1994 aku di kota Kisaran
Sebenarnya sedikitpun tidak pernah terbersit
di benakku bahwa suatu ketika aku berada di kota Kisaran. Sedikitpun tidak.
Jadi kalau begitu mengapa aku berada di kota Kisaran? Alkisahnya sederhana saja
sebagai berikut:
Suatu ketika seorang suster dari
konggregasi KSFL datang ke kampung dalam rangka berkarya pastoral, aku lupa
nama suster itu – kejadiannya masih kuingat di bulan Desember 1993 – tahu bahwa
di SMA Panti Budaya Kisran lowong guru agama Katolik dan sedang mencari guru
agama. Suster yang mengetahui latar belakang pendidikanku dan penderitaan batin
yang melanda diriku menyampaikan imformasi lowongan kerja tersebut, itupun bila aku bersedia dan mau. Dlam
pembicaraan dengan suster itu, pada awalnya aku menolak. Tetapi karena bujuk
rayu dan rupanya suster itu merasa sayang bila ilmu yang kuperoleh selama duduk di bangku pekuliahan sia-sia
begitu saja, akhirnya permintaan suster itu kuamini.
“Kalau kau mau untuk mengisi lowongan itu
biar nanti kucek segala persyaratan yang diperlukan. Tunggulah surat dari saya”
tutur suster itu padaku.
Suatu harapan baru akan masa depan yang
lebih cerah terbit dalam garis edar hidupku. Beberapa minggu kemudian surat
yang dijanjikan oleh suster sampai ke tanganku. Dengan perasaan harap-harap
cemas surat itupun kubuka. Ternyata isi dari sepucuk surat itu ialah sebagai
berikut: Tgl. 4 Januari 1994 aku sudah harus berada di depan kelas untuk
membawakan mata pelajaran agama Katolik.
Kegembiraanku terasa semakin meluap-luap.
Berarti aku akan menerima gaji setiap bulannya. Begitu spontan aku berpikir.
Ketika surat panggilan kerja dari suster
itu kuterima, kondisi rumah orangtuaku yang hendak direnovasi itu sudah semakin
reot. Sempat timbul dilema dalam benakku sekaitan dengan rencana renovasi
rumah. Bagaimana caranya membangun rumah bila aku sudah mengajar di Kisaran?
Mungkinkah aku membangun rumah tanpa pengawasan? Sementara aku telah berjuang
mati-matian untuk pengadaan seluruh bahan bangunan.
Akhirnya kuputuskan harus berangkat ke
Kisaran untuk memenuhi panggilan kerja dari suster. Toh nanti bila aku sudah memiliki
gaji dan mempunyai tabungan pasti aku bisa membangun rumah di kampung meskipun
aku berada di Kota Kisaran.
Setahun kemudian setelah aku berada di
Kisaran:
Akan dilaksanakan perenovasian rumah itu?
Tentu tidak. Mengapa? Rupanya hukum alam berikut “bila jauh dari mata jauh juga
dari hati” berlaku. Nasib malang menimpa bahan bangunan yang kutumpuk dan
kutinggal di kampung kondisinya hampir busuk diterpa oleh air hujan.
Hari berganti hari dan minggu berganti
bulan berlalu tak terasa menghiasi ruang gerak garis edar hidupku di kota
Kisaran. Sementara itu aku membutuhkan banyak waktu untuk penyesuaian hidup di
kota Kisaran. Maklum di kota ini tiada kenalan,
sahabat, pun keluarga bagiku.
Pelan-pelan sambil menikmati jalannya garis
edar hidup, aku memiliki beberapa teman anak muda dan juga beberapa anak gadis
termasuk seorang gadis istimewa yang akhirnya kupersunting menjadi istriku.
Terhadap gadis istimewa ini aku berpacaran selama 10 bulan dan kami menikah
tepatnya di bulan Oktober 1994. Tahun 1995 kami dikaruniai oleh Tuhan seorang
anak perempuan.
Apakah rencana renovasi rumah di kampung
sudah terealisasi? Belum! Tunggu dulu, masih ada yang lebih penting yakni soal
biaya kontrakan rumah tinggal.
Rumah pertama yang kami kontrak terletak di
Jln.Hj.Juanda Gg Rambutan. Entah berapa tahun kami tinggal di rumah kontrakan
ini, aku tidak persis mengingatnya lagi.
Yang
kuingat – ketika itu kami masih menempati rumah kontrakan pertama – Bapak
pernah datang bersama Lae mengunjungi kami ke Kisaran. Saat itulah Bapak bercerita
bahwa kayu berbentuk broti dan papan sebagai bahan untuk keperluan renovasi
rumah – yang dulu kusimpan sebelum aku berangkat ke Kisaran – kini kondisinya
semakin lapuk dan hampir busuk. Maka mau tidak mau harus sesegera mungkin
direalisasi perenovasian rumah itu.
Akhirnya sejumlah uang kami sediakan untuk
dibawa pulang ke kampung oleh Bapak agar pelaksanaan renovasi rumah dapat
dimulai.
Hingga tulisan ini kutorehkan di atas
kertas, rumah yang direnovasi itu masih
utuh dan dalam kondisi layak huni.
*menjadi
seorang guru agama
Januari 1994 adalah permulaan bagiku
berdiri di depan kelas untuk membawakan mata pelajaran Agama Katolik di SMA.
Panti Budaya satu-satunya SMA Katolik di
Kabupaten Asahan. Masih kuingat pada hari pertama aku mengajar di SMA Panti
Budaya langsung diangkat oleh Kepala Sekolah sebagai wali kelas III IPS.
Meski merasa agak canggung – sebab para
siswa yang kuajari hampir sama besar badan dan tingginya dengan badanku – namun
seluruh tugas-tugas sebagai guru bidang studi dan tanggungjawab sebagai wali
kelas kulaksanakan sebaik mungkin dan sedaya mampu.
Rasa canggung tampil sebagai guru di depan
kelas dibanding penampilan rekan-rekan guru lainnya dapat kumaklumi sebab di
antara seluruh staf pengajar di SMA Panti Budaya hanya aku yang tidak berasal
dari jurusan keguruan. Aku ketinggalan dalam hal metode didaktik dibanding
dengan mereka. Aku terpaksa belajar dari pengalaman di lapangan untuk
menghadapi persoalan-persoalan seputar kesiswaan.
Meski begitu akhirnya sesuai perjalan garis
edar hidup pelan-pelan aku bisa menyamai rekan-rekan guru lainnya.
Setelah tiga tahun lamanya kujalani sebagai
guru percobaan, akhirnya Kepala Sekolahku Drs.Michael Manik mempromosikan
diriku ke Yayasan Dharma Sejati – waktu itu SMA. Panti Budaya berada di bawah naungan yayasan
Perguruan Katolik Dharma Sejati – agar diangkat menjadi guru tetap yayasan.
Kepangkatan dan golonganku dimulai dari golongan II b kendati aku melamar dengan menggunakan
ijasah Strata Satu. Entah mengapa cara penggolongannya demikian aku sendiri benar-benar kurang faham.
Seingatku pernah sekali waktu kuterima SK kenaikan gaji berkala menuju jenjang
kepangkatan/golongan IIc. Pekerjaanku sebagai guru agama terus kulaksanakan
dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya aku diangkat menjadi golongan IIc
Pada
tahun 2000 aku berhenti menjadi seorang guru agama di SMA. Panti Budaya
Kisaran. Mengapa aku berhenti mengajar Agama di SMA. Panti Budaya, biarlah
nanti saja kuceritakan pada bagian berikut dari tulisan ini.
4.Tahun 2000 mengikuti testing
penerimaan CPNS guru agama Katolik untuk formasi Kabupaten Asdahan.
Ketika Abdurrahman Wahid menjadi presiden
Republik Indonesia, dalam masa pemerintahannya, nilai-nilai solidaritas
terhadap pemeluk agama dan aliran kepercayaan dijunjung tinggi. Terbukti dalam
masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang dikenal di area publik dengan
julukan “Gusdur” itulah kran air yang macet selama masa pemerintahan Orde Baru
dibuka kembali. Maksudnya, hubungan terhadap pemeluk agama lain yang selama ini
macet, kini dicairkan kembali. Intinya ketika presiden Gusdur berkuasa di
negeri ini, barulah terbuka kesempatan seluas-luasnya untuk penerimaan CPNS guru
agama termasuk guru agama Katolik.
Quota untuk agama Katolik cukup besar
jumlahnya di seluruh Indonesia. Maka pada masa itu ramai-ramai orang melamar CPNS guru agama Katolik, termasuk aku
ikut-ikutan di dalamnya.
“Sorry” sebenarnya aku tidak dalam barisan
ikut-ikutan melamar CPNS guru agama. Amat panjang cerita suka maupun duka dalam
perjalanan garis edar hidupku sekaitan dengan pelamaran CPNS guru agama ini.
Aku mulai dari bagian cerita sukanya:
Persis kuingat – ketika itu sekitar pukul 09.00 pagi aku sedang mengajar di dalam ruangan kelas –
pejabat Bimas Katolik Kabupaten Asahan Pak Ginting nama panggilannya – datang
ke kompleks SMA .Panti Budaya untuk menjemputku agar segera mendaftar serta
mengisi formulir di kantor Depag Asahan untuk mengikuti test.
Sempat aku berdialog dengan Pak Ginting itu
di halaman sekolah SMA. Panti Budaya perihal syarat-syarat yang dibutuhkan.
Tetapi Bapak itu menyarankan ikut testing saja dulu. Soal persyaratan biarlah
diurus belakangan saja. Lalu aku dibonceng oleh Pak Ginting dengan sepeda
motornya menuju kantor Depag dengan tujuan agar cepat-cepat mendaftar.
Sebenarnya di awal pembicaraan kami di
halaman SMA. Panti Budaya, sudah kukatakan kepadanya bahwa aku tidak
memiliki akta untuk mengajar tetapi ia
jawab semuanya itu bisa diurus belakangan hari. Pada hal aku tahu bahwa akta
mengajar adalah salah satu syarat mutlak yang dibutuhkan.
Sebernarnya bila dirunut lagi jauh ke
belakang, sedikitpun tak pernah terbersit di benakku bahwa aku suatu ketika
akan menjadi seorang guru PNS. Aku benar-benr sadar bahwa aku bukan dari
jurusan keguruan. Aku hanyalah seorang alumni dari Fakultas Filsafat
Universitas Katolik St. Thomas berijazah S-1 non akta. Maka dari awal aku tak
pernah bercita-cita menjadi seorang guru PNS. Diterima saja aku mengajar di
SMA. Panti Budaya Kisaran sudah merupakan sebuah nikmat syukur besar bagiku.
Namun dalam perjalanan waktu sambil
menyelesaikan garis edar hidup telah terjadi fakta, bahwa aku telah menjadi
seorang pelamar CPNS guru agama Katolik untuk Kabupaten Asahan hanya dengan
bermodalkan sebuah keyakinan bahwa Bimas Katolik dalam hal ini Pak Ginting akan
berusaha keras untuk menggolkan hingga menjadi PNS. Hanaya berpegang pada
keyakinan itu maka aku berani untuk melamar CPNS guru agama.
Pendek cerita beberapa hari kemudian
diberitahukan oleh Pak Ginting kepadaku agar bersiap-siap mengikuti testing.
Kuamini pemberitahuan itu.
Hari H untuk testing CPNS guru agama itu
tiba. Aku bergegas dari rumah sambil membawa peralatan yang dibutuhkan untuk
mengikuti testing. Semua peserta termasuk aku
memasuki ruangan testing. Semua peserta duduk teratur sambil menunggu
naskah soal dibagikan oleh penyelenggara. Aku juga duduk tenang sambil menunggu
soal dibagikan untukku.
Satu tanda entah tanda apa namanya, dan
menyiratkan apa, aku tidak tahu. Bila jeli membaca tanda atau gejala, ini sudah
merupakan gejala atau tanda kedua setelah tanda pertama yakni tidak memiliki
akta mengajar namun diterima dalam
pendaftaran dan diberikan nomor ujian, kini muncul.
Tanda atau gejala apa itu? Situasinya
begini: Semua peserta ujian dalam ruangan itu sudah memiliki naskah soal untuk
dijawab. Hanya aku seorang diri yang tidak memiliki naskah soal utuk
dikerjakan. Lalu kepada penyelenggara aku mengajukan keberatan dan dijawab oleh
penyelenggara bahwa naskah soal untuk peserta ujian S-1 Agama Katolik tidak
ada. Sementara teman-temanku pelamar CPNS guru agama Katolik lainnya, mereka
semuanya memperoleh naskah soal. Sempat
aku bingung dan merasa canggung menyaksikan teman-teman lagi asik-asiknya
mengisi lembar jawaban.
Aku bertanya dalam hati,
“Kok begini jadinya?”
Sementara itu Pak Ginting dari Bimas
Katolik Kabupaten Asahan menenangkan perasaanku dengan berkata, “Akan kita upayakan mencari soal dari Bimas
Katolik Provinsi Sumatera Utara untukmu. Jangan pulang dulu! Bertahan saja
dalam ruangan ini hingga waktu untuk testing berakhir.” Begitu ucapan yang
meluncur dari Pak Ginting waktu itu.
Dua atau tiga hari kemudian – aku tidak
persis mengingatnya – Pak Ginting muncul kembali di halaman SMA. Panti Budaya
untuk menjemputku agar hari itu juga aku
melaksanakan ujian tulis di kantor Depag Kabupaten Asahan. Kuturuti permintaan
itu dan segera melaksanakan ujian tulis pada salah satu ruangan di kantor
Depag.
Sekali lagi aku bertanya dalam hati
kecilku, “Kok aku belakangan melaksanakan ujian tulis , sendiri pula di kantor
Depag ini!” Begitu aku bertanya sambil menggerutu di dalam hati.
Beberapa minggu kemudian – aku tidak persis
mengingatnya – pengumuman hasil ujian test di tempel di papan pengumuman di
kantor Depag. Aku bergegas dengan mendayung sepeda butut dari rumah menuju
kantor Depag. Kucari nomor ujianku di papan pengumuman tersebut dan ternyata
nomorku dicantumkan diantara deretan nomor peserta lainnya. Itu berarti aku
lulus testing tulisan.
Sejenak detak jantungku berdegup kencang
pertanda aku sedang merasa bahagia karena lulus testing. Akankah kebahagiaan
ini berlangsung lama? Sabar! Nanti akan kuceritakan panjang lebar pada
baris-baris berikut dari tulisan ini.
Keesokan
harinya teman-teman CPNS guru agama Katolik berdatangan ke rumah untuk menyusun
berkas dan menulis dengan tangan format surat lamaran untuk dibawa ke Medan guna mengikuti “kliring
test”. Akupun tak ketinggalan. Kulakukan seperti apa yang mereka buat sembari
merencanakan keberangkatan ke Medan.
Aku
masih persis mengingatnya bahwa aku bersama beberapa teman berangkat ke Medan
pukul 01.00 dini hari dengan menumpang kereta api jurusan Kisaran – Medan.
Empat jam perjalanan lamanya jarak Kisaran
– Medan. Pukul 05.00 dini hari rombongan kami
tiba di stasiun kereta api Medan. Dari stasiun kereta api, dengan angkot
kami langsung meluncur menuju rumah teman untuk beristirahat sejenak sambil
menunggu sarapan pagi disiapkan. Direncanakan kliring test mulai pukul 08.00
pagi.
Aku masih ingat bagaikan semut berjubel
manusia-manusia CPNS siap-siap dengan barisan antri untuk mendapatkan blangko
isian guna keperluan kliring test. Blangko itu tidak didapatkan secara gratis
begitu saja, melainkan harus dibeli dengan sejumlah kocek. Aku masih ingat,
untuk memperoleh blangko isian itu saja aku harus mengeluarkan uang dari
dompetku sebesar Rp. 150.000.- Setelah memperoleh blangko isian itu barulah kemudian kliring test dapat dimulai.
Aku lakukan itu semuanya lalu kukumpulkan kepada badan penyelenggara. Sekitar
pukul 16.00 sore barulah aku kembali ke Kisaran dengan naik bis.
Proses berikutnya – aku lupa entah beberapa
minggu kemudian – dilakukan pemberkasan tahap akhir di Depag Sumatera Utara
untuk seterusnya dilanjutkan ke Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) di
Jakarta. Setelah seluruh berkasku diperiksa oleh Bimas Katolik Propinsi
Sumatera Utara, dinyatakan bahwa berkas milikku tidak bermasalah dan sudah bisa
dikirim ke Jakarta. BAKN akan mengirimkan Nomor Induk Kepegawaian (NIP) beserta
pangkat dan golongan ke Depag Sumatera Utara untuk seterusnya menerbitkan SK
penugasan aktif mengajar.
Satu tanda tanya besar bagiku terjadi
ketika teman-teman mendapat surat panggilan agar datang ke kantor Depag
Sumatera Utara untuk menjemput nota tugas (SK) mengajar, sementara aku tidak
mendapat panggilan.
Arti dari tanda-tanda atau gejala, lebih
tepat kusebut saja “kendala” yang kualami ketika test tertulis berlangsung
yakni hanya aku yang tidak kebagian soal, kini semakin tersibak.
Meski begitu realitanya, akal sehatku masih
berjalan normal. Aku coba melacak informasi kepada Pak Ginting (Bimas Katolik
Kabupaten Asahan) untuk mencari tahu mengapa aku tidak mendapat panggilan untuk
menjemput SK tugas. Jawaban beliau, “sabar dulu, mungkin ada kendala atau coba
telepon saja ke Jakarta untuk mencari jawaban yang pasti.
Mengapa aku selalu bertanya kepada Pak
Ginting (Bimas Katolik Kabupaten Asahan)? Logikanya sederhana saja: Aku yakin
dari semula bahwa beliau mampu dan rela membantu untuk seluruh kelancaran
proses menuju gol PNS guru agama Katolik. Lagi pula dengan sengaja aku pernah
mengajaknya ke sebuah restoran untuk mencari tempat lebih santai agar aku bisa
menandaskan kepada beliau bahwa seluk beluk proses menuju PNS sama sekali aku
buta. Itu dasarnya maka selalu saja aku bertanya kepada Pak Ginting pejabat
Bimas Katolik itu.
Pendek cerita aku tidak sabar lagi menunggu
informasi dari Pak Ginting perihal keterlambatan panggilan untukku. Lalu aku
langsung terobos ke tingkat lebih tinggi yakni berangkat ke Medan dan bertanya
kepada pejabat Bimas Katolik Sumatera Utara. Di sana aku menjumpai Ibu Sinurat
dan bertanya,
“Mengapa aku belum juga terpanggil Bu?” Jawaban
yang kuterima langsung dari Ibu Sinurat sebagai berikut:
“Apakah Pak Ginting tidak menyampaikan
kepada Bapak mengenai berkas Bapak yang bermasalah? Ini ada surat dari BAKN
yang menyatakan mengenai kesalahan berkas milik Bapak yaitu, legalisir ijazah
salah. Yang meleges ijazah Bapak bukan Depag melainkan Kopertis Wilayah I.
Kemudian mengenai akta IV untuk kwalifikasi kelayakan mengajar. Mengenai hal
ini bisa menyusul kemudian. Tenggat waktu perbaikan berkas paling lambat 2
minggu dan harus sampai di BAKN” Begitulah penjelasan langsung yang kuterima di
kantor Bimas Katolik Sumatera Utara di Medan.
Dengan
perasaan amat kesal, buru-buru kutinggalkan kantor itu sebab harapan menjadi
PNS guru agama jelas kini sirna sudah. Mengapa? Karena aku telah kedaluwarsa
mengetahui informasi.
*impian menjadi PNS guru agama Katolik
sirna di telan masa – untuk tidak menyebut hantu
Jelas
dan bahkan amat jelas bahwa perjalanan waktu dalam rangkaian garis edar hidup
telah perkasa memberi bukti bahwa aku gagal meraih PNS guru agama Katolik di
Kabupaten Asahan. Pukulan batin akibat stress tingkat tinggi bahkan hampir
mencapai ambang batas – untuk tidak menyebut hampir gila – terjadi pada diriku.
Pukulan
batin itu kian terasa amat berat sebab di Yayasan Dharma Sejati ada butir
peraturan yang mengatakan bila seorang pegawai melamar PNS dan dinyatakan
menang dalam pelamaran itu maka pegawai tersebut wajib mengundurkan diri dari
Yayasan. Hal itu berarti aku telah mengundurkan diri terlebih dahulu sebelum
aku mengetahui kegagalan proses dalam pelamaran PNS guru agama Katolik di
Kabupaten Asahan.
Yang
pasti aku tidak bisa diterima kembali mengajar di SMA. Panti Budaya karena
telah mengundurkan diri dari Yayasan.
*nongkrong setiap hari di kedai kopi
Kedai kopi milik Pak Siburian yang dibangun
di samping kantor pos Kisaran adalah saksi bisu yang tak dapat ditanya mengapa
begitu setia aku mengunjunginya bahkan sampai tiga kali dalam sehari. Adalah
saksi bisu setara sahabat yang dapat memahami isi lubuk hati seseorang ialah
kedai kopi Pak Siburian. Kutemukan kedamaian di tempat ini. Udaranya bertiup
sepoi-sepoi basa dapat menghilangkan stress. Betapa tidak, di kedai kopi ini
aku bisa tertawa bahkan terbahak-bahak bersama teman sambil bermain catur
sepuas-puasnya.
Kehadiran kedai kopi Pak Siburian ini
rasanya dapat menolongku agar kedua
tungkai kakiku kuat menempuh perjalanan panjang untuk menyelesaikan garis edar
hidup ini.
Tak dapat kupungkiri bahwa istriku amat
mengerti dan memahami secara mendalam persoalan yang sedang menimpa diriku.
Dalam diskusi-diskusi kami di rumah ia tidak merendahkanku sebagai seorang
suami yang bernasib malang. Ia selalu memotivasiku agar jangan sampai gelap
mata memandang dunia ini sempit dan tak punya arti apa-apa. Ia selalu
membimbingku agar mampu melihat bahwa dibalik setiap peristiwa selalu memiliki
makna tersembunyi.
“Jangan
kau berpikiran sempit dan mengira bahwa PNS lah satu-satunya sumber hidup
bagimu. PNS hanyalah salah satu diantara sekian banyak pekerjaan yang dapat
dijadikan sebagai sumber hidup. Jangan berpikiran sempit dan bertindak bodoh.
Lihat kedua anakmu yang masih kecil-kecil ini, mereka belum tahu apa-apa
mengenai peristiwa ini. Yang pasti mereka sangat membutuhkan perhatian dan
kasih sayang dari seorang Bapak. Jangan
ikutkan mereka berdua menanggung penderitaan ini.”
Begitulah hampir setiap hari istriku
memberi peneguhan agar aku tabah dan kuat untuk menanggung derita yang sedang
menimpa diriku. Semua kalimat-kalimat motivasi dari istriku ini kuamini, hingga
pada gilirannya meski secara amat perlahan akhirnya aku dapat menerima
kenyataan pahit itu.
Tak kusangka bahwa istriku mampu bertindak
arif sebijak demikian.Terimakasih ya Tuhan Engkau memberiku seorang pendamping
hidup yang amat bersahaja.
Peristiwa yang amat memilukan ini terjadi
pada tahun 2000 dan berlangsung hingga pertengahan tahun 2002. Dalam kurun
waktu ini aku saban hari berada di kedai kopi Pak Siburian Kantor pos.
Pagi hari selekas aku bangun dari tempat
tidur pekerjaanku ialah duduk berangan-angan sambil merokok. Tak sudi dan tak
suka aku berbicara di rumah kecuali bila istriku yang lebih dulu mengajak.
Sarapan pagikupun yang sudah terhidang di atas meja makan kerap kali kutinggal
begitu saja tak kusentuh dan langsung berangkat ke kedai kopi Pak Siburian
Kantor pos.
Bila waktu untuk makan siang tiba, akupun
kembali ke rumah untuk makan siang.
Selesai makan siang aku kembali lagi ke kantor pos dan baru akan kembali ke
rumah bila jam untuk makan malam tiba.
Dua
tahun lamanya garis edar kehidupanku dimozaik oleh adikuasa alam jagat raya,
bercita rasa duka nestapa dan berwarna kelabu mendekati hitam.
5. Berlagak bagai seorang penjual
pisang kepok profesional
Dua
tahun lamanya nongkrong tiap hari bahkan tiga kali dalam sehari untuk
menghabiskan waktu sambil buang stress, akhirnya terasa membosankan juga. Pada
awalnya memang cara itu (nongkrong di kedai kopi) terasa dapat membantu untuk
meringankan beban jiwa. Namun bila dikaji lebih mendalam rasanya cara itu
bukan mengurangi masalah melainkan malah
menambah kwantitas masalah. Betapa tidak, dengan duduk atau nongkrong di kedai
kopi selama dua tahun, itu berarti sama saja dengan memperpanjang masa PBB
(Pengangguran Besar-Besaran) dua tahun pula. Pendeknya duduk berlama-lama di
kedai kopi itu kini terasa membosankan sudah bagi diriku. Duduk di kedai kopi sama
saja dengan menghabiskan sejumlah uang di tengah pengangguran besar-besaran.
Aku
mulai berpikir-pikir untuk mencari kerja entah kerja apa asal halal dan dapat
menghasilkan sedikit-sedikit rupiah untuk meringankan beban ekonomi rumah
tangga. Gamang aku entah mau kerja apa. Kudiskusikan perasaan batinku kepada
istriku dan ia menyambutnya dengan baik.
Kini persoalannya bergeser ke jenis kerja
halal apa yang dapat menghasilkan uang. “Keja apalah ya?” Begitu rumus
pertanyaannya.
Bertemulah dengan namboru “Boru Juntak” –
begitu aku memanggil ibu itu – yang rumahnya terhitung tidak seberapa jauh
jaraknya dari rumah kami. Ibu ini – disamping satu marga denganku, kebetulan
memiliki kios sewaan di pajak Bakti – berkunjung ke rumah dan memberi saran
agar aku berjualan pisang Kepok di Pajak Bakti.
Panjang lebar namboru ini menjelaskan teori
dan kiat berjualan pisang kepok, mulai dari mencari sendiri pisang kepok, cara
mengkarbetnya, cara meletakkannya di atas meja jualan, menentukan harga
jualnya, hingga memprediksi laba perhariannya. Semua dijelaskan dengan cukup
rinci hingga aku merasa tertarik untuk melakoninya.
Dengan sepeda bututku warna hitam, aku
melaju menuju arah Air Joman sebab di sana banyak masyarakat menanam pohon
pisang Kepok. Tiada rasa enggan dan gengsi lagi bagiku memasuki halaman
belakang rumah orang sekedar bertanya apakah pisang Kepoknya dijual.
Hari pertama aku bernasib mujur memperoleh
dua tandan pisang Kepok siap untuk dikarbet. Kedua tandanan pisang Kepok
tersebut kusisiri dan kukarbet di dalam goni plastik. Sehari kemudian siap
untuk dijual.
Masih kuingat, pukul 02.00 dini hari di hari pertama itu aku
bangun dari tempat tidur dan segera menyusun sisiran pisang Kepok hasil
karbetan itu ke atas boncengan sepeda siap untuk berangkat ke pajak Bakti. Di
hari pertama hanya 5 sisir yang laku terjual dengan harga jual dibawah modal.
Maklum semua pembeli membodoh-bodohi aku sebab mereka tahu bahwa aku adalah
seorang pemula. Pukul 05.00 di hari
pertama itu tiada lagi pembeli yang menyenggol barang jualanku. Akhirnya aku
tidak sabar dan menyusun kembali pisang yang tidak laku itu ke boncengan
sepedaku kemudian pulang ke rumah dengan wajah cemberut.
Sebenarnya di hari yang kedua aku tak mau
lagi berangkat ke pajak Bakti, namun mengingat banyak lagi pisang kepokku yang
siap jual, akhirnya kupaksakan juga diriku menuju pajak Bakti. Di hari kedua
ini, memang pisangku habis terjual, tetapi setelah menghitung penjualan
ternyata aku tekor yakni lebih besar modal dibandingkan dengan penjualan.
Terakhir aku putuskan stop berjualan pisang.
6. Jualan bumbu di kaki lima (2003)
Setelah tumpur jualan pisang Kepok di pajak
Bakti Kisaran aku kembali ke posisi pengangguran besar-besaran. Kali ini aku
tidak lagi nongkrong di kedai kopi Pak Siburian, tetapi lebih banyak berdiam
diri di rumah. Kegiatanku hanya mengerjakan pekerjaan di rumah saja mulai dari
menyapu rumah,cuci piring, menggosok dan lain-lain. Pokoknya aku menyibukkan
diri dengan pekerjaan rumahan saja.
Lama kelamaan pekerjaan inipun terasa
membosankan juga. Perasaan gelisah apalagi dikaitkan dengan status seorang
bapak keluarga berpangkat kepala rumah tangga mengusik jiwa.
“Akankah seterusnya garis edar hidupku akan
tetap begini-begini saja?”
“Apa yang akan kulakukan seiring
berputarnya jarum jam pemusnah sang waktu?” Begitu aku berpikir-pikir di dalam
hati yang membuat nyali kebapaanku apalagi berpangkat kepala keluarga kian
terusik.
Sebuah terobosan baru untuk meretas
kebuntuan hidup ini tidak juga kunjung tiba. Sebuah pekerjaan yang dapat
mengangkat taraf hidup dan sedikit mengangkat status tetap tidak ada. Kembali pada
status pengangguran besar-besaran.
Setelah berdiskusi dengan istriku – setahu
bagaimana – aku dianjurkan agar kembali melakukan kegiatan berjualan di pajak.
Dengan bermodalkan pengalaman menyedihkan ketika berjualan pisang Kepok di
pajak Bakti akhirnya aku nekad dan berani memulai kegiatan berjualan kembali.
Kini aku berjualan di Jln.Hj.Misbah
Kisaran. Jenis daganganku bukan lagi pisang Kepok melainkan jenis bumbu-bumbu
dapur antara lain bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, asam jeruk, asam
potong, kapulaga, merica, ketumbar, jintan, kayu manis, hingga ajinomoto.
Syukurlah berkat mental baja dan semangat
berapi-api akhirnya membuahkan hasil. Berkat hasil jualanku, aku bisa menutupi
biaya untuk membeli ikan dan sayur setiap harinya dan kubawa pulang ke rumah.
Kenangan terakhir dari hasil penjualan
bumbu-bumbu dapur di pajak pagi Jln.Hj.Misbah Kisaran, hingga kini masih ada di
rumah dan masih layak pakai. Yang aku maksud ialah seperangkat CD Player yang
ada di rumah adalah sebagai tanda kenangan hasil dari penjualan bumbu-bumbu
dapur.
6. Back to my village 2003: Membuka
perladangan Cokelat dan Karet.
Kini pilihanku harus kembali ke kampung
meski sungguh berbeda nuansanya dibandingkan ketika masih anak muda harus
kembali ke kampung karena tidak memperoleh pekerjaan selama satu tahun masa
pencarian di ibukota Jakarta.
Pilihan harus kembali ke kampung berlatar
belakang sebagai berikut: Tiada lagi bagiku kemungkinan untuk mengajar di
sekolah Katolik di Kisaran. Artinya tertutup kemungkinan untuk kembali mengajar
di SMA. Panti Budaya sebab guru agama waktu itu
telah diisi oleh seorang suster. Peristiwa ini berlangsung sekitar bulan
Oktober 2003.
Maka setelah berdiskusi panjang lebar
bersama istriku di rumah, kami putuskan bahwa kemungkinan untuk mengajar
kembali di Panti Budaya sama saja artinya dengan berlama-lama menunggu sesuatu
yang tidak pasti, lalu sepakat kembali ke kampung untuk membuka lahan tanaman
cokelat dan karet.
Keputusan ini diperkuat dengan alasan bahwa
pada masa itu di perguruan Katolik Panti Budaya lagi “demam-demamnya” membuka
lahan persawitan. Hal itulah yang kian mendorongku untuk berani maju dengan
tekad bulat membuka lahan di kampung.
Mengapa pula harus di kampung dan bukan di
tempat lain? Alasannya sederhana yakni di kampung tidak perlu lagi membeli
lahan sebab lahan milik orangtua kebetulan masih banyak yang kosong.
Aku masih ingat persis bahwa keputusan kuat
untuk membuka lahan di kampung karena mendapat dukungan dari ito
(saudariku=adek kandungku) Mamak Suri. Di pertengahan tahun 2003 mamak Suri
berpesta “membayar adat na gok” kepada orangtuanya yakni kepada Bapakku, maka
mau tak mau aku harus menghadiri pesta tersebut. Hanya aku bersama Vantri dari
keluarga di Kisaran yang menghadiri pesta itu.
Satu minggu lamanya aku bersama Vantri
tinggal di kampung setelah usai menghadiri pesta itu. Tentu ada banyak
kesempatan untuk berdiskusi dengan kedua orangtuaku perihal keinginanku untuk
membuka ladang di kampung. Keinginan itu dismabut baik oleh kedua orangtuaku.
*6 bulan pertama aku di kampung
Merinding bulu kudukku mengenang kembali
kilas balik keberangkatanku ke kampung halaman untuk mewujudkan niat membuka lahan
Cokelat di kampung. Kusediakan bibit cokelat jenis unggul dari Kisaran. Satu
karung penuh tungkul-tungkul cokelat yang belum dikupas kulitnya aku siapkan
untuk dibawa ke kampung.
Kedua anakku (Tiarma lagi duduk di bangku
SMP dan Vantri ketika itu masih SD) bersama istri mengantar aku ke loket bus
“Sanggarudang” jurusan Kisaran-Sibolga. Tak kuasa aku menahan air mata ketika
aku memeluk sambil mencium satu persatu wajah kedua anakku pada detik-detik menjelang
keberangkatanku menuju kota Sibolga.
Saat bus bergerak kulirik ke belakang dari
jendela bus, mereka bertiga melambaikan tangannya sambil berkata “selamat jalan
pak!”. Beberapa detik kemudian wajah mereka menghilang dari pandanganku. Pada
saat itulah aku duduk termangu diam seribu bahasa, dan tanpa sadar kedua
pelupuk mataku dibanjiri air mata. Amat sedih perasaanku pada saat itu. Bahkan
ketika tulisan ini kutorehkan di atas kerta – sambil mengenang secara kelas
balik perpisahanku di loket bus Sanggarudang itu, mungkin karena aku amat larut
menyatu dengan kilas balik peristiwa itu – terulang peristiwa yang lalu bahwa
kdua kelopak mataku kembali dibanjiri air mata pertanda bahwa peristiwa yang
dulu itu berbekas pada jiwaku.
Aku berangkat ke kampung tanpa alat
komunikasi semisal Hand Phone. Waktu itu masyarakat kampung memang telah
mengenal warnet tetapi warnetpun amat jauh dari kampung Siantardolok.
Membutuhkan waktu sehari perjalanan dari kampung ke Sorkam – sebuah kota
kecamatan – untuk menjangkau warnet.
Tidak tangung-tanggung, selama 6 bulan
pertama, aku benar-benar berpisah dengan kedua anakku beserta istriku tercinta.
Dalam kurun waktu 6 bulan pertama itulah aku menyiapkan lahan sambil membenahi
pembibitan Cokelat (Cacao). Tak terasa hari berganti hari minggu berganti
minggu serta bulan berganti bulan berlalu penuh makna sebab seluruh waktu yang
merupakan anugerah dari Tuhan kuisi sefektif mungkin dengan bekerja banting
tulang seharian.
Sebagai pengobat rinduku kepada kedua
anakku bersama istri maka aku tiap malam sebelum mataku tertidur tak
bosan-bosannya memanjatkan doa kepada Bunda Maria sebagai Bunda Pelindung agar
melindungi diriku dari mara bahaya dan melindungi kedua anakku yang jauh
kutinggal di kota Kisaran.
Tak puas juga rasanya bila aku tidak
mengetahui berita dan mendengar suara mereka secara langsung.
Bila kerinduanku kepada mereka bertiga
(Tiarma, Vantri dan Mamaknya) sudah memuncak hingga titik kulminasi – dan biasa
perasaan itu muncul sekali atau dua kali dalam sebulan di kurun waktu 6 bulan
pertama itu – aku terpaksa berangkat ke Sorkam untuk bertelepon kepada mereka
melalui warnet.
Tak jarang aku meneteskan air mata di
warnet itu ketika sedang kontak telepon dengan kedua anakku di Kisaran. Ah, tak
kuasa lagi aku melukiskan kilas balik peristiwa sedih itu.
Lahan tahap pertama kini terbentuk dan
sudah terisi dengan tanaman cokelat. Syukur pada Tuhan bahwa di 6 bulan pertama
itu tak pernah sekalipun aku menderita sakit, pun demam atau pilek.
Kini waktu 6 bulan berlalu tak terasa,
dengan amat berseri-seri aku melangkahkan kaki di pagi hari Senin itu menuju
Sigarap untuk seterusnya ke Kisaran. Tak kepalang rasa gembiraku ketika aku
tiba di Kisaran dan langsung berangkat ke Jln. Hamka tempat anakku bersekolah.
Aku masih ingat peristiwa itu terjadi pada hari Selasa pukul 09.00 pagi.
Aku mengetuk pintu ruangan kelasnya dan
langsung memeluk kedua anakku. Kepeluk erat-erat mereka berdua untuk melepas rinduku yang kupendam 6 bulan
lamanya.
Ah,
kembali lagi kedua pelupuk mataku terasa basah dibanjiri air mata mengenang
kilas balik pertemuan yang amat mengharukan itu
dengan kedua anakku.
*tujuh tahun merawat kebun Cokelat di
kampung (2003-2010)
Tujuh tahun tinggal di sebuah desa
terpencil Siantardolok dimana setiap harinya harus bergaul dengan alam pondok
ladang serta dikitari pemandangan alam rimba raya, bukanlah sesuatu yang
mengenakkan dan menyenangkan.
Bila realita yang berbicara siapapun tak
kuasa menepis sebab tak bisa terelakkan. Itulah yang kerap disebut dengan
julukan “sudah nasib” maka harus diterima dengan lapang dada. Begitu pula
halnya dengan diriku wajib menerima kenyataan pahit bagai warna kelam dari
sebuah mozaik kehidupan.
Meski kenyataan itu pahit, yakni tinggal di
kampung sendirian, berpisah dari kedua anakku dan istriku, harus aku terima.
Pilihan untuk tinggal di kampung, membuka perladangan Cokelat buakanlah tanpa
pertimbangan, bukan pula tanpa alasan.
Pertanyaannya amat mendasar sebagai berikut:
“Bagaimana cara atau apa kiat untuk
mempertanggungjawabkan kelanjutan pendidikan dan masa depan kedua anakku?”
“Sanggupkah bila hanya istriku yang bekerja
sebagai guru swasta di perguruan Katolik dengan gaji pas-pasan untuk membiayai
seluruh ongkos kehidupan termasuk biaya untuk masa depan dari kedua anakku?”
Jawaban untuk kedua pertanyaan ini tidak
lain ialah diriku dengan predikat kepangkatan sebagai Bapak dan Kepala
Keluarga. Apapun ceritanya maka aku wajib secara moral bertanggungjawab kepada
mereka. Oleh karena itu aku wajib memiliki sebuah pekerjaan yang menhasilkan
uang. Inilah alasannya maka aku harus memiliki pilihan hidup yakni membuka
lahan Cokelat di kampung.
Maka terbentuklah sebidang kebun Cokelat
seluas kurang lebih 3 hektar ditambah pohon karet sebagai tanaman pelindungnya.
Kini kebun cokelat itu telah berproduksi dan pohon karetnya sudah dideres.
Meski lahan itu telah berproduksi namun
bila dihitung-hitung secara detil masih merugi. Artinya tidak sebanding biaya
produksi dengan produksi ditambah pula dengan “cost living” yang tergolong
besar, sebab kampung Siantardolok adalah kampung terpencil dimana segalanya
serba mahal harganya.
Tujuh tahun lamanya pekerjaan ini kulakoni.
Tujuh tahun pula aku harus berpisah dari keluarga. Sebagai pelepas rindu aku pulang
ke Kisaran secara periodik sekali dalam tiga bulan. Hingga tulisan ini
kutorehkan di atas kertas, kebun cokelat itu masih tetap berproduksi walaupun
hanya sedikit-sedikit saja sebab perawatan dan pemupukan tidak berjalan lagi
dengan baik.
Akankah tujuan semula pembukaan lahan ini
yakni peruntukan biaya kelanjutan pendidikan anak-anak dapat terealisasi?
Sebagai jawaban sementara firasatku berkata sepertinya tidak sanggup, tidak
terealisasi. Tidak sesuai dengan angan-angan semula. Mengapa? Sekali lagi
jawabannya ialah sesuai hukum alam “Jauh di mata jauh pula dihati.” Itu berarti
aku sudah tidak lagi di kampung jadi lahanpun pasti tidak terawat dan otomatis
tidak berproduksi maksimal. Berarti sekali lagi aku menuai kegagalan.
Mengapa perladangan Cokelat di kampung
Siantardolok ditinggal pergi? Nanti akan kuceritakan pada bagian berikutnya
dari tulisan ini.
7. Aktif kembali sebagai guru agama
Katolik di SMA. St.Yosep dan tinggal di asrama St.Albertus Magnus Aekkanopan
(2010- sampai tak terhingga)
Anak pertamaku Tiarma Bernadet Simanjuntak
baru menginjak jenjang pendidikan lebih tinggi yakni duduk di bangku kelas satu
SMP dan Vantri duduk di kelas dua SD saat aku berangkat ke kampung untuk tujuan
membuka lahan tanaman Cokelat di kampung.
Tak terasa seiring berjalannya sang waktu,
mereka berdua kian besar sesuai pertumbuhan badan dan juga perkembangan
pemikiran. Suatu nikmat besar yang kuterima dari Tuhan yakni meskipun aku jauh
dan terpisah dari mereka sebagai suatu konsekwensi logis dari kebijakan membuka
lahan di kampung, kedua anakku bertumbuh besar dan dilindungi oleh Tuhan. Pantas
aku bersykur kepada Dia yang kuasa yang selalu mendengar jeritan hidup umatNya
yakni aku. Terimakasih ya Tuhan.
Terkadang di waktu senggang, ketika aku
kembali dari kampung ke Kisaran, sengaja atau tidak kedua anakku sering berujar
kurang lebih sebagai berikut:
“Pak! mengajarlah kembali! Masa di kampung
terus di hutan-hutan itu!”
“Malu awak dibilang teman bapaknya merantau
tapi ke kampung”
“Lagi
pula Bapak jarang kali pulang ke rumah, di kampung-kampung aja terus”
Begitu mereka kerap berujar padaku. Biasanya
aku jawab, “Ya sudahlah. Nasib Bapak harus jadi seorang petani susah. Apa boleh
buat, Bapak harus menerima kenyataan.” Begitu jawaban yang sering kulontarkan
kepada mereka.
Sebenarnya dalam hati kecilku berkata, “Ah
kedua anakku ini sudah mulai nalar berpikir. Mereka sudah mengerti bahwa
‘status’ itu perlu dalam pergaulan hidup sehari-hari. Aku bangga akan hal itu,
bahwa mereka sudah mampu menalar.
Sering juga aku berujar kepada mereka,
“Bila Tuhan memberi kesempatan sekali lagi untuk mengabdi di lembaga pendidikan
Katolik pasti Bapak mau dan kembali mengajar.”
Seiring perjalan sang waktu, lebih-lebih karena
Tuhan mendengar jeritan batin kedua anakku, suatu ketika dan tak
disangka-sangka, seorang teman guru agama Katolik di SMA.St.Yosep sekaligus
menjadi Pembina di asrama St.Albertus Magnus Aekkanopan, menang dalam mengikuti
pelamaran CPNS guru agama Katolik.
Informasi ini sebenarnya disampaikan oleh beberapa kenalan
yang barangkali prihatin terhadap nasib diriku. Aku tidak terlalu antusias untuk
melacak kebenaran berita itu meski sebenarnya ada rasa “rada-rada mau” untuk
mengisi lowongan itu.
Adalah seorang teman bernama Alfida
Silitonga – menjabat sebagai sekretaris Yayasan Dharma Sejati dan berkantor di
Jln.Hamka Kisaran – bersengaja mengajakku bicara empat mata. Isi pembicaraan
kami kurang lebih sebagai berikut: “Bila abang mau mengisi lowongan guru agama
di SMA. St.Yosep itu, biar kutelepon kolektor Yayasan di Aekkanopan” Begitu ia
mengklarifikasi informasi dan mengulurkan bantuan komunikasinya kepadaku.
Akhirnya aku semakin memiliki keyakinan
untuk menulis lamaran – sebenarnya surat lamaran itu bukan aku yang menulisnya,
tetapi dengan sengaja anakku yang pertama Tiarma Bernadet Simanjuntak yang
kusuruh sekaligus untuk membuktikan doa dan nasibnya – dan kuantarkan langsung
ke Aekkanopan.
Setaraf tingkat mukjizat terjadi pada
diriku yakni dengan dengan penuh semangat kuantar surat lamaran itu ke
Aekkanopan. Syukur kepada Tuhan aku langsung bertemu dengan Bapak Drs.Edison
Sinaga yang menjabat sebagai kepala Sekolah di SMA. St.Yosep Aekkanopan.
Dalam pembicaraan kami di kantornya, beliau
menerima diriku sebagai pengganti teman yang menang CPNS itu. Setelah berakhir
pembicaraan kami bahwa aku diterima, persoalan baru muncul yakni, “di mana aku
tinggal?” Kalau harus ngontrak rumah aku tidak sanggup bila hanya mengandalkan
gaji honor yang tidak seberapa itu.
Lalu tanpa pikir panjang kutemui Pastor
Hiasintus Sinaga,ofm.Cap menjabat sebagai pastor koordinator asrama untuk
menyampaikan niatku agar diijinkan tinggal di asrama sekaligus sebagai pembina di sana. Sebentar
saja kami berbicara sekedar berkenalan, langsung ia menyambut dengan positif
dan menyuruhku menulis lamaran disertai kurikulum vitae.
Sekali lagi aku bersyukur sebab Tuhan
mengabulkan doa anakku dan mengabulkan niatku untuk kembali mengajar sebagai
guru agama meski hanya sebagai guru honor murni di SMA. St.Yosep.
Kini
aku tinggal di asrama Santo Albertus Magnus Aekkanopan dengan dengan gaji honor
di asrama yang tidak seberapa namun sekurang-kurangnya dengan gaji itu aku
dapat membiayai ‘Cost Living” bulananku. Ya Tuhan berkatmu sungguh melimpah
kuterima sambil menjalani garis edar hidup ini.
Akhir kata
Tuhan, Engkau sungguh amat baik
Engkau mendengar jerit tangis umatmu
Engkau mampu meringankan beban deritaku
Doa anak-anakku Engkau kabulkan
Kau hindarkan anak-anakku dari rasa “minder” dalam pergaulan
dengan teman
Tuhan Engkau amat baik bagi kedua anakku
Engkau lindungi mereka selama tujuh tahun kutinggal pergi
Engkau lindungi diriku di sepanjang rute perjalanan
Tuhan Engkau sungguh bijaksana menyusun mozaik hidupku
Tuhan!
Perjalanan dalam garis edar hidup ini masih amat panjang. Ukurannya ialah sepanjang
hayat dikandung badan.
Tuhan!
Terimakasihku kepadaMu tiada tara
Tak sanggup aku menulis barisnya
Nafas kehidupan melimpah Kau curah
Hingga tulisan ini kutorehkan di atas kertas Engkau masih
membiarkanku menghirup udara segar untuk memperpanjang garis edar hidupku
Tuhan!
Aku tetap mengajukan permohonanku:
Anugerahi aku kesehatan dan nafas panjang.
Impianku hanya ini, ijinkan aku melihat perkembangan masa depan
kedua anakku
Beri aku roh kebijakan agar aku bijak dalam hidup.
Ijinkan aku membaktikan diri menjelang masa tuaku di SMA.
St.Yosep.
Mudahkan seluruh prosesnya
Mampukan aku untuk tahan dan kuat berbakti
Besarkan aku dengan membesarkan asrama Santo albertus Magnus
Urailah seluruh benang kusut kehidupanku
Pintaku kepadaMu Tuhan
21 April 2013
Pandenaker Simanjuntak, S.Ag
Tidak ada komentar:
Posting Komentar